Intertwined Fate
Jarum jam berdentang mengisi kesunyian di perpustakaan itu. Seorang gadis duduk di kursinya, sesekali membenarkan kacamatanya sembari…
Intertwined Fate

cover for Intertwined Fate
Jarum jam berdentang mengisi kesunyian di perpustakaan itu. Seorang gadis duduk di kursinya, sesekali membenarkan kacamatanya sembari mendesah pelan. Melalui netra ungunya, ia dapat melihat satu atau dua orang yang berjalan menyusuri perpustakaan, mencari buku untuk dibaca. Gadis itu tersenyum tipis, setidaknya masih ada orang yang suka membaca di tengah kehidupan yang dipenuhi oleh perkembangan teknologi.
Walau sejujurnya, ia merasa lelah. Semula, perpustakaan ini ramai oleh pengunjung. Namun seiring waktu berjalan, perpustakaan ini mulai sepi semenjak dikembangkannya teknologi berupa e-book. Setiap harinya, hanya ada beberapa pengunjung yang bisa dihitung jari. Seperti pengunjung perpustakaan yang berlalu lalang, kehidupannya juga terasa monoton. Jarum jam terus berdentang menunjukkan perubahan waktu.
Ah, waktu? Apakah itu masih berharga baginya? Gadis itu bahkan seringkali lupa dengan waktu. Rasa sepi telah melahap jiwanya semenjak bertahun-tahun yang lalu — mungkin ia sudah lupa sejak kapan. Gadis itu tidak pernah tahu perasaan atau setan apa yang sedang merasuki jiwanya. Ia terus merasa lelah dan kesepian, seperti kapal yang terus mendayung di tengah kosongnya lautan.
“Violet?”
Di tengah lamunannya, gadis itu mengerjap. Ia mendapati salah satu pengunjung perpustakaan yang sudah mengenal dirinya sejak lama sedang berdiri di hadapannya. Gadis itu memegang sebuah buku karangan Franz Kafka, Metamorphosis.
“Ah iya, maaf, kamu mau pinjam buku ini? Waktunya satu minggu ya–”
“Apakah kamu baik-baik saja? Kau terlihat seperti sedang mengalami banyak masalah, Violet,” gadis itu berujar pelan sembari meletakkan buku di atas meja. Violet mengerjap. Sejelas itukah ekspresinya? Apakah rasa sakit yang selama ini ia alami terpampang jelas di mata orang lain?
Ia ingin sekali meminta tolong, menyuarakan segala keresahannya selama hidup di dunia yang sunyi. Hanya saja, tiga kata keramat itu yang sanggup terucap dari bibir pucat milik Violet.
“Aku baik-baik saja.”
“Ah, begitu ya…,” gadis itu tersenyum tipis. “Syukurlah, kuharap kau sehat selalu. Kau bisa memanggilku kapan saja, Violet. Aku pergi dulu, ya.”
Violet menghela napas sembari memperhatikan kepergian gadis itu. Lagi dan lagi, ia sendiri. Gadis itu adalah pengunjung terakhir perpustakaan pada malam ini. Violet kini berjalan menuju rak buku untuk membersihkan debu yang menempel pada buku-buku usang itu. Sesekali ia merapikan urutan buku yang tampak acak, lalu menaruhnya pada tempat yang benar. Violet berjalan dan terus berjalan hingga ia menemukan susunan buku yang tampak janggal.
Tunggu, bukankah ia sudah merapikan rak buku yang ini? Mengapa bentuknya menjadi tidak beraturan? Gadis itu mengintip melalui celah di antara buku, mencari sesuatu yang janggal.
Bodoh, tentu saja ia tidak menemukan apa-apa. Mengapa Violet bisa-bisanya berpikiran untuk —
“Hai.”
Violet berjalan mundur, tak percaya dengan penglihatannya. Ia melihat … sepasang mata yang sedang menatapnya lekat. Jemarinya bergetar hebat, sebelum akhirnya ia perlahan terjatuh dan pingsan di tempat.
Gadis itu mengerjap, lalu perlahan membuka matanya dan mendapati sosok bayangan yang kini menatapnya lekat. Sosok itu terlihat indah dengan gaun satin berwarna merah muda. Netra birunya memandang Violet dengan lekat, membiarkan Violet bangkit dengan perasaan bingung.
“Kau … siapa?” tanya Violet heran. Pustakawan itu mulai mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang. Gadis itu tertawa lembut sembari mengulurkan tangannya. Violet berusaha meraihnya, tapi tentu saja tangan tersebut tembus pandang.
Ah, Violet mengerti sekarang. Dia adalah seorang hantu. Hantu yang anehnya … tidak menyerangnya seperti hantu pada umumnya yang ia baca di novel klasik miliknya.
“Maafkan aku jika kita harus bertemu dengan cara seperti ini,” ia meraih tangan Violet yang anehnya dapat terangkat, lalu tersenyum tipis. “Namaku Camelia. Aku adalah jiwa dari raga yang sudah mati sejak sepuluh tahun yang lalu, tepat di gedung tua ini.”
Jiwa dari raga yang sudah mati? Bagaimana bisa ia bertahan di dunia ini dengan jiwa seperti itu? Apakah ia tidak bosan menghabiskan waktu selama sepuluh tahun di dunia?
“Kau mungkin penasaran mengapa aku tidak berangkat ke dunia setelah kematian selama sepuluh tahun ini,” Camelia tertawa tipis hingga memperlihatkan gigi gingsulnya. Tawa yang sungguh indah, pikir Violet.
Hantu itu melanjutkan ucapannya, “Aku ditugaskan untuk menyembuhkan jiwa yang sakit sebagai bayaran dari perbuatanku semasa hidup. Sejak awal kamu menginjakkan kaki di tempat ini, aku sudah memperhatikan pergerakanmu di sini. Tatapanmu yang sendu, senyumanmu yang terasa dipaksakan, serta mata sayu yang selalu terlihat lelah. Kau pasti begitu lelah menahan segalanya selama ini?”
Violet mengerjap, tak menyangka seseorang akan memperhatikannya sedetail ini.
“Maaf, aku–”
Camelia tertawa riang, tubuhnya kini mulai terlihat nyata, “Tenang saja, aku ikhlas menjadi temanmu. Kau cantik.”
Cantik katanya? Sudah lama Violet tidak mendengar seseorang menyebut kata itu terhadap dirinya yang tampil apa adanya ini.
Tanpa sadar, pipi Violet bersemu merah. Camelia yang menyadari hal itu kembali tertawa. Hantu itu menggenggam jemari sang pustakawan, mengajaknya untuk mengelilingi perpustakaan yang kini mulai terasa bernyawa.
Hari ini adalah hari kelima sejak pertemuan Violet dan Camelia untuk yang pertama kalinya. Berdua, mereka mulai menyusuri setiap sisi dari perpustakaan. Sesekali, Violet mengambil buku klasik dan membacanya di sudut perpustakaan, membiarkan Camelia duduk dan memperhatikan dia dari dekat. Semakin hari, perpustakaan itu menjadi semakin sepi pengunjung. Namun, Violet tidak merasakan kegelisahan yang selama ini selalu ia rasakan.
Segala rasa sepi dan sesak yang ia alami seolah tergantikan dengan rasa hangat yang menjalar di dada, terutama saat ia bersitatap dengan sang hantu. Dibandingkan dengan hantu, Camelia terlihat seperti sosok malaikat yang diberikan khusus untuk melindungi Violet dan menemaninya.
Satu hal yang pasti, Violet merasa nyaman dengan Camelia. Semula, ia meragukan eksistensi gadis itu. Namun, semakin lama ia merasa bahwa Camelia adalah obat baginya. Tak jarang juga Violet memutuskan untuk menginap di perpustakaan hanya untuk mendengarkan kisah kecil Camelia.
“Dulu, aku sering mengunjungi perpustakaan bersama ayahku,” Camelia mulai bercerita. “Sejak kecil, aku sangat menyukai buku, terutama novel fantasi. Aku juga menyukai buku anak karya Enid Blyton dan teman-temannya.”
Violet setia mendengarkan sembari tersenyum tipis. Suaranya terdengar sangat lembut dan merdu. Semakin lama, fokus Violet mulai terbelah. Pandangannya semula tertuju pada rambut pirang Camelia, lalu mulai jatuh ke netra biru kristal milik gadis itu.
Tanpa sadar, Violet mendekat, lalu mengelus helai rambut Camelia yang terasa lembut. Camelia menoleh, lalu tersenyum tipis.
“Kamu menyukai rambutku?” Camelia bertanya dengan lembut. “Oh iya, sekarang sudah larut malam. Kamu bisa tidur bersamaku malam ini. Di sini.”
Violet mengerjap, lalu tertawa tipis, “Tidak apa, aku tak ingin merepotkan–”
Camelia menarik Violet hingga gadis itu terjatuh di paha gadis itu, “Temani aku di sini, Violet. Aku juga bisa merasa kesepian sepertimu.”
Violet tampak terkejut, lalu tersenyum tipis sembari membelai rambut Camelia. Netra mereka saling bersitatap, diapit oleh kesunyian pada malam itu. Anehnya, Violet tidak merasa kesepian seperti perasaan yang biasa dialami saat menjaga perpustakaan. Kehangatan menjalar di tubuhnya, menumpuk di pipinya yang kini terasa panas.
Ternyata begini rasanya berada di dekat gadis cantik. Violet merasa salah tingkah.
“Bukankah kau adalah seorang hantu?” tanya Violet berusaha memecah keheningan. “Mengapa kau bisa merasa kesepian?”
“Aku mati karena bunuh diri,” Camelia tertawa pelan, membuat Violet terkejut bukan main. Violet nyaris bangkit dari posisinya, namun Camelia menahannya hingga Violet kembali ke posisi tidur di paha gadis itu.
“Maaf, aku … tak tahu harus bereaksi apa,” ujar Violet, masih terkejut dengan pernyataan Camelia. Camelia tertawa pelan hingga matanya menyipit.
“Tidak apa-apa, aku sudah berdamai dengan keadaanku,” Camelia tersenyum tipis sebelum ia kembali bercerita. “Saat itu, keadaan ekonomi keluargaku sedang tidak baik-baik saja, Violet. Ada banyak sekali kejadian yang menimpa keluargaku, termasuk sifat ayahku yang mulai berubah menjadi sangat kasar. Ibuku yang sudah tak tahan memutuskan untuk kabur dari rumah, meninggalkanku bersama ayahku yang sangat kasar itu.”
Violet setia mendengarkan cerita Camelia. Bagaimana bisa gadis seceria dia memiliki kisah kelam seperti itu? Meski baru bertemu selama beberapa hari, Violet merasa terkoneksi dengan gadis itu. Ia ingin sekali meraihnya dan memeluknya erat, memastikan bahwa gadis riang ini sedang baik-baik saja. Tampaknya, Camelia menyadari perasaan khawatir Violet.
“Tak apa, aku sudah baik-baik saja sekarang,” Camelia tertawa sembari mengelus puncak rambut Violet. “Kan aku sudah mati.”
“Lalu … bagaimana kau bisa bunuh diri?” tanya Violet ragu. Bagaimanapun juga, ia penasaran dengan kisah gadis ini. Camelia seolah memiliki magnet yang menariknya lebih dalam, sangat dalam seolah Violet telah memasuki dunia Camelia yang ternyata sama sunyinya seperti dirinya.
Hanya saja, gadis malang itu mengalami kekerasan dari sosok yang seharusnya dianggap sebagai keluarga.
“Suatu hari, pertengkaran kami berada pada puncaknya. Aku ingat sekali, saat itu perpustakaan sedang sangat sepi, nyaris tidak ada orang di sini. Orang itu mengataiku sebagai anak yang tidak diinginkan dan aku seharusnya tidak ada di sini. Dia melabeliku dengan perkataan yang tidak pantas, lalu mendoakanku mati agar bebannya berkurang. Akhirnya, aku memutuskan untuk menuruti keinginannya dengan melompat dari lantai atas. Dan … begitulah caraku mati.”
Tanpa sadar, Violet bangkit dan memeluk Camelia erat, begitu erat hingga buku yang dipegang Camelia terjatuh ke lantai. Gadis itu membelai setiap helai rambut Camelia sembari berbisik pelan.
“Ada aku di sini, Camelia. Kau tidak sendiri. Kamu bersamaku.”
Camelia tersenyum, tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Mereka baru menghabiskan waktu selama beberapa hari, namun Violet mulai merasa terkoneksi dengan Camelia.
“Kau juga merasakan kesepian yang sama denganku, bukan?” Camelia tersenyum tipis di balik helai rambutnya yang kini menutupi wajahnya, berusaha menutupi wajah gadis itu. Violet mengerjap, terkejut dengan ucapan Camelia.
Suara Camelia mulai bergetar, tapi ia berusaha menutupinya dengan senyuman tipis, “Jiwamu butuh untuk disembuhkan, Violet. Kamu telah mengalami depresi dalam waktu yang sangat lama.”
Depresi? Violet sendiri tidak mengerti sepenuhnya bagaimana depresi bekerja. Ia hanya tahu bahwa saat ini ia merasa kesepian. Mungkin deskripsi itu terlalu berlebihan baginya.
“Depresi? Rasanya aku tak mungkin mengalami itu,” Violet menguraikan pelukannya, tampak bingung dengan pernyataan Camelia.
“Kau tak harus memiliki keluarga yang hancur serta masalah hidup yang begitu pelik untuk mengalami depresi, Violet. Siapapun bisa mengalaminya, termasuk dirimu,” Camelia menggenggam tangan Violet, berusaha menguatkan gadis itu. “Yang kutahu, kau adalah gadis yang kuat. Aku sangat bangga kepadamu yang tidak memilih jalan pintas sepertiku, Violet.”
Bunuh diri? Sejujurnya, hal itu tak pernah terlintas di otak Violet. Gadis itu hanya tahu bagaimana cara menjalani hidup, bukan bagaimana cara menikmatinya. Ia seolah berjalan melalui jalur berduri yang sama, tak ada akhirnya.
Ternyata hal yang selama ini ia rasakan adalah perasaan depresi? Gadis itu tidak pernah menyadarinya sebelum ia bertemu dengan Camelia.
“Aku sudah bercerita tadi, sekarang giliranku untuk mendengarkan kisahmu,” Camelia beranjak dari duduknya sembari meletakkan buku di rak. Violet menghela napas, lalu mulai bercerita di pojok baca yang terkena sinar bulan itu.
“Aku … takut kehilangan perpustakaan yang merupakan tempatku bertumbuh dan sudah menjadi bagian dari hidupku, Camelia.”
Hari demi hari berlalu dan sudah banyak kegiatan yang mereka lakukan bersama. Terkadang, Camelia hanya berdiam menemani Violet membaca buku di pojok baca kesukaannya, terkadang juga ia ikut membaca bersama Violet. Gadis itu seolah terserap ke dalam dunia Violet, begitu juga dengan Violet.
Bagai kanvas yang perlahan dipenuhi warna, kehidupan Violet mulai lebih bercahaya semenjak hadirnya Camelia dalam hidupnya. Violet tak pernah menyangka akan hadir seorang hantu yang menjadi obat atas rasa sepi yang ia alami selama ini.
Terkadang hidup berjalan dengan sangat unik, ya.
Kegiatan yang terus berulang itu tidak terasa membosankan bagi Violet. Ia justru menikmati setiap detik yang dihabiskan bersama Camelia.
Perasaan itu juga tumbuh seiring berjalannya waktu. Violet tidak lagi membayangkan Camelia sebagai sosok hantu cantik yang kebetulan ia temui bersembunyi di salah satu rak perpustakaan. Gadis itu adalah anugerah terindah yang diberikan untuk Violet.
Hari ini terasa sedikit berbeda. Untuk sesaat, Violet menutup perpustakaan untuk sementara demi mengikuti keinginan Camelia. Mereka berjalan menuju padang rumput yang dipenuhi dengan tanaman dandelion yang masih utuh, belum tersapu oleh angin. Violet kini duduk di bawah pohon, menunggu Camelia menyusulnya. Gadis itu tampak bahagia sekali, sesekali ia mengibarkan gaun satin berwarna merah muda yang ia kenakan setiap hari. Sesekali, ia tertawa lebar.
Sejak pertemuan pertama mereka, Violet tidak pernah melihat Camelia tampil seriang ini. Alih-alih terlihat seperti seorang hantu, gadis itu terlihat menawan seperti malaikat.
“Violet, mengapa kamu diam saja? Ayo kemari!”
Violet tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya dan menyusul Camelia yang kini berlari dengan riang di sepanjang padang rumput. Matahari timbul menyinari tempat itu, membuat Camelia tampil bercahaya. Violet tersenyum sembari memperhatikan Camelia yang tampak begitu manis dengan gaun merah muda yang selalu ia kenakan. Sesekali, ia memetik dandelion dan meniupnya, membiarkan bunga itu terbang ditiup angin.
“Kau benar-benar menyukai bunga, ya …,” Violet tertawa pelan hingga netranya menyipit. “Aku bahkan tak pernah tahu ada tempat seindah ini di belakang perpustakaan tua yang menjadi tempatku bersemayam.”
“Justru itu tujuanku mengajakmu. Aku ingin kau melihat keindahan dunia, tidak hanya duduk diam di kursi tua itu,” canda Camelia. Gadis itu menarik tangan Violet, tanpa sadar membuatnya kehilangan keseimbangan sehingga mereka berdua terjatuh menimpa rumput. Keduanya tertawa riang, lalu kini berbaring dan menghadap satu sama lain. Violet menatap Camelia, lalu merapikan rambut Camelia yang tampak berantakan.
“Kenapa kau sering memegang rambutku? Apakah rambutku begitu indah bagimu?” Camelia tertawa pelan, sebelum tawanya berhenti saat perkataan asalnya dibalas dengan anggukan oleh Violet.
“Kau benar, Camelia. Bukan hanya rambutmu, kepribadianmu juga indah bagiku,” Violet berkata serius, membuat Camelia mengerjap. Pustakawan itu kini bangkit dari posisinya, lalu menatap Camelia yang masih tiduran. Violet tak mengerti perasaan apa yang bergejolak di dalam dadanya. Selama ini, ia hanya mengenal rasa sepi dan sesak yang terus merasuki kehidupannya.
Namun, kali ini berbeda. Semenjak bertemu dengan Camelia, segalanya terasa berubah. Violet selalu merasakan perasaan hangat yang menjalar di dada serta rasa antusiasme setiap bertemu dengan gadis itu. Violet merasa nyaman dengan kehadiran Camelia di hidupnya.
Violet kembali menatap Camelia, menyadari satu hal. Perasaan ini yang seharusnya tidak boleh ada sejak awal. Violet menepis pemikiran negatif itu, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mungkin saja, ia telah jatuh cinta dengan sesama wanita — bukan hanya wanita biasa, Camelia adalah wanita yang datang untuk menyembuhkan luka batinnya sekaligus menariknya ke perasaan yang lebih dalam dari sekadar rasa nyaman.
“Camelia …,” Violet bergumam pelan, perlahan mendekat dan berbisik pada Camelia. “Maafkan aku karena telah mencintaimu.”
Tepat di bawah pohon beringin yang menjadi saksi dari segalanya, bibir pucat itu menempel pada milik Camelia. Camelia terkejut, lalu memejamkan mata dan membiarkan Violet menangkup pipinya, menciumnya semakin dalam dan tulus. Violet menekan bibirnya semakin dalam, membiarkan kehangatan menjalar di sekujur tubuhnya. Meski ia tidak dapat mendengar degup jantung Camelia, ia dapat merasakan gairah yang sama pada Camelia. Kelopak dandelion berterbangan di udara, seolah menjadi saksi bisu atas kisah dari dua insan yang saling menyembuhkan jiwa satu sama lain.
Camelia melepaskan ciumannya, lalu berbisik di telinga Violet hingga wajah gadis itu memerah, “Aku juga mencintaimu, Violet.”
Keduanya bersitatap tanpa ada satu kata yang terucap. Mereka terdiam, lalu tertawa pelan. Ia tidak pernah menyangka berciuman dengan seorang hantu akan terasa semenyenangkan ini.
Camelia menangkup pipi Violet, lalu menciumnya pelan sebelum akhirnya berbisik, “Aku mencintaimu, sangat.”
I hope everything could last forever, Violet.
Malam itu terasa berbeda dari biasanya. Setelah melayani pengunjung perpustakaan yang terakhir, Violet berjalan menuju rak bagian buku klasik sembari menghampiri sosok hantu yang menunggu dengan setia. Camelia, hantu itu tampak berbeda daripada biasanya. Ia tampak … lebih murung.
“Ada apa, Camelia?” Violet duduk di sampingnya, mencoba membelai rambut pirang Camelia seperti biasanya. Namun, betapa terkejutnya pustakawan itu saat menyadari bahwa tangannya kini menembus rambut Camelia. Ada apa dengan gadis itu? Bukankah Camelia telah membiarkan dirinya ‘terlihat’ bagi Violet?
Wajah Violet memucat, “Camelia, aku ….”
“Maaf,” hanya ada satu kata yang terucap dari bibir sang hantu. Camelia menunduk, netranya tampak pudar dibandingkan biasanya yang berseri-seri. Gadis itu kini menatap Violet intens, mencoba menyentuh jemari gadis itu walau hasilnya nihil. Camelia sudah tidak bisa menyentuh Violet.
“Kenapa, Camelia? Mengapa aku tidak bisa menyentuhmu?” Violet terkejut, netranya kini berkaca-kaca. “Bukankah kau setuju untuk terlihat nyata di hadapanku? Ada apa yang terjadi?”
“Waktuku disini sudah tidak lama, Violet.”
Detik itu juga, keheningan merasuki ruangan. Violet tak bisa menyembunyikan reaksi terkejutnya. Ia mundur selangkah, menatap Camelia dengan tak percaya. Perasaan itu kembali bergejolak di dada, mengambil alih segala kesadaran Violet yang tersisa. Jiwanya terguncang hebat. Bagaimana bisa ia merasa bahagia hanya untuk sesaat?
Mengapa semesta kembali merebut kebahagiaannya?
“Aku tahu kau tidak akan senang dengan kabar ini,” Camelia tersenyum tipis tanpa memperlihatkan binar seperti biasanya. Tatapannya kini terasa kosong, seolah segala kebahagiaannya juga diserap oleh lubang hitam. Tubuhnya perlahan berubah menjadi semakin transparan, membuat Violet tanpa sadar menitikkan air mata.
“Tujuanku sudah tercapai, Violet,” Camelia berkata dengan lembut sembari berusaha menangkup Violet, menciumnya pelan walau ia tahu ciuman itu tak akan pernah sampai di milik Violet. Tubuhnya kini benar-benar tembus pandang, nyaris tak terlihat. Perlahan, Camelia melayang di udara. Violet berusaha meraih tangan Camelia, walau ia tahu segala usahanya akan berakhir sia-sia.
“Camelia, tunggu! Apa maksud dari semua ini? Jangan tinggalkan aku!”
Camelia tersenyum, perlahan menitikkan air mata. Hantu itu membalas uluran tangan Violet, menyentuhnya walau jemarinya kini menembus jemari Violet. Perlahan, kakinya mulai menghilang menjadi butiran debu emas.
Violet berteriak, berusaha meraih Camelia berkali-kali meskipun segala usahanya gagal. Pustakawan itu tampak panik, mengusahakan segala cara agar ia tetap bisa memandang Camelianya untuk yang terakhir kalinya.
Walaupun segala usaha itu berakhir sia-sia.
Camelia berujar dengan sisa tenaganya, meskipun tubuh itu mulai semakin tak terlihat, “Hiduplah dengan baik, Violet. Dengan atau tanpaku, aku ingin kau menjalani kehidupan yang terbaik. It was nice to meet you, my girl. In another life, another chance, Violet.”
Kini, butiran debu mulai berterbangan di udara, menyisakan Violet yang kini terduduk sembari memeluk buku klasik yang jatuh ke lantai setelah kepergian Camelia. Setangkai bunga camelia terjatuh ke pangkuan sang pustakawan, seolah mengiringi kepergian Camelia. Violet mengambilnya, kemudian terisak. Kenangan indah itu terus terbayang di benaknya, terputar secara terus menerus seperti kaset yang sudah usang.
Violet seolah bisa mendengar senandung Camelia yang biasa dinyanyikan pada malam hari sebagai pengantar tidur. Setiap memori yang dilalui bersama tersimpan dengan rapi dalam benak gadis itu.
Tatapannya kini terasa kosong. Lidahnya terasa kelu. Walaupun beban itu mulai terangkat dari kehidupan Violet, ia merasakan sesuatu yang sesak merasuki dadanya. Violet menggumamkan satu kalimat, walaupun ia tahu tidak ada satupun makhluk yang mendengarkannya di perpustakaan ini.
“It was nice to meet you, too, my beautiful Camellia.”
She was the best story Violet has ever experienced.
Hari demi hari berlalu seperti biasa. Jarum jam berdentang menandakan perubahan yang terjadi pada waktu. Namun, Violet merasa setiap harinya terasa sama saja. Hari-hari itu kembali dijalaninya dengan kekosongan yang tak berujung. Violet menjalani rutinitasnya sebagai pustakawan.
Setiap harinya, ia hanya bisa menghitung mundur waktu. Kapan semua ini akan berakhir? Kapan ia akan dihentikan dari pekerjaan yang selama ini sangat dicintainya? Kapan pengunjung itu akan berhenti menginjakkan kaki di perpustakaan tua ini? Violet tak pernah tahu.
Namun, ada satu pertanyaan yang terus berputar di benaknya. Kapan ia akan bertemu Camelia? Kapan kesempatan lain itu akan datang?
Camelia mungkin sudah bahagia di akhirat. Mungkin juga, ia sudah melupakan kenangan indah yang selama ini dijalani bersama Violet. Namun, Violet tidak pernah lupa. Kenangan itu tersimpan di dalam benaknya, menolak untuk terlupakan.
Seiring waktu berjalan, dadanya juga terasa sesak. Violet tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya. Violet mengira bahwa kehadiran Camelia akan benar-benar menyembuhkan jiwanya yang sudah terluka sekian tahun.
Ternyata, ia salah. Luka itu tidak kunjung menguap. Ia selalu ada. Justru berbanding terbalik dengan yang dikira, Camelia adalah sumber kebahagiaannya.
She is her universe, the pretty girl that blooms her heart and changes her life entirely.
Tuhan … jika ia diizinkan untuk berharap, Violet ingin terus bertemu dengan Camelia seperti bagaimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Violet ingin terus jatuh cinta kepada Camelia, sama seperti bagaimana Camelia memberikan segalanya untuk Violet. Violet sudah jatuh terlalu dalam. Lubang itu tak kunjung berakhir. Rasa sesak yang dialami juga semakin kuat seolah ada beban berat yang menekan dada gadis itu.
Jarum jam terus bergerak menunjukkan perubahan waktu. Waktu berjalan begitu cepat, namun Violet merasakannya melambat seiring dengan pergantian jam. Perlahan, jantungnya mulai melemah. Di saat terakhirnya, ia dapat melihat butiran debu emas yang bertebaran di perpustakaan. Violet dapat melihat sosok Camelia di sela ingatannya, meraihnya sama seperti bagaimana Camelia meraih Violet untuk yang pertama kalinya. Semuanya terasa begitu lambat dan abstrak.
Perlahan, netra itu terpejam. Denyut jantung Violet semakin melemah. Rasa sepi itu kian menggerogotinya, tak peduli dengan panggilan salah satu pengunjung yang mulai panik. Hal terakhir yang dilihat oleh Violet adalah sosok Camelia yang meraihnya sembari tersenyum manis, menggenggam jemarinya erat.
Mungkin sudah waktunya Violet pergi meninggalkan dunianya yang begitu sunyi. Tanpa memedulikan teriakan pengunjung terakhir yang mulai menggema di seisi perpustakaan, Violet memejamkan mata, mungkin untuk selamanya.
“Violet, apakah kau mendengarkanku? Violet, jawab aku! VIOLET!”
Gadis itu terjatuh dari kursinya, menyisakan tubuh yang mulai kehilangan jiwanya.
Violet membuka mata, mendapati dirinya berada di antara awan. Gadis itu mengerjap, kemudian terkejut ketika menyadari bahwa ia tidak terbangun di perpustakaan.. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ia terbangun di tempat yang berbeda? Violet tidak mengenal tempat ini … semuanya terasa begitu asing.
“Violet.”
Gadis itu mengerjap, kembali terkejut saat ia mengenali suara lembut itu. Gaun satin berwarna merah muda yang kini diiringi oleh terbangnya kelopak dandelion, Violet merasa familiar dengan semuanya.
Terutama ketika sosok itu mengatakan sesuatu yang sanggup membuat Violet mematung.
“We meet again, Violet. In another life.”
Gadis itu berlari dan memeluk Camelia yang kini tampak begitu menawan dengan rambut pirangnya yang bergelombang. Pelukan itu terasa hangat, seperti hangatnya api unggun di tengah musim dingin.
“Kenapa kau pergi meninggalkanku? Apa yang terjadi dengan diriku?” Violet terisak sembari membenamkan wajah di bahu Camelia. Gadis itu menepuk pundak Violet, kemudian menangkup pipinya dan menciumnya dalam.
Ciuman pertama setelah kematian.
Gadis itu melepas pelukannya, kemudian menyadari tali transparan berwarna emas yang terikat di sela jemarinya. Tali yang sama juga mengikat jari Camelia, membuat mereka terhubung satu sama lain.
“Ini ….”
“Maaf, aku tidak sengaja menyambungkan takdir kita, Violet.”
Ucapan itu dibalas dengan tatapan bingung oleh Violet. Gadis itu berdiri tegak, memandang Camelia sembari meminta penjelasan.
Camelia menjelaskan maksud dari ucapannya, “Saat aku memutuskan untuk menyembuhkan jiwamu, aku tanpa sengaja mengikat garis takdirku denganmu. Hal itu membuat hidupmu berakhir saat aku pergi meninggalkan dunia. Maafkan aku karena telah membuatmu ikut mati bersamaku, Violet.”
Gadis itu kembali memeluk Camelia dengan erat, tak peduli akan semilir angin di kehidupan setelah kematian yang kian menyapu lembut permukaan epidermisnya.
“Aku tak peduli, Camelia. Aku hanya ingin bersamamu. Bersama wanitaku yang sangat aku cintai,” Violet mencium Camelia lembut, membiarkan jiwanya terasa hangat. Camelia tersenyum tipis, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Violet kepadanya.
Akhirnya, gadis itu kembali kepada dirinya. Tak peduli akan dunia yang menentang keberadaan mereka untuk bersatu.
Bila dunia menentang cinta antar perempuan, maka biarkan Camelia mencintai Violet beribu-ribu kali di setiap kehidupan selanjutnya. Kehidupan dimana cinta mereka dapat menjadi abadi, tak tergantikan.
Kehidupan dimana setiap manusia seperti mereka dapat diterima dan dihargai.
Kehidupan setelah kematian.
메타데이터
- post_id
- 0481a9f0a090
- slug
- intertwined-fate-0481a9f0a090
- url
- https://medium.com/@amescent/intertwined-fate-0481a9f0a090
- canonical_url
- https://medium.com/@amescent/intertwined-fate-0481a9f0a090
- author_url
- https://medium.com/@amescent
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12