← Back to list

Culture Donasi Ternyata Penting: Catatan dari EA Summit Vietnam 2026

Negara Kita Ternyata Kalcer + Mengapa Itu Bisa Jadi Penting

Rakean Radya Al Barra · 2026-07-17 00:01 · 78 claps · 5.3 min read
#effective-altruism #ea #vietnam #indonesia #gwwc
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media

Culture Donasi Ternyata Penting: Catatan dari EA Summit Vietnam 2026

Negara Kita Ternyata Kalcer + Mengapa Itu Bisa Jadi Penting

Akhir pekan lalu, saya diterbangkan ke Vietnam ‘hanya’ untuk mengelola sebuah stand.

Pada April 2026 lalu sebenarnya saya telah melakukan hal yang persis sama di acara EA Summit Jakarta:

Saya mengelola booth Giving What We Can — organisasi global yang mengajak orang untuk mengambil sebuah pledge, yaitu ikrar atau komitmen untuk menyumbangkan sebagian pendapatannya kepada organisasi amal atau program kemaslahatan yang paling efektif. Pledge utama GWWC adalah 10% — bisa dibayangkan kan ya betapa besarnya ini untuk orang-orang tajir luar negeri — tetapi bisa juga untuk trial pledge dengan angka dan durasi donasi yang bebas mulai dari 1% dan 6 bulan. — Berbuat Baik dengan Lebih Baik: Catatan dari EA Summit Jakarta 2026

Di Jakarta, dari 136 peserta yang hadir, booth saya berhasil mendapatkan 20 pledgers. Bagiku, rasanya begitu mudah dan menyenangkan untuk ‘mengajak orang-orang bersedekah’, lalu ‘mengajak orang-orang bersedekah dengan lebih baik berbasis pendekatan ilmiah’.

I was a star.

Dengan performa tersebut, GWWC meminta saya untuk melakukan hal yang sama di Vietnam. Tentu saja saya mengiyakan.

Ternyata, realitas di lapangan memberi sedikit tamparan.

Sejak menit pertama hingga acara ditutup, perbedaan energinya langsung terasa. Pertama, pesertanya tidak sebanyak di Jakarta. Saya juga menghadapi kendala bahasa (language barrier) yang nyata, sampai-sampai beberapa orang lokal harus berulang kali membantu saya menerjemahkan penjelasan taktis di booth.

Sebetulnya, para peserta sepakat-sepakat saja dengan premis ‘donasi efektif’ dan segala narasi yang sudah saya siapkan matang-matang. Mereka mengangguk ketika dijelaskan bahwa tidak semua lembaga amal diciptakan sama. Mereka dengan semangat mendiskusikan (secara teori) mengenai intervensi apa yang paling akan mereka prioritaskan untuk didonasikan apabila ada uang banyak.

Namun, begitu masuk ke tahap call to action melalui komitmen nyata dalam berdonasi, saya berulangkali membentur dinding tebal. Peserta pada umumnya hanya mengangguk, berterima kasih atas penjelasanku, lalu pergi.

Setelah berdiskusi dengan orang dari Centre for Effective Altruism (CEA) dan juga salah satu community builder dari EA Vietnam, saya mengobservasi suatu hipotesis: Vietnam belum memiliki kultur memberi (giving culture) yang mengakar secara formal di masyarakatnya.

Jauh lebih sulit membawa seseorang dari angka 0 ke 1, dibandingkan membawa orang lain dari angka 1 ke 10.

Mendekati orang yang tidak terbiasa berdonasi (si “0”) dan langsung meminta mereka berkomitmen melakukan pledge efektif agaknya adalah lompatan yang terlalu jauh. Terdapat dua tebing psikologis: pertama, membangun kebiasaan untuk melepas sebagian kepemilikan materi mereka, serta kedua, mengalokasikannya secara rasional terhadap lembaga yang paling berdampak.

Sebaliknya, di Indonesia, kultur memberi sudah amat sangat mengakar. Spirit gotong royong dan semangat berziswaf (zakat, infaq, sedekah, wakaf) barangkali ialah denyut nada harian Indonesia yang sejauh ini sudah menyentuh berjuta-juta jiwa.

Menurut saya, orang Indonesia secara kultural sudah berada di angka “1” dalam hal donasi. Dengan demikian, mengajak mereka naik ke angka “10” — yakni menuntut efektivitas dari donasi mereka — jauh lebih mudah dilakukan karena “otot memberi” sudah terlatih.

Mungkin ini ialah observasi yang terkesan biasa saja. Akan tetapi, hal se-‘biasa’ kultur bisa jadi memberi cukup krusial dalam dinamika makro global yang belakangan semakin tak bisa diandalkan.

Sunset-nya Pendanaan Pembangunan Global

Selama berdekade-dekade, negara-negara berkembang dan miskin sangat bergantung pada Bantuan Pembangunan Resmi atau Official Development Assistance (ODA) serta bantuan bilateral dari negara-negara maju untuk mendanai development, yakni kata yang biasanya merujuk kepada sektor sosial, pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan ekstrem.

Sayangnya, lanskap pendanaan ini yang dahulu bisa diandalkan kini sedang runtuh. Berdasarkan laporan resmi OECD, arsitektur donor internasional sedang mengalami penarikan mundur.

Berikut beberapa poin:

  • Penyusutan Drastis ODA Global: Data resmi menunjukkan bahwa pada tahun 2025, total ODA global menyusut ke angka USD 174,3 miliar. Ini merupakan penurunan sebesar 23,1% dibanding tahun sebelumnya. Inilah kontraksi tahunan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah, yang menghapus pertumbuhan dana bantuan selama hampir satu dekade dan mengembalikannya ke baseline awal. Sumber data lengkap dapat diakses pada OECD Data Explainer: A Historic Decline in Foreign Aid.
  • Mundurnya Raksasa Donor: Penurunan ini didorong secara agresif oleh 5 penyumbang terbesar di Komite Bantuan Pembangunan (DAC), yakni Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Prancis. Amerika Serikat sendiri memotong bantuan bilateral dan multilateralnya hingga 56,9% hanya dalam satu tahun anggaran (salah satunya akibat dibubarkannya sebagian besar program USAID). Analisis komprehensif mengenai pemotongan ini dapat dibaca di OECD Full Report: Cuts in Official Development Assistance.
  • Krisis Kemanusiaan yang Kekurangan Dana: Dana kemanusiaan global dari negara-negara DAC ikut merosot tajam sebesar 35,8% menjadi hanya USD 15,5 miliar. Dokumen detail penurunan ini tercantum dalam laporan OECD Cuts in ODA.
  • Ancaman Sektor Kesehatan Global: Sektor kesehatan global juga diperkirakan menghadapi pemangkasan anggaran antara 19% hingga 33%. Ironisnya, ini membawa kapasitas penanganan penyakit kembali ke era sebelum pandemi Covid-19. Laporan ini dapat ditelusuri melalui OECD Cuts in ODA Chapter 2.

Ketika negara-negara maju memilih untuk mengamankan fiskal domestik dan menutup keran bantuan asing, dunia berkembang terpaksa untuk ‘mandiri’ dan mencari alternatif lain.

Dengan demikian, mobilisasi sumber daya domestik bukan sekadar slogan-slogan kemenangan politik atau wacana nasional, melainkan realita takdir pertahanan ekonomi yang kini semakin harus dipenuhi.

Filantropi Ritel: Mengisi Celah yang Ditinggalkan Negara

Di tengah bayang-bayang mundurnya dana bantuan internasional, bisakah ada keselamatan dari akumulasi recehan publik?

Donasi ritel, dalam kata lain gerakan kolektif masyarakat biasa yang menyumbang secara kecil-kecilan, bisa jadi alternatif yang dilirik. Jangan-jangan bisa jadi efeknya luar biasa jika dikelola secara strategis.

Sebagai gambaran kasar, ekosistem keuangan sosial global (i.e. development sector, dsb.) memiliki potensi bernilai triliunan dolar. Di Indonesia sendiri, potensi pengumpulan dana filantropi publik seperti zakat dan wakaf diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah per tahun jika digarap secara maksimal. Nilai ini mungkin bisa bersaing dengan total ODA global yang dikirimkan oleh negara-negara maju.

Kunci dari efektivitas filantropi ritel sebagai solusi pengganti (atau setidaknya suplemen) bantuan asing terletak pada dua hal: mengubah paradigma peruntukan donasi dari konsumtif menjadi produktif, dan mengubah donasi dari sekadar emosional menjadi berbasis data.

Selama ini, mayoritas donasi publik di negara berkembang habis untuk bantuan konsumtif jangka pendek seperti membagikan sembako atau santunan tunai cepat saji yang hanya menyelesaikan lapar untuk hari esok.

Agar donasi ritel publik ini mampu menggantikan fungsi bantuan asing dalam membangun infrastruktur sosial, kita harus mendorongnya ke arah intervensi yang memiliki bukti ilmiah kuat (evidence-based).

Program seperti bantuan modal usaha mikro yang disertai pendampingan bisnis intensif, beasiswa pendidikan berbasis prestasi bagi keluarga rentan yang outcomes-nya di-track hingga puluhan tahun kemudian, hingga intervensi kesehatan preventif terukur adalah beberapa contoh penggunaan uang masyarakat sipil untuk development outcomes yang efektif.

Sayangnya tidak banyak fokus kajian ataupun fokus lembaga dalam memaksimalkan maslahat secara ilmiah berbasis rigorous evidence seperti melalui randomized controlled trials, disertai dengan monitoring and evaluation yang mumpuni. Sepertinya masih banyak ruang di lini ini untuk dikembangkan, jika ada yang sabar menekuninya.

Membawa Dunia dari 1 ke 10

Pengalaman saya dari Jakarta hingga Vietnam memberikan suatu kesimpulan penting: kita tidak bisa memecahkan masalah kemiskinan global yang rumit ini hanya dengan mengandalkan sistem lama.

Ketika bantuan asing dari negara-negara kaya menguap dan alokasi fiskal negara sendiri patut dipertanyakan, barangkali warga harus betul-betul jaga warga.

Harapan kita bersandar pada masyarakat sipil itu sendiri.

Dengan demikian, wilayah dengan kultur memberi yang sudah tinggi (si “1” seperti Indonesia) memiliki potensi untuk mengurus development domestiknya dengan memanfaatkan dana dari masyarakatnya sendiri (seperti pajak, tetapi barangkali lebih terdesentralisasi dan sukarela).

Tugas kita selanjutnya adalah menantang diri sendiri dan sekeliling untuk naik kelas dari angka 1 ke angka 10: apakah sumbangan saya sudah dikelola secara profesional? Apakah sumbangan saya benar-benar menyelamatkan nyawa, atau hanya sekadar menenangkan hati saya agar merasa menjadi orang baik? Apakah institusi yang saya percayakan sumbangan saya ini memang berkomitmen untuk memaksimalkan dampak secara akuntabel?

Jika di masa depan Indonesia berhasil semakin terindustrialisasi dan kita semua semakin kaya (aamiin), sebuah giving culture yang efektif dapat menjadi sumber dana pembangunan yang lebih masif lagi untuk skala global. Akan amat disayangkan bila modal giving culture yang merupakan anugerah Tuhan ini tidak di-upgrade dari 1 ke 10.

Ini bisa menjadi fajar baru bagi development. Narasinya pun ciamik sekali: mengalokasikan donasi dari dompet kita masing-masing dengan sains dan data untuk mengentaskan kemiskinan dan menyelamatkan dunia.

Bisakah mulai dari Indonesia?


메타데이터
post_id
04fa0db668d1
slug
culture-donasi-ternyata-penting-catatan-dari-ea-summit-vietnam-2026-04fa0db668d1
url
https://medium.com/@rakeanradya/culture-donasi-ternyata-penting-catatan-dari-ea-summit-vietnam-2026-04fa0db668d1
canonical_url
https://medium.com/@rakeanradya/culture-donasi-ternyata-penting-catatan-dari-ea-summit-vietnam-2026-04fa0db668d1
author_url
https://medium.com/@rakeanradya
status
ok
fetched_at
2026-08-05 19:46:00