← Back to list

barangkali, aku hanya singgah

Pada akhirnya, setiap aksara akan kembali menjadi diam.

csabii ⨾༊·˚ · 2026-07-04 00:40 · 0 claps · 2.1 min read
Open on Medium ↗

barangkali, aku hanya singgah

Pada akhirnya, setiap aksara akan kembali menjadi diam.

@csabii ⨾༊·˚

@csabii ⨾༊·˚

segala yang bernama perjumpaan hanya sedang menunaikan ṛta—tatanan purba yang menghimpun, sebelum kemudian meluruhkan. maka tiada yang benar-benar datang, sebagaimana tiada yang sungguh-sungguh tinggal. yang ada hanyalah lintasan-lintasan yang saling bersilang di bawah cakrawala waktu, lalu tercerai oleh kehendak yang tak pernah meminta persetujuan manusia.

aku pun demikian.

Barangkali sejak mula, aku hanyalah jeda yang disangka rumah.

selama tiga kali matahari menuntaskan edarannya mengitari musim yang sama, kutitipkan ātman-ku pada riuh yang kusebut kebersamaan. kusangka gema yang kembali kepadaku adalah pertanda bahwa semesta mengenali namaku. ternyata, gema hanya mengenal dinding tempat ia dipantulkan; ia tak pernah benar-benar mengenal siapa yang memanggilnya.

sejak saat itu, aku mulai memahami: tidak setiap kehadiran memperoleh makna.

ada yang menetap sekian lama, namun tak lebih dari bayang yang mengikuti cahaya.

ada yang duduk di tengah keramaian, tetapi tak pernah benar-benar tiba di hati siapa pun.

dan aku belajar menjadi salah satunya.

bukan sebab dunia berlaku nirmala kepada selain diriku, melainkan karena harapan adalah penenun yang paling piawai menciptakan kain bagi luka-lukanya sendiri. ia menamai sunyi sebagai kesabaran. ia memanggil asing dengan sebutan ikhlas. ia mengira diam adalah bahasa yang kelak dipahami, padahal diam hanya melahirkan diam yang lain.

maka kutanggung segala yang tak pernah memperoleh nama.

luka yang tak berdarah.

kehilangan yang tak didahului perpisahan.

Kesendirian yang tumbuh bahkan ketika tawa masih bersahutan.

barangkali beginilah rupa anitya.

segala yang digenggam perlahan menjadi debu, bukan karena ia dirampas, melainkan karena sejak mula ia memang tak pernah ditakdirkan menjadi milik.

aku tidak menyalahkan siapa pun.

bagaimana mungkin menyalahkan angin karena ia memilih berembus?

bagaimana mungkin menyalahkan senja karena ia enggan menetap menjadi pagi?

bukankah setiap insan sedang menunaikan svadharma-nya masing-masing, sementara aku hanya keliru menyangka bahwa segala yang singgah akan berakar?

hari ini, aku tidak sedang pergi.

aku hanya mengembalikan diriku kepada kehampaan yang lebih jujur daripada segala riuh yang pernah kupeluk.

sebab ada saat ketika seseorang berhenti mengetuk pintu, bukan lantaran ia membenci rumah itu, melainkan karena akhirnya menyadari bahwa dirinya bukanlah tamu yang sedang ditunggu.

biarlah langkah ini menjadi tirta yang mengalir menuju muaranya sendiri.

biarlah namaku luruh bersama debu musim.

biarlah segala yang pernah kusebut "kita" kembali menjadi "pernah".

sebab sesungguhnya, yang paling fana bukanlah pertemuan.

melainkan keyakinan bahwa kita pernah benar-benar dimiliki oleh seseorang.

dan apabila kelak waktu kembali mempertemukan kita dalam putaran kāla yang lain, semoga kita telah menjadi jiwa-jiwa yang selesai berunding dengan kehilangan.

tak lagi meminta untuk dipilih.

tak lagi memohon untuk dimengerti.

tak lagi menakar nilai diri dari mata yang memandang.

karena pada penghujung segala perjalanan, sunyatā bukanlah ketiadaan.

ia adalah saat ketika hati berhenti mencari pengakuan di luar dirinya sendiri, lalu menerima bahwa bahkan bunga yang gugur pun tetap pernah menggenapkan musim.

maka, biarkan aku luruh.

bukan sebagai yang kalah.

melainkan sebagai daun yang akhirnya mengerti, bahwa pohon tidak pernah membencinya ketika angin memutuskan arah pulang.


메타데이터
post_id
03d72a19b90f
slug
barangkali-aku-hanya-singgah-03d72a19b90f
url
https://medium.com/@abiauumy/barangkali-aku-hanya-singgah-03d72a19b90f
canonical_url
https://medium.com/@abiauumy/barangkali-aku-hanya-singgah-03d72a19b90f
author_url
https://medium.com/@abiauumy
status
ok
fetched_at
2026-07-13 21:27:59