A Retro Future Inspired by Mall Culture: Menyelami Dunia Visual Ardhira Putra
Menelusuri Jejak Ardhira Putra: Membangun Jembatan Nostalgia Melalui Estetika Retro Asian Pop yang Mendunia.
A Retro Future Inspired by Mall Culture: Menyelami Dunia Visual Ardhira Putra

Tampak diri Ardhira Putra. Foto: Makin Indonesia
Menelusuri Jejak Ardhira Putra: Membangun Jembatan Nostalgia Melalui Estetika Retro Asian Pop yang Mendunia.
Mengapa karya-karyanya selalu terasa nostalgia sekaligus baru di saat yang bersamaan? Ardhira Putra, seniman visual asal Indonesia yang dikenal melalui gaya unik bernama “Retro Asian Pop,” kini tengah mencuri perhatian dunia.
Bergerak bebas di antara dimensi 2D dan 3D, ia membangun ulang memori masa kecil — dari gim konsol hingga iklan jadul — dengan warna-warna vibran yang dihidupkan lewat citra bergerak. Karyanya membangkitkan nostalgia sekaligus memberikan pengalaman segar bagi audiensnya. Namun, dari mana semua ini bermula dan masa depan seperti apa yang ingin ia ciptakan?
Ilustrasi Bergerak: Eksplorasi di Antara 2D dan 3D
Banyak orang yang melabeli Ardhira sebagai seorang motion graphic animator, namun ia sendiri merasa lebih dekat dengan sebutan visual artist atau creator. Perjalanan ini dimulai saat ia menempuh studi animasi 3D di Malaysia. Kala itu, mimpinya cukup spesifik: bekerja di studio besar seperti Pixar atau DreamWorks.
Namun, arah kreatifnya bergeser karena kecintaannya pada musik. Ardhira mengaku sangat dipengaruhi oleh video musik karya Michel Gondry dan Spike Jonze. Baginya, mereka berhasil menciptakan karya yang tidak hanya berfungsi sebagai produk komersial, tetapi juga sebagai sebuah “karya seni” — sebuah gaya yang sangat ia kagumi.
Estetika yang kita lihat sekarang mulai ia kembangkan sekitar delapan tahun lalu. Ia bereksperimen dengan teknis visual, seperti membuat animasi 3D agar terlihat seperti 2D, atau mengubah elemen 2D menjadi visual yang terasa seperti 3D. Proses ini merupakan pencarian panjang untuk menemukan ekspresi “ilustrasi bergerak.” Inilah alasan mengapa ia melihat dirinya dalam spektrum yang lebih luas sebagai seorang kreator.
Belakangan ini, kesibukannya tidak hanya di depan layar. Ardhira terlibat dalam pengorganisasian festival musik Cherry Pop di Yogyakarta dan aktif menciptakan cover art. Ia sedang berfokus membangun ruang bagi orang-orang untuk bersantai melalui musik, sembari terus mendukung pergerakan seniman muda di Indonesia.
Selain inisiatif lokal tersebut, salah satu pencapaian besarnya adalah instalasi video masif di Adobe Summit 2025 yang dipresentasikan di Sphere, Las Vegas. Dikerjakan bersama tim seniman Indonesia yang ia sebut sebagai “Indonesian version of the Avengers,” proyek skala global ini menjadi momen yang sangat krusial dalam kariernya.
Dari Industri Media Menuju Karier Kreatif

Tampak diri Ardhira Putra. Foto: Makin Indonesia
Sebelum dikenal sebagai seniman independen, Ardhira menghabiskan sekitar empat hingga lima tahun bekerja di Kompas, salah satu institusi media terbesar di Indonesia. Di sana, ia bertanggung jawab atas grafis dan motion design, mulai dari pembuatan video YouTube, video eksplanasi untuk klien, hingga infografis. Pengalaman langsung di dunia media ini diakuinya menjadi fondasi kuat bagi identitasnya saat ini.
Namun, bekerja di industri media arus utama membawa beban tanggung jawab yang terkadang terasa berat secara mental. Cara Ardhira untuk memulihkan diri saat itu adalah dengan bermain Super Nintendo. Ia kemudian juga menemukan ketertarikan pada Dreamcast dan anime era 90-an. Hobi-hobi inilah yang memberikannya energi baru dan mengingatkannya pada perasaan murni bahwa ia ingin menciptakan sesuatu lagi.
Hal ini mendorongnya untuk mulai menganimasikan hal-hal yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Ia kerap mengunjungi toko barang antik di Bandung untuk mencari majalah dan grafis lama sebagai inspirasi. Alur konsistensi selama dua tahun dalam memproduksi animasi-animasi tersebut akhirnya mempertemukannya dengan Engelwood. Kolaborasi mereka dalam video musik “Crystal Dolphin” menjadi simbol titik awal karier internasionalnya, menjangkau audiens yang luas dan memberikan makna khusus dalam perjalanan profesionalnya.
Kepekaan Warna yang Dibentuk oleh “Sonic” SEGA

Beberapa karya dan koleksi Ardhira. Foto: Makin Indonesia
Akar dari perasaan “retro” dan “nostalgia” dalam karyanya berasal dari memori fisik masa kecil. Bagi Ardhira, retro adalah gim yang ia mainkan dulu, seperti SEGA, serta mainan dan iklan yang menemaninya tumbuh besar. Ia bercerita bahwa dahulu ia harus belajar agar diizinkan bermain gim oleh orang tuanya. Ia bahkan ingat sering bermain SEGA di waktu sahur agar tetap terjaga.
Gim Sonic the Hedgehog adalah yang paling memberikan dampak besar pada kepekaan warnanya. Budaya gim dan karakter dari Jepang menunjukkan padanya jenis “pop warna-warni” yang sangat berbeda dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Kontras warna yang kuat tersebut terasa sangat spesial dan langsung terhubung dengan cara ia menggunakan warna hari ini.
Kini, nostalgia tersebut ia terjemahkan ke masa kini dengan mengoleksi mainan dan gim di studionya, terutama judul-judul Dreamcast. Ia mempelajari UI (User Interface) dan desain dari gim-gim tersebut. Koleksi ini bukan sekadar hiasan atau hobi, melainkan sumber inspirasi utama. Baginya, pengalaman visual masa kecil yang tersimpan jauh di dalam diri adalah inti dari kreativitasnya.
Pelajaran dari Mal: Merangkul Budaya Massa
Tumbuh besar di Bintaro, sebuah kawasan residensial di selatan Jakarta, Ardhira merasakan atmosfer perkotaan yang beragam karena menjadi tempat bertemunya orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, memori masa kecil yang paling menonjol baginya adalah kunjungan rutin ke mal bersama keluarga.
Bagi Ardhira, mal adalah tempat belajar dan penemuan. Di sana ia merasakan arus manusia, tren, iklan, dan desain. Pengaruh budaya mal yang kuat di Asia, seperti di Bangkok dan Singapura, secara alami menjadi bagian dari dirinya. Jika karyanya terasa memiliki identitas personal sekaligus daya tarik massa layaknya sesuatu di pusat perbelanjaan, itu karena mal adalah lanskap orisinalnya.
Pengaruh Sinema Asia dan Ambisi Mendunia
Selain anime dan gim Jepang, Ardhira banyak belajar dari film-film Hong Kong karya Wong Kar-wai, animasi Taiwan, hingga ekspresi kreatif baru dari Korea dan Singapura. Kesadarannya akan kekuatan sinema Asia tumbuh ketika ia mulai mendalami karya sutradara Asia dan menyadari bahwa dampaknya tidak kalah kuat dari budaya pop Barat. Hal ini membuatnya bertekad untuk selalu menyertakan elemen “Asia” dalam setiap karyanya.
Salah satu contoh nyata adalah karyanya untuk DJ Didilong, di mana ia membawa suasana dan keindahan film Wong Kar-wai melalui filter desainnya sendiri. Meski fondasi teknisnya dipelajari di Amerika Serikat, gaya visualnya dibentuk oleh Asia. Saat ini, salah satu impian terbesarnya adalah menyebarkan City Pop Indonesia ke seluruh dunia melalui animasi, serupa dengan bagaimana musik Tatsuro Yamashita atau Mariya Takeuchi dinikmati secara global.
Peluang Kreatif dari Asia Tenggara
Melihat tren sepuluh tahun terakhir, Ardhira mencatat perubahan besar. Jika dulu perhatian internasional lebih banyak tertuju pada seniman Barat, kini seniman Indonesia mulai bergerak mandiri dengan membuat festival ilustrasi dan desain sendiri.
Ia percaya bahwa lebih banyak seniman lokal harus berani terjun ke kancah internasional. Namun, karya yang kuat saja tidak cukup; kemampuan komunikasi bahasa Inggris dan public speaking menjadi sangat esensial. Berdasarkan pengalamannya, aktif di panggung internasional bukan berarti harus selalu ke London atau New York, karena panggung besar sudah tersedia di kawasan regional seperti Malaysia dan Singapura. Dengan memperkuat jaringan di Asia Tenggara, komunitas seni lokal dapat tumbuh tanpa harus selalu bergantung pada ekosistem Barat.
Rumah adalah Jakarta, Tempat Berkumpulnya Kawan
Menatap masa depan, Ardhira berharap dalam sepuluh tahun ke depan akan lebih banyak seniman muda Indonesia yang aktif secara internasional. Inilah alasannya mengapa ia senang berperan sebagai juri di berbagai festival untuk mendukung generasi penerus.
Meski Indonesia, Singapura, dan Malaysia sudah terasa seperti rumah, basis utamanya tetaplah sebuah ruangan di Jakarta. Baginya, Jakarta memiliki makna spesial karena semangat keramahannya. Di sana, ia bisa menyambut teman-temannya, menikmati emping, dan merasakan kenyamanan yang murni. Jakarta bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber kreativitas yang membuatnya selalu merasa “pulang.”
Catatan Redaksi:** **Foto dan naskah dalam konten ini diadaptasi dari wawancara yang pertama kali diterbitkan oleh Makin’ Indonesia dalam versi Inggris & Jepang, dan disunting oleh Tanamtumbuh Media untuk publikasi.
메타데이터
- post_id
- 04bb5a93950d
- slug
- a-retro-future-inspired-by-mall-culture-menyelami-dunia-visual-ardhira-putra-04bb5a93950d
- url
- https://medium.com/@tanamtumbuh/a-retro-future-inspired-by-mall-culture-menyelami-dunia-visual-ardhira-putra-04bb5a93950d
- canonical_url
- https://medium.com/@tanamtumbuh/a-retro-future-inspired-by-mall-culture-menyelami-dunia-visual-ardhira-putra-04bb5a93950d
- author_url
- https://medium.com/@tanamtumbuh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30