Suatu Sore di Taman
Cerita suatu sore di taman dan melihat bagaimana hal-hal biasa menyimpan sebagian besar hidupnya
Suatu Sore di Taman
Cerita suatu sore di taman dan melihat bagaimana hal-hal biasa menyimpan sebagian besar hidupnya

Sore selalu datang dengan cara yang sama, tetapi tidak pernah benar-benar serupa. Ia turun perlahan dari langit yang mulai kehilangan gagahnya. Matahari tidak lagi menyala seperti penguasa siang, melainkan seperti seseorang yang diam-diam membereskan barang-barangnya sebelum pulang. Cahaya menguning. Bayangan memanjang. Angin bergerak pelan. Dan di sebuah taman yang tidak terlalu besar, saya duduk di rumput hijau yang warna hijuanya mulai memudar.
Saya tidak sedang menunggu siapa-siapa. Atau mungkin, seperti banyak orang yang datang ke taman pada sore hari, saya sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya ketahui bentuknya.
Di hadapan saya, seorang anak kecil berlari mengejar bola bersama bapaknya. Ia tertawa bahagia ketika bola itu memantul ke atas sebelum sempat disentuh. Ia berlari lagi ketika bola itu melayang ke arah lain. Saya memperhatikannya cukup lama. Anak-anak memiliki kemampuan yang aneh untuk bergembira atas sesuatu yang sangat sebentar. Mereka belum belajar bahwa manusia dewasa acap kali menghabiskan hidup untuk mengejar hal-hal yang bahkan lebih rapuh daripada bola.
Di sudut taman, seorang pedagang minuman mendorong gerobaknya perlahan. Roda gerobak itu mengeluarkan suara berderit yang berulang-ulang. Suara itu seperti musik latar yang tidak pernah dirancang untuk menjadi indah, tetapi selalu hadir dalam kehidupan sekitar. Seorang perempuan membeli segelas es teh jumbo. Mereka berbicara sebentar. Saya tidak mendengar apa yang mereka katakan. Namun saya selalu merasa percakapan-percakapan kecil seperti itu lebih jujur daripada pidato-pidato penguasa yang sering memenuhi layar televisi.
Seekor kucing melintas di dekat kaki saya. Tubuhnya kurus. Bulunya kusam. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah kerumunan, lalu berjalan lagi tanpa tergesa-gesa. Barangkali ia tidak sedang mencari apa pun. Barangkali ia hanya ingin menikmati sore dengan caranya sendiri.
Di taman, segala sesuatu tampak lebih sederhana. Namun kesederhanaan sering kali hanya cara lain untuk menyembunyikan kerumitan.
Saya melihat pasangan lansia yang duduk di bawah pohon ketapang itu. Mereka tidak banyak berbicara. Sang lelaki sesekali menunjuk sesuatu di kejauhan. Sang perempuan mengangguk pelan. Dari kejauhan, mereka tampak damai. Tetapi siapa yang tahu berapa banyak pertengkaran yang telah mereka lalui? Berapa banyak kesedihan yang mereka simpan? Berapa banyak kehilangan yang telah mereka kubur bersama waktu? Kita sering mengira kebahagiaan adalah sesuatu yang tampak. Padahal yang tampak hanyalah permukaannya.
Sore itu membuat saya memikirkan banyak hal. Mungkin karena sore adalah perbatasan. Mungkin. Ia bukan siang dan belum menjadi malam. Ia adalah wilayah antara. Tempat segala sesuatu berubah perlahan tanpa suara. Dalam hidup manusia, kita juga sering berada di wilayah seperti itu. Tidak lagi menjadi anak-anak, tetapi belum sepenuhnya dewasa. Tidak lagi mencintai seseorang, tetapi belum benar-benar melupakannya. Tidak lagi percaya pada banyak hal, tetapi belum menemukan keyakinan baru.
Sore itu mengajarkan saya bahwa perubahan tidak selalu datang dengan heroik. Kadang-kadang ia datang seperti cahaya yang perlahan memudar.
Di bangku lain, beberapa remaja sedang berbincang sambil melihat layar telepon genggam mereka. Sesekali mereka tertawa keras. Sesekali mereka diam menatap layar masing-masing. Saya bertanya-tanya, apakah mereka sedang berbicara satu sama lain atau dengan dunia yang berada jauh di luar taman ini.
Kota ini telah berubah. Dulu orang datang ke taman untuk bertemu manusia. Kini banyak orang datang ke taman sambil membawa dunia lain di genggaman mereka. Mereka duduk berdekatan tetapi mengembara ke tempat yang berbeda-beda. Mungkin inilah zaman ketika kesepian tidak lagi ditandai oleh ketiadaan orang lain, melainkan oleh hilangnya percakapan yang sungguh-sungguh.
Angin bertiup sedikit lebih kencang. Daun-daun berguguran dari pohon tua di tengah taman. Beberapa anak mencoba menangkapnya sebelum menyentuh tanah. Mereka gagal. Mereka tertawa. Mereka mencoba lagi.
Saya menyukai pemandangan itu. Manusia tampaknya selalu berusaha menangkap sesuatu sebelum jatuh. Waktu. Cinta. Kesempatan. Kenangan. Kadang berhasil, lebih seringnya adalah gagal. Tetapi barangkali hidup memang berlangsung melalui percobaan-percobaan yang tidak sempurna itu.
Langit semakin redup. Lampu taman mulai menyala satu per satu. Cahaya kuningnya membentuk lingkaran-lingkaran kecil di atas jalan setapak. Orang-orang perlahan beranjak pulang. Seorang petugas kebersihan mulai menyapu dedaunan yang berserakan. Pekerjaannya tampak sederhana. Namun tanpa dirinya, taman ini mungkin akan segera berubah menjadi tempat yang tidak nyaman.
Saya selalu merasa ada banyak orang yang menjaga kehidupan tetap berjalan tanpa pernah mendapatkan perhatian yang layak. Petugas kebersihan, tukang sapu jalanan, penjaga taman, pedagang kecil, pengemudi angkutan. Mereka hadir setiap hari seperti latar belakang yang dianggap biasa. Padahal kota berdiri di atas kerja mereka.
Ketika malam semakin dekat, suara-suara mulai berkurang. Anak-anak pulang. Pedagang membereskan barang dagangannya. Burung-burung menghilang ke balik pepohonan. Taman yang tadi penuh kehidupan perlahan menjadi lengang.
Saya masih duduk di bangku yang sama. Entah mengapa, saya selalu merasa ada sesuatu yang menyedihkan sekaligus menenangkan dalam cara sebuah sore berakhir. Mungkin karena ia mengingatkan bahwa segala sesuatu memang memiliki waktunya masing-masing. Keramaian tidak berlangsung selamanya. Kesedihan juga tidak. Pertemuan akan berakhir. Perpisahan pun suatu hari akan usai.
Malam akhirnya turun sepenuhnya. Saya berdiri dan berjalan menuju gerbang taman. Di belakang saya, lampu-lampu tetap menyala. Pohon-pohon tetap berdiri. Bangku-bangku tetap menunggu. Besok sore orang-orang lain akan datang. Anak-anak akan berlari. Pedagang akan berjualan. Lansia akan berbincang. Daun-daun akan berguguran lagi. Dan taman akan kembali menjadi tempat di mana kehidupan menampilkan dirinya dalam bentuk yang paling sederhana.
Sebelum saya benar-benar pergi, saya menoleh sekali lagi. Taman itu tampak biasa saja. Tetapi mungkin memang di tempat-tempat yang tampak biasa itulah manusia diam-diam menyimpan sebagian besar hidupnya.
~Taman Hijau, 19 Maret 2026.
메타데이터
- post_id
- 03b9d09b23fd
- slug
- suatu-sore-di-taman-03b9d09b23fd
- url
- https://medium.com/@rickyalfandi/suatu-sore-di-taman-03b9d09b23fd
- canonical_url
- https://medium.com/@rickyalfandi/suatu-sore-di-taman-03b9d09b23fd
- author_url
- https://medium.com/@rickyalfandi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 18:09:57