Bekal Adaptasi Arungi Pancaroba Duniawi
Jejak ke-87, menakar diri sembari mencoba mengerti
Bekal Adaptasi Arungi Pancaroba Duniawi
Jejak ke-87, menakar diri sembari mencoba mengerti.

Photo by Raimond Klavins on Unsplash
Tentu saja saya butuh penenang untuk menghadapi ketidakpastian. Malah lebih baik ketidakpastian daripada jelas rugi. Namun, sebagai manusia tentu saya tidak bisa menolak kehendak takdir. Keputusan Tuhan selalu saya anggap sebagai sesuatu yang final dan mengikat. Tanpa kecuali.
Penenang pun saya cari di antara buku berjudul Iblis Tidak Butuh Pengikut: Daur 2. Buku karangan Emha Ainun Nadjib ini mengarahkan saya pada tulisan ke 316. Ujung Jalan Sunyi dalam daftar isi sudah jelas memancing penasaran. Seketika saya meluncur ke bagian tersebut dan terhenyak.
“…di tengah Jalan Sunyi ini, kita perlu mengejar sebanyak mungkin pemahaman dan pengertian.”
Saya merasakan kesunyian yang amat sangat dalam beberapa tahun belakangan. Mungkin keputusan saya untuk detoks dari media sosial membawa dampak serupa. Merasa kurang berkenan dengan paparan informasi membuat saya memutuskan dengan sengaja menuang ide di media sosial.
Di fase sunyi tersebut, saya selalu memaksa menambah pemahaman dan pengertian tentang dunia terkini. Tentu tidak berdasarkan tren di media sosial, melainkan informasi mentah dari kantor-kantor berita.
Beberapa telaah pakar saya dengarkan dan perhatikan dengan seksama. Memasukkan pengetahuan baru tanpa mengeluarkan dalam bentuk tulisan. Mengendapkan agar menemukan irisan diagram Venn.

Photo by Zuzanna Wrobel on Unsplash
*“Qul siru fil-ardi summanzuru kaifa kana ‘aqibatul-mukazzibin. Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”*
Tulisan Emha Ainun Nadjib mengutip ayat ke-11 dari Surat Al An’am tersebut. Ayat reflektif tentang anjuran bergerak dan mengevaluasi pengalaman peradaban.
Bukankah air bergerak seperti ucapan Imam Syafii juga perumpamaan seseorang harus terus berkembang? Setelah menambah pengetahuan dan pengalaman, tugas selanjutnya adalah mengevaluasi masa lalu. Mengamati lubang yang membuat banyak manusia jatuh ke dalamnya dengan lugu.
“…karena titik berat prosesnya adalah “liutammima makarimal akhlaq”.”
Potongan hadis tersebut akan membuat kita tersadar tentang tanggung jawab membenahi akhlak. Dimulai dari diri sendiri, lantas ketika memang sudah terbukti, lambat laun akan menginspirasi. Seperti proses konveksi air mendidih di dalam panci, tiap individu akan saling mempengaruhi secepat mungkin.
Visi hidup bukan lagi sebatas air mendidih. Sukses, kaya, serta embel-embel lain bukanlah tujuan akhir. Proses air mengalami kenaikan suhu yang menjadi fokus.
Di situlah akhlak menjadi tujuan, proses menempa diri menjadi lebih baik. Jika memang seseorang tidak mengubah diri sendiri, alam semesta dengan hukumnya akan memaksa.

Photo by Kristina Ryaguzova on Unsplash
“salah satu yang kita sesali adalah pernah menghentikan perjuangan tatkala bertugas di dunia…”.
Proses tanpa henti dari lahir sampai masuk liang lahat itu memang nampak melelahkan. Hanya iming-iming ada kehidupan setelah mati yang akan membuat impas. Seolah semua letih menjadi pulih.
Jika memang tidak percaya akhirat, selama hidup di dunia akan bergelimang nyaman. Tidak terbebani dengan keburukan dunia, bahkan tetap menyuguhkan cahaya di tengah kegelapan.
Bukankah akhlak itu tadi melampaui batasan agama, bahkan status ekonomi, sosial, budaya, bahkan keamanan dan militer? Sistem pasar yang adil akan menguntungkan negara, bahkan juga subsidi kepada rakyat. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari, kompetisi sehat akan mendorong peradaban menjadi lebih baik.
Seberat apapun hari-hari dijalani, dengan teror yang seolah diracik khusus orang per orang, pasti akan berlalu begitu saja. Tidak ada badai yang abadi seperti Bintik Merah Raksasa di Planet Jupiter.
Di bumi, semua akan berlalu dalam waktu singkat. Kecuali bencana akibat ulah manusia seperti pembakaran hutan berdampak sistemik, tentu akan memakan waktu untuk pemulihan.

Photo by Mauro Gigli on Unsplash
Cak Nun mengingatkan pembaca tentang tujuan melewati hari demi hari. Di tengah krisis multidimensi, kembali merunut awal titik berangkat adalah hal terpenting.
Jati diri saat ini ditentukan oleh jalur yang ditempuh di masa silam. Keputusan-keputusan kecil akan mempengaruhi cara melihat dunia. Menjaga api semangat bukan perkara remeh, terutama agar tetap menyala.
Esai singkat Cak Nun ini mengajak pembaca mengerti bahwa kunci bertahan hidup adalah mengerti dan memahami. Tanpa dua sikap ini, adaptasi akan menjadi hal mustahil. Menerka di mana posisi saat ini akan menghasilkan prediksi durasi perjalanan masih berapa lama, serta butuh energi seberapa.
Media sosial serta internet yang sudah mencapai tahap 6G menjadi senjata ampuh bertahan di tengah gempuran zaman. Terombang-ambing sebab kehilangan arah. Langka manusia tahu cara menggunakan ponsel pintar di tangan. Memang “Kematian Para Pakar” tidak terhindarkan berkat teknologi, tapi seperti layaknya pedang, ia pasti bermata dua.

Photo by Hartono Creative Studio on Unsplash
Isu-isu heboh tidak produktif seolah hal baru, padahal sudah jadi rahasia umum. Sebatas pengalih perhatian dari kasus nyata yang lebih besar. Selama rakyat masih tidak mengerti cara berpikir kritis memanfaatkan teknologi, yang terjadi adalah indoktrinasi.
Memelihara takut dan kebencian sebab ketidaktahuan. Khawatir tanpa dilandasi memahami ujung pangkal. Seperti anak kecil yang ditakut-takuti bayangan hantu saat lampu mati. Itulah alasan wajib terus beradaptasi.
Semoga pernyataan Cak Nun yang ditulis tahun 2018 itu bisa jadi bekal pembaca mengarungi 2025. Kembali ke akar untuk menyerap nutrisi lewat pengertian dan pemahaman baru.
Menyesuaikan pertumbuhan daun menyesuaikan musim. Meranggas demi efisiensi ketika musim kering, dan merimbun saat air berlimpah. Manusia, tak ubahnya tumbuhan, beradaptasi adalah keniscayaan.
메타데이터
- post_id
- 06c1b4f57f2a
- slug
- bekal-adaptasi-arungi-pancaroba-duniawi-06c1b4f57f2a
- url
- https://medium.com/booknotations/bekal-adaptasi-arungi-pancaroba-duniawi-06c1b4f57f2a
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/bekal-adaptasi-arungi-pancaroba-duniawi-06c1b4f57f2a
- author_url
- https://medium.com/@ihdasoduwuh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 17:57:01