Tirakatan Pertamax
Bulan Agustus di Indonesia merupakan musim jalan sehat, lomba-lomba, pentas seni, serta tirakatan. Begitupun saya, mencoba untuk…
Tirakatan Pertamax
Bulan Agustus di Indonesia merupakan musim jalan sehat, lomba-lomba, pentas seni, serta tirakatan. Begitupun saya, mencoba untuk berpartisipasi. Bagi saya, sangat menyenangkan. Sekalian srawung ke tetangga.
Tahun ini, untuk pertama kalinya saya ikut tirakatan di tempat saya tinggal. Bahkan pertama kali dalam hidup (seingat saya). Kayaknya dulu pas kecil paling pol ikut acara pentas seni. Pas sekolah atau kuliah, kayaknya ndak ada apa-apa. Jadilah, ini tirakatan pertamax saya.
Meski sudah ~3 tahun tinggal di lingkungan yang sekarang, baru kali ini saya ikut. Yang dulu-dulu sih kepikiran untuk ikut, tapi males atau alasan lain lah, hahaha. Kali ini rada beda, dapat undangan. Yah, meski tanpa undangan pun, saya memang meniatkan diri untuk ikutan. Ternyata oh ternyata, undangan tirakatan ini terbatas. Hanya 10 orang per RT. Beuh, manusia terpilih dong saya. Meski, setelah kemarin hadir, tidak dipatok 10 orang per RT. Mungkin tergantung keaktifan RT tersebut.
Lanjut, undangan jam 8 malam, saya berusaha hadir tepat waktu dongs. Meski akhirnya acara dimulai jam 20:30, wkwkwk. Tapi mayanlah, menuggu sambil ngobrol sana-sini dengan bapak-bapak. Acara di-MC-i pemuda RW (meski ndak banyak), karena memang demografi di RW kami begitu adanya. Oh iya, kostum alias dress code tidak serta merta format atau batik lah. Yang kaosan juga ada, hoodie, bahkan pakai topi, lel.

Tirakatan Pertamax
Acara seperti pada umumnya, sepertinya. Pembukaan, nyanyi lagu Indonesia Raya dan Tanah Air, sambutan ketua panitia, ketua RT pengunduh, dan (perwakilan) ketua RW. Dilanjutkan dengan cerita dari sesepuh (sudah 80 tahun, tapi jauh lebih kuat gowes nya dari manusia seperti saya) yang tinggal di RW ini dari tahun 1995. Konon orang ketiga yang tinggal di RW. Sempat jadi ketua RW dan sekarang masih sehat serta langganan adzan subuh di masjid. Menarik sih, jadi tahu sedikit banyak sejarah tempat tinggal saya yang sekarang. Cerita perjuangannya juga seru, sempat melawan PKI di sekitar Kalasan.

Pemotongan Tumpeng alias Conic Section
Setelah itu, dilanjutkan potong tumpeng yang diserahkan kepada para ketua atau sesepuh. Saya sih hanya menyaksikan saja. Mau ikutan ngambil kok ndak enak, masih muda wkwkwk. Dan karena saya perhatikan, lauk-lauk top tier-nya sudah bablas.

Kedelai Jepang dan Pisang Rebus
Tapi, suguhan (snack)-nya bagi saya sangat masuk Edamame dan pisang rebus. Pisang rebus yang biasanya saya ndak terlalu suka, yang ini oke. Tidak mblenyek atau lembek. Edamame sudah pasti enak. Sempat menjelaskan ke bapak-bapak samping saya, bahwa itu kedelai jepang. Wkwkwk.

Nasi Kuning dengan Kremesan Nglawuhi
Nasi kotaknya juga masuk. Sederhana saja. Ayam goreng beserta kremesan. Enak. Niatnya mau saya bawa pulang ke rumah, makan sama istri, tapi kok yang lain makan, jadinya saya ikut makan deh. Yang agak kurang cocok bagi saya adalah minuman jahenya, terlalu manis. Terpaksa tidak saya habiskan. Maafkan.
Sembari makan, ndak sengaja mendengar obrolan bapak-bapak sebelah, tentang pemerintahan di Yogyakarta. Baru kali ini sih saya mendengar kabar seperti ini. Akhirnya saya ikut nimbrung, wkwkkw. Siapa tahu ini bisa jadi info berguna di masa depan, cukup A1 kayaknya.
Secara umum, saya sangat menikmati tirakatan pertamax saya. Mulai dari suguhannya, cerita sejarahnya (jadi pengingat bahwa memang kita bisa seperti sekarang karena perjuangan dan pengorbanan sesepuh kita, haish), hingga obrolan randomnya. Semoga bisa ikutan lagi tahun depan.
메타데이터
- post_id
- 0745d6adad07
- slug
- tirakatan-pertamax-0745d6adad07
- url
- https://medium.com/@ismailsunni/tirakatan-pertamax-0745d6adad07
- canonical_url
- https://medium.com/@ismailsunni/tirakatan-pertamax-0745d6adad07
- author_url
- https://medium.com/@ismailsunni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 07:48:42