← Back to list

Perjalanan Putra Pesisir Laut Lamongan Menuju Negeri Menara Eiffel

Menginjakkan kaki di negeri orang untuk berkuliah adalah impian sejak kecil. Lahir dari keluarga menengah berkecukupan, untuk kuliah ke…

Indrayana Dian Prasetya · 2025-03-11 04:40 · 0 claps · 5.0 min read
#iisma #journey #overseas #education
Open on Medium ↗
Wiki topics: EDU · Education & Learning

Perjalanan Putra Pesisir Laut Lamongan Menuju Negeri Menara Eiffel

10 Awardee IISMA Rubika berfoto di depan gedung perkuliahan selama masa program

10 Awardee IISMA Rubika berfoto di depan gedung perkuliahan selama masa program

Menginjakkan kaki di negeri orang untuk berkuliah adalah impian sejak kecil. Lahir dari keluarga menengah berkecukupan, untuk kuliah ke luar negeri mau tidak mau harus mendapatkan beasiswa. Kenalkan aku Indrayana Dian Prasetya, mahasiswa asal Paciran, Lamongan yang saat ini berkesempatan untuk berkuliah di Rubika, Prancis selama satu semester melalui program Indonesian International Student Mobility Award (IISMA). Pengalaman ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik melainkan juga perjalanan mental untuk menjadi lebih baik.

Setelah 3 bulan di eropa, banyak perbedaan kultur sosial yang penulis rasakan, perbedaan tersebut tidak selalu hal yang baik, adakala perbedaan tersebut justru kurang baik dari kultur sosial di Indonesia. Ini adalah pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di benua biru Eropa.

Tulisan juga telah terbit di kompasiana

Awal Menginjakkan Kaki

Ketika pertama kali tiba di Prancis, segalanya terasa asing. Bahasa yang berbeda pada saat di Bandara, stasiun, tempat umum sampai pada rambu-rambu jalan yang membingungkan. Setiap interaksi adalah hal yang berharga dan berkesan, mulai bagaimana cara memesan makanan sampai cara berinteraksi dengan penduduk asli. Beruntungnya penulis berkuliah di region Nord — Daerah Utara Prancis. Penduduk di daerah utara terkenal akan keramahan tamahannya. Hal ini menjadikan adaptasi di awal lebih mudah dan menyenangkan.

Penulis beruntung kampus tempat menimba ilmu berada pada kota kecil di utara berbatasan dengan Belgia. Kehidupan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota besar, semisal Paris. Bahkan katanya banyak pensiunan yang memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya di kota ini. Penulis dibuat takjub oleh tata kota dan lingkungannya yang rapi dan bersih. Bangunan tua bersejarah masih berdiri kokoh, kabel listrik tertata rapi di bawah tanah, dan kendaraan umum berlalu-lalang dengan lancar. Penataan urban seperti ini bukanlah hal yang mengejutkan di eropa. Model penataan seperti ini memang menjadi standar agar

Pejalan kaki dan Transportasi Umum

Transportasi umum merupakan hal yang penting bagi sebuah negara saat ini. Dengan adanya transportasi umum dapat memudahkan penduduk maupun turis melakukan mobilitas. Transportasi umum juga salah satu cara yang efektif untuk mengurangi masalah polusi dan emisi yang disebabkan oleh kendaraan.

Kebiasaan menggunakan kendaraan umum tentu menjadikan masyarakat harus berjalan kaki untuk menuju satu lokasi ke lokasi lainnya. Namun yang penulis sadari disini dengan kebiasaan itu menjadikan masyarakat lebih sehat, terbukti banyaknya penduduk sepuh yang masih mampu berjalan dan naik kendaraan umum secara mandiri. Selain itu pemerintah melalui peraturannya menjadikan pejalan kaki prioritas daripada kendaraan umum, misalnya terdapat zebra cross tanpa lampu lalu lintas, kendaraan wajib untuk memprioritaskan pejalan kaki terlebih dahulu sebelum dapat melintas.

10 Awardee IISMA Rubika berfoto di depan Stasiun Valenciennes, pusat transportasi publik di kota

10 Awardee IISMA Rubika berfoto di depan Stasiun Valenciennes, pusat transportasi publik di kota

Memang penulis akui berjalan kaki di eropa lebih menyenangkan karena suhu yang tidak terlalu panas sebagaimana di Indonesia. Tetapi seharusnya alasan ini tidak menjadi alasan untuk warga negara Indonesia untuk mulai berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum. Negara tetangga Singapura telah memberikan contoh bahwa negara tropis juga mampu membuat kebiasaan mobilitas yang baik. Tentu ini semua memerlukan dukungan yang sangat tinggi dari pemerintah untuk mewujudkan kebiasaan mobilitas yang baik ini.

Kuliah dengan Sistem Pendidikan yang Berbeda

Sistem pendidikan di luar negeri seringkali berbeda dengan di Indonesia. Di sini, mahasiswa diajak untuk lebih aktif berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan berpikir kritis. Mahasiswa disini berada pada strata yang sama dengan dosen sehingga interaksi tidak terasa canggung. Tugas-tugas diberikan dengan deadline yang ketat dan standar penilaian yang tinggi. Hal ini mendorong mahasiswa untuk belajar mandiri dan mengatur waktu dengan baik.

Salah satu contoh yang penulis rasakan yakni semua komunikasi dilakukan melalui surel dan tanpa basa basi kata pembukaan. Interaksi dosen mahasiswa sangat baik, misalnya ketika dosen menjelaskan mahasiswa dapat langsung mengangkat tangan untuk bertanya, setelah dosen menyelesaikan kalimatnya, beliau akan mempersilahkan mahasiswa untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan.

Interaksi Sosial dan Norma

Di kampus, mahasiswa internasional dari berbagai negara berkumpul. Dengan segala latar belakang yang beragam, membawa cerita dan kebudayaan unik mereka sendiri. Di sini lah terjalin interaksi yang menarik yang dapat membuka wawasan baru bagi setiap individu.

Interaksi yang terbentuk menjadikan penulis mendapatkan wawasan kultural yang kaya, Setiap negara pasti memiliki cara pandang dan norma sosial yang berbeda. Sebagai contoh, di Kampus penulis, mahasiswa tidak perlu meminta izin ke toilet pada saat keluar kelas, mahasiswa langsung dapat meninggalkan kelas. Selain itu menaruh kaki di atas meja juga tidak dianggap sebagai pelanggaran norma kesopanan.

Penulis bersama teman sekelas di Rubika

Penulis bersama teman sekelas di Rubika

Tradisi dan Kuliner

Tradisi menjadi salah satu aspek yang paling menarik dari perbedaan budaya. Mahasiswa memiliki kesempatan untuk merayakan Natal, Halloween, Thanksgiving, atau festival unik lainnya yang tidak ditemukan di Indonesia. Setiap perayaan adalah kesempatan untuk belajar dan merasakan kekayaan budaya yang ada. Salah satu momen yakni saat kegiatan secret santa di kelas, penulis memberikan baju batik kepada salah seorang teman. Tak disangka, keesokan harinya teman tersebut memakai baju itu dengan bangga dan berkata bahwa ia menyukai motif batik tersebut. Momen ini meningkatkan kesadaran penulis akan tradisi dan budaya Indonesia yang kaya.

Membicarakan tradisi tidak lepas dari makanan yang dikonsumsi oleh penduduk lokal. Makanan adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal tradisi baru. Dari mencicipi croissant di Prancis, setiap gigitan adalah penjelajahan rasa dan tradisi. Disisi lain ini juga menjadi bencana bagi mahasiswa yang tinggal berbulan-bulan disini. Masakan dengan citra rasa berbeda dari kebanyakan masakan Nusantara, mungkin perlu beberapa waktu untuk beradaptasi. Solusi terbaik yakni dengan memasak sendiri.

Mengapresiasi Seni dan Budaya

Salah satu aspek terpenting dari pengalaman belajar di luar negeri, terutama eropa adalah kesempatan untuk mengapresiasi seni dan budaya. Galeri seni, museum, konser musik tersebar di banyak tempat di seluruh penjuru negeri. Sebagai mahasiswa selain untuk menikmati keindahannya, kebudayaan bagi penulis pribadi juga sebagai cara untuk memahami sejarah dan ekspresi kreatif masyarakat setempat. Selain itu terdapat pesan dan cerita yang dapat diserap untuk memperluas cakrawala.

Selain mengamati, proses apresiasi budaya ini juga menyadarkan penulis bahwa sebagai bangsa yang kaya akan segalanya. Indonesia belum mampu untuk memanfaatkan kekayaan tersebut dengan bijak. Hal ini menjadi pekerjaan pemerintah untuk memberikan dukungan lebih, tentunya dengan keterlibatan semua penduduk. Negara dengan pengembangan seni dan budaya yang apik, tidak bisa lepas dari gerak semua elemen bangsa.

Penulis di depan Museum Tropenmuseum Amsterdam, salah satu museum yang memiliki banyak koleksi kebudayaan Indonesia

Penulis di depan Museum Tropenmuseum Amsterdam, salah satu museum yang memiliki banyak koleksi kebudayaan Indonesia

Koleksi wayang di Museum Tropenmuseum

Koleksi wayang di Museum Tropenmuseum

Kesimpulan: Pembelajaran Seumur Hidup

Hidup di negeri perantauan jauh dari sanak keluarga, menuntut penulis untuk mampu berkepala dingin saat menghadapi pelbagai masalah yang terjadi. Menghadapi situasi dengan sikap terbuka dan edukatif seringkali membantu dalam menyelesaikan masalah dan membangun pemahaman yang lebih baik.

Kesempatan untuk belajar di luar negeri adalah pembelajaran seumur hidup yang tak ternilai. Perbedaan budaya bukan hanya soal keindahan, tetapi juga memberikan cakrawala pandangan baru mengenai toleransi, serta kemampuan untuk beradaptasi. Dengan pengalaman ini penulis berharap bagi diri sendiri serta siapapun Warga Negara Indonesia di luar Indonesia untuk mampu menjadi bagian Warga Negara dunia yang baik. Di luar negeri juga kesempatan yang baik untuk menyebarkan budaya dan kultur yang baik dari Indonesia untuk Masyarakat dunia. Ketika pulang nanti penulis berharap dapat memberi kemanfaatan yang lebih untuk bangsa dan negara.


메타데이터
post_id
07b5533d4e57
slug
perjalanan-putra-pesisir-laut-lamongan-menuju-negeri-menara-eiffel-07b5533d4e57
url
https://medium.com/@indradprasetya/perjalanan-putra-pesisir-laut-lamongan-menuju-negeri-menara-eiffel-07b5533d4e57
canonical_url
https://medium.com/@indradprasetya/perjalanan-putra-pesisir-laut-lamongan-menuju-negeri-menara-eiffel-07b5533d4e57
author_url
https://medium.com/@indradprasetya
status
ok
fetched_at
2026-06-26 06:47:43