The Rehypothecation Problem in DeFi Lending: Why Composability Could Break Everything
Jadi gini, misal lo punya rumah senilai $500000. Lo pergi ke Bank A minta pinjam $300000 dan pake rumah sebagai collateral. Transaksi…

The Rehypothecation Problem in DeFi Lending: Why Composability Could Break Everything
Jadi gini, misal lo punya rumah senilai $500000. Lo pergi ke Bank A minta pinjam $300000 dan pake rumah sebagai collateral. Transaksi selesai tapi rumah lo sekarang di-hold Bank A.
Terus lo pergi ke Bank B, tunjukin sertifikat rumah yang sama (atau dokumen palsu), dan minta pinjam lagi $250,000 dengan rumah yang sama sebagai collateral.
Sekarang ada dua bank yang mikir mereka punya rumah yang sama. Kalau lo gagal bayar, kedua-duanya klaim aset yang sama. Salah satu bakal rugi gede-gedean.
Ini rehypothecation. Dan di traditional finance, ini terjadi lebih sering daripada yang lo pikir.
Masalah terbesar? Waktu 2008 financial crisis, Lehman Brothers collapse karena aset-aset mereka di-reuse berkali-kali di berbagai institusi finansial. Satu default = cascading failures di mana-mana. Siapa yang hold the bag? Semuanya.
Kenapa DeFi Lebih Rentan
Di traditional finance, setidaknya ada regulasi dan oversight, banks di-monitor, praktik rehypothecation di-restrict (atau setidaknya di-track), ada consequences kalau ketahuan melakukan ini.
Nah di DeFi? Permissionless, transparent tapi chaotic, smart contracts enforce rules, tapi rules yang di-write dalam smart contracts itu sendiri yang jadi masalah.
Scenario yang realistis di DeFi:
Loan tokenization. Katakanlah lo punya pinjaman $100,000 dari Aave. Loan ini bisa di-tokenize jadi NFT atau token. Token ini representasi dari pinjaman tersebut.
Okay, so far so good. Tapi selanjutnya gimana?
Lo bawa token ini ke protocol lain (Compound, misalnya) dan gunain tokennya sebagai collateral untuk borrow lebih banyak. Same asset, used twice.
Terus lo bawa ke protocol ketiga. Gunakan lagi sebagai collateral.
Sekarang, aset yang sama (loan token) jadi collateral di tiga tempat berbeda. Ketiga protocol ini mikir mereka punya claim atas aset yang sama.
Borrower default. Pinjaman original di Aave di-liquidate, default terjadi, pinjaman ilang.
Tapi loan token masih ada di Compound dan protocol ketiga. Token ini representing aset yang sekarang worthless (karena default).
Compound mikir: “Kami punya collateral ini senilai $100,000.”
Protocol ketiga mikir: “Kami punya collateral ini senilai $100,000.”
Aave mikir: “Kami udah liquidate ini.”
Siapa yang hold the loss? Compound dan protocol ketiga.
Kalau ini kejadian di scale besar, domino mulai jatuh, compound liquidate, Itu trigger liquidation di protokol lain, dan akan terus trigger lagi di protokol lain. Cascading failure.
Case Study 1: Lehman Reruns in DeFi? (The Flash Loan Amplification)
Mari kita lihat scenario yang lebih sophisticated, flash loan + rehypothecation combo.
Apa itu flash loan? Basically lo bisa borrow aset dalam jumlah besar di dalam satu transaksi tanpa collateral. Syaratnya, lo harus return aset plus fee di akhir transaksi yang sama.
Flash loan designed untuk arbitrage dan liquidation purposes, cool feature. Tapi…
Coba bayangin attacker lakuin ini:
- Flash loan $50 juta dari protocol A
- Gunakan $50 juta ini sebagai collateral di protocol B, borrow $40 juta
- Gunakan $40 juta sebagai collateral di protocol C, borrow $30 juta
- Gunakan $30 juta untuk execute some attack (manipulate price, short squeeze, whatever)
- Profit dari attack
- Return semua pinjaman sebelum transaksi selesai
What’s the problem? Dalam transaksi ini, $50 juta di-gunakan sebagai collateral di multiple places. Aset yang sama, multiple claims.
Sekarang, kalau terjadi cascade liquidation karena price movement, multiple protocols competing untuk liquidate yang basically aset phantom (yang sebenarnya sudah pergi dari transaksi sebelumnya).
Protokol yang liquidate terakhir? Out of luck. Nggak ada aset untuk di-claim.
Ini terjadi di practice? Belum ada massive exploit yang publicized. Tapi infrastructure untuk ini ada. Dan ini sleeping dragon.
Case Study 2: The Curve Wars and Leverage Spiral
Mari kita lihat real-world scenario yang kurang obvious tapi equally dangerous.
Setup: Lo punya Curve LP token. Token ini di-stake di Convex, yang memberikan yield dan $CVX token.
Lo gunakan Curve LP token sebagai collateral di Aave, borrow stablecoin.
Dengan stablecoin ini, lo buy lebih banyak Curve LP token.
Lo stake LP token baru ini di Convex lagi.
Gunakan LP baru sebagai collateral di Compound.
Borrow lebih banyak dari Compound, buy lebih banyak Curve LP.
What’s happening? Same underlying asset (Curve) di-leveraged berkali-kali across multiple protocols. Setiap layer punya collateral yang essentially derivative dari yang lain.
Now the crisis scenario: Curve experience massive impermanent loss karena sudden price movement. LP token value collapse.
Aave see collateral value drop. Start liquidation. Dump LP token ke market.
Compound see collateral value drop too. Start liquidation. Dump LP token juga.
Convex farming reward suddenly worth less karena token supply increased dari emergency liquidation.
Lo rugi di multiple layers simultaneously. Protokol rugi karena collateral worthless. Market rugi karena sudden token dump.
This is cascade failure. Dan happening sekarang di Ethereum.
Case Study 3: The Wrapped Token Trap
Ini lebih subtle, tapi sama bahayanya.
Setup: Lo punya Bitcoin. Lo wrap itu jadi wBTC di Ethereum (trust Wrapped dengan Bridge provider).
Lo gunakan wBTC sebagai collateral di Aave, borrow ETH.
Dengan ETH, lo participate dalam Lido staking, dapetin stETH.
Lo gunakan stETH sebagai collateral di MakerDAO, borrow DAI.
Dengan DAI, lo buy lebih banyak wBTC.
Sekarang:
- wBTC is collateral di Aave
- stETH is collateral di MakerDAO
- Both are effectively derivatives dari underlying Bitcoin dan Ethereum
The risk: Bridge security breach atau Lido smart contract vulnerability. Salah satu underlying asset jadi worthless atau inaccessible.
What happens:
- Aave collateral suddenly at risk
- MakerDAO collateral suddenly at risk
- Both protocols liquidate simultaneously
- Market nggak bisa absorb liquidation quantity yang besar
- Prices collapse
Underlying asset mungkin fine sebenarnya. Tapi wrapped version jadi worthless. Multiple protocols holding worthless collateral.
Ini terjadi? Lido liquidity crisis 2023. Saat stETH depegged dari ETH, multiple protocols yang holding stETH sebagai collateral experience massive losses.
Kenapa Ini Sulit Diselesaikan
Okay, so rehypothecation adalah masalah. Tapi kenapa nggak ada yang fix?
Alasan 1: Composability is Feature, Not Bug
Composability adalah core value prop DeFi. “Money lego.” Lo mau bisa combine protocols, create new strategies, leverage aset lo.
Restrict rehypothecation = restrict composability. Restrict composability = kill innovation. Kill innovation = protokol mati.
Jadi ada tension fundamental: security vs. composability. Pilih satu berarti bunuh yang lain.
Alasan 2: It’s Hard to Detect and Prevent
Di traditional finance, bisa prevent rehypothecation dengan… well, paperwork dan oversight. Bank tahu apa yang mereka holding. Bisa track.
Di DeFi, everything is transparent on-chain, tapi… transparency nggak sama dengan prevention. Smart contracts nggak bisa “tahu” bahwa token yang lagi di-hold sekarang juga di-hold di tempat lain. Token nggak punya identitas yang bisa tracked across protocols.
Alasan 3: Protocols Don’t Want to Restrict It
Literally. Kalau Compound restrict rehypothecation, borrower bisa pindah ke Aave yang allow. Why reduce user activity kalau kompetitor allow itu?
Competitive pressure nggak allow safety. Everyone dilute standards untuk attract user.
The Rialo Angle (dan kenapa ini relevant)
Ini point yang interesting: credit system yang proper butuh governance layer.
Dalam on-chain lending, lo butuh cara:
- Track aset yang sudah jadi collateral (prevent double-collateralization)
- Enforce rules tentang reusability
- Arbitrate disputes kalau terjadi conflict
Pure DeFi nggak bisa lakuin ini. Smart contracts enforce technical rules, tapi nggak bisa enforce governance rules.
Rialo’s approach dengan determination layer actually address ini. Bukan by preventing composability (yang impossible anyway), tapi pakai:
- Verify credential dan collateral di layer yang separate (bukan di-trust smart contract)
- Create records yang verifiable about what’s being collateralized
- Enable arbitration kalau ada conflict atau double-use
Bukan solusi yang perfect, tapi way better lah daripada pure permissionless approach yang vulnerable.
What Could Go Wrong (Worst Case Scenario)
Okay, let me paint the scariest scenario:
Scenario: Systemic Rehypothecation Cascade
Tahun 2024–2025. DeFi lending ecosystem sudah besar. $200B+ dalam protocol seperti Aave, Compound, Lido, Curve.
Tiba-tiba market shock terjadi. Bisa karena apapun: rate hike, geopolitical event, major hack, war, whatever.
Volatility naik. Borrowers panic. Start withdrawing. Protocols start liquidating collateral.
Collateral yang di-liquidate ternyata… collateral di protocol lain juga.
Liquidation di Aave → dump LP token → LP token collateral di Curve juga → Curve start liquidation → dump reward token → reward token collateral di Convex juga.
Sekarang trickling down. Protocol A liquidate, affect Protocol B, which affect Protocol C, which affect D.
Setiap protokol trying to liquidate collateral yang essentially same aset, rewrapped dan releveraged. Quantity terlalu banyak untuk market absorb.
Harga drop. Collateral worthless. Multiple protocols insolvent.
TVL crash. Users panic withdraw. Protokol yang solvable jadi insolvent karena run. Keseluruhan sistem down.
This is 2008 financial crisis played out on-chain. But faster.
The Hard Truth
Rehypothecation adalah fundamental feature dari DeFi, bukan bug. Aset on-chain inherently reusable. Bukan bisa prevented sepenuhnya.
Better approach: acknowledge it exists, design systems to manage it.
Beberapa potential solution:
Collateral Registry: On-chain record what’s being used as collateral where. Transparent, verifiable.
Haircut Multiplier: Aset yang di-reuse multiple times, haircut-nya lebih besar. Incentivize caution.
Protocol Coordination: Sharing info antara protokol tentang collateral quality, risk.
Governance Layer: Tertarik ada authority yang manage high-level risk (bukan permissionless murni, tapi guided).
Reserve Requirements: Protokol maintain reserve untuk absorb liquidation cascade.
Rialo’s infrastructure dengan determination layer dan verification approach actually enable first four dari solutions di atas.
Bottom Line
Rehypothecation di DeFi adalah problem yang real, dan semakin besar TVL, semakin besar risikonya.
Ini semua bukan cacat teknologi. Tapi ini governance dan design problem.
Smart contracts nggak bisa solve ini sendiri. Ini Butuh beberapa pendukung kaya:
- Information (what’s collateral, where)
- Coordination (protocols talk to each other)
- Judgment (when to restrict, when to allow)
- Accountability (someone responsible for systemic risk)
Pure permissionless DeFi nggak punya ini. Itulah kenapa infrastructure yang bawa governance layer sangat “berharga”.
Rialo moving toward this. Other projects should too.
Because, next financial crisis might play out on-chain. And it’ll be faster, messier, and harder to contain.
메타데이터
- post_id
- 0724bf55b7c8
- slug
- the-rehypothecation-problem-in-defi-lending-why-composability-could-break-everything-0724bf55b7c8
- url
- https://medium.com/@septianwahyu77145/the-rehypothecation-problem-in-defi-lending-why-composability-could-break-everything-0724bf55b7c8
- canonical_url
- https://medium.com/@septianwahyu77145/the-rehypothecation-problem-in-defi-lending-why-composability-could-break-everything-0724bf55b7c8
- author_url
- https://medium.com/@septianwahyu77145
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 05:04:50