Kisah Bani Israel dan Patung Anak Sapi
Alkitab menceritakan bahwa Nabi Harun yang membuat patung anak sapi emas, sedangkan Al Qur’an menyatakan bahwa yang membuatnya adalah…
Kisah Bani Israel dan Patung Anak Sapi

Image created using Microsoft Copilot
Tulisan sebelumnya menceritakan bahwa Bani Israel tidak berani menerima perintah Allah secara langsung sehingga mereka meminta Nabi Musa untuk menjadi perantara.
Ketika Nabi Musa naik ke Gunung Sinai, Allah berfirman kepada Nabi Musa: “Mengapa engkau datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa?” (QS. Thaahaa: 83)
Nabi Musa berkata: “Mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau ridha.” (QS. Thaahaa: 84)
Nabi Musa mengatakan ini karena berharap kaumnya menyusulnya naik ke Gunung Sinai. Akan tetapi, bukannya menyusul, Bani Israel malah membuat dan menyembah patung anak sapi.
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam. Kemudian kamu (Bani Israel) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya.” (QS. Al Baqarah: 51)
Patung Anak Sapi
QS. Al A’raaf: 142 menceritakan bahwa sebelum naik ke Gunung Sinai untuk menerima Perintah Allah, Nabi Musa melimpahkan wewenang kepemimpinan Bani Israel kepada Nabi Harun.
Selanjutnya, QS. Al A’raaf: 143 menceritakan bahwa di Gunung Sinai, Nabi Musa berkata: “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”
Allah berfirman: “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.”
Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.
Setelah Musa sadar, dia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (1889 –1957 M) berkata bahwa Musa berkeinginan untuk melihat Allah dikarenakan kecintaannya kepada Rabbnya sehingga membuatnya sangat ingin melihat-Nya.[1]
Syaikh As-Sa’di juga berkata bahwa Allah menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah.
Namun, manusia dan jin yang beriman dapat melihat-Nya di akhirat karena dalil-dalil telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka.
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al Qiyaamah: 22–23)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman: ‘Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?’
Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih (berseri-seri)? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’”
Nabi bersabda: “Lalu Allah membukakan hijab pembatas, dan tidak ada satu pun nikmat penduduk surga yang lebih mereka cintai daripada nikmat (dapat) memandang Rabb mereka.”
(HR. Muslim no. 266 dalam aplikasi Lidwa)
Alkitab tidak menceritakan kisah Nabi Musa yang ingin melihat Allah, dan gunung yang hancur saat Allah menampakkan (keagungan) diri-Nya sehingga Musa jatuh pingsan.
Namun, Alkitab menceritakan bahwa Bani Israel melihat kemuliaan Tuhan sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu. (Kitab Keluaran 24:17)
Bani Israel lalu menduga bahwa Nabi Musa sudah meninggal sehingga mereka meminta Nabi Harun untuk membuatkan “tuhan yang akan berjalan di depan kita”. (Kitab Keluaran 32:1)
Alkitab menceritakan bahwa Nabi Harun kemudian membuat patung anak sapi emas untuk Bani Israel (Kitab Keluaran 32:2–5).
Akan tetapi, Al Qur’an membantah versi Alkitab ini. Al Qur’an menyatakan bahwa yang membuat patung anak sapi emas adalah Samiri. (QS. Thaahaa: 87–88)
Kitab Keluaran 12:35–36 menceritakan bahwa sebelum keluar dari Mesir, Bani Israel meminta perhiasan emas dari orang Mesir.
Bagi Bani Israel, hal ini sebagai bentuk imbalan atas kerja keras mereka yang tidak mendapat upah selama bertahun-tahun di Mesir.
Sedangkan orang Mesir mengabulkan permintaan tersebut karena mereka ingin agar Bani Israel segera pergi setelah beberapa kali terjadi bencana di Mesir (lihat tulisan Kisah Sembilan Mukjizat Nabi Musa).
QS. Thaahaa: 87–88 menceritakan bahwa perhiasan emas dari orang Mesir tersebut kemudian dilemparkan oleh Bani Israel ke dalam api untuk ditempa menjadi patung anak sapi yang bersuara.
Mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa.” (QS. Thaahaa: 88)
Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas bahwa suara patung itu berasal dari angin yang masuk dari lubang duburnya lalu keluar dari mulutnya.[2]
Bani Israel memilih patung anak sapi karena sapi, yang banyak memberi manfaat bagi manusia, telah menjadi objek sembahan di banyak kebudayaan, dari pemujaan Apis di Mesir sampai Nandi di India.
Selain itu, patung anak sapi ini tidak terlalu besar, sehingga mudah dibuat. Yang lebih penting, bentuknya yang memanjang memungkinkan angin melewatinya secara horizontal, sehingga menghasilkan suara.

Patung sapi perunggu dari abad ke-12 SM yang ditemukan di Samaria, Palestina (wikipedia). Pemujaan sapi pernah terjadi di wilayah Kanaan, dan turut memberikan pengaruh kepada Bani Israel.
Meminta Melihat Allah
Nabi Harun meminta Bani Israel untuk mengikutinya, tidak menyembah patung tersebut. Namun, mereka beralasan menunggu kedatangan Musa untuk memutuskan perkara tersebut. (QS. Thaahaa: 90–91)
Nabi Harun pun memutuskan untuk menunda memberikan hukuman karena khawatir akan memicu konflik dan menimbulkan perpecahan di antara Bani Israel. (QS. Thaahaa: 94)
Sementara di Gunung Sinai, Allah memberi tahu Nabi Musa bahwa Bani Israel telah disesatkan oleh Samiri.
Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (QS. Thaahaa: 85)
Nabi Musa kemudian turun dari Gunung Sinai sambil membawa loh atau lempeng batu yang berisi Firman atau Perintah Allah.
Kitab Keluaran 32:19 menceritakan bahwa Musa marah melihat Bani Israel menyembah patung anak sapi emas sehingga loh batu tersebut dilemparkannya hingga pecah.
Sedangkan QS. Al A’raaf: 150–154 menceritakan bahwa Nabi Musa memang marah dan melempar loh-loh tersebut. Namun, tatkala amarah Nabi Musa reda, ia mengambil kembali loh-loh tersebut.
Musa lalu berkata kepada kaumnya:
“Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. (QS. Al Baqarah: 54)
Orang-orang Bani Israel yang menyembah patung anak sapi berkata:
“Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”
Maka halilintar menyambar mereka. Kemudian mereka dibangkitkan kembali. (QS. Al Baqarah: 55–56)
Marwan Hadidi bin Musa dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an mengatakan bahwa sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mati di ayat ini adalah pingsan.[3]
Setelah orang-orang yang pingsan dibangkitkan kembali, Nabi Musa memerintahkan orang-orang yang tidak menyembah patung anak sapi untuk membunuh orang-orang yang menyembah patung anak sapi.
Kitab Keluaran 32:28 menyebutkan bahwa pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu.
Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa Allah mengampuni orang-orang Bani Israel, baik yang membunuh maupun yang dibunuh, sesuai dengan keterangan dalam QS. Al Baqarah: 54.[4]
Nabi Musa kemudian memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk memohon tobat kepada Allah. Pada saat itu, Gunung Sinai dan daerah sekitarnya berguncang ditimpa gempa bumi. (QS. Al A’raaf: 155)
Kitab Keluaran 24:1–9 menceritakan bahwa Musa, Harun, serta tujuh puluh orang dari kaumnya naik ke Gunung Sinai dan mengadakan perjanjian yang dengannya Bani Israel akan menaati hukum-hukum Allah.
Samiri
Al Qur’an menceritakan bahwa yang membuat patung anak sapi adalah Samiri (QS. Thaahaa: 88). Terdapat beberapa pendapat mengenai sosok Samiri.
Jika merujuk kemiripan nama dengan tokoh dalam Alkitab, sosok Samiri adalah Zimri bin Salu, seorang pemimpin sebuah keluarga dalam Suku Simeon (salah satu dari dua belas suku Israel).
Dalam tulisan Kisah Bani Israel Meminta Dibuatkan Tuhan, telah diceritakan bahwa ada orang-orang Bani Israel yang berzina dengan perempuan-perempuan Moab lalu ikut menyembah berhala Moab.
Pada peristiwa tersebut, Zimri berzina dengan Kozbi binti Zur, anak perempuan seorang kepala kaum di Moab. Zimri akhirnya tewas dibunuh oleh Pinehas, cucu Nabi Harun (Kitab Bilangan 25:6–15).
Sedangkan jika merujuk pada arti kata dalam Bahasa Arab, kata سَمَر dalam Kamus Online Almaany memiliki arti ‘percakapan malam, pertunjukan’.
Sehingga kata السامري dapat berarti ‘seorang pendongeng’ yang umumnya bercerita di malam hari.
Sampai saat ini, pendongeng memiliki peran penting dalam budaya Yahudi, salah satunya adalah Maggid (pendongeng religius) yang menceritakan kisah-kisah dari Alkitab, Talmud, dan tradisi rakyat.
Istilah Maggid sendiri berasal dari aliran kebatinan atau mistisisme Yahudi (Kabbalah) yang menggambarkan penyampaian rahasia mistis dari orang yang telah mati kepada seorang Kabbalis.
Terlepas dari identitas sosoknya, kisah Samiri memberikan pelajaran tentang seorang individu terampil yang menggunakan keterampilannya untuk menyesatkan orang lain.
Dalam tulisan Apakah Samiri adalah Dajjal?, telah dijelaskan bahwa Samiri mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Bani Israel (QS. Thaahaa: 96).
Maksudnya adalah Samiri mengetahui teknik pembuatan berhala, yang dapat mengeluarkan suara, dari bangsa Moab.
Samiri berkata: “Jadi aku ambil segenggam jejak rasul lalu aku melemparkannya.” (QS. Thaahaa: 96)
Maksudnya adalah Samiri mengakui kenabian dan syariat Nabi Musa, tetapi Samiri hanya mengambil sebagian kecil ajaran Nabi Musa, lalu membuangnya.
“Demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaahaa: 96)
Maksudnya adalah Samiri melakukannya karena menginginkan nikmat dunia dari penyembahan berhala, sebagaimana yang didapat tokoh-tokoh agama penyembah berhala dari Moab.
Al Qur’an kemudian menyebutkan bahwa Samiri mendapat hukuman pengucilan, suatu penyakit yang membuatnya tidak boleh disentuh atau menyentuh manusia. (QS. Thaahaa: 97)
Alkitab menceritakan bahwa Musa membakar patung anak sapi itu, lalu menggilingnya sampai halus, menaburkannya di atas air, dan memaksa Bani Israel untuk meminumnya. (Kitab Keluaran 32:20)
Sementara Al Qur’an menceritakan bahwa Nabi Musa membakar patung anak sapi itu lalu menghamburkannya ke dalam laut. (QS. Thaahaa: 97)
Wallahu A’lam
[1] “Surat Al-A’raf Ayat 143,” TafsirWeb, diakses pada 27 Agustus 2025, https://tafsirweb.com/2597-surat-al-araf-ayat-143.html
[2] Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5, (Bogor: Pustaka Imam Asy Syafi’i, 2003), hlm. 407.
[3] “Surat Al-Baqarah Ayat 56,” TafsirWeb, diakses pada 27 Agustus 2025, https://tafsirweb.com/360-surat-al-baqarah-ayat-56.html
[4] Tafsir Ath-Thabari, Jilid 1, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), hlm. 732–733.
메타데이터
- post_id
- 08be69bef755
- slug
- kisah-bani-israel-dan-patung-anak-sapi-08be69bef755
- url
- https://islampedia.id/kisah-bani-israel-dan-patung-anak-sapi-08be69bef755
- canonical_url
- https://islampedia.id/kisah-bani-israel-dan-patung-anak-sapi-08be69bef755
- author_url
- https://medium.com/@wiji-aljawi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-24 19:53:45