← Back to list

Kursi Keempat di Meja Makan

Asher · 2026-07-09 12:52 · 0 claps · 3.4 min read
#psychological-horror #angst #tragic
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval PSY · Psychology

Orang yang Dilupakan oleh Musim Semi

Orang yang Dilupakan oleh Musim Semi

Di Desa Yukishiro, ada satu suara yang tidak pernah ditiru anak-anak ketika bermain petak umpet, tidak pernah ditirukan para ibu ketika menenangkan bayinya, dan tidak pernah disebutkan para orang tua ketika malam mulai larut.

Suara ketukan pada pintu rumah setelah hujan tengah malam.

Bukan karena ia terdengar menyeramkan.

Justru karena ketukan itu terdengar terlalu biasa.

Tiga kali ketukan yang pelan dan sopan, seperti seorang tamu yang datang terlambat dan takut mengganggu orang-orang yang telah terlelap.

Orang-orang di Yukishiro percaya bahwa apabila seseorang membuka pintu itu dan mengucapkan keinginannya sebelum sosok di luar rumah selesai menghitung sampai tujuh, maka keinginan itu akan dikabulkan sebelum musim berganti.

Tidak ada ritual.

Tidak ada persembahan.

Tidak ada darah.

Yang membuatnya menakutkan adalah satu hal yang jauh lebih sederhana:

tidak seorang pun pernah diberi tahu apa yang akan diminta sebagai gantinya.

Pada musim dingin tahun itu, salju turun lebih cepat dari biasanya dan menumpuk di sepanjang pagar kayu serta atap rumah-rumah tua hingga desa kecil itu tampak seperti sedang tertidur di bawah kain putih yang terlalu tebal.

Malam itu begitu sunyi hingga suara air yang menetes dari ujung atap terdengar seperti langkah kaki yang berjalan pelan di kejauhan.

Kemudian ketukan itu datang.

Tiga kali.

Pelan.

Sopan.

Dan entah mengapa, jauh lebih menakutkan daripada jika seseorang menggedor pintu sekuat tenaga.

Tidak ada keberanian untuk mendekat pada awalnya.

Namun suara itu kembali terdengar.

"Bukalah."

Suaranya lembut.

Tidak memaksa.

Tidak mengancam.

Ia terdengar seperti seseorang yang telah berdiri di luar rumah cukup lama hingga mulai merasa kedinginan.

Ketika pintu akhirnya dibuka sedikit, tidak ada wajah yang menunggu di luar sana.

Hanya malam.

Hanya salju.

Hanya sebuah bayangan yang berdiri tepat di luar jangkauan cahaya lampu beranda.

"Apa yang kau inginkan?"

Keinginan itu ternyata telah lama menunggu untuk diucapkan.

"Aku ingin seseorang tetap tinggal."

Untuk sesaat, salju menjadi satu-satunya suara yang ada di dunia.

Kemudian suara itu bertanya pelan,

"Walaupun dunia harus kehilangan sesuatu sebagai gantinya?"

Pertanyaan itu terasa aneh.

Terlalu aneh untuk dipahami.

"Tidak ada yang bisa tetap tinggal selamanya."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, perjanjian ini selesai."

Pintu beranda tertutup perlahan oleh angin malam sebelum percakapan itu benar-benar selesai dipahami.

Musim semi datang beberapa bulan kemudian.

Bunga-bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan desa dan sungai kembali mengalir setelah es terakhir mencair dari pegunungan.

Dan benar saja.

Seseorang tetap tinggal.

Tidak pergi.

Tidak meninggalkan apa pun di belakang.

Tidak pernah mengucapkan selamat tinggal.

Namun bersamaan dengan itu, orang-orang mulai melupakan sesuatu.

Awalnya hanya hal-hal kecil.

Warna payung yang biasa dibawa seseorang.

Lagu yang sering dinyanyikan seseorang ketika memasak.

Suara tawa seseorang di musim panas tahun lalu.

Kemudian yang hilang menjadi semakin besar.

Wajah di dalam foto keluarga mulai terasa asing.

Nama pada batu nisan mulai terdengar seperti milik orang lain.

Dan pada suatu pagi, seorang ibu berdiri terlalu lama di depan sebuah kamar yang kosong karena ia merasa ada sesuatu yang salah, meskipun ia tidak dapat mengingat apa yang telah hilang dari ruangan itu.

Musim demi musim berlalu dan desa itu perlahan berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesedihan tanpa nama.

Orang-orang menangis tanpa mengetahui siapa yang mereka rindukan.

Mereka menoleh ketika mendengar langkah kaki di belakang mereka, lalu merasa kecewa karena tidak ada siapa-siapa di sana.

Mereka memasak terlalu banyak makanan dan baru menyadari kesalahannya ketika meja makan telah terisi.

Pada musim dingin berikutnya, ketukan itu datang lagi.

Tiga kali.

Pelan.

Sopan.

Kali ini pintu dibuka tanpa menunggu terlalu lama.

"Apa yang sebenarnya kau ambil dari kami?"

Salju bergerak pelan di luar beranda.

"Aku tidak mengambil apa pun." Suara itu terdengar sama tenangnya seperti tahun sebelumnya.

"Kau meminta seseorang untuk tetap tinggal." Angin musim dingin berembus melewati halaman.

"Dan seseorang memang tetap tinggal." Dada terasa mendadak kosong.

"Lalu mengapa semua orang melupakan seseorang?" Untuk pertama kalinya, suara itu terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata,

"Karena tidak ada seorang pun yang bisa tetap tinggal apabila masih ada orang yang mengingat bagaimana cara kehilangannya."

Malam terasa berhenti pada kalimat itu.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang berbicara.

Hanya salju yang terus turun dari langit yang gelap.

Barulah saat itu semuanya terasa begitu mengerikan.

Tidak ada yang direnggut.

Tidak ada yang dibawa pergi.

Seseorang memang tetap tinggal.

Hanya saja dunia dipaksa melupakan bahwa ia pernah pergi.

Pada musim semi berikutnya, bunga sakura kembali bermekaran di sepanjang sungai Yukishiro.

Anak-anak kembali bermain.

Kereta pagi kembali berhenti di stasiun kecil dekat pegunungan.

Dan di sebuah rumah tua di ujung desa, meja makan masih selalu disiapkan untuk empat orang meskipun hanya ada tiga kursi yang terisi.

Tak seorang pun mengetahui mengapa mereka terus melakukan itu.

Tak seorang pun mengingat nama siapa yang telah hilang dari ingatan mereka.

Namun setiap kali angin musim semi menggerakkan tirai di dekat kursi yang kosong itu, selalu ada perasaan aneh yang singgah sebentar di dalam dada—perasaan seperti sedang merindukan seseorang yang pernah dicintai dengan sangat dalam, tetapi telah terlalu lama hilang untuk diingat kembali wajahnya.

Dan mungkin itulah harga yang sebenarnya dari setiap perjanjian yang dibuat manusia dengan keputusasaan:

bukan kehilangan seseorang yang mereka cintai,

melainkan kehilangan kemampuan untuk membuktikan bahwa seseorang itu pernah ada.


메타데이터
post_id
05d2ae6ec7c9
slug
kursi-keempat-di-meja-makan-05d2ae6ec7c9
url
https://medium.com/@partofasher/kursi-keempat-di-meja-makan-05d2ae6ec7c9
canonical_url
https://medium.com/@partofasher/kursi-keempat-di-meja-makan-05d2ae6ec7c9
author_url
https://medium.com/@partofasher
status
ok
fetched_at
2026-07-15 00:47:22