← Back to list

Memulai Pelayaran dari Maumere

Rasanya sangat menyenangkan menyadari bahwa aku bisa punya waktu dan bisa melakukan hal-hal semacam ini.

wahab in postcards to my mom · 2024-09-20 16:00 · 180 claps · 4.8 min read paywalled
#journaling #maumere #sail-maumere-ambon #sailing #travel-journal
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

SAIL MAUMERE-AMBON

Memulai Pelayaran dari Maumere

Day 1: Maumere — Desa Watublapi — Pulau Pemana

Belum menjadi Medium Member? Baca versi gratis tulisan ini di sini.

Pulau Pemana Kecil, Nusa Tenggara Timur. (photo by wahab)

Pulau Pemana Kecil, Nusa Tenggara Timur. (photo by wahab)

Selepas perjalanan panjang menaklukkan kelokan di Ende yang melelahkan, aku bangun pada pagi hari dengan semangat yang baru. Disambut bunyi mesin perahu kecil yang menjauh, bunyi hempasan ombak yang menepi, dan bunyi angin yang bertiup melalui celah-celah bambu.

Semuanya terdengar seperti alunan musik yang menenangkan. Pagi seperti ini yang selalu kurindukan. Biasanya, aku menemukan hal-hal semacam ini jika aku kembali ke kampung halaman. Benar-benar menenangkan.

Pagi yang menenangkan di Maumere. (photo by wahab)

Pagi yang menenangkan di Maumere. (photo by wahab)

Aku keluar dari kamar dengan kaki telanjang untuk merasakan pasir menyentuh kulit kakiku. Berkeliling sejenak sambil memotret suasana, dan berjalan di sepanjang pantai. Rasanya sangat menyenangkan menyadari bahwa aku bisa punya waktu dan bisa melakukan hal-hal semacam ini.

Selepas puas mengamati sekitar, aku meluangkan beberapa menit waktuku hanya untuk mencatat. Aku ingin merekam semua hal yang kulihat, kurasakan, dan kualami, ke dalam buku catatanku. Entah berapa menit yang kuhabiskan untuk menulis pada dua lembar kertas di bukuku sebelum sarapan pagi tiba sebagai tanda untuk segera bergegas.

5 September

Pak Yopi dan beberapa kawan-kawan supirnya tiba sesuai waktu yang mereka janjikan. Pukul 8.30. Semua orang sudah siap, dan barang-barang kami juga sudah dinaikkan ke mobil. Rencana hari ini dimulai dengan mengunjungi salah satu desa di Maumere ini.

Semuanya sudah siap. (photo by wahab)

Semuanya sudah siap. (photo by wahab)

“20 menit aja ke sana,” kata Pak Yopi sambil tersenyum. Kupikir dia pasti mengingat keresahan kami kemarin yang tidak kunjung tiba sesuai perkiraan waktunya. Namun kali ini, aku tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Kupercayakan semuannya kepada Pak Yopi dan kawan-kawan sebab mereka adalah tuan rumah yang tahu dengan lika-liku jalanan ke desa itu.

Desa Watublapi

Kami tiba di Desa Watublapi itu sesuai dengan perkiraan waktu yang dijanjikan Pak Yopi. Sekalipun sebetulnya, ternyata Pak Yopi mengambil rute baru. Katanya, jalan umum yang biasanya dilalui sedang dalam perbaikan. Kami melintasi jalan kecil beraspal beton, menanjak dan hanya bisa dilalui satu mobil, dan di sekeliling hanya ada pohon-pohon dan semacam kebun.

Aku tak tahu apa-apa tentang desa ini selain kata orang-orang, desa ini terkenal karena kain tenunnya. Pengetahuanku hanya sebatas di situ saja. begitupula, semua tempat yang akan menjadi lokasi tujuan kami selama perjalanan adalah tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Jadi, apapun yang kutemukan benar-benar baru bagiku.

Sebetulnya, aku bisa saja mencari tahu lebih banyak tentang tempat-tempat itu melalui internet sebelum berkunjung. Namun dengan satu alasan, aku tidak ingin melakukannya. Sebab aku sering berpikir, itu akan membuatku punya kesempatan untuk mencari tahu dan belajar segalanya secara langsung dari lokasi. Aku senang melakukan itu untuk menghindari menjadi pengunjung yang terlalu banyak tahu, atau tahu banyak.

Tarian tradisional Desa Watublapi. (photo by wahab)

Tarian tradisional Desa Watublapi. (photo by wahab)

Dari kejauhan, sudah terdengar musik-musik dan aku melihat beberapa orang menunggu di gerbang menggunakan pakaian adat. Mereka menunggu dan menyambut kami di gerbang desa mereka. Dengan doa dan air yang dipercikkan ke kami, lalu dengan tari-tarian yang mengiringi kami sambil berjalan. Aku memperhatikan wajah dan senyum ramah mereka menerima kami.

Begitu kami masuk, hal pertama yang mereka lakukan adalah memberi masing-masing kami sebuah mangkung yang terbuat dari tempurung kelapa. Mangkuk itu berisi sirih, pinang, dan rokok. Bagian itu termasuk cara mereka menyambut tamu.

Aku ikut mengunyah pinang dan sirih, lalu membuang ludah yang berubah menjadi warna merah. Lalu membakar rokok yang dibungkus dengan daun — aku tidak lagi merokok, tapi kali ini aku mencoba sedikit saja sebab kata temanku tidak boleh menolak. Jujur saja, rasanya enak! Juga aku mencoba, mungkin, setetes arak yang mereka berikan. Satu-satunya pemberian mereka yang kuhabiskan hanyalah kue.

Tarian tradisional Desa Watublapi. (photo by wahab)

Tarian tradisional Desa Watublapi. (photo by wahab)

Selepas penyambutan itu, mereka menampilkan tiga tarian yang sangat memukau. Salah satunya yang menakjubkan bagiku adalah ketika satu orang berbaring di atas bambu yang berdiri. Itu pasti sakit, pikirku. Lalu mereka mengajak kami ikut menari bersama. Alunan musiknya membuatku tidak bisa menolak untuk ikut menari.

Bagian paling menarik, bagiku, adalah ketika mereka menjelaskan mengenai kain tenun yang mereka kenakan. Mereka menjelaskan mengenai perbedaan kain dan motif yang digunakan, serta cara berpakaian mereka untuk setiap generasi. Mulai dari perempuan muda, perempuan yang sudah siap atau sudah menikah, dan perempuan yang sudah lanjut usia. Begitu pula dengan laki-lakinya.

Kain tenun khas Desa Watublapi. (photo by wahab)

Kain tenun khas Desa Watublapi. (photo by wahab)

Aku menganggap hal-hal seperti itu luar biasa. Sebab mereka punya cara untuk menyampaikan pesan yang sederhana melalui keseharian mereka tanpa perlu melalui kata. Bisa dari pakaian, cara berpakaian, dan bahkan motif yang ada pada kain yang mereka kenakan untuk menunjukkan status mereka. Lalu mereka menunjukkan proses pembuatannya mulai dari kapas hingga menjadi kain berharga yang penuh warna.

Pulau Pemana Kecil

Selepas kunjungan ke desa itu, kami semua berangkat menuju ke kapal. Sebuah kapal pinisi dengan layar dan mesin motor, yang akan mengantar kami bertualang melintasi laut dari Maumere menuju Ambon. Kapal yang akan menjadi rumah kami selama 12 hari ke depan.

Fadil, seorang juru mudi kapal yang menemani kami menepi di Pulau Pemana Kecil. (photo by wahab)

Fadil, seorang juru mudi kapal yang menemani kami menepi di Pulau Pemana Kecil. (photo by wahab)

Pelayaran dimulai pada pukul dua siang. Setelah kira-kira dua jam berlayar, kami singgah di sebuah pulau kecil yang berpasir putih. Pulau Pemana Kecil. Ini adalah tempat pertama dari banyak persinggahan kami. Tak ada yang ingin ketinggalan melompat ke dalam air yang berwarna biru itu.

Hatta, seorang teman, ternyata sudah menunggu di sana. Bersama keluarganya, dia menyambut kami di pulau itu. Mereka menyediakan kelapa muda, jagung rebus, dan bubur jagung untuk kami nikmati selepas berenang. Kami menikmati hidangan itu, bersama matahari yang sudah perlahan matang, dan juga percakapan-percakapan perkenalan yang dimulai perlahan-lahan.

Setelah menikmati kehangatan itu dan keramahan dari keluarga Hatta, kami kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan berikut kami adalah Pulau Komba. Katanya, waktu tempuh untuk tiba di tujuan berikutnya yaitu selama 13 jam. Perjalanan dilanjutkan tepat setelah matahari terbenam sambil menyimak kuliah malam dari Pak Jeffrey yaitu “Sea Stories from the Archipelago: Austronesian Ancestor & Living Maritime Cultures.”

Baca cerita-cerita sebelumnya:

[embed]Menaklukkan Kelokan Spaghetti di Ende Kupikir aku yang akan menaklukkan kelokan spaghetti di Ende, ternyata sebaliknya, kelokan itu yang menaklukkanku!writtenbywahab.medium.com

[embed]Mempersiapkan Perjalanan Menuju Timur Sekarang, semua urusan itu sudah beres, jadi kupikir sudah saatnya untuk menyiapkan barang-barang bawaanku sendiri.writtenbywahab.medium.com


메타데이터
post_id
0871007ae494
slug
memulai-pelayaran-dari-maumere-0871007ae494
url
https://medium.com/postcards-to-my-mom/memulai-pelayaran-dari-maumere-0871007ae494
canonical_url
https://medium.com/postcards-to-my-mom/memulai-pelayaran-dari-maumere-0871007ae494
author_url
https://medium.com/@writtenbywahab
status
ok
fetched_at
2026-07-30 00:49:34