Listrik Padam — Cerita pendek
Tentang apa yang terjadi ketika seseorang tidak lagi bisa melarikan diri dari pikirannya sendiri.
Listrik Padam — Cerita pendek

Aku bukanlah seorang penulis, bukan juga seorang pendongeng yang pandai mengisahkan sesuatu dengan menarik. Singkatnya; aku bukanlah apa-apa! Sore tadi, listrik di pabrik tempatku bekerja mendadak mati sebelum waktunya pulang, kami sebagai buruh pabrik yang pekerjaannya sangat bergantung pada listrik mau tidak mau harus menghentikan pekerjaan kami sampai listrik kembali menyala. Meskipun tidak ada yang bisa kami kerjakan, kami harus tetap bertahan di ruang kerja, menunggu sampai sirine penanda waktu pulang berkumandang.
Listrik belum juga menyala sampai saat sirine terdengar dari speaker kecil di sudut ruangan, dan kami pun diharuskan untuk segera berkemas lalu meninggalkan ruang kerja kami. Dalam satu jam sebelum pulang itu, kami benar-benar tidak melakukan apapun selain bengong dan melamun. Satu jam mengerikan itu terasa satu tahun bagi kami apalagi untuk sejenis orang sepertiku yang tidak pandai berkomunikasi sama sekali dengan orang lain. Benar-benar tidak ada hal yang bisa kulakukan untuk menyibukkan diri, ponsel kami pun tidak diperbolehkan dibawa masuk ketika bekerja. Dan yang lebih menyedihkan lagi, aku sungguh tidak terbiasa mengobrol atau berbincang-bincang dengan teman sepekerjaanku, aku tetap saja merasa asing dengan mereka meskipun kami bertemu di setiap hari kerja, aku baru menyadari itu baru-baru ini. Untuk beberapa buruh lain, yang terbiasa bercakap-cakap dengan orang lain, itu bukan menjadi soal, malahan itu menjadi kesempatan yang mereka nanti-nantikan. Mereka mengobrolkan perihal apa yang mereka temukan di akun sosial media mereka ketika scrolling, yaa hal-hal aneh yang terdengar seru di awal tetapi jika didengarkan dengan cermat ternyata membosankan, dan malah memuakkan orang lain yang mendengarkan.
Topik pembicaraan yang mereka sajikan itu cepat sekali berubah dalam hanya hitungan detik, dan sangat tidak berhubungan dengan yang sebelumnya. Bayangkan saja; mereka hanya menyampaikan sesuatu yang didapat dari sosial media, itu pun hanya satu atau dua kalimat lalu ditambah-tambahi dengan omong kosong ciptaan mereka sendiri supaya tampak berpengetahuan saat didengar lawan bicaranya, lalu mereka berpindah topik lagi dengan kilatnya, karena mereka sama sekali tidak tahu kelanjutan dari apa yang mereka ambil dan bicarakan dari sosial media itu. Ya begitulah siklus perbincangan mereka berlangsung sampai akhir.
Tetapi, itu sebenarnya lebih baik daripada melihat keadaan diriku serta beberapa buruh lain yang tidak mampu berkomunikasi dengan buruh lainnya, lebih baik bisa berbincang-bincang omong kosong dengan orang lain seperti itu daripada hanya berdiam diri dan hanyut dalam kebosanan sendiri, setidaknya, meraka — yang mampu berbincang-bincang itu — lebih hidup sebagai manusia daripada kami yang hanya bekerja seperti mesin yang tiada henti dan tidak mampu melakukan hal lainnya, bahkan hanya sekadar mengobrol.
Sewaktu listrik tiba-tiba padam itu, aku sempat teringat dengan kejadian serupa seminggu lalu, kejadian mati listrik yang juga mendadak, namun bedannya aku sudah berada di rumah waktu itu terjadi, tepatnya selepas pulang dari pabrik. Itu berlangsung selama dua hari, di akhir pekan pula. Aku akan menceritakannya sedetail mungkin, tergantung dengan ingatanku yang kacau ini. Tetapi, seperti yang telah kusampaikan di awal tadi; aku bukanlah seorang penulis atau pendongeng yang cakap, jadi aku akan menceritakannya dengan caraku sendiri, sesopan-sopannya. Sehormat-hormatnya. Tentunya untuk menjaga mertabatku sebagai perwakilan kelas pekerja yang tekun ini. Karena cerita ini mengisahkan tentang listrik yang padam, maka akan kuberi judul; Listrik Padam saja, supaya terkesan lebih keren, setidaknya menurut yang kuimani.
Perihal Listrik Padam
Petang akhir pekan lalu, udara cukup panas dan lembap, aku segerakan mandi lalu berganti baju sepulang dari pabrik, dilanjutkan dengan rebahan di atas kasur tipis yang lebih berasa seperti tumpukkan batu bata yang disusun dengan rapi. Setelah mendapat posisi yang cukup nyaman, aku mengambil ponselku dari tas untuk mengerjakan suatu kegiatan yang mulia dan bermanfaat bagi negara; scrolling sosial media. Mendadak lampu mati, listrik padam, jaringan Wi-fi tewas, dan hal pertama yang aku lakukan adalah mengamati sisa baterai ponselku yang tinggal, aduh tujuh persen lagi! Aku lupa untuk mengecasnya semalam.
“Ahh, paling keisengan PLN saja untuk mengganggu orang, sebentar lagi juga bakal hidup” batinku, lalu meneruskan membaca kolom komentar dari video terakhir yang aku tonton tadi.
Setelah selesai membaca komentar-komentar yang tersisa — komentar yang lain sudah tidak bisa dimuat karena tidak ada jaringan internet — dan belum ada tanda-tanda listrik akan hidup, aku pun beranjak dari sarangku untuk mencari lilin menggunakan ponsel sebagai lampu untuk menerangi jalanku, ponselku sungguh bermanfaat pada detik-detik terakhirnya yang tinggal empat persen dayanya kala itu.
Lilin telah kunyalakan di atas asbak kecil di pojok kamarku, ponselku pun sudah tiba pada ajalnya. Tinggalah diriku bersama lilin mungil yang memantul-mantulkan cahayanya di dinding kamar. Baru saja aku ingin melanjutkan kegiatanku rebahan, malah teringat pula bahwa aku belum makan, maka kugasak lilin di pojokan dan kubawa untuk menerangi perjalananku ke dapur. “Cukup masak mie instan sajalah, biar segera bisa dimakan,” pikirku, “nanti setelah listrik menyala baru aku akan masak yang proper.” Aku biasanya memasak makananku dengan hati-hati dan tidak asal-asalan, meskipun ya, setiap hari juga masak mie instan, tetapi ditambah dengan beberapa irisan cabai serta bawang merah, itu yang kumaksud dengan proper.
Mie instan telah ludes tersantap dengan cepat dan mantap, meski terasa aneh makan secepat itu, kemarin-kemarin aku biasa makan sambil scrolling sosmed, maka dari itu bisa terasa lambat. Aku kembali berjalan ke kamar dengan kenyang dan tidak tahu apa yang telah menunggu di sana.
Tidak ada apa-apa, hanya kebosanan. Kebosanan! Aku bingung ingin melakukan apa, dan tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Baru beberapa menit tolah-toleh, aku sudah merasa bosan, sebosan-bosannya, apalagi ditambah dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan aneh dari kepalaku seperti; lalu apa? Kau mau apa? Di mana ponsel yang puja-puja itu? Pikiranku melaju begitu kencangnya kesana-kemari, terasa seperti sedang menonton televisi yang berganti-ganti channel dengan cepat. Muncul ingatan-ingatan dari video-video pendek sosial media yang sudah kutonton, muncul ingatan masa lalu yang memalukan ketika aku bertingkah tolol agar mendapat perhatian dari seorang wanita cantik, muncul pula itu angsuran motor yang belum lunas tetapi motornya sudah kugadaikan. Ehm. Semuanya muncul dengan cepat dan membanjiriku. Tak lama kemudian, laju pikiranku terhenti juga akhirnya, saat teringat bahwa hari ini merupakan akhir pekan, “Kenapa aku tidak keluar saja mengajak beberapa temanku untuk berjalan-jalan menghabiskan malam, toh sudah lama juga aku tidak menghubungi mereka, teman-temanku yang dua itu?” pikirku dengan cepat. “Bentar, ponselku sudah mati, bagaimana aku menghubungi mereka? Atau aku langsung ke rumah mereka saja? Tapi bagaimana kalau mereka tidak sedang di rumah?” pikiran-pikiran itu muncul untuk menghambat keinginanku, dan lagi-lagi itu mungkin karena hidupku selama ini sudah bergantung dengan ponsel laknat itu.
“Hmm, tidak, tidak bisa! Aku harus keluar dan pergi ke rumah mereka, kalaupun mereka tidak di rumah ya, tinggal jalan-jalan sendiri, atau pulang lagi kerumah, gampang!” gumamku untuk meneguhkan keinginan itu, “Baiklah, yang kubutuhkan adalah segera mengambil jaket, pakai celana panjang lalu berangkat, sama dompet jangan lupa!”
Tentu saja, aku tidak jadi pergi.
Aku kembali melanjutkan kegiatan rebahanku di atas kasur, mencoba membayangkan diri berada di atas perahu kecil menyusuri telaga yang tenang menuju ke sebuah air terjun agar bisa segera tertidur dan terlepas dari pikiran-pikiran menjengkelkan itu, seperti yang disarankan di video-video pendek sosmed. Dan bukannya terlelap, malah pikiran-pikiran baru pada berdatangan seakan merayakan kebosanan jahanamku ini. “Apa ya yang orang lain sedang lakukan saat ini, ya? Apa mereka juga merasakan yang sama sepertiku?” pertanyaan itu menancap pada syaraf-syaraf otak kecilku dan seakan-akan itu merupakan sebuah pertanyaan yang sangat penting dan juga menentukan hidup-matiku. “Mungkin mereka sudah tidur, mungkin mereka sudah biasa tidur dengan cepat dan tidak terbiasa begadang sepertiku” aku mulai membayangkan kehidupan orang lain di luar sana “Berbahagialah mereka yang dengan mudah tertidur dan segera menggapai mimpi-mimpi mereka dengan bahagia di sana.”
Malam semakin matang dan muram, aku hanya berguling-guling di atas kasur dengan pikiran-pikiran yang belum berhenti menyiksaku, “Cukup! Aku harus memutuskan sesuatu dan merealisasikan itu sesegera mungkin, oke itu dia.” ucapku kepada diri sendiri dengan lantang untuk mendorong diriku bergerak. Aku pun beranjak dan duduk di pinggir kasur, menenggak segelas air putih, lalu merokok. Akhirnya, aku telah memutuskan sesuatu dan merealisasikannya dengan sukses, meskipun hanya beranjak dari kasur dan cuman duduk-duduk doang. Orang tua siapa yang tidak bangga akan itu?
Lamunanku kembali melaju dengan hebat setelah aku mengisi tubuhku dengan segelas air putih, aku mencoba menghentikan lamunanku dengan menebar pandang ke sekeliling untuk menemukan inspirasi atau ide yang brilian untuk dilakukan, tetap saja tidak ada apapun, aku juga tidak punya apa-apa di kamarku. Tepat ketika itu, tiba-tiba saja aku merasa iri terhadap orang lain yang mempunyai suatu kegemaran atau hobi. Ya, hobi! Itu dia, aku sama sekali tidak mempunyai hobi! Bagaimana bisa selama ini aku tidak pernah terpikirkan akan hal itu? Tentang hobiku; tentang apa yang mungkin bisa aku kerjakan di waktu luang, sebuah kegiatan yang mungkin bisa menyenangkanku di kala suntuk. Hmm, aku tekankan sekali lagi; aku merasa iri kepada orang-orang yang mempunyai hobi atau kegemaran dalam hidupnya, seperti gemar memasak, menggambar, membaca, menulis, bermain musik, menenun, atau bahkan sekadar bernyanyi. Mungkin hal-hal seperti itulah, kesenangan-kesenangan dari itulah yang membuat orang-orang merasa lebih hidup dan menikmati kehidupannya. Beruntunglah mereka yang telah memutuskan untuk menggemari sesuatu dalam hidupnya, dan merelakan waktunya untuk menekuni itu.
Atau,,, Apakah scrolling sosmed tanpa henti itu juga merupakan hobi? Hmm, mungkin. Dan bisa dibilang aku termasuk salah seorang ahli dalam hobi itu? Bisa saja, perhatian serta minatku selama ini telah tercurah pada sosmed, kesenanganku meningkat dengan cepatnyaketika aku menonton apa yang sedang terjadi dalam dunia maya, bahkan emosiku pun juga berubah-ubah menurut apa yang algoritma sosmed suguhkan kepadaku. “Itu kecanduan, tolol! Bukan hobi!” ucapku dengan lantang. Ohh jadi apakah mungkin, selama ini aku telah kecanduan dengan sosmed dan hidupku juga telah disetel serta ditetapkan alurnya oleh orang lain, yang bahkan aku tidak tahu mereka itu siapa? Biadab betul! Gagasan yang tidak nyambung itu tiba-tiba bertengger di kepalaku. “Tetapi memangnya apa yang bisa kuperbuat? Apa yang bisa kuubah dari itu? Memangnya kehidupan seperti apa yang sesuai denganku?” pikirku secara tiba-tiba. “Toh aku juga tidak bisa apa-apa, hidup tanpa ponsel barang sebentar saja sudah amat sangat tersiksa.” Pikiran-pikiran baru seperti itu terus bermunculan dan bergejolak menekan kewarasanku. Apa mungkin ya, pikiran-pikiran itu sebenarnya sudah ada sejak dulu? Dan mungkin selama ini aku hanya mengabaikan dan tidak mau memperhatikannya ketika itu muncul, lalu melakukan pelarian ke dalam dunia maya yang telah menyediakan segala macam bentuk hiburan dengan murah dan mudah didapatkan?
Seluruh pikiran-pikiran aneh, begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan itu, telah cukup melelahkan diriku malam itu, aku merasa lebih kecapaian dari biasanya.
Minggu pagi tampak lebih cerah dari biasanya, aku bangun lebih awal, karena sudah tidak sabar untuk mengecas ponselku dan ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan kelistrikan di rumah. Sayang sekali, listrik belum juga menyala, dan aku dengan lekasnya teringat kembali akan apa yang terjadi denganku semalam, yang sampai membuatku kelelahan dan jatuh tertidur.
Pagi itu juga terasa sangat aneh bagiku, tidak biasanya aku bisa mengingat apa yang terjadi dalam mimpiku, bahkan sepertinya tidak pernah. Namun pagi itu, aku bisa-bisanya mengingat mimpiku secara jelas dan runtut beserta detail-detail terkecilnya(yang sebenarnya tidak diperlukan juga). Inilah yang terjadi dalam mimpiku;
Mimpi itu dimulai dengan langkah-langkah kecilku menyusuri suatu antah-berantah yang saat itu udaranya terasa sangat panas sekali, diriku berjalan menuju bangku panjang yang berada di bawah pohon mangga(aku melihat beberapa buahnya yang mulai menguning) di pinggiran jalan, untuk berteduh dan mengistirahatkan tubuhku. Tak lama kemudian, muncul sesorang wanita yang tampak lebih muda dariku, dengan pakaian cukup mengherankan tetapi sudah lusuh dan lumayan compang-camping. Ia tiba-tiba saja muncul dari seberang jalan dan duduk di sebelahku, mungkin karena tidak ada bangku lain lagi selain yang sedang aku duduki.
Tidak ada yang menarik dari tampilan orang itu, tubuhnya tidak terlalu tinggi, kurus, dan wajahnya tidak terlihat jelas(karena di sebuah mimpi), rambutnya pun terurai berantakan, tetapi ada satu hal yang menarik perhatianku; matanya. Kedua matanya tampak menyorotkan kelinglungan dan keputusasaan yang mendalam.
“Apakah saya boleh meminta minum dan sepotong roti itu?” Tanyanya dengan suara yang lembut sambil melirik minuman dan roti di sampingku, yang aku bahkan tidak tahu itu berasal dari mana. “Boleh-boleh, silakan.” jawabku dengan gugup. Aku memperhatikan wanita itu minum dan makan dengan tenang, ia tampak seperti seorang bangsawan terhormat jika dilihat dari caranya minum dan makan sepotong roti itu. Aku pun ikut mengambil dan mencicipi roti itu karena penasaran.
“Hei, menurutmu apakah hidup itu adil untuk semua orang?” tanya wanita itu secara tiba-tiba dan pandangannya pun hanya lurus ke depan. “Hah? Heh? Aku tidak tahu, mungkin iya, mungkin tidak. Aku tidak pernah memikirkan itu.” jawabku dengan cepat.
“Hmm, aku ingin becerita kepadamu, ada sesuatu yang ingin sekali kuceritakan pada orang lain, dan aku belum bertemu siapapun selain dirimu.”
“Eee, yasudah, ceritakan saja.”
“Jadi, aku merupakan putri dari suatu kerajaan yang cukup jauh dari sini,” tebakkanku ternyata benar. “aku sudah cukup muak dengan apa yang ada di kerajaan itu, budaya-budayanya, orang-orangnya, bahkan terhadap orang tua dan saudara-saudaraku sendiri. Kehidupan orang-orang di sana cukup saklek dan terlalu formal, aku terlampau muak dengan itu semua, apalagi dengan kesopanan yang seringkali dilebih-lebihkan. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan semua itu, meningalkan istana, dan mencoba hidup dengan caraku sendiri tanpa membawa bawaan apapun dari rumah, termasuk uang. Dan apakah kau bisa menebak apa terjadi setelah itu?”
“Kau jadi gelandangan dan tidak terbiasa dengan kehidupan tanpa orang tua, pelayan-pelayan dan keistimewaan lainnya seperti di kerajaanmu, lalu kau tiba di sini dan meminta-minta makan dari orang lain, begitu?” jawabku ngasal, karena kupikir dia akan bercerita seperti di sebuah film-film.
“Tidak dan iya, maksudku ya memang aku sekarang menjadi gelandangan, tetapi bukan itu yang ingin aku ceritakan, toh aku juga cukup menikmati cara hidup seperti ini. Ehm. Berawal saat setelah dua hari aku pergi meninggalkan kerajaan, sebentar, aku akan menyebutnya dengan rumah saja, lebih nyaman. Ya, setelah aku meninggalkan rumah, aku bertemu dengan seorang gadis yang cukup manis dan cantik di pasar, aku meminta makanan kepadanya waktu itu, seperti yang baru saja kulakukan kepadamu. Selain cantik, hatinya pun ternyata juga lembut, dia mengajakku duduk dan memberiku makan, ia mengajakku berbincang-bincang, sampai akhirnya aku menyampaikan kisah pelarianku ini. Jadi tahulah dia tentang keadaanku, dan karena kelembutan hatinya itulah akhirnya dia mengajakku untuk tinggal di rumah sederhananya bersama ibu beserta kedua adik kecilnya. Aku tinggal bersama mereka selama kurang lebih seminggu, dan aku mencoba memahami bagaimana mereka hidup di rumah kecil itu. Nama gadis itu adalah Mathilda, cukup tinggi dan memiliki tubuh yang terawat. Aku sering mengajak adik-adik Mathilda bermain saat di rumah, juga sering mengobrol dengan ibunya, ibunya sudah cukup renta dan tidak bisa lagi bekerja, yang bisa dilakukannya hanyalah memasak dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang cukup ringan. Baru tinggal bersama mereka selama tiga hari saja, aku sudah mulai mengagumi cara mereka hidup dengan kesederhanaanya itu, terutama dengan Mathilda yang ternyata juga menjadi tulang punggung keluarga kecilnya. Meskipun waktu itu aku belum tahu apa pekerjaannya, dia sering keluar malam hari dan baru pulang dini hari, kemudian menunggu matahari tiba lalu pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan keluarga, siangnya dia habiskan untuk tidur dan beristirahat.’
‘Setelah enam hari berada di sana, aku bertemu dengan salah satu tentangganya yang kebetulan jarak rumahnya sangat dekat dengan rumah Mathilda, ia mengajakku mampir ke rumahnya untuk minum teh dan menikmati sisa hasil panen singkongnya yang telah dimasak dengan sangat enak. Aku berada di sana cukup lama, karena ada sesuatu yang cukup menarik perhatianku dalam perbincangan kami. Tetangga Mathilda itu menceritakan tentang apa yang terjadi dan apa yang dikerjakan oleh Mathilda selama ini. Jadi begini; ayah kandung Mathilda sudah lama sekali pergi meningalkan keluarganya karena telah kecanduan berjudi dan tidak sanggup lagi melunasi hutang-hutangnya, tentulah seluruh bebannya itu dilimpahkan kepada Mathilda seorang, terutama hutang-hutang ayahnya. Sejak saat itu, Mathilda, dengan usia yang masih terbilang belia, memutuskan untuk menjual jiwa dan moralnya sebagai pelacur. Kau dengar itu? Pelacur! Kabar itu sudah diketahui semua orang yang berada dikampungnya, ia menghinakan dirinya untuk menghidupi keluarga kecilnya, ia memutuskan dirinya dari gambaran-gambaran masa depan yang indah hanya karena kebobrokan ayahnya sendiri. Ibunya sendiri juga tahu tentang pekerjaan Mathilda selama ini, tetapi tidak bisa berbuat apapun selain hanya bisa mendoakan kesehatan anak-anaknya dan agar bisa segera keluar dari lubang kehinaan itu. Setelah mendengarkan cerita itu, aku berencana untuk kembali ke rumah Mathilda untuk menanyakan perihal itu kepada orangnya langsung, tetapi setelah melihat Mathilda yang sedang beristirahat dengan tenang di tempat tidurnya, aku merasa segan untuk membangunkannya. Aku pun pergi menghampiri ibunya dan pamit untuk pergi dari rumahnya dan pulang ke rumah, aku bilang bahwa aku sudah rindu dengan keluargaku, aku mengggunakan alasan itu agar aku tidak menjadi beban pikiran mereka. Lalu, pamitku kepada teman malaikatku itu; Mathilda, kusampaikan melalui ibu dan adik-adiknya. Menurutumu, kenapa aku pergi dari rumah mereka?” tanyanya lagi kepadaku.
Aku tidak menjawab pertanyaan itu, aku tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun melanjutkan kisahnya;
“Alasanku pergi meninggalkan mereka bukan karena aku merasa malu dengan pekerjaan Mathilda, aku malah mengaguminya(bukan sebagai pelacurnya, tetapi kegigihannya), aku bersujud di hadapan seluruh penderitaannya. Bukan juga karena aku merasa jijik memakan makanan dari hasil pekerjaan Mathilda. Hanya saja, aku malah merasa menjadi beban yang menambah penderitaannya. Hidupnya sudah sedemikian menyedihkan, malah ditambahi dengan keberadaan gelandangan sepertiku yang bahkan bukan bagian dari keluarganya. Aku memtuskan untuk pergi, mencoba berjalan dan berjalan untuk mencerna semua itu. Singkatnya, aku dan Mathilda merupakan gadis yang seusia, aku menghabiskan hidupku selama ini di dalam istana yang penuh dengan kemewahan dan keberuntungan, sedangkan Mathilda, ia hidup di bawah awan-awan kegelapan seperti itu dan harus menghidupi keluarganya dengan menjual kesucian jiwa dan moralnya. Apakah Tuhan berada di balik itu semua? Apakah keadilan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu? Bagaimana menurutmu?”
Mimpiku terputus di situ. Sayang sekali, aku telah terbangun dari tidurku.
Aku tahu, mimpi itu memang tidak ada hubungannya dengan kejadian listrik yang padam. Tetapi, mimpi itu terasa sangat nyata bagiku, aku juga meyakini bahwa itu memang pernah terjadi entah di mana. Dan mumpung aku sedang menulis saat ini, jadi kuputuskan saja untuk menambahkan kejadian dalam mimpiku itu ke dalam catatan ini, sebagai bentuk jaga-jaga kalau ingatanku akan mimpi yang aneh itu lenyap dari kepalaku…
Sebenarnya, catatan dari buruh pabrik ini belum berakhir di sini. Masih banyak hal yang ingin ia tumpahkan ke dalam tulisannya. Tetapi bagi kita, kiranya cukuplah sampai di sini saja.
Baik si penulis maupun catatan ini sendiri, tentu saja, adalah sebuah karangan. Namun, mungkin saja, orang-orang seperti si penulis catatan semacam ini pasti ada di tengah-tengah masyarakat kita saat ini. Bahkan, sosok seperti Mathilda yang disebutkan dalam mimpi aneh si penulis ini pun juga pasti ada di tengah-tengah kehidupan bumi manusia kita ini.
-Voolvox
메타데이터
- post_id
- 07abe121a7ca
- slug
- listrik-padam-cerita-pendek-07abe121a7ca
- url
- https://medium.com/@voolvox/listrik-padam-cerita-pendek-07abe121a7ca
- canonical_url
- https://medium.com/@voolvox/listrik-padam-cerita-pendek-07abe121a7ca
- author_url
- https://medium.com/@voolvox
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31