TENTANG ‘MANTRA’ DAN KEPEDULIAN
Manusia itu memiliki sifat dan sikap yang hampir semuanya mirip, hanya takarannya saja yang berbeda.
TENTANG ‘MANTRA’ DAN KEPEDULIAN [CERPEN]
“Lapar tak berarti kenyang buat si miskin. Si lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja walaupun kita ulangi 1001 kali.”
Demikianlah yang tercatat dalam buku karya Tan Malaka yang termasyhur, MADILOG, bagian 1 Logika Mistika halaman 39. Cukup sering Adris menemukan penggalan kalimat itu di media sosial, kala mencari buku di toko-toko online atau media para pecinta buku. Penggalan kalimat itu menjadi semacam highlight quote, dan Adris tak pernah sampai akan berpikir sedalam kali ini. Mungkin benar kiranya, bila menemukan dua atau lebih kutipan legendaris di dalam buku, lain rasanya, seperti menemukan harta karun? Lebih dari pada itu, Adris pun mulai mengerti kenapa kutipan itu terpilih menjadi sorotan utama dibanding kandidat-kandidat kalimat legendaris lain dalam buku 560 halaman itu. Ia simpulkan menjadi dua alasan saja. Pertama, sederhana dan lugas. Bahwasannya siapapun tentu setuju bila sebagai manusia dengan kewarasan dan akal pikiran, sebuah kelaparan tak bisa hilang dan berubah jadi kenyang hanya dengan kata-kata. Hal itu pun dapat diperluas cakupannya, bukan hanya soal kelaparan, namun pada kepentingan-kepentingan lain yang harus diselesaikan oleh setiap manusia. Namun tentu tak semua memahami dan mengerti fakta sesederhana itu. Karena masih ada sebagian penduduk +62 yang meyakini ilmu mistika. Bahwa untuk menyelesaikan kemiskinan bisa dengan menggandakan uang ke ‘orang pintar’, pun sebagainya. Lalu, alasan kedua adalah karena kalimat itu terdapat di bagian pertama. Mudah ditemukan dan cukup ampuh ‘menampar’ akal. Maka dipakailah ia, menjadi sederet mantra yang memukau pembacanya.
Masih setia pada lembar halaman 39, sekali lagi Adris membaca penggalan kalimat itu dan menyadari bahwa meski dibentuk untuk menyederhanakan fakta yang ‘tidak ada’ akan mustahil menjadi ada dan mewujud sesuatu hanya dengan kalimat. Pikiran Adris melalang pada usahanya dalam memberi nasihat ke salah seorang kawan yang hanya disambut baik namun tak diterapkan. ‘Bahkan untuk merubah sikap seseorang, kalimat saja tidaklah cukup,’ pikir Adris. ‘Lantas mengapa aku harus repot-repot peduli? Kepada orang yang tidak merasa perlu dinasihati.’
Dalam benaknya, renungan demi renungan menyambang. Sebenarnya apa itu kepedulian? Apakah satu bentuk tindakan atau sikap yang memang harus dilakukan manusia? Apakah manusia harus peduli untuk menjalankan praktik kemanusiaan yang wajib dilakukan karena kita adalah menusia?
“Tidak.” Dengan santai Sakya menjawab pertanyaan Adris. Lelaki kurus berpenampilan nyentrik dengan rambut pink dibalut jas hijau neon khas perguruan tingginya itu mulai mematikan gawainya, memperhatikan Adris yang sudah tampak penasaran dengan kelanjutan kalimatnya. “Aku lebih percaya kalau kepedulian itu merupakan prinsip saja. Bukan sikap wajib yang harus dimiliki manusia, tapi bukan berarti ada dan wajar kalau manusia tidak menjadi peduli.”
“Maksudnya manusia pasti memiliki sikap peduli?”
Sakya mengangguk. “Kupikir itu sudah kodratnya. Karena manusia memiliki nafsu, untuk berguna misalnya, mereka pasti memiliki kepedulian entah karena prinsipnya sendiri atau untuk memenuhi ekspektasi orang lain,” terang Sakya. “Kau tahu? Manusia itu memiliki sifat dan sikap yang hampir semuanya mirip, hanya takarannya saja yang berbeda. Soal kepedulian misalnya, jika itu kau dan ada temanmu yang butuh bantuan, mungkin kau akan membantunya karena dia temanmu, wajar kau peduli dengannya, mungkin tanpa pikir panjang. Tapi kalau ada orang yang tiba-tiba meminta bantuan padamu, kau sama sekali nggak kenal orang itu, kau punya pilihan untuk menolak atau justru mau membantunya, pasti itupun dengan dasar kalau kau memang mampu, kalau nggak mampu juga bakal menolak, toh nggak kenal. Kupikir itu wajar, karena membantu orang tak dikenal dengan kondisi kau sendiri nggak cukup mampu bukan berarti kau nggak peduli. Itu hanya diluar jangkauanmu juga.”
“Sederhananya, peduli itu pilihan kan.” pungkas Adris yang disambut gelegar tawa Sakya yang menyadari penjelasannya terlalu panjang lebar. “Tapi aku setuju bahwa tiap orang punya kepedulian, dan ya, takarannya berbeda.”
메타데이터
- post_id
- 05ecf637e1b4
- slug
- tentang-mantra-dan-kepedulian-05ecf637e1b4
- url
- https://medium.com/@BunaBinu/tentang-mantra-dan-kepedulian-05ecf637e1b4
- canonical_url
- https://medium.com/@BunaBinu/tentang-mantra-dan-kepedulian-05ecf637e1b4
- author_url
- https://medium.com/@BunaBinu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 04:51:36