← Back to list

Biru Laut, Sejak Kau Ditenggelamkan, Mereka Masih Tak Pernah Berhenti Membungkam Suara

Tulisan ini adalah semacam cerita yang kutujukan kepada Biru Laut, tokoh dalam Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.

Biwara Nala Seta · 2026-03-16 10:54 · 8 claps · 4.6 min read
#novel #esai #opinion #laut-bercerita
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Biru Laut, Sejak Kau Ditenggelamkan, Mereka Masih Tak Pernah Berhenti Membungkam Suara

Tulisan ini adalah semacam surat yang kutujukan kepada Biru Laut, tokoh dalam Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.

Surat ini lahir dari sebuah kegelisahan sederhana bahwa sejak hari ia ditenggelamkan, cara-cara untuk membungkam suara tampaknya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, berganti wajah, dan menemukan metode baru.

Melalui tulisan ini, aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi teman dekatnya — seseorang yang menyaksikan keberanian itu, sekaligus menyadari bahwa hingga hari ini masih ada orang-orang yang disakiti hanya karena bersuara.

Mungkin tulisan ini bukan apa-apa selain sebuah ingatan kecil. Tapi kadang-kadang, mengingat adalah cara paling sederhana untuk memastikan bahwa suara yang pernah dibungkam tidak benar-benar hilang.

Photo by AugustDean211 on Pinterest

Photo by AugustDean211 on Pinterest

Biru Laut, beberapa hari terakhir ini aku kembali memikirkanmu. Padahal kita tak pernah benar-benar saling mengenal. Aku hanya bertemu denganmu melalui lembaran-lembaran sebuah novel, melalui kisah-kisah yang dituliskan oleh Ibu Leila S. Chudori dalam Laut Bercerita. Namun, setiap kali dunia ini terasa bising oleh ketidakadilan, namamu selalu muncul kembali seolah kita adalah seorang teman dekat yang pernah duduk di satu meja yang sama.

Tapi, seandainya kita benar-benar menjadi teman dekat, aku tentu akan sangat senang karena mempunyai teman sepertimu, Biru Laut. Aku akan membayangkan kita bertemu di Seyegan. Tempat yang paling menyenangkan, karena di sana kita juga bisa bertemu teman-teman lainnya. Mungkin aku akan berkenalan juga dengan Kinan, Sunu, Alex, Naratama, dan teman-teman lainnya.

Anjani, mungkin aku akan sekadar kenal saja, karena itu orang yang paling kau cintai kan? Dan barangkali cintamu kepadanya sama besarnya dengan cintamu terhadap negara ini. Dan untuk Gusti, sepertinya aku pikir dua kali untuk mengenalnya. Benci betul aku dengan blitz kameranya.

Tentu aku akan ikut bergabung bersamamu di Winatra dan Wirasena. Aku akan selalu ikut denganmu dan mendengarkanmu berbicara tentang dunia, tentang kebebasan, dan tentang orang-orang kecil yang suaranya terlalu sering dianggap tak penting.

Barangkali — selain Anjani — aku akan menjadi teman yang paling sering mengkhawatirkanmu. Aku mungkin akan coba meyakinkanmu bahwa dunia tak akan selalu ramah dengan mereka yang terlalu berani bersuara. Bahwa ada banyak telinga yang tak peduli dan lebih banyak tangan yang siap menghalalkan semua cara agar suara-suara sepertimu berhenti.

Tapi aku juga tahu kok, Laut, kau pasti tak akan berhenti begitu saja hanya karena kekhawatiran seseorang, kan?

Karena aku tahu betul bagaimana khawatirnya Ayahmu yang bahkan setelah kepergianmu masih setia menyiapkan piring makanmu tiap malam. Juga ibumu, Adikmu Asmara Jati, dan Anjani.

Mereka semua orang-orang yang paling mengkhawatirkanmu, tapi kau tetap percaya bahwa ketidakadilan harus disuarakan. Bahwa kata-kata harus diucapkan. Bahwa sebelum ’merdeka’ kita tak boleh diam. Kau pasti akan tetap berdiri di ruang-ruang diskusi yang pengap itu, berbicara dan menulis dengan mata meyala, seolah dunia memang bisa diperbaiki jika cukup banyak orang yang berani mengatakannya.

Dan barangkali itu sebabnya akhirnya tubuhmu dibungkam.

Ceritamu berakhir di laut yang luas, tubuhmu yang penuh luka siksa itu ditenggelamkan, dan suara harus dihentikan. Dan mereka pikir dengan membuang tubuhmu ke kedalaman samudera, segala hal yang pernah kau perjuangkan juga akan ikut tenggelam dan dilupakan.

Tapi, Laut, semakin lama aku hidup, semakin aku sadar bahwa kisah seperti itu tidak benra-benar selesai.

Laut, dunia yang kau inginkan, belum terwujud sepenuhnya. Beberapa hari yang lalu, aku membaca kabar tentang seorang aktivis yang diserang dengan air keras. Wajah dan tubuhnya disiram oleh cairan yang membakar kulit dan meninggalkan luka yang tak akan mudah hilang. Serangan itu tidak terjadi di medan perang, tidak pula di sebuah kerusuhan besar. Ia terjadi dengan cara yang hampir sunyi, di tengah malam, di bulan Ramadhan yang harusnya menjadi bulan yang suci, dan dilakukan dengan cepat, secara tiba-tiba, dan meninggalkan rasa ngeri yang sulit dijelaskan.

Sebagian orang-orang mengatakan bahwa kekerasan seperti itu dilakukan atas dasar individu, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan apapyn yang lebih besar dari sebuah kebencian pribadi. Tapi kita tahu, dunia tidak akan sesederhana itu.

Air keras bukan sekadar cairan yang akan melukai kulit. Ia juga menjadi semacam pesan yang dikirim dengan cara yang paling kejam agar berhentilah berbicara.

Dalam sejarah yang panjang, orang-orang selalu menemukan cara baru untuk membungkam suara. Kadang dengan penjara, kadang dengan siksa, kadang dengan racun, kadang dengan teror, kadang dengan pengasingan, kadang membuat orang-orang hilang tanpa jejak. Dan kadang-kadang seperti sekarang, dengan menyiramkan sesuatu yang bisa merusak wajah, bagian tubuh yang paing mudah dikenali oleh dunia.

Mereka mungkin berpikir bahwa dengan melukai tubuh seseorang, keberaniannya juga akan ikut hancur bersamanya. Mereka mungin berharap bahwa rasa sakit akan membuat seseorang berhenti untuk menyebutkan hal-hal yang ia suarakan dengan begitu lantang.

Namun yang sering mereka lupakan adalah satu hal sederhana, bahwa suara tidak akan pernah benar-benar tinggal di dalam tubuh satu orang saja.

Suara akan selalu berpindah. Ia akan berjalan dari satu kepala ke kepala lainnya. Dari satu percakapan ke percakapan lainnya. Dari satu keberanian ke keberanian lainnya. Dan dari satu generasi ke generasi setelahnya.

Aku jadi teringat puisi pendek dari Sang Peyair yang diselipkan ke sebuah buku yang diberikan kepadamu, Laut.

Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali….

Mungkin juga itulah sebabnya aku jadi kembali teringat tentangmu, Biru Luat. Bukan karena ceritamu tentang masa lalu, tapai justru karena ia begitu terasa dekat hari ini.

Tubuhmu ditenggelamkan agar suaramu berhenti. Ada juga yang pernah diracun di pesawat. Ada pula yang mendapatkan berbagai teror. Dan sekarang, seseorang disiram air keras agar keberaniannya runtuh. Besok, entah dengan cara apa lagi yang akan dilakukan untuk tujuan yang saama.

Cara-cara itu memang bervariasi, tapi tujuannya selalu sama. Mereka ketkutan pada orang yang tak mau diam dan melakukannya untuk membungkam.

Andai aku benar-benar menjadi teman dekatmu, Biru Laut, mungkin aku tak akan mempunyai keberanian sebesar dirimu. Mungkin aku hanya akan menjadi seseorang yang akan menyuruhmu berhenti, menyuruhmu pulang lebih cepat, menyuruhmu lebih hati-hati dalam memilih kata-kta.

Namun jika semua ini tetap terjadi, tubuhmu tetap ditenggelamkan ke dasar laut, seseorangg tetap disiram air keras hanya karena keberaniannya, maka ada satu hal yang akan terus kulakukan.

Aku akan terus menceritakan kisahmu.

Bukan karena aku ingin mengenang tragedi, tetapi karena aku tahu ada orang-orang yang berharap cerita sepreti itu dilupakan. Mereka berharap nama-nama yang pernah bersuara keras akan perlahan hilang dari ingatan, seperti sebuah batu yang tenggelam jauh ke dasar luat.

Padahal kita tahu, Laut, bahwa laut tidak pernah benar-benar menyimpan sesuati sendirian. Ia akan mengembalikannya ke daratan, entah sebagai ombak, sebagai buih, atau sebagai cerota yang kembali ditemukan oleh orang-orang yang yang tak pernah berhenti bertanya.

Dan mungkin itu juga yang paling ditakutkan bagi mereka yang ingin membungkam suara.

Bahwa setiap kali seseorang mencoba membungkmnya, suara itu justru menemukan cara untuk lahir kembali. Bisa jadi dari mulut, dari tulisan , dari ingatan, dan dari keberanian orang-orang yang menolak melupakan.

Barangkali itulah makna yang kutemukan dari ceritamu, Biru Laut, bahwa kematian tidak selalu menjadi akhir.

Terkadang ia menjadi cara lain bagi sebuah suara untuk lebih hidup lebih lama.


메타데이터
post_id
08a6d2a91f5f
slug
biru-laut-sejak-kau-ditenggelamkan-mereka-masih-tak-pernah-berhenti-membungkam-suara-08a6d2a91f5f
url
https://medium.com/@biwaranalas/biru-laut-sejak-kau-ditenggelamkan-mereka-masih-tak-pernah-berhenti-membungkam-suara-08a6d2a91f5f
canonical_url
https://medium.com/@biwaranalas/biru-laut-sejak-kau-ditenggelamkan-mereka-masih-tak-pernah-berhenti-membungkam-suara-08a6d2a91f5f
author_url
https://medium.com/@biwaranalas
status
ok
fetched_at
2026-06-25 07:00:49