← Back to list

Refleksi Jambore Gonzaga

Saya sadar, saya bukan tipe orang yang mudah sekali berbaur. Itu kenapa saat pembagian kelompok Jambore saya merasa susah sekali untuk…

Jovanca Penpada · 2025-04-28 06:28 · 0 claps · 4.0 min read
#jambore #camp #gonzaga
Open on Medium ↗

Refleksi Jambore Gonzaga

Saya sadar, saya bukan tipe orang yang mudah sekali berbaur. Itu kenapa saat pembagian kelompok Jambore saya merasa susah sekali untuk bonding di beberapa pertemuan Jambore. Namun, hal itu tidak bertahan lama bagi saya karena, pada tanggal 13 April 2025 yang juga merupakan hari pertama kegiatan Jambore dimulai saya merasa tidak lagi kesusahan untuk bonding dengan teman-teman kelompok. Rasanya, seperti saya sudah mengenal mereka lama. Hal ini sangat amat membantu saya dalam berkomunikasi dalam kelompok, apalagi saat perjalanan karena kami dapat saling menghibur satu sama lain selama perjalanan.

Setelah perjalanan yang panjang akhirnya kami sampai di Waduk Jatiluhur pada sore hari. Di hari ini kami mengikuti acara pembukaan Jambore dengan upacara. Setelah upacara, kami langsung diarahkan ke campsite tempat di mana kami akan membangun tenda untuk istirahat. Saat membangun tenda, saya dan teman-teman saya kesulitan untuk memasang kerangka tenda. Ternyata, karena ada yang salah dengan teknik memasangnya. Setelah tau masalahnya, kami langsung bergegas memperbaiki dan tenda bisa terpasang dengan baik tentu dengan bantuan beberapa teman lain.

Setelah memasang tenda, kami langsung siap-siap untuk memasak. Saya bergegas mengambil barang-barang dan bahan-bahan yang akan diperlukan untuk memasak. Saya bertugas untuk membawa pisau, sutil, tahu, dan tempe. Kami semua kaget karena ternyata pihak sekolah juga menyediakan bahan masakan untuk kami. Jadi, bahan yang kami miliki terlalu banyak dan akhirnya tidak semua bisa diolah saat itu juga jadi, bahan-bahan makanan kelompok kami banyak yang sisa.

Keesokan harinya, kelompok saya mendapat jadwal untuk kegiatan trekking, rafting, dan solo night. Saya tidak menyangka ternyata trekking menjadi salah satu kegiatan yang sangat melelahkan karena harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Namun, karena trekking ini saya dapat melihat sifat dari masing-masing teman-teman sekelompok saya contohnya, ada yang perhatian namun juga ada yang tidak peka sama sekali. Saat kegiatan trekking juga ada banyak games yang harus kami lewati agar bisa lanjut ke pos berikutnya. Games yang kami mainkan sangat seru karena mengasah daya pikir otak kami dan juga menantang kami dalam hal bekerja sama antar kelompok.

Saat merakit, kami dibagi menjadi 6 kelompok berisi 2–3 orang untuk merakit satu ban. Namun, ada kesulitan lagi yang saya rasakan. Saya tidak pandai dalam hal merakit dan teman saya juga tidak pandai. Kami berusaha untuk mencoba merakit berkali-kali namun gagal terus. Akhirnya kami meminta bantuan kepada salah satu anggota kelompok yang memang jago dalam hal merakit. Tidak lama rakit kami sudah jadi berhak bantuan teman kelompok saya dan rakit siap untuk ditumpangi. Sebelum kami rafting, kami menggunakan pelampung terlebih dahulu dan belajar untuk mengapung. Untungnya kelompok saya semua bisa mengapung dengan baik tanpa hambatan. Saatnya untuk naik ke rakit untuk menyeberangi Waduk Jatiluhur. Awalnya, semua berjalan dengan lancar namun, tidak disangka ternyata ban yang saya dan teman saya duduki bocor. Tanpa berpikir panjang saya langsung menutup kebocoran dengan tangan saya dan memberitahu yang lain mengenai kebocoran ini. Semua anggota kelompok tenang dan tidak ada yang panik, hal ini membuat kami semua dapat menyeberangi Waduk Jatiluhur walaupun salah satu ban dalam keadaan bocor.

Setelah rafting, saya bergegas untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk solo night. Saya sebenarnya takut sekali untuk solo night, tapi mau tidak mau saya tetap harus ikut serta dalam kegiatan ini. Saat saya memasang bivak, saya tidak merasa kesulitan karena sudah berlatih dengan maksimal di sekolah. Setelah refleksi, saya langsung menutup mata untuk tidur agar semua cepat berlalu. Saat saya bangun, saya tertawa karena ternyata setengah dari badan saya sudah keluar dari bivak. Walaupun bivak saya tidak bertahan sampai pagi, tapi saya tetap sangat bersyukur karena saya bisa tidur pulas tanpa terganggu dan terlindungi dari serangga yang ada di sekitar area solo night.

Waktunya untuk deep learning dan high rope. Awalnya saya mengira kegiatan deep learning akan membosankan sekali bagi saya tetapi ternyata, sangat amat seru. Di waktu yang ada, kami satu kelompok memanfaatkan waktu ini untuk mewawancarai warga sekitar dan juga anggota brimob. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat dan tersisa 10 menit lagi. Kelompok saya lupa kalau kami juga harus membuat mind map. Akhirnya kami bergegas untuk pergi ke titik awal untuk membuat mind map dan mempresentasikan mind map dengan baik. Selain itu, Waduk Jatiluhur ini mengingatkan saya kepada taman kota yang tidak lama saya kunjungi sebelum Jambore. Taman itu bernama Taman Situ Lembang, taman ini dibuat mengelilingi danau buatan yang memiliki air mancur besar di salah satu bagian danau. Walaupun keduanya sama-sama buatan manusia, namun Waduk Jatiluhur terlihat lebih luar dan dalam dari pada danau buatan di Taman Situ Lembang. Selain itu mereka memiliki kesamaan yaitu, keduanya sama-sama menawarkan suasana alam yang asri dan dapat menjadi tempat favorit untuk melepas penat di akhir pekan.

Dari beberapa hari berada di Waduk Jatiluhur saya sungguh terinspirasi bahwa pemandangan alam yang dibuat oleh manusia atau tidak sama-sama memiliki keindahan yang sama asalkan manusia bisa merawat lingkungan sekitar dengan bijak. Karena itu saya sungguh berharap sepulang saya dari Jambore, saya bisa lebih memperhatikan lingkungan sekitar saya agar semua orang dapat menikmati keindahan alam di sekitar. Hal ini bisa saya mulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya.

High rope menjadi salah satu kegiatan yang paling saya tunggu-tunggu. Teman-teman saya yang lain terlihat takut saat menaiki high rope namun, saya kebalikan dari itu. Saya sangat bahagia saat menaiki high rope, saya tidak merasa takut sedikitpun saat berada di atas. Saya rasa itu juga karena dulu ayah saya sering membawa saya untuk main flying fox. Saat saya diharuskan untuk lompat sambil memukul bola saya terdiam beberapa detik, bukan karena takut tinggi namun karena saya sedang memikirkan bagaimana caranya saya bisa melompat dan juga memukul bola sekaligus dalam satu kali percobaan. Setelah berpikir sebentar akhirnya saya lompat dan memukul bola tersebut. BERHASIL! Saya berhasil memukul bola tersebut. Saya merasa sangat amat senang dan lega karena telah berani dan berhasil memukul bola.

Ini adalah hari terakhir kami di Waduk Jatiluhur. Sebelum pulang, kami melaksanakan misa terlebih dahulu untuk menutup acara Jambore. Setelah misa, kami satu angkatan melakukan foto bersama untuk mendokumentasikan acara ini. Lalu, kami semua bersiap packing carrier dan membereskan tenda. Lalu kami satu per satu naik ke atas tronton dan akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing. Itulah akhir dari pengalaman kegiatan Jambore saya yang sangat mengajarkan saya banyak hal seperti pentingnya kerja sama, berpikir kritis, keluar dari zona nyaman, mandiri, dan untuk menjadi seorang leader.


메타데이터
post_id
0574dfd79794
slug
refleksi-jambore-gonzaga-0574dfd79794
url
https://medium.com/@jovanca.penpada1208/refleksi-jambore-gonzaga-0574dfd79794
canonical_url
https://medium.com/@jovanca.penpada1208/refleksi-jambore-gonzaga-0574dfd79794
author_url
https://medium.com/@jovanca.penpada1208
status
ok
fetched_at
2026-08-05 03:48:30