← Back to list

Tetangga di Depan Rumah

Ada yang aneh pagi ini. Dua mobil box putih parkir di sebrang rumah. Naina tidak tahu kapan tepatnya mobil itu datang, tapi pagi ini dia…

cravesan · 2026-06-15 12:42 · 0 claps · 11.7 min read
#crime-fiction #fiksi #thriller #cerpen-indonesia #cerita-fiksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Tetangga di Depan Rumah

Ada yang aneh pagi ini. Dua mobil box putih parkir di sebrang rumah. Naina tidak tahu kapan tepatnya mobil itu datang, tapi pagi ini dia sudah menemukan keberadaan dua mobil box tersebut di sebrang rumahnya ketika menyapu teras.

Tidak ada tanda-tanda seseorang berada di dalam mobil tersebut. Akan tetapi, Naina bisa melihat siluet beberapa orang dari dalam rumah. Rumah yang sudah kosong selama lima tahun itu kini akhirnya berpenghuni.

Usai bersiap-siap, Naina sudah standby di depan laptopnya yang menyala menampilkan tampilan aplikasi video conference. Ada kelas online pagi ini dan dia wajib hadir untuk memenuhi absensi. Biasanya Naina menggunakan meja makan untuk menaruh laptopnya dan dia bisa dengan mudah menjangkau cemilan atau minuman di dapur. Namun, pagi ini Naina sengaja duduk di balkon lantai dua sembari mengawasi tetangga barunya. Dia penasaran.

Para pria berbadan besar dengan rompi berwarna kuning bertuliskan perusahaan jasa pindah, keluar satu persatu dari dalam rumah. Disusul, seorang pria tinggi dengan kaus hitam dan celana pendek. Kulitnya putih pucat. Rambutnya gondrong. Mata Naina membesar dan senyum kecil terbit di bibirnya. “Wih ganteng,” gumamnya senang.

Namun, Naina sama sekali belum bertemu dengan penghuni baru itu sejak kepindahannya satu minggu lalu. “Kalo begini terus kapan gue bisa kenalan sama dia?” ucap Naina lesu pada Clara, temannya, lewat sambungan video conference. Usai kelas siang ini, Naina mendapat tugas kelompok berdua dengan temannya. Jadi, sembari mengerjakan tugas, diselingi dengan curhatan.

“Bikin sesuatu kek, cookies gitu, lo kan jago bikin cookies. Nah anterin buat dia sambil ajak kenalan.” Clara memberikan usul.

Cookies ya? Gue gak yakin dia mau nerima cookies buatan gue. Lo kan tau sekarang zaman virus Corona. Harus hati-hati sama makanan yang berasal dari luar. Apalagi dia gak kenal gue. Takutnya malah gak nyaman.” Naina menggeleng tidak setuju.

“Kalo gitu gimana caranya lo bisa kenalan sama tetangga lo yang ganteng itu?”

Naina mengangkat bahu, tidak tahu.

Pembatasan mobilitas mulai melonggar. Akitivitas perkuliahan pun mulai dibuka secara offline. Hanya saja pemakaian masker masih harus ditaati selama di dalam ruangan tertutup.

Kelas Naina usai di sore hari saat langit sudah memerah, dia tidak bergegas untuk pulang. Dia ingin berjalan-jalan, melepas penat setelah pembatasan selama dua minggu yang membuatnya terkurung di dalam rumah.

Naina memilih berjalan kaki sesaat turun dari bus di halte yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Dia singgah di salah satu minimarket dan mencomot beberapa jajanan dari rak pajangan saat seseorang juga mengambil jajanan yang sama dengannya. Naina tersentak dan refleks menarik tangannya lalu menoleh ke samping. Seorang pria tinggi dengan pakaian serba hitam dengan topi dan masker hitam langsung mengatakan maaf dan bergegas ke depan kasir. Dia tampak terburu-buru. Bersamaan dengan itu, dua orang gadis yang berada di belakang Naina berbisik-bisik dan mengeluarkan ponsel sembari mengarahkannya ke pria berpakaian serba hitam itu.

Naina menyadari kalau pria berpakaian serba hitam itu merasa tidak nyaman. Lantas Naina langsung bergegas ke kasir dan berdiri di belakang pria itu sembari berusaha untuk menghalangi arah kamera dua gadis tersebut.

Entah apa yang Naina lakukan itu benar atau salah, tapi rasa-rasanya ada yang aneh. Sebab, setelah keluar dari minimarket dan berjalan pulang, si pria berpakaian hitam itu ikut berjalan di belakang Naina. Apa dia juga tinggal di lingkungan yang sama dengan Naina? Atau hal buruknya adalah Naina sedang dikuntit?

Lingkungan yang lengang adalah salah satu alasan Naina memilih tinggal sendiri di sini. Bukan berarti dia bisa menjadi sasaran seorang penguntit, bukan?

Saat berbelok menuju rumahnya yang berjarak tiga rumah lagi, Naina bisa mendengar langkah kaki di belakangnya yang terdengar semakin dekat. Berat dan terburu-buru. Naina refleks melangkah cepat sembari menghitung dalam hati, pada hitungan kelima dia berbalik dan dibuat kaget bukan main karena pria berpakaian serba hitam itu sudah terjerembab di atas trotoar. Terdengar keluhan kesakitan. Seketika Naina merasa iba.

“Lo gak papa?” Naina takut-takut mendekat.

Saat itulah dia melihat si pria membuka masker dan topinya. Naina tertegun beberapa saat ketika mengenali wajah pria itu yang ternyata adalah tetangga di depan rumahnya. Meski baru melihat sekali dan dari jarak yang cukup jauh, tapi fitur wajah pria itu tidak mudah dilupakan.

Kesadaran Naina kembali saat melihat mobil van hitam melaju cepat di jalan secara ugal-ugalan. Naina langsung menarik lengan pria itu untuk menjauh dari trotoar dan masuk ke dalam gang kecil yang ternyata berada di sebelah rumahnya. Jantungnya berdetak cepat saat menyadari ada yang tidak beres dengan kehadiran mobil van hitam yang seolah-olah sedang memburu si pria tetangganya itu.

“Lewat sini, di sini lo aman.” Naina mendorong pria itu untuk masuk ke halaman belakang rumahnya. Ada taman kecil dan bangku kayu, Naina mendorong pria itu agar duduk di sana.

“Kenapa lo nolongin gue?” tanya pria itu dingin, tapi tak urung dia tetap duduk di bangku kayu itu.

“Gue tau ada yang gak beres. Dan lo itu orang yang tinggal di depan rumah gue. Jadi sesama tetangga harusnya saling membantu. Apa gue salah?”

Pria itu mendecakkan lidah. “Kok lo tau kalau gue tetangga lo? Perasaan gue belum pernah ketemu orang lain di lingkungan ini selain Pak RT.” Pria itu menjelaskan bagaimana dia memang mengurung diri di rumah sejak kepindahannya.

“Gue pernah liat lo keluar pas hari lo pindah. Dan muka lo bukan jenis muka yang pasaran dan gampang dilupain. Makanya gue masih inget.” Naina hampir saja kelepasan bicara memuji ketampanan pria itu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Naina menegang. Tangannya merogoh saku celana bersiap mengambil kunci rumah. Kalau-kalau dia perlu memasukkan pria itu ke dalam rumahnya.

Namun, dia mendesah lega ketika mendengar obrolan. “Dia gak ada di sini, ayo cepat pergi!” ucap suara berat tak dikenal yang disusul langkah kaki menjauh.

Naina memberanikan diri mengintip. Di balik tanaman bonsai di belakang rumahnya, dia bisa melihat dua orang berbadan besar masuk ke dalam mobil van hitam yang berada di ujung gang.

Niat jahil pun muncul. Dia melirik pria itu yang juga menatapnya. Ekspresi wajahnya menegang dan bibirnya pasi.

“Apa gue kasih tau aja ya sama mereka kalau lo ada di sini?” Naina menyeringai.

Pria itu menggeleng, wajahnya makin pucat.

Sesaat kemudian, mobil van hitam itu pun pergi.

“Yah mereka udah pergi, ga jadi dong mereka ketemu sama lo.”

Pria itu menghela napas lega. Dia lalu berujar dengan suara pelan. “Makasih.”

“Udahlah biasa aja. Btw, kenalin gue Naina. Lo siapa?”

“Arhan.”

Acara infotainment di televisi menayangkan tentang seorang aktor yang terpaksa harus hiatus dari layar kaca karena masalah pribadi. Rumornya dia sedang dikuntit seseorang yang diduga adalah fansnya sendiri. Naina yang awalnya enggan menonton siaran gosip, dibuat terpaku menatap televisi ketika muncul potret aktor tersebut. Seketika matanya membulat kaget. “Itu kan Arhan?”

“Jadi tetangga lo itu si Arhan yang kabarnya lagi hiatus gara-gara dikuntit fansnya sendiri ya?”

Naina menceritakan kejadian kemarin pada Clara di kelas pagi ini. “Iya!”

“Masa sih? Gue gak percaya.”

“Kalo lo gak percaya, ayo ke rumah gue. Tapi gue gak yakin sih lo bakal ketemu sama dia karena si Arhan gak pernah keluar rumah sama sekali. Gue ketemu dia waktu itu juga cuman kebetulan aja.”

“Kalo gitu kirimin gue fotonya aja.”

“Gak deh, kalo gue kirimin lo fotonya, sama aja dong gue sama kayak fans-fansnya dia. Apalagi yang terang-terangan nguntit dia kemana-mana.” Naina teringat dua gadis yang memotret diam-diam Arhan di minimarket. Padahal Arhan sudah mengenakan masker dan topi hitam, tapi dia masih dikenali para fansnya. Tidak terbayangkan oleh Naina bagaimana rasanya jadi Arhan.

Usai pertemuan tidak terduga itu, Naina belum bertemu lagi dengan Arhan. Berita gosip di televisi masih menayangkan tentang hiatusnya Arhan dan foto-foto Arhan yang beredar di internet pasca hiatusnya dia. Banyak yang mengecam tindakan fans Arhan yang seolah-olah tidak ingin membuat idolanya hidup dengan tenang. Namun, ada juga yang membela terang-terangan mengatakan kalau foto itu diambil dari jauh dan hanya untuk mengobati rindu para fans. Seketika itu juga, terbagi dua kubu fans Arhan. Ditambah bumbu-bumbu siaran dan berita gosip membuat Naina tidak bisa memahami apa yang benar dan apa yang salah.

Bel pintu terdengar, Naina bergegas beranjak dan menyambut tamu yang datang. Lia, temannya di kampus datang untuk mengerjakan tugas kelompok. Dia bukan teman Naina tempat berbagi kisah tentang Arhan seperti Clara, mereka tidak terlalu akrab dan hanya mulai mengobrol ketika disatukan dalam kelompok tugas akhir mata kuliah Manajemen Proyek.

Naina sempat menawarkan untuk mengerjakan tugas di perpustakaan kota atau kafe buku yang sudah mulai buka. Akan tetapi, Lia menolak hal itu beralasan dia takut ke tempat umum di masa virus Corona seperti ini. Itulah mengapa, Naina memilih rumahnya sebagai tempat mengerjakan tugas. Toh, Naina tinggal sendirian.

Dua jam berlalu begitu saja, tugas mereka hampir selesai. Tinggal membubuhkan beberapa desain di PPT sederhana yang mereka buat.

Naina meregangkan badan. “Lia, lo mau makan apa? Gue pengen ayam goreng nih.”

Lia menurunkan kaca mata dari batang hidungnya. “Terserah lo aja. Ayam goreng, oke.”

“Oke, gue pesen ayam goreng.” Naina memesan makanan lewat aplikasi pesan antar di ponselnya.

Lia lantas beranjak dari duduknya, hendak ke toilet. Bersamaan dengan itu pintu di ketuk dari luar.

“Siapa tuh?” tanya Lia.

Naina menggeleng. Dia langsung bangkit ke dekat pintu dan membukanya. Ternyata Arhan datang. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah satu minggu berlalu.

“Ini ada pizza, sebagai tanda terimakasih gue sama lo soal yang waktu itu.” Arhan mengulurkan sekotak pizza.

Mau tak mau Naina menerimanya. Di luar pagar, ada seorang pria yang lebih pendek dari Arhan, dia memakai setelan formal, kulitnya sepucat Arhan, dia tampak sibuk dengan ponselnya.

Arhan menoleh ke belakang. “Itu manajer gue,” kata Arhan menjawab keheranan Naina.

Naina mengangguk pelan. “Makasih pizzanya. Gak usah repot-repot padahal. Gue juga waktu itu refleks nolongin.”

“Refleks apaan? Lo bahkan punya niat buat aduin gue ke mereka ….” kalimat Arhan terhenti. Ketika dia melihat seseorang di belakang Naina.

Lia muncul. “Siapa Na?”

“Eh, dia tetangga gue,” jawab Naina sambil menoleh ke belakang dan ketika dia kembali menatap ke depan, Arhan sudah berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya. Diikuti pria yang katanya manajer cowok itu yang menoleh ke belakang beberapa kali.

Ada yang aneh.

“Yuk lanjut kerjain tugasnya!” ajak Lia.

Naina tak terlalu menggubris keanehan Arhan dan manajer pria itu. Dia kembali fokus mengerjakan tugas kelompok sembari memakan pizza. Pesanan ayam goreng datang setelah tugas kelompok selesai. Sekotak pizza dari Arhan ludes tanpa sisa. Sekarang tidak ada ruang lagi untuk ayam goreng.

“Gue udah kenyang,” kata Lia memegangi perutnya.

“Gue juga.” Meski begitu, Naina tetap menatap penuh minat pada ayam goreng.

“Lo bisa simpen itu dan dimakan besok.” Lia memberi usul serya mengemasi barang-barangnya.

Di luar sudah gelap ketika Naina mengantar Lia sampai depan pagar rumah. Awalnya, Naina sudah menawarkan untuk mengantar Lia sampai halte di ujung jalan, tapi Lia menolaknya.

“Sampai ketemu besok Na,” ucap Lia sambil melambaikan tangan.

“Iya. hati-hati di jalan Lia.”

Naina menunggu sampai punggung Lia tak terlihat lagi di belokan jalan. Dia lalu menatap rumah Arhan yang lampu depannya tidak dinyalakan. Halaman rumah itu gelap, tapi lantai duanya terang benderang meski balkon sama gelapnya dengan teras depan Naina lantas masuk ke dalam rumahnya sembari menimbang-nimbang akan makan dua paha ayam goreng atau satu saja.

Sementara itu, di sebrang rumah. Diego, manajernya mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar Arhan yang gelap di lantai dua.

“Jadi itu cewek yang nyulik lo?” tanyanya gusar.

“Iya. gue inget banget matanya. Meskipun waktu gue diculik dia selalu pakai masker. Tapi, gue inget banget sorot mata cewek gila itu.” Arhan menoleh menatap keluar jendela kamarnya yang menyajikan pemandangan jalan di depan rumah. Pandangannya menerawang.

“Terus kenapa dia bisa ada di sana? Di sebrang rumah lo? Bukannya lo bilang tetangga lo itu udah nyelamatin lo seminggu yang lalu?” Diego makin resah. Dia sudah melepas setelan jasnya yang kini tersampir pada sandaran sofa. Jelas sekali dia gelisah, tangannya sibuk menggulung lengan panjang kemeja yang diturunkannya lagi saat sudah tergulung sampai siku.

Pertanyaan-pertanyaan Diego tidak sempat terjawab Arhan karena pria itu bergegas berdiri menjauh dari kaca jendela. Diego tersentak, dia hendak membuka mulut tapi urung ketika Arhan memberi kode untuk melihat keluar jendela.

Tepat di sana. Di ujung pagar rumah Arhan. Ada seorang gadis yang berdiri diam di trotoar. Dia melihat ke arah rumah Arhan. Mendongak sesekali ke lantai dua sebelum kembali sibuk dengan ponselnya.

“Jangan bilang itu cewek yang di rumah tetangga lo tadi?” Diego menoleh ke Arhan yang wajahnya sudah pucat pasi.

Naina mengusap-usap perutnya kenyang. Di luar rencana, dia menghabiskan lima potong paha ayam goreng. Jumlah yang luar biasa mengingat tubuhnya yang kecil dan cenderung kurus.

Ada sisa lima potong paha ayam goreng lagi, Naina memindahkannya ke dalam container kecil lalu menaruhnya ke dalam kulkas. Dia lantas membereskan dapur dan ruang tamu tempatnya mengerjakan tugas kelompok bersama Lia tadi. Saat itulah dia melihat Lia yang berdiri diam di depan rumah Arhan. Tepatnya sih di sudut pagar rumah Arhan, dia tampak menoleh ke kanan dan kiri juga mendongak menatap lantai dua lalu menunduk melihat ponselnya.

Naina jadi curiga, apakah Lia adalah satu dari sekian banyak fans Arhan?

Tapi yang lebih mencurigakan adalah kedatangan Lia pagi ini untuk menjemput Naina.

Saat Naina bertanya apa alasan Lia melakukan itu, dengan santai dia menjawab. “Pengen aja, lagian rumah lo lumayan deket sama rumah gue, kita juga searah ke kampus.”

Untuk sementara alasan itu bisa Naina terima. Mungkin Lia ingin berteman baik dengannya. Tapi, setibanya di kampus. Lia sama sekali tidak mengacuhkan Naina. Seolah hubungan pertemanan mereka tidak sedekat itu untuk saling sapa dan duduk bersebelahan selama kelas berlangsung.

Naina pulang dengan segudang pertanyaan di kepalanya. Dia tidak bisa curhat ke Clara yang masih harus menghadiri kelas sampai jam enam nanti.

Naina duduk di halte depan kampus menunggu bus yang akan membawanya pulang. Tapi, ada yang aneh. Beberapa kali Naina melihat mobil van hitam lewat di depannya. Mungkin hal itu adalah hal biasa jika mobil tersebut memiliki plat nomor berbeda. Namun, itu adalah mobil dengan plat nomor yang sama. Naina menyadarinya saat ketiga kalinya mobil itu lewat di hadapannya. Kini sudah terhitung enam kali mobil tersebut lewat.

Naina jadi takut dan memutuskan untuk kembali ke kampus menunggu Clara selesai dengan kelasnya. Tapi, tiba-tiba mobil sedan putih berhenti di depan halte. Kaca jendela di sisi pengemudi diturunkan. Sosok manajer Arhan muncul. Naina langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat.

“Kita gak punya banyak waktu, gue minta lo masuk ke dalam dan gue bakal jelasin semuanya sambil jalan,” ujarnya berkata cepat.

Naina sempat ragu tapi saat melihat sosok Arhan ada di kursi belakang dan seorang perempuan muda di samping kursi kemudi, dia memutuskan masuk ke mobil.

“Kita mau kemana?” tanya Naina.

“Ke ru mah gue, di sebrang rumah lo.” Arhan menjawab.

“Eh? Ngapain?”

“Jadi gini, mungkin lo udah tau soal gue yang hiatus dari berita di televisi. Gue terpaksa undur diri dari publik sementara waktu setelah gue diculik.”

“Diculik?”

“Iya. mungkin kedengerannya aneh karena gue diculik cewek yang ternyata fans gue sendiri. Gue berhasil kabur setelah disekap dia tiga hari di rumahnya. Di hari itu juga gue memutuskan hiatus dan pindah ke depan rumah lo. Tapi, kemaren gue malah ketemu sama penculik gue lagi.”

“Kemaren? Jangan bilang?”

“Maaf gue memotong obrolan kalian. Cewek yang di rumah lo itu temen serumah lo?” Diego menyela.

Naina menggeleng. “Bukan. Dia teman sekelas gue di kampus. kebetulan kemaren kita ngerjain tugas kelompok di rumah gue.”

Diego mengangguk-angguk. Tidak melanjutkan pertanyaan lagi karena mobil sudah berhenti di belakang rumah Arhan.

Di lingkungan ini, setiap rumah memang memiliki bagian belakang rumah yang menghadap ke jalan yang lebih kecil. Begitu juga dengan rumah yang ditempati Arhan.

Berbeda dari halaman depan rumah Arhan yang lengang seperti tidak ada kehidupan sama sekali, di halaman belakang tampak disesaki berbagai barang. Ada kotak-kotak paket di sudut teras, sepeda dan beberapa pot tanaman kosong.

Arhan masuk lebih dulu ke dalam rumahnya disusul Diego, perempuan yang ternyata penata gaya Arhan dan terakhir Naina. Mereka langsung menuju lantai dua dan duduk di sofa yang jaraknya beberapa meter dari kaca jendela.

“Duduk di sini ya, jangan banyak bergerak. Soalnya lo bisa keliatan dari luar.” Kata Arhan.

Naina jadi teringat di hari kepindahan Arhan, ketika dia bisa dengan jelas melihat beberapa petugas jasa pindah lalu lalang di dalam rumah lewat balkon lantai dua rumahnya.

“Kenapa gak dipasangin gorden?” tanya Naina heran.

“Karena rumah ini cuman tempat tinggal sementara,” jawab Arhan.

“Dan biar kesannya rumah ini gak berpenghuni.” Diego melanjutkan. “Jadi hari ini, kita mau nangkep cewek itu yang kemungkinan besar temen lo. Karena ga ada banyak bukti yang didapat soal penculikan Arhan sebelumnya, makanya penculik itu belum ditangkap dan masih berkeliaran. Mobil van hitam yang lo lihat minggu lalu adalah mobil penculik itu yang gue duga udah tau soal lokasi Arhan. Hari ini juga mobil van hitam itu berkeliaran, mungkin lo udah ngeliat mobil itu.”

“Iya. ada mobil van hitam yang plat nomornya sama lewat di depan halte kampus beberapa kali.”

“Nah, kemungkinan besar mereka pengen ngikutin lo pulang.”

“Buat apa?”

“Buat mastiin gue memang tinggal di sini. Di depan rumah lo.” Kali ini Arhan yang menjawab.

Setelah berkata seperti itu, sebuah mobil van hitam berhenti di depan rumah Naina. Seseorang turun dari sana, benar saja yang dibilang Diego dan Arhan. Lia turun dari mobil dan melangkah masuk ke halaman depan. Naina bisa melihat Lia menekan bel dan mengetuk pintu beberapa kali setelah itu dia merasakan ponselnya bergetar.

“Lia nelpon,” ujar Naina memperlihatkan layar ponselnya.

“Jangan diangkat!” seru Arhan.

Bersamaan dengan itu. dua mobil polisi berhenti di depan rumah Naina. Petugas berseragam keluar dari mobil, ada juga yang muncul dari gang kecil di samping rumah.

Lia ditangkap tanpa perlawanan dan juga dua pria berbadan besar yang diseret keluar dari dalam mobil van hitam. Mereka digelandang masuk ke dalam mobil polisi.

Naina mengikuti langkah Diego dan Arhan ke luar rumah. Melihat lebih dekat aksi penangkapan itu. Diego dan penata gaya Arhan berbicara dengan seorang polisi di depan pagar, sedangkan Naina dan Arhan hanya melihat semuanya dari teras rumah.

Salah satu kaca mobil polisi bagian belakang diturunkan. Kepala Lia melongok dan tersenyum ke arah Arhan. Naina bisa melihat bagaimana Arhan merinding dan wajahnya memucat. Lia mengedipkan sebelah matanya dan saat itulah terdengar bunyi alarm kencang sedetik kemudian mobil van hitam itu pun meledak.

Naina dan Arhan terlempar beberapa meter ke belakang karena efek ledakan. Kondisi mereka baik-baik saja. Berbeda dengan kondisi Diego dan penata gaya Arhan serta beberapa polisi yang terkapar di aspal. Mobil van hitam itu hancur lebur. Pagar rumah Arhan dan rumah Naina roboh, bahkan kaca jendela di depan rumah hancur menyisakan bingkai kayu. Yang lebih parah adalah mobil polisi yang membawa Lia. Naina bisa melihat diantara puing-puing sisa ledakan yang berterbangan, senyuman di wajah Lia masih tampak sama, yang berbeda hanyalah matanya yang tertutup dengan wajah berlumuran darah.

-TAMAT-

Ditulis : 31 Mei 2024

Dipublish : 14 Juni 2026


메타데이터
post_id
05a4699a6063
slug
tetangga-di-depan-rumah-05a4699a6063
url
https://medium.com/@cravesan/tetangga-di-depan-rumah-05a4699a6063
canonical_url
https://medium.com/@cravesan/tetangga-di-depan-rumah-05a4699a6063
author_url
https://medium.com/@cravesan
status
ok
fetched_at
2026-07-10 00:23:36