Mengunjungi Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia
Oase di antara dua jurang: kecemasan dan persaingan
Mengunjungi Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia

Dua mahasantri Ma’had Aly duduk di hadapan pintu gerbang kolej
Setelah dua tulisan sebelumnya membahas tentang krisis identitas: rasa cemas dan persaingan. Maka, tulisan kali ini akan mengambil tema yang berbeda sepenuhnya.
Beberapa hari lalu, saya mengunjungi salah satu kampus Islam terbaik di dunia. Bersama saudara saya, wisudawan Ma’had Aly Blokagung, kami mengitari kampus ini. Mengagumi setiap keindahan arsitekturnya. Terpesona dengan kemegahan yang kampus ini miliki. Juga, kecantikan para mahasiswinya, hehe.
Kampus ini beneran luas. Saya suka gaya arsitekturnya. Ada sedikit nuansa harry potter yang saya rasakan. Antik.
Padahal, kampus ini relatif muda. Baru tahun 1983. Tujuh tahun lebih muda dari Ma’had Aly. Bila tidak membaca sekilas sejarahnya di beberapa situs, saya yakin bahwa kampus ini, setidaknya telah berdiri selama 50 tahun.
Tidak banyak waktu yang saya habiskan di sini. Alasannya, waktu yang tidak bersahabat dan karena tidak punya sahabat di sana.
Duh, andaikan ketika saya ke sana Kadam sudah S2, mungkin kami akan melakukan janjian. Janji bertemu dan berkonten bareng. Xixixi.
Tapi oh tapi. Yang tidak kalah saya kagumi dari kampus ini adalah karena keberadaan jurusan Fiqh — ushul fiqh. Saya takjub sekaligus heran.
Sepertinya, Malaysia tidak membutuhkan Ma’had Aly. Sebab, sudah ada kampus yang mewadahi salah satu jurusan di Ma’had Aly. Kampus itu ya IIUM ini.

Foto civitas akademik Departemen of Fiqh & Usul al-Fiqh
Karena rasa kagum, heran, bercampur dengan penasaran yang tinggi, saya mengabadikan salah satu struktur kepengurusan di sana.
Yang saya pikirkan ketika itu, barangkali saya bertemu dengan salah satu profesor tersebut, di suatu forum. Dari pertemuan itu, kami akan menjalin korespondensi. Nantinya, saya akan diterima meraih gelar doktor dengan predicat cumlaude, lalu menjadi guru besar di sana. Mendapat belahan jiwa di sana, membangun keluarga, dan tak lupa mendirikan pondok pesantren.
Ah, sungguh utopia yang melenakan di tengah huru-hara Indonesia.
Akan menyusul, beberapa catatan perjalanan melintasi empat negara dalam kurun waktu sebulan.
Bila saya tidak malas. Bila Tuhan berkehendak.
메타데이터
- post_id
- 0652ffd46f09
- slug
- mengunjungi-universitas-islam-antar-bangsa-malaysia-0652ffd46f09
- url
- https://medium.com/@achmadhikam299/mengunjungi-universitas-islam-antar-bangsa-malaysia-0652ffd46f09
- canonical_url
- https://medium.com/@achmadhikam299/mengunjungi-universitas-islam-antar-bangsa-malaysia-0652ffd46f09
- author_url
- https://medium.com/@achmadhikam299
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-01 22:35:01