Bukan Waktunya Kita
Ternyata setiap quotes, kata-kata bijak, nasihat, itu semua tercipta dari satu kegagalan, kesalahan, kesakitan, hingga penyesalan, yang…

credit: pinterest
Bukan Waktunya Kita
Ternyata setiap quotes, kata-kata bijak, nasihat, itu semua tercipta dari satu kegagalan, kesalahan, kesakitan, hingga penyesalan, yang telah tergores dalam pengalaman hidup seseorang. Kata-kata yang sering kali kita anggap klise, tidak masuk akal — tidak benar-benar tidak masuk akal. Kita hanya belum berada dalam perahu yang sama seperti mereka. Setidaknya hal itu yang aku rasakan saat ini, atau baru aku sadari belakangan ini.
Orang yang tepat, diwaktu yang tidak tepat.
Setidaknya, dulu aku berpendapat kata-kata itu tidak lebih dari sebuah aksara. Hingga aku sendiri yang merasakannya, itu tidak hanya jejeran kata, itu tidak sesederhana kalimatnya. Sakit dan penyesalan terdalam seolah menghujam bersamaan saat quotes ini tercipta. Dalam kalimat yang ringkas, seseorang baru saja kehilangan dua hal yang sulit dan tidak mungkin lagi kembali, yaitu orang yang tepat, dan waktu. Ya, aku sudah kehilangan keduanya.
Jika ada yang bilang, “kenapa waktu yang tepat itu tidak kamu ciptakan, saat orang yang tepat itu datang?.”. Lagi, jawabannya tidak sesederhana itu. Bagaimana bisa, aku ciptakan waktu yang tepat untuknya, ketika aku sedang sibuk menambal perahuku yang bocor diberbagai sisi seorang diri?. Lalu dia datang, yang dalam kacamataku, kehadirannya dalam perahuku hanyalah “beban”. Aku yang sudah terbiasa diandalkan penumpang dalam perahu, dan selama ini hanya dapat mengandalkan diri sendiri, merasa asing dengan bantuannya. Saat dia tawarkan tumpangan pada perahunya, aku marah besar. Bagaimana bisa dia menawarkan hal besar, semudah itu?. Akulah orang yang penuh dengan tanda bendera merah itu, akulah si antagonis itu, akulah orangnya, yang sudah hancurkan tulusnya harapan salah seorang anak adam.
Kini perahuku perlahan usai ku benahi, fokus sudut pandangku tak hanya terbatas orang-orang dalam perahuku saja. Aku sudah mulai melihat harapanku sendiri, impianku, hasratku. Rasanya, aku sudah mampu ciptakan waktu yang tepat itu sekarang. Hingga kabar itu datang, ciptakan keselarasan dengan kata bijak lainnya.
Kesempatan yang hilang, diwaktu yang tepat.
Dia, telah mendayung perahu sederhananya dengan orang lain. Perahuku memilih bersandar sebentar, menerima tidak pernah sesakit ini. Dan dia sudah berulang kali ku berikan sakit itu. Rasanya ingin sekali ku bocorkan perahuku kembali, hingga aku sibuk sendiri, bukan begini.
Dia tidak pernah sekalipun menyakiti, akulah yang sudah menghujam satu panah untuk dua orang itu. Maka ingin ku sampaikan kata maaf untuk dia dan diriku sendiri.
Arungilah laut sejauh yang kamu mau bersamanya, buat cerita yang bahagia ya?. Aku biar di sini dulu, menunggu bunga-bunga yang telat bermekaran ini gugur dengan sendirinya.
-dxa.
메타데이터
- post_id
- 05116da6c2e5
- slug
- bukan-waktunya-kita-05116da6c2e5
- url
- https://medium.com/@dxaugust/bukan-waktunya-kita-05116da6c2e5
- canonical_url
- https://medium.com/@dxaugust/bukan-waktunya-kita-05116da6c2e5
- author_url
- https://medium.com/@dxaugust
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01