DIBALIK SEBUAH MEJA, ADA SEPORSI KEBAHAGIAAN YANG AKAN SELALU TERKENANG
OLEH: TRI ARYANA CAHYA
DIBALIK SEBUAH MEJA, ADA SEPORSI KEBAHAGIAAN YANG AKAN SELALU TERKENANG
OLEH: TRI ARYANA CAHYA
Setiap kali berbelanja ke pasar saya hendak melewati bangunan sederhana yang menjadi salah satu bagian dari momen bermakna bagi diri saya. Senang rasanya menciptakan momen dengan bangunan sederhana itu dan pelayanan dibaliknya. Kini di penghujung semester empat, momen bersama bangunan sederhana itu kembali terlintas di benak saya. Bangunan itu adalah Kantor Cabang JNE dengan pelayanannya yang meruntuhkan kebingungan dan kekhawatiran yang saya rasakan saat pertama kali menjadi mahasiswa perantau.
Momen ini berawal dari sebuah meja belajar. Mungkin sebagian orang ini hanya benda biasa, tetapi saya menganggap benda ini memiliki makna yang jauh lebih besar. Bagaimana tidak, benda ini tidak hanya menemani saya dalam menjalani proses belajar, melainkan benda ini hadir dalam menciptakan kebahagiaan tersendiri bagi saya dalam menjalani rutinitas sebagai mahasiswa perantau.
Saat menjadi mahasiswa baru, saya berusaha beradaptasi dengan dinamika kehidupan di Kota Makassar. Kota besar yang sudah ditakdirkan untuk saya melanjutkan pendidikan. Kota ini dulunya belum saya berani jelajahi lebih jauh sehingga rutinitas saya hanya berkisar antara kampus dan kos.
Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa baru, saya mulai mencicil berbagai kebutuhan yang menunjang proses belajar. Kebutuhan saya penuhi dari hal yang paling penting dan mendesak karena saya harus menyesuaikan dengan uang bulanan saya.
Malam itu, saat di kamar kos saya mengerjakan tugas dengan mencatat di atas binder dengan tumpuan saya saat mencatat adalah bantal karena saya belum memiliki meja belajar.
Lambat laun, kebiasaan itu menjadikan saya kurang nyaman dalam belajar, sehingga saya harus memenuhi satu kebutuhan penunjang belajar, yaitu membeli meja belajar. Saya kemudian membuka rekening pribadi dan Alhamdulillah uang bulanan cukup untuk membeli sebuah meja belajar.
Tangan ini menggenggam erat telepon genggam dengan sentuhan jemari menuju salah satu marketplace untuk mencari meja belajar yang nyaman digunakan. Pilihan saya sesuai dengan saldo di rekening pribadi. Beberapa saat kemudian, notifikasi pesanan terkemas membuat hati saya senang untuk menunggu kedatangan paket tersebut.
Jelang satu minggu, tibalah paket yang saya sangat nantikan. Dengan semangat dan penuh harap saya segera membukanya. Namun, semangat saya sepersekian detik berubah menjadi kecewa. Paket yang saya sangat tunggu kedatangannya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi, meja belajar yang akan menemani proses belajar saya rusak.
Kekecewaan menggerogoti hati saya, sepersekian menit saya kemudian menghela nafas dan bertanya pada diri sendiri, Apakah barang ini masih bisa saya ajukan pengembalian? Semoga bisa ya, agar saya bisa membeli meja belajar yang sesuai dengan kebutuhan saya. Dengan penuh harap, saya kembali membuka marketplace dengan mengecek fitur pengajuan pengembalian barang dan syukur barang tersebut masih bisa saya kembalikan.
Namun, masalah baru muncul. Bagaimana saya mengembalikannya? Tertera banyak pilihan metode pengembalian dan jasa pengiriman. Jemari mungil dan hati yang tergerakkan begitu cepat langsung memilih drop-off JNE yang sama sekali tidak saya pikirkan sebelumnya.

Barcode pengembalian berhasil muncul. Hal ini justru menambah kebingungan saya. Dimana kantor JNE terdekat? Bagaimana cara saya ke kantornya untuk mengembalikan barang? Saya sama sekali tidak tahu letak kantornya.
Mencari di Google Maps bisa saja saya lakukan, tetapi kota besar ini masih terasa asing bagi saya. Kemudian selang beberapa menit, saya mengunjungi akun Instagram resmi JNE, kemudian saya cari Instagram JNE regional Makassar. Saya melihat Instagram tersebut tertera nomor WhatsApp JNE Makassar. Meskipun akun tersebut resmi, diri kecil ini merasakan kekhawatiran terhadap nomor tersebut. Apakah nomor tersebut resmi? Atau nomor penipu?
Beberapa menit kemudian, jemari mungil ini menghubungi nomor tersebut dengan menanyakan lokasi Kantor JNE terdekat, dan berlanjut menanyakan, Apakah proses pengembalian barang boleh di kantor cabang ataukah harus di kantor cabang utama?
Di luar dugaan, balasan dari admin sangat cepat dan menjawab seluruh pertanyaan saya. Secercah kebahagiaan mulai muncul ketika mengetahui Kantor Cabang JNE tidak jauh dari kos saya.
Kebingungan dan kekhawatiran yang sempat menyelimuti seketika menjadi haru bahagia. Dengan penuh semangat saya mengemas ulang meja belajar yang rusak.
Keesokan harinya, sepulang kuliah, saya mengajak teman untuk menemani saya mengembalikan barang ke Kantor Cabang JNE yang sekitar tujuh menitan dari kos saya. Berjalan kaki di bawah terik matahari membuat semangat saya bergejolak dengan penuh harap proses pengembalian barang dapat berjalan lancar.
Setibanya saya di Kantor Cabang JNE, saya langsung memberanikan diri bertanya ke satpam yang kebetulan orang pertama yang saya temui di sana
“Pak, saya mau mengembalikan barang dari salah satu marketplace tempat saya memesan karena rusak pak,” ujar saya.
Dengan ramah beliau menanggapi pertanyaan saya
“Apakah Adik sudah melakukan pengajuan pengembalian di marketplace tersebut?”
“Iya, sudah Pak.” jawab saya
“Kalau begitu, silakan masuk di ruangan pelayanan. Nanti akan dibantu oleh petugas.”
“Baik Pak, Terima kasih” jawab saya sambil tersenyum.
Keramahan yang saya terima saat itu, membuat saya semakin menemukan titik terang dari penyelesaian masalah yang saya hadapi.
Berjalan memasuki ruangan pelayanan dan langsung disambut hangat oleh pegawai yang bertugas saat itu. Di persilakan duduk, kemudian diberi kesempatan untuk menjelaskan keperluan kedatangan saya.
“Kak, saya mau melakukan pengembalian barang,” ujar saya sambil menunjukkan paket yang saya bawa.
“Boleh saya lihat barangnya dan barcode pengembaliannya Kak?” tanyanya.
“Tabe’ ini Kak”
“Tunggu sebentar ya Kak, Saya proses dulu” ujarnya
Tidak sampai satu menit, proses tersebut selesai
“Sudah selesai, silakan dilihat ponselnya untuk memastikan keberhasilan proses pengembalian barang.” Katanya sambil tersenyum.
Saya segera membuka ponsel. Saya berterima kasih kepada pegawai JNE dan bergegas untuk pulang. Beranjak dari Kantor Cabang JNE membuat saya lega, bahagia, terharu karena kebingungan dan kekhawatiran yang memenuhi pikiran saya runtuh seketika dengan bantuan JNE dan orang-orang dibaliknya. Senang rasanya bias menciptakan momen dengan bangunan sederhana itu saya. Tinggal di perantauan ternyata tidak semenyeramkan itu, akan selalu ada campur tangan orang-orang baik dan peduli dalam perjalanan hidup kita.
Sampai detik ini, senyum kecil dan kebahagiaan masih membekas erat di tubuh kecil ini, saat melihat bangunan sederhana itu yang hampir tiap hari saya lewati. Kantor JNE dengan kenangan manis dan indahnya membuat perasaan ini selalu bahagia. Saya percaya kebahagiaan muncul dari hal-hal kecil, kepeduliaan, kehangatan, dan kemudahan yang diberikan kepada orang lain akan menciptakan kenangan yang begitu bermakna dan berkesan.
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita
메타데이터
- post_id
- 06d2b27fa36d
- slug
- dibalik-sebuah-meja-ada-seporsi-kebahagiaan-yang-akan-selalu-terkenang-06d2b27fa36d
- url
- https://medium.com/@triaryanacahya/dibalik-sebuah-meja-ada-seporsi-kebahagiaan-yang-akan-selalu-terkenang-06d2b27fa36d
- canonical_url
- https://medium.com/@triaryanacahya/dibalik-sebuah-meja-ada-seporsi-kebahagiaan-yang-akan-selalu-terkenang-06d2b27fa36d
- author_url
- https://medium.com/@triaryanacahya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13