Skisma Dalam Gereja
Banyak sekali artikel atau tulisan lain di media sosial yang menyinggung mengenai perbedaan antara Gereja Protestan dan Katolik, atau…
Skisma Dalam Gereja

Konsili Nikea
Banyak sekali artikel atau tulisan lain di media sosial yang menyinggung mengenai perbedaan antara Gereja Protestan dan Katolik, atau bahkan juga dengan Gereja Ortodoks.
Saya juga pernah mendengar pertanyaan yang di telinga saya terasa agak aneh, mengingat yang menanyakannya adalah seorang Kristen (tidak saya sebutkan dari denominasi mana), yaitu ketika saya mengatakan “Katolik Roma”. Saya menjawab begitu karena saat ini seorang jemaat dari Gereja Ortodoks juga bisa mengatakan bahwa ia adalah seorang Katolik, dan memang benar.
Mengapa ada begitu banyak nama dan denominasi Gereja ini? Sejak kapan mulai ada?
Barangkali jawaban saya tidak mewakili jawaban sebagian besar umat Kristen, tetapi yang saya lihat sejak sangat awal memang sudah timbul percabangan dan perbedaan pemahaman mengenai iman Kristen itu sendiri. Bahkan yang lebih dalam lagi, pengenalan akan Yesus dari Nazaret pun tidak sepenuhnya sama.
Benarkah demikian?
Yang paling gamblang saja, seorang Saulus dari Tarsus adalah keturunan Yahudi diaspora, dan dibesarkan di lingkungan diaspora juga, seorang warga negara Romawi.
Tak hanya itu, juga tak ada laporan tertulis bahwa Saulus pernah bercakap-cakap maupun bertemu langsung dengan Yesus sebelumnya, apalagi menerima pengajaran langsung dari Yesus. Saulus hanya menerima dan bertemu dengan Yesus melalui penglihatan, setelah Yesus wafat. Sebelumnya, menurut pengakuannya sendiri, ia adalah salah seorang penganiaya jemaat Kristen.
Setelah mendapat penglihatan yang mengubah hidupnya itu, Saulus melewati lebih dari sepuluh tahun, sebelum akhirnya, untuk pertama kalinya, bertemu dengan Petrus dan semua pemimpin lain di Yerusalem. Dalam hal ini Saulus, yang pada saat itu sudah ganti nama menjadi Paulus, membawa serta murid-murid yang berhasil dikumpulkannya sendiri, yang terdiri dari sebagian besar orang-orang bukan Yahudi.
Tentu saja pada pertemuan itu perbedaan pendapat tak dapat dihindarkan. Orang-orang bukan Yahudi punya cara hidup dan kebiasaan makan mereka sendiri, yang sebagian besar oleh Paulus dipandang tidak mutlak harus berubah mengikuti adat istiadat Yahudi. Sebaliknya, jemaat Kristen awal yang berasal dari Yerusalem, yang tentu saja sebagian besar adalah orang-orang Yahudi, memandang kebiasaan tertentu, termasuk makanan yang dimakan oleh murid-murid Paulus itu, sama sekali tidak dapat diterima. Terlebih lagi, murid-murid Paulus diberi label yang sangat menyakitkan, yaitu sebagai “orang-orang tak bersunat” oleh sebagian besar jemaat di Yerusalem.
Bagi kita yang “hanya” membaca semua itu melalui Kitab Suci Kristen, barangkali tidak terasa bahwa waktu yang dihabiskan oleh para pemimpin untuk menggariskan cara hidup berdampingan yang baru adalah sangat panjang. Bahkan sampai akhir hayat mereka pun masalah-masalah yang sama masih terus ada.
Bagaimana selanjutnya, setelah para pemimpin awal itu meninggal?
Tentu saja persoalan yang tak jauh berbeda masih terus ada, meskipun sejumlah aturan dan tata tertib sudah digariskan melalui surat-surat dan pengajaran lisan.
Kitab Suci Kristen pun mencatat bahwa ada sejumlah orang yang “menolak fakta” bahwa Yesus pernah hadir sebagai manusia, dan para pemimpin Gereja awal itu menganggap mereka sesat.
Waktu terus bergulir, para pemimpin pun terus berganti. Hingga akhirnya muncul persoalan lain yang sebelumnya pun sudah ada.
Dalam era yang sama dengan munculnya masalah lain itu, seorang kaisar Romawi yang bernama Konstantinus berganti haluan, dan menjadi pendukung umat Kristen, bukan seperti para pendahulunya yang selalu menganiaya mereka.
Apakah, seperti sebagian cerita, pada saat itu Konstantinus bisa dikatakan “bertobat”? Yang pasti, Kaisar Konstantinus tidak seketika itu dibaptis, sampai tak lama sebelum kematiannya sendiri. Tetapi ia secara konsisten sungguh mendukung dan melindungi Gereja di segala tempat menurut jangkauan kekuasaannya.
Lalu apa tepatnya masalah yang saya sebutkan di atas?
Sekitar tahun 318 Masehi, di Alesandria, Mesir, seorang presbiter setempat muncul ke permukaan dengan ajarannya mengenai sifat Yesus dari Nazaret, yang akhirnya dikenal sebagai aliran Arianisme.
Arius mengatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan yang sejati, melainkan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki sifat berbeda dengan Tuhan.
Ajaran Arius ini mulai tersebar di Alesandria, dan menarik minat banyak orang. Tetapi ajarannya ini juga menimbulkan perdebatan dan kontroversi di kalangan para pemimpin Gereja lokal.
Uskup Alesandria, Aleksander, memanggil Arius untuk meminta pertanggungjawaban. Tetapi Arius tidak mau menarik balik ucapan dan ajarannya.
Kontroversi mengenai ajaran Arius tentu saja kemudian tersebar hingga ke Kekaisaran Romawi.
Akhirnya, pada tahun 325 M, Kaisar Konstantin menyelenggarakan Konsili Nikea untuk menyelesaikan masalah ini.
Nah, sampai di sini, beberapa ide yang berlain-lainan pasti mulai muncul di benak Anda masing-masing, sesuai dengan aliran kepercayaan yang Anda anut. Ini bisa saya pahami dengan baik.
Kita simpan terlebih dahulu semua pertanyaan yang saya anggap sudah biasa dan paling sering muncul ke permukaan setelah mendengar cerita sampai di sini.
Catatan kita mengenai Konsili Nikea akhirnya adalah, seorang Athanasius memenangkan perdebatan dan mengalahkan Arius, hingga melahirkan Syahadat atau Pengakuan Iman Nikea (juga sering disebut Pengakuan Iman Athanasius).
Bagaimana dengan nasib Arius?
Arius sendiri diasingkan ke Illyria, dan meninggal di sana pada tahun 336 M. Ajarannya terus menyebar dan mempengaruhi beberapa kelompok Kristen, terutama sekali di wilayah kekuasaan Romawi Barat.
Barangkali beberapa orang akan mulai mengutuk dan ikut membandingkan Arius dengan Yudas Iskariot, ketika membaca bagaimana Arius meninggal. Tapi teruslah membaca, jangan terburu-buru mengikuti emosi. Perlu diketahui, pada saat itu Kaisar Konstantin sendiri menyetujui pemulihan nama baik dan jabatan Arius, demi persatuan Gereja.
Agak jauh dari era Arius, dan cukup jauh dari Alesandria, yaitu sekitar tahun 428, di Konstantinopel, seorang Uskup yang bernama Nestorius muncul ke permukaan dengan ajaran mengenai Yesus dan Mariologi, yang akhirnya dianggap nyeleneh dan bahkan sesat.
Berawal dari Uskup Cyrillus dari Alesandria, yang geram setelah mendengar kotbah Nestorius, pada tahun 431 M Nestorius dipecat dari jabatannya sebagai Uskup dan dikucilkan melalui Konsili Efesus.
Perdebatan yang berlangsung sengit itu sungguh bukan sesuatu yang bisa dengan mudah kita cerna. Dalam perkembangan cerita, Konsili Efesus tidak mendukung gagasan Nestorius, dan tidak juga mendukung apa yang diminta oleh Cyrillus dari Aleksandria.
Setelah suasana menjadi makin memanas, Paus Selestinus I dan Kaisar Theodosius II pun terlibat. Sang Kaisar dan permaisurinya mendukung Nestorius, tetapi Paus Selestinus I mendukung Cyrillus.
Bagaimana akhir masalah ini?
Konsili Efesus akhirnya mengutuk Nestorius dan memecatnya. Sedangkan Konsili Kalsedon (Chalcedon) 451 M menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus, dan menetapkan Pengakuan Iman Kalsedon, yang menggambarkan kemanusiaan penuh dan keilahian penuh dari Yesus, pribadi kedua dari Tritunggal Kudus. Dengan demikian mengukuhkan doktrin Gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur.
Apakah dengan demikian masalah dengan Nestorianisme telah berakhir dan dilupakan orang?
Ternyata tidak juga.
Konsili Kalsedon ternyata malah menimbulkan skisma (percabangan) besar yang pertama dalam sejarah gereja. Gereja-gereja Ortodoks Oriental (seperti Koptik, Armenia, dan Suriah) tidak menerima ajaran ini karena dianggap mendekati ajaran Nestorianisme, sehingga mereka disebut sebagai gereja Non-Kalsedonian.
Dampak dari munculnya Arius, Nestorius, lalu Konsili Nikea yang disambung dengan Konsili Kalsedon masih terus terasa sampai sekarang. Apalagi ketika orang mulai membicarakan mengenai “keilahian dan kemanusiaan Yesus” di berbagai forum terbuka.
Pandangan Gereja Timur mengenai misteri iman (mysterion) bukan sebagai teka-teki yang tak terpecahkan, melainkan realitas ilahi yang tak terlukiskan, dialami melalui liturgi dan sakramen, adalah sangat berharga untuk direnungkan. Fokus utamanya adalah teosis (penyatuan manusia dengan Allah), di mana kebangkitan Kristus menjadi pusat misteri keselamatan, memungkinkan manusia mengambil bagian dalam kodrat ilahi.
Jika kita mengira bahwa masalah yang sudah timbul berabad-abad yang lampau ini bisa diselesaikan begitu saja hanya dengan beberapa kutipan kalimat dari ajaran yang kita yakini sendiri, alangkah naifnya kita.
Sepuluh orang melihat fenomena yang sama dari tempat mereka masing-masing berdiri, yang timbul kemudian adalah sepuluh interpretasi yang berbeda. Sepuluh ribu, atau bahkan sekian juta orang melihat, yang timbul adalah sebanyak itu interpretasi yang berbeda mengenai apa yang mereka lihat.
Katakanlah melalui berbagai ajaran orang bisa menyatukan sebagian besar pandangan yang berbeda-beda itu, lalu kemudian timbul sekelompok besar manusia yang boleh disebut “seiman”. Akan tetapi, manusia hanya bisa memaksa fisik, tapi belum tentu akan sukses memaksa hati. Karena takut, orang bisa mengatakan “Iya”, tetapi dalam hati mereka mungkin berkata sangat lain.
Pada akhirnya kita semua harus mengalami perjalanan ziarah batin ini secara langsung, tak hanya melalui bacaan atau mendengarkan ajaran orang lain. Pada saat itu tak seorang pun bisa menolong kita. Yang ada hanya kita sebagai individu dengan Sang Ilahi yang terus diperdebatkan orang di sepanjang segala masa.
Banyak hal yang sampai kapan pun masih akan tetap menjadi misteri dalam iman akan Sang Ilahi ini, dan barangkali akan selamanya begitu, meskipun beberapa orang cenderung merasa pemahaman mereka sudah “final”.
Tetapi kehidupan kita di dunia ini masih perlu bergulir, dan sangat tidak nyaman jika perbedaan pandangan ini sampai menyebabkan ketegangan di antara kita semua.
메타데이터
- post_id
- 0689eac404a2
- slug
- skisma-dalam-gereja-0689eac404a2
- url
- https://medium.com/@xaverius2017/skisma-dalam-gereja-0689eac404a2
- canonical_url
- https://medium.com/@xaverius2017/skisma-dalam-gereja-0689eac404a2
- author_url
- https://medium.com/@xaverius2017
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 06:47:43