Telekomunikasi, Ateisme, dan Krisis Makna
“makin kesini makin banyak ya orang yang gak beragama”
Telekomunikasi, Ateisme, dan Krisis Makna
“makin kesini makin banyak ya orang yang gak beragama”
telekomunikasi memungkinkan informasi dari daerah yang sangat terpencil untuk mencapai bagian bumi lain. hal ini tentu bukan proses yang instant. ada tahapan mengenai informasi semacam apa yang bisa dikirim dan diterima melalui teknologi telekomunikasi.
di era pra-modern, terdapat sinyal asap yang bisa digunakan untuk mengirim pesan sederhana seperti menandakan bahaya, meminta pertolongan, atau memberi peringatan. ada juga lukisan di gua sebagai bentuk informasi stasioner mengenai bagaimana kehidupan manusia yang melukisnya.
pada era modern, proses ini pun berlanjut. pada abad 17–19, terdapat jalur penyampaian informasi yang berbentuk surat kabar, mesin faks, juga telegraf. informasi yang bisa didapat dari media-media cetak ini sangatlah terbatas karena seberapa besar usaha yang dikeluarkan hanya untuk mengirim beberapa kalimat.
di akhir abad 19–20, ditemukan telepon kabel, televisi, radio, dan juga pager. ini adalah kemajuan besar dalam teknologi telekomunikasi. informasi yang bisa diakses melalui media ini sudah sangat banyak macamnya. suara, gambar, pesan singkat, dan lain lain.
lalu akhirnya, kita mencapai era digital dimana berbagai informasi bisa kita akses dalam sekejap, tanpa perlu usaha keras, dan juga instant. kita bisa mengetahui hal-hal mendetail dari daerah seterpencil apapun hanya dengan beberapa klik menggunakan device seperti smartphone atau laptop.
kemudahan dalam akses informasi adalah sesuatu yang patut kita syukuri. dengan adanya akses ini, kita menambah wawasan dari berbagai belahan bumi.
namun, seiring dengan berkembangnya teknologi telekomunikasi ini, terdapat peningkatan dalam krisis makna dan kematian. bisa dilihat dengan banyaknya orang yang struggling dengan agama mereka. muslim-muslim murtad, umat kristiani mempertanyakan kitab mereka, astrologi dipercaya oleh khalayak, dan semacamnya. bahkan, populasi atheist sangat meningkat.
apa hubungannya dengan telekomunikasi?
di jaman serba digital ini, seseorang bisa mengakses lebih banyak informasi mengenai berbagai kepercayaan dalam satu hari daripada orang jaman dulu seumur hidupnya. seorang muslim bisa dengan sangat mudah mendengar ceramah dari seorang pastor di media seperti youtube, tiktok, atau instagram. seorang kristiani sangat memungkinkan untuk melihat seorang buddhis menerapkan mindfullness dalam kesehariannya dan memutuskan untuk mengikuti ajaran Buddha.
ketika manusia-manusia dicekoki dengan berbagai informasi mengenai sekelompok manusia dengan kepercayaan selain yang mereka miliki dan mereka melihat bahwa kelompok itu menjalani kehidupan dengan baik-baik saja, muncul kesadaran bahwa…
kebenaran miliknya bukanlah satu-satunya kebenaran
manusia sebagai spesies selalu mencari makna dari kehidupan. kita cukup pintar untuk mengetahui kita akan mati. dan kita ingin membuat kehidupan lebih bermakna. ini adalah human condition.
dulu kita hidup dimana kisah-kisah komunal adalah kebenaran, hakikat. kisah-kisah komunal yang berevolusi menjadi agama dengan ritual-ritual tertentu inilah yang membuat kita lebih terhubung. dan kelompok manusia yang lebih terhubung akan menjalani kehidupan dengan lebih baik. dengan kata lain, manusia berevolusi bersama agama.
dan ketika seorang manusia dipertemukan dengan agama atau tradisi lain yang hanya dengan keberadaannya mengancam kepercayaan yang ia anut, agama atau tradisi ini—secara tidak sadar—merepresentasikan kematian. nihilism.
inilah penyebab orang-orang memiliki beban mental yang sebelumnya tidak ada. at least dalam konteks yang sedang saya bahas.
lalu apa yang terjadi ketika suatu masyarakat menciptakan budaya scrolling, dimana informasi baru dari orang baru dengan kepercayaan baru muncul setiap 8.25 detik?
kita selalu diberitahu bahwa kenaikan kasus penyakit mental seperti depresi dan anxiety disebabkan oleh menurunnya kepercayaan kita terhadap transendensi. namun penjelasan ini terlalu sederhana—malas bahkan.
saya memiliki argumen yang berbeda. agama adalah ciptaan manusia untuk menghadapi human condition yang disebutkan di atas. lalu ketika budaya scrolling masuk dalam keseharian kita, kita dihadapi dengan krisis makna dan kematian karena merapuhnya keyakinan bahwa kepercayaan yang kita anut adalah satu satunya kebenaran.
death-denying pursuit, as Alex O’Connor said it. agama membantu kita dalam mencari makna kehidupan. dan mengetahui makna kehidupan memuaskan human condition.
pecahnya keyakinan akan agama menimbulkan keharusan manusia untuk mencari makna baru dari kehidupan. tidak jarang manusia yang adalah seorang ateis mengalami existential crisis.
i dont know how to end this essay lmaooooo. well the main point is IT REALLY IS THE DAMN PHOOONEEEE 🙂
메타데이터
- post_id
- 04b90c7afa74
- slug
- telekomunikasi-ateisme-dan-krisis-makna-04b90c7afa74
- url
- https://medium.com/@arya709661/telekomunikasi-ateisme-dan-krisis-makna-04b90c7afa74
- canonical_url
- https://medium.com/@arya709661/telekomunikasi-ateisme-dan-krisis-makna-04b90c7afa74
- author_url
- https://medium.com/@arya709661
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-27 19:18:46