← Back to list

Itu Bukan Writer’s Block, Itu Mah Perfectionist’s Block!

Pelajaran Menulis

Tomohiro Kure in Berbagi & Berdampak · 2026-07-15 05:26 · 60 claps · 2.3 min read
#refleksi-diri #bahasa-indonesia #mindfulness #berbagi-dan-berdampak #kepenulisan
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry LIT · Literature & Writing 🧘 · Spirituality

REFLEKSI

Itu Bukan Writer’s Block, Itu Mah Perfectionist’s Block!

Pelajaran Menulis

[embed]Pelajaran Menulis yang Kudapatkan dari Pram, dinarasikan oleh Alwijo via YouTube

Selama satu tahun menulis yang kadang putus-putus, aku memiliki kebiasaan menulis yang sulit dihapus: menulis yang menunggu inspirasi, dan menulis asal tanpa ditopangi oleh struktur. Aku merasa terjebak di antara dua paradoks yang saling bertengkar dalam isi kepalaku.

“Tulis aja dulu? Atau cari inspirasi dulu?”

Karena pertanyaan yang saling bertolak belakang itu, berakibat dengan hasil tulisanku yang gado-gado: Kadang hasil tulisannya jujur, kadang tulisannya berisi, tapi pesannya tak masuk ke hati.

Sebenarnya Kita Menderita Sifat Perfeksionis yang Diselimuti Penyakit Writer’s Block

Belum lama aku membuka YouTube kala suntuk dan self-diagnose diri sendiri menderita writer’s block, video biografi penulis legendaris Pramodya Ananta Toer yang dirangkai oleh Bang Alwijo mematahkan mitos itu.

“Tidak ada yang namanya ‘Writer’s block’. Sebetulnya, kita mengalami ‘Perfectionist’s Block.’” — Alwijo

Saat aku mendengar kosakata perfectionist’s block, aku sesekali mengulangi apa yang dikatakan Bang Alwi.

Sekali lagi, ternyata, yang mayoritas penulis (terutama yang pemula) alami saat mereka suntuk adalah mereka dihantam oleh sifat perfeksionis.

Dalam pikiran kita, cerpen yang bagus harus dituliskan dengan diksi yang memukau atau esai dengan bahasa yang baku dan kaya akan strukturnya yang teratur setiap paragraf.

Kedua sifat itu memang penting, tetapi kita tak boleh menjadikan karya yang kita tulis sendiri menjadi beban. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Sekelas Bung Pram sendiri pun menulis dengan luwes. Tak hanya sekadar asal luwes, tetapi juga membawa bekal ilmu dan referensi yang beliau serap dalam setiap karya-karyanya.

Berkat penulis legendaris itu, aku bahkan sadar: Penulis papan atas pun derajat proses kreatifnya tak jauh berbeda dari penulis lainnya, sekalipun itu penulis pemula.

Yang membedakan di antara keduanya adalah cara mereka meracik kalimat dan pesan yang disampaikan dari karya-karya itu sendiri.

Jangan Asal Menulis, Serap Isi Kepalamu Dengan Membaca

Ada sebuah kutipan yang membuatku begitu merinding ketika Bang Alwi membaca kalimat itu di kanal videonya.

Membaca dan menulis itu takkan bisa dipisahkan. Ia seperti napas; membaca itu menarik napasnya, menulis itu menghembuskannya.

Kutipan itu bukan sekadar asal tulis dan sok bijak. Faktanya, penulis memang harus membaca agar mereka bisa berkarya.

Membaca itu seolah menyerap pengalaman hidup orang lain. Pandangannya terhadap hidup, kesalahan yang dialami, dan penyesalan yang tak kembali adalah pesan moral yang bisa mengubah kehidupan pembaca dengan jangka yang lebih panjang.

Sedangkan saat menulis, ketika penulis menyambung tali dari ilmu yang ia pelajari dan praktisinya dalam kehidupannya sehari-hari dan menyebarkannya terhadap khalayak pembaca, penulis tak hanya sekadar menulis lagi. Bahkan, Mereka mengabadikan pelajaran hidup yang akan terus abadi.

Bung Pram maupun Bang Alwi, keduanya menyarankan kepada penulis yang baru memulai untuk memulai kebiasaan baru: Membaca.

Tak harus buku-buku tebal ataupun buku yang berat. Konsumsilah buku tipis dengan topik yang ringan. Atau kalau keuangan lagi seret, bisa dengan membaca artikel ringan. Misalnya seperti Mojok.

Dari video Bang Alwi yang beres aku konsumsi kemarin, dua pelajaran menulis di atas begitu menempel di kepalaku. Aku harap, hasil tulisan refleksi yang kutulis bisa membuatmu bisa menemukan celah kesalahanmu, dan memperbaikinya! 😄

Pada akhirnya, setiap penulis adalah pelajar yang aktif dan penuntut ilmu yang tulen. Setiap media apapun yang kita konsumsi, akan selalu ada pesan moral untuk menajamkan empati dan perspektif kehidupan kita.

Seperti kutipan “Menulis Itu Seperti Bernapas”, kita perlu kembali bernapas.

Mari kita menarik napas panjang. Seraplah setiap kisah dan pelajaran hidup yang mengubah cara pandang kita terhadap dunia, dan hembuskan napas itu melalui karya-karya kita.

Karena setiap karya yang lahir dari kehidupan manusia yang berbeda-beda akan memperluas perspektif hidup manusia lainnya.

Kesalahan akan menjadi pelajaran, ilmu akan menjadi abadi.

Bahkan jika pewarisnya tak lagi bernyawa.

— Tomohiro Kure, 15 Juli 2026


메타데이터
post_id
06bfa7a6778e
slug
itu-bukan-writers-block-itu-mah-perfectionist-s-block-06bfa7a6778e
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/itu-bukan-writers-block-itu-mah-perfectionist-s-block-06bfa7a6778e
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/itu-bukan-writers-block-itu-mah-perfectionist-s-block-06bfa7a6778e
author_url
https://medium.com/@TomohiroKure
status
ok
fetched_at
2026-07-16 11:26:35