← Back to list

VOL . IV TEMU RUPA MALAIKAT MUDA

Saat Peien berhasil menapakkan kakinya di area pertempuran utama, pemandangan yang tersaji begitu mengerikan. Hawa pekat kegelapan terasa…

LiPeieen · 2026-06-09 11:10 · 0 claps · 6.4 min read
#bxb #jiangli
Open on Medium ↗

VOL . IV TEMU RUPA MALAIKAT MUDA

Saat Peien berhasil menapakkan kakinya di area pertempuran utama, pemandangan yang tersaji begitu mengerikan. Hawa pekat kegelapan terasa mencekik paru-paru. Energi suci di tempat itu telah terkontaminasi oleh dosa dan amarah.

​"Malaikat-malaikat muda, mundur! Tempat ini bukan untuk kalian!" teriak seorang Seraphine yang tubuhnya bersandarkan pada tombak yang patah, darah mengalir dari pelipisnya.

​Sebelum peringatan itu selesai, sekelompok iblis tingkat tinggi mendeteksi kedatangan para murid akademi. Dengan seringai lapar, mereka melesat maju, mengayunkan cakar-cakar tajam yang diselimuti kabut hitam mematikan.

Para malaikat muda yang mencoba membantu langsung kocar-kacir. Beberapa di antaranya langsung tumbang dalam sekali tebas, menyadari betapa jauhnya jarak kekuatan mereka dengan pasukan neraka.

​Peien berdiri terpaku di tengah kekacauan tersebut. Matanya yang bulat menyaksikan seorang iblis berwajah hancur mengayunkan gada berduri ke arahnya. Peien mencoba menghindar, namun tubuhnya terlalu lambat. Kecepatan makhluk Abyss itu berada di luar jangkauannya.

​BLAAAM!

​Semburan energi kegelapan dari hantaman itu tidak mengenai Peien secara langsung, namun gelombang kejutnya yang luar biasa kuat menghantam tubuh rapuhnya. Peien terhempas ke udara. Tubuhnya melayang belasan meter, melewati kepulan asap dan debu pertempuran, sebelum akhirnya melesat jatuh dan terbentur oleh sesuatu yang sangat keras.

​BRAK!

“Akhhh!” P​eien memekik tertahan saat punggungnya menabrak objek tersebut.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya, membuat pandangannya sempat memburam selama beberapa detik. Ia mengira ia telah menabrak pilar batu atau dinding pembatas yang runtuh. Namun, objek yang ditabraknya tidak terasa seperti batu dingin yang kasar.

Sesuatu itu terasa kokoh, hangat, namun memancarkan aura dingin yang luar biasa mengerikan hingga membuat bulu kuduknya berdiri.

​Dengan napas yang terengah-engah dan berat, Peien perlahan mendongakkan kepalanya, mencoba melihat apa yang berada di belakangnya. ​Di sana, berdiri tegak seorang pria dengan perawakan luar biasa tinggi dan tegap. Pria itu mengenakan zirah hitam legam yang dihiasi ukiran kuno yang berdenyut kemerahan, ditutupi oleh jubah sutra malam yang berkibar ditiup angin berdarah. Rambut hitamnya yang panjang bergerak pelan, membingkai wajah yang memiliki ketampanan dan rahang yang tegas. Aura kegelapan yang keluar dari tubuh pria ini begitu pekat hingga mampu membekukan udara di sekitarnya.

​Dia adalah sang Abyssal. Pemimpin tertinggi kegelapan. Jiang Heng. ​Jiang Heng bahkan tidak bergeser satu inci pun saat tubuh mungil Peien menghantam dada bidang zirahnya. Ia berdiri di sana bagai gunung batu yang tak tergoyahkan, menatap medan perang di bawahnya dengan tatapan bosan dan penuh penghinaan. Serangan dadakan ini hanyalah permainan kecil baginya untuk menguji sejauh mana kerapuhan langit telah berkembang.

​Merasakan ada makhluk asing yang bersandar pada tubuhnya, Jiang Heng menurunkan pandangannya. Sepasang mata merah darah miliknya, yang biasanya memancarkan kilat kebengisan tanpa ampun, menatap ke bawah, tepat ke arah pemuda mungil yang tengah terduduk di dekat kakinya.

​Peien, yang menyadari siapa sosok di hadapannya dari aura intimidasi yang menekan jiwanya, merasakan ketakutan yang teramat sangat. Instingnya menjeritkan bahaya kematian. Namun, di tengah rasa sakit yang mendera tubuh lemahnya, ia tidak menyerah. Mengingat ajaran akademi untuk selalu menghormati dewa dan mempertahankan langit, Peien mencoba bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar.

​Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Peien mencoba memanggil kekuatan sucinya. Ia mengepakkan sayap putihnya, sayap yang begitu kecil, dan kini dipenuhi noda debu serta memar. Dari telapak tangannya, ia berusaha memadatkan energi untuk membentuk pedang cahaya, senjata para calon Seraphine.

​Namun, apa yang muncul hanyalah pemandangan yang menyedihkan. Pedang cahaya yang berhasil dipanggilnya begitu tipis, dan pendarannya berkedip-kedip lemah seperti lilin di tengah badai. Pedang itu bahkan tidak memiliki wujud yang cukup untuk menggores kulit iblis tingkat terendah sekalipun.

Tubuh Peien yang menahan sakit luar biasa membuat konsentrasi energinya berantakan. Napasnya terdengar berat, memburu, dan terputus-putus, memperlihatkan betapa ia sedang memaksakan diri di ambang batas kemampuannya.

​Jiang Heng melihat usaha pemuda mungil itu. Sebuah kekehan remeh yang dingin keluar dari tenggorokannya. Suara kekehan itu terdengar bagai gesekan logam yang mengerikan di telinga. Baginya, pemandangan di depannya adalah lelucon paling menghibur malam ini. Seorang malaikat muda yang rapuh, bertubuh ringkih, mencoba menantangnya, sang penguasa neraka yang dibenci oleh seluruh langit, hanya dengan sebilah mainan cahaya yang bahkan tidak bisa menerangi kegelapan di sekitar mereka.

​"Hanya ini yang bisa dilahirkan oleh akademi langit yang agung?" Jiang Heng berucap dengan nada merendahkan yang teramat sangat, suaranya berat dan bergetar kuat.

"Makhluk lemah sepertimu bahkan tidak layak untuk mati di tanganku." ​Jiang Heng membungkukkan sedikit tubuh tegapnya, berniat untuk meraih kepala Peien dan menghancurkannya seperti meremukkan serangga, atau mungkin melemparkannya kembali ke medan perang agar dicabik-cabik oleh pasukannya.

​Abyssal memandang tepat ke dalam sepasang mata Li Peien. ​Dan pada detik itu juga, seluruh gerakan Jiang Heng mendadak terkunci. ​Waktu seolah berhenti berputar di sekitar mereka. Riuh rendah suara dentingan pedang, jeritan kematian, dan ledakan api di medan perang mendadak meredup dari pendengaran sang raja kegelapan.

​Jiang Heng tertegun.

​Mata yang sedang menatapnya balik itu tidak seperti mata makhluk langit lainnya yang pernah ia temui. Selama ribuan tahun memerangi langit, Jiang Heng selalu melihat mata para Seraphine yang dipenuhi oleh kebencian yang dibungkus dengan nama keadilan, atau kepuasan moral yang munafik.

​Namun, mata bulat milik pemuda di hadapannya ini, benar-benar jernih. Begitu murni, begitu lugu, dan kosong dari segala bentuk hati yang buruk. Tidak ada setitik pun dendam di sana, tidak ada kebencian yang membakar, bahkan tidak ada kemunafikan yang biasa diagungkan oleh kaumnya. Di dalam bola mata yang jernih bagai mata air surga itu, hanya ada ketakutan yang melawan rapuh, dan sejenis ketabahan yang Jiang Heng tidak mengerti.

​Wajah malaikat muda itu tampak begitu indah di bawah temaram api peperangan. Kulitnya yang putih bersih, pipinya yang merona merah akibat menahan sakit, dan bibir pucatnya yang sedikit terbuka untuk meraup udara, menciptakan sebuah pemandangam baru yang luar biasa ekstrem dengan dunia kegelapan tempat Jiang Heng berkuasa.

Keberadaan Peien di tempat terkutuk ini bagai selembar sutra putih murni yang jatuh di atas kubangan jelaga hitam yang kotor.

​Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya yang abadi, Jiang Heng merasakan sebuah getaran aneh di dalam dadanya, sesuatu yang asing bagi seorang Abyssal yang hanya mengenal dosa, kehancuran, dan kekuasaan. Ia terdiam seribu bahasa, terpaku pada posisinya, membiarkan matanya terus menjelajahi paras indah sang malaikat muda yang bernapas berat di bawah kungkungan auranya.

​Tiba-tiba Seorang iblis tingkat tinggi bertubuh besar dengan kapak raksasa di tangannya melesat mendekat dari arah samping. Iblis itu melihat Peien yang tak berdaya di dekat kaki rajanya dan bermaksud untuk menebas kepala malaikat mungil itu demi mendapatkan pujian dari sang penguasa tertinggi.

Kapak hitam itu diangkat tinggi-tinggi, siap diayunkan ke leher Peien. ​Melihat bahaya yang datang, Peien dengan cepat memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram jubah hitam Jiang Heng yang berada di dekatnya dengan tangan mungilnya yang gemetar. Ia bersiap menerima akhir hidupnya.

​Namun, tebasan itu tidak pernah sampai.

​SREK!

​Sebuah gerakan secepat kilat terjadi. Jiang Heng, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Peien, menggerakkan tangan kanannya. Pedang besar berenergi kegelapan murni miliknya berayun dalam satu gerakan horizontal yang tak terlihat mata telanjang.

​CRASH!

​Kapak raksasa milik iblis itu hancur berkeping-keping, dan pada detik berikutnya, tubuh iblis besar itu terbelah menjadi dua, lenyap berubah menjadi abu hitam sebelum sempat mengeluarkan jeritan kematian. Darah iblis yang hitam sempat tepercik di atas tanah, beberapa senti dari tempat Peien terduduk.

​Kejadian itu begitu cepat dan mengejutkan hingga membuat medan perang di sekitar mereka mendadak hening. Para iblis lain yang berada di dekat sana langsung menghentikan ayunan senjata mereka. Para Seraphine yang tersisa menatap dengan mata terbelalak ketakutan dan kebingungan.

​Semua makhluk yang berada di area serangan itu terkejut setengah mati. Mengapa sang Abyssal, pemimpin tertinggi kegelapan yang terkenal bengis, tidak kenal ampun, dan sangat membenci makhluk langit, justru membantai pasukannya sendiri demi melindungi seorang malaikat muda yang tidak berdaya?

​Jiang Heng perlahan menurunkan pedangnya. Sisa-sisa energi hitam berdenyut di ujung bilahnya. Ia menatap tangannya sendiri yang baru saja bergerak secara impulsif, lalu kembali menatap Peien yang perlahan membuka matanya dengan tatapan bingung dan syok. Pemuda mungil itu menatapnya dengan dada yang masih kembang kempis menahan sakit, tidak mengerti mengapa musuh terbesar kaumnya baru saja menyelamatkan nyawanya.

​Rasa asing di dada Jiang Heng semakin menguat, mengacaukan fokus kegelapannya yang biasanya sedingin es. Ia adalah penguasa kegelapan, dan ia tidak boleh membiarkan sepasang mata jernih mengacaukan rencana besarnya untuk meruntuhkan langit.

Namun, untuk membunuh pemuda di hadapannya ini, tangannya mendadak terasa begitu berat, sebuah perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya.

​Dengan rahang yang mengeras, Jiang Heng menegakkan kembali tubuhnya yang tinggi tegap. Ia membalikkan badannya, memunggungi Peien, membiarkan jubah hitamnya menyapu wajah pemuda mungil itu dengan kelembutan yang tak sengaja.

​"Mundur," suara Jiang Heng menggelegar di seluruh penjuru langit malaikat, membawa gelombang perintah mutlak yang tidak bisa dibantah oleh makhluk Abyss mana pun.

​Para jenderal iblis terkesiap. "Tapi, Yang Mulia! Kita sudah hampir menghancurkan akademi ini! Pertahanan mereka sudah runtuh—"

​"Aku bilang, MUNDUR!" Jiang Heng mengulang perintahnya, kali ini disertai dengan pelepasan aura kegelapan yang begitu masif hingga membuat tanah yang mereka pijak bergetar hebat dan retak.

Sepasang mata merahnya berkilat mengancam, siap membantai siapa saja yang berani mempertanyakan keputusannya. ​Melihat kemarahan sang Abyssal, tidak ada satu pun iblis yang berani mengeluarkan suara lagi. Dengan rasa takut yang mendalam, ribuan pasukan Abyssal yang tadinya bergerak liar menghancurkan akademi, perlahan-lahan mulai menarik diri. Mereka melesat kembali ke atas, memasuki celah-celah kegelapan di langit utara yang perlahan mulai menutup.

​Jiang Heng melirik sekali lagi melalui sudut matanya, menatap sosok Li Peien yang masih terduduk lemah di atas tanah, tampak begitu rapuh di tengah reruntuhan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang penguasa kegelapan melompat ke udara, diselimuti oleh kabut hitam pekat, memimpin penarikan mundur pasukannya dan lenyap dari wilayah langit, meninggalkan keheningan yang mencekam di Akademi Aethelgard yang kini dipenuhi oleh tanda tanya besar dan kelegaan yang tak terduga.

Mata Peien perlahan menggelap, diikuti tubuhnya yang jatuh ambruk ke atas tanah. Peien berakhir pingsan setelah tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya.


메타데이터
post_id
08bc515e6d5e
slug
vol-iv-temu-rupa-malaikat-muda-08bc515e6d5e
url
https://medium.com/@jianglihappier/vol-iv-temu-rupa-malaikat-muda-08bc515e6d5e
canonical_url
https://medium.com/@jianglihappier/vol-iv-temu-rupa-malaikat-muda-08bc515e6d5e
author_url
https://medium.com/@jianglihappier
status
ok
fetched_at
2026-06-10 13:10:15