← Back to list

The Skincare Saga pt. 1: Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Milk

Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Milk adalah salah satu pelembab sejuta umat — tapi kulitku punya pendapat lain.

Nita (Qonita) · 2024-06-15 11:42 · 0 claps · 5.6 min read
#skincare #skin-care-products #life-lessons #moisturizer #hada-labo
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💄 · Beauty

The Skincare Saga pt. 1: Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Milk

Gambar dari review.soco.id

Gambar dari review.soco.id

Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Milk adalah salah satu pelembab sejuta umat pada masanya, I’m pretty sure about that.

Begitu juga ketika aku sedang mengalami puncak breakout di tahun 2020.

Saat itu akhirnya aku berhasil membekali diri dengan pengetahuan umum tentang skincare wajah yang tepat dan benar, dan aku memilih pelembab ini untuk jadi anggota skincare routine pertamaku yang ‘masuk akal’.

… Meski kulitku berpendapat sebaliknya.

Disclaimer!

Tipe kulit penulis adalah normal-kering dengan pori-pori besar di hidung dan sekitarnya. Penulis tidak ada masalah genetik kulit berkaitan jerawat, hanya eksim di bagian tubuh tertentu.

Masalah utama kulit penulis adalah mudah dehidrasi — mengeluarkan minyak berlebih saat kurang lembab atau kurang minum air putih — sehingga lebih rentan kusam.

Memilih produk skincare itu perihal COCOK-COCOKAN alias macam cari jodoh. Produk yang tidak cocok di penulis belum tentu bereaksi sama di kulitmu, dan produk yang bikin kulit penulis lebih cakep bisa jadi malah membuat kulitmu ngamuk.

Tulisan ini dibuat bukan untuk jadi acuan menggantikan saran dokter. Tulisan ini hanya untuk hiburan — setidaknya untuk menghibur penulis sendiri.

First Encounter?

Dokumentasi Keroyokan Geng Jerawat circa 2018 — mid 2020

Dokumentasi Keroyokan Geng Jerawat circa 2018 — mid 2020

Mendekati pertengahan tahun 2020, kulitku ngabers alias ngamuk berats karena iritasi parah.

Kok tahu?

Karena saat itu aku sedang mengikuti tren metode skincare, dan sialnya malah bikin kulit makin ga berwujud.

Kalau kalian ngikutin tren skincare di tahun-tahun itu, kalian mungkin tahu dulu pernah ada metode 15-minute cleansing oil massage (Itu tren laknat btw).

Waktu itu aku khilaf karena ngiler aja lihat orang-orang berhasil ngeluarin komedonya dengan cara tersebut.

Hasilnya tentu saja 5W+1H, waduh waduh waduh waduh waduh hedeh.

Aku sadar itu tren yang ngaco setelah (kalau nggak salah) 2 minggu mencoba, gerombolan jerawat di wajahku saat itu malah makin banyak bermunculan dan memerah sampai kerasa nyut-nyutan setiap kena sinar matahari. Akhirnya aku stop dan tobat.

Aku lupa youtuber mana yang mengembalikan akal sehatku saat itu, tapi yang pasti Alhamdulillah aku langsung dapat ilham untuk menjalani basic skincare routine.

Waktu itu aku udah kenal produk facewash Hada Labo warna putih beberapa bulan. Setelah terpengaruh juga karena melihat skincare punya tetehku yang juga Hada Labo, aku pun memilih si pelembab putih strip pink ini sebagai P3K (pertolongan pertama pada kehancuran-kulit).

About The Product

Orang-orang mungkin lebih kenal pelembab ini sebagai ‘Hada labo strip pink’, karena produk ini punya kakak-adek yang tampilannya mirip, cuma beda di stripnya doang.

Aku pun bertanya-tanya, kenapa produk Jepang nggak terlalu mengeluarkan effort untuk menyesuaikan packagingnya dengan tren estetika pada umumnya? Tapi jawabannya sudah jelas toh: karena produk Jepang.

Negara ini seringkali lebih fokus pada formula dan tujuan produknya sehingga menomorduakan kecantikan packagingnya. Meskipun ya, harus diakui kalau mereka ahli dalam membuat packaging yang punya fitur-fitur “tidak terduga tapi ternyata bermanfaat dan belum pernah tercipta sebelumnya”.

Kembali ke Hada Labo Moisturizing Milk…

Hada Labo sendiri nggak punya klaim aneh-aneh untuk produk ini selain sebagai “pelembab yang mengandung 3 jenis hyaluronic acid” yang bisa “melembabkan dan meningkatkan kadar air pada kulit”. Katanya dia bisa membuat “kulit terasa lebih halus, lembut, dan tetap elastis”.

Affah iyah?

Why Did I Choose It?

Aku cukup banyak menyimak dan memilah ulasan produk skincare yang sekiranya bisa jadi titik awal basic routine ini. Jelas lah, waktu itu aku fresh-graduate, sedang menjalani pekerjaan pertama, dan penghasilannya habis untuk jajan seblak.

Ternyata cukup banyak juga influencer yang menyarankan produk ini untuk orang-orang yang mencari pelembab simpel dan ‘to-the’point’ alias nggak neko-neko.

Akhirnya, Hada Labo Ultimate Moisturizing Milk ini dipilih karena beberapa alasan:

  1. Murah
  2. Bahannya nggak macem-macem
  3. Bisa dibeli di supermarket dekat rumah
  4. Isinya banyak.

Sampai saat ini pun produk ini masih konsisten menunjukkan keempat karakter tersebut. As expected, Japan products and their consistency!

Seneng banget pas akhirnya beli dan pegang produknya, rasanya sudah satu langkah lebih sukses menjauhi tren skincare laknat.

First Touch

Inget banget sensasi pertama di kulit yang aku rasa ketika mencoba tekstur pelembab ini pertama kali: licin. Bentuknya lebih tepat disebut lotion yang mendekati encer.

Ketika dioleskan ke muka, eh kok agak bau obat ya? Apa karena produsennya pabrik obat tetes mata? Ey.

Setelah dioleskan merata dan dibiarkan menyerap, betul sih kulit langsung terasa lembab. Sedikit terasa agak greasy dan gerah di kulit, tapi masih bisa ditoleransi.

Waktu itu aku pakai pelembab ini berbarengan dengan sunscreen Skin Aqua UV Mild Milk SPF 50++, produk yang juga masih satu perusahaan dengan Hada Labo. Aku juga pakai Somethinc Niacinamide + Moisture Beet Serum untuk night routine.

After-Effect

Setelah pakai beberapa minggu, diiringi pemakaian sunscreen yang cukup khidmat, aku mulai lihat ada perubahan sedikit. Sedikittt banget.

Setidaknya geng jerawat di pipi nggak se-ngamuk sebelumnya. Kulitku terasa lebih normal dan bernapas seperti seharusnya.

Cuma satu masalah yang masih bikin nggak sreg, kenapa pelembab ini makin lama makin greasy kurasa? Kadang-kadang aku perhatikan kulitku agak kusam setelah beberapa jam pakai pelembab ini. Terlebih pemakaiannya dibarengi sunscreen yang punya tekstur mirip-mirip. Kalau kata orang Sunda mah, kulitku rasanya kayak ngelekeb, alias rada eungap, alias sumuk.

Waktu itu aku nggak punya pilihan untuk beralih ke produk lain karena agak dilema. Sebenernya ini pelembab cocok atau nggak sih sama kulitku? Budgetku sangat terbatas, dan aku selalu perlu riset agak lama untuk memastikan dapat pengganti yang sama hematnya dengan si Hada Labo ini.

Maklum, dompet.

Jadi, pelembab ini sempat menemani skincare routine-ku untuk beberapa bulan sampai akhirnya dia digantikan oleh Simple Water Boost Hydrating Gel Cream.

What I’ve Learned

Aku selalu menerapkan asas ‘produk skincare tak bersalah’ setiap pertama kali berjumpa dengan produk perawatan kulit yang kurang cocok. Begitu pun dengan si Hada Labo pink ini, yang punya penggemar cukup banyak di kalangan pecinta skincare di Indonesia.

Dugaan pertamaku saat itu adalah kulitku nggak cocok pelembab yang bahan utamanya hyaluronic acid. Tapi kalau kita lihat bahan-bahan Hada Labo pink ini, tigaurutan teratasnya bukan si asam hyaluronat. Jadi mungkin itu dugaan yang kurang tepat.

Di urutan tiga teratas, ada air, bahan emollient yang namanya **Hydrogenated Poly (C6–12 Olefin)*, dan glycerin. Kulitku nggak asing dengan air dan glycerin, jadi dugaanku bergeser ke si emollient*.

Btw, emollient adalah bahan yang bikin kulit lebih halus karena dia bekerja dengan mengisi bagian-bagian kosong di kulit. Kamu bisa baca tentang perbedaan fungsi emollient, humectant, dan occlusive dan pentingnya mereka untuk menjaga kelembaban kulit di sini.

Kemungkinan si Olefin inilah yang bikin kesan greasy dan membuat kulitku semacam dilapisi oleh lapisan licin yang bikin sumuk. Aku bukan ahli kimia atau kosmetologi, jadi tentu saja ini cuma tebak-tebakan, tapi aku tahu betul kulitku nggak senang dengan rasa itu.

Tebakan lainnya lagi, pelembab ini belum benar-benar memenuhi kebutuhan hidrasi kulitku saat itu. Kulitku masih iritasi dan dehidrasi gara-gara metode cleansing oil hina-dina itu, dan Hada Labo masih kurang jos untuk memperbaikinya. Mungkin aku memang butuh pelembab yang lebih menghidrasi.

Jadi, sebagus apapun produknya, selama masalah kulit yang mendasar itu belum diatasi, kulitku masih jauh dari kata ‘sembuh’. Sip, perjalanan mencari produk yang tepat pun masih akan berlanjut — dan masih panjang.

So…?

Hada Labo Moisturizing Milk ini bukan produk yang buruk, karena dia nggak membuat jerawatku makin parah saat itu, cuma bikin kusam aja. Dia pelembab yang oke kalau mau coba memulai basic skincare routine dengan budget minim.

Baunya mungkin akan sedikit mengganggu bagi yang terbiasa dengan produk skincare beraroma. Karena teksturnya cukup encer dan mudah diratakan, nggak perlu pakai terlalu banyak untuk melembabkan seluruh bagian wajah.

Packagingnya botol gendut yang anti-tumpah dan anti-bocor yang nggak terlalu besar, jadi enak banget untuk dibawa ke mana-mana.

Aku nggak ada keinginan untuk mencobanya lagi saat ini karena menghindari si Olefin, tapi Hada Labo punya produk skincare lainnya yang sangat worth-it untuk dicoba.

Salah satunya adalah Tamagohada Mild Peeling Lotion, toner untuk eksfoliasi dengan bahan utama PHA (polyhydroxy acid alias gluconolactone) yang super lembut dan bantu aku sembuh dari para jrews.

Ke depannya, pelembab strip pink ini yang membuat aku selalu menahan diri supaya jangan sampai tergiur produk hanya dari warna-warni tampilan bungkusnya.

Sebelum kenal Hada Labo, aku pernah kecantol pelembab + face wash Mineral Botanica karena desain packagingnya yang minimalis estetik. Ternyata produknya nggak cocok di kulit dan malah bikin makin kering.

… Tentang itu biar jadi cerita di lain waktu aja.


메타데이터
post_id
06ef8df55e55
slug
the-skincare-saga-pt-1-hada-labo-gokujyun-ultimate-moisturizing-milk-06ef8df55e55
url
https://medium.com/@qonitadl/the-skincare-saga-pt-1-hada-labo-gokujyun-ultimate-moisturizing-milk-06ef8df55e55
canonical_url
https://medium.com/@qonitadl/the-skincare-saga-pt-1-hada-labo-gokujyun-ultimate-moisturizing-milk-06ef8df55e55
author_url
https://medium.com/@qonitadl
status
ok
fetched_at
2026-07-23 15:01:34