Revisi di Tolak Dosen
Sekarang Gio udah naik level jadi mahasiswa tingkat akhir. Bukannya makin tegar, yang ada air matanya makin gampang keluar kayak keran wudu…
Revisi di Tolak Dosen
Sekarang Gio udah naik level jadi mahasiswa semester enam. Bukannya makin tegar, yang ada air matanya makin gampang keluar kayak keran wudu yang dol. Bedanya, sekarang pemicunya bukan cuma tugas kuliah biasa, tapi monster paling mematikan: Skripsi.
Hari itu beneran jadi hari yang chaos banget buat Gio. Setelah begadang tiga hari tiga malam cuma ditemenin kopi saset dan doa ibu, dia akhirnya maju bimbingan bab tiga. Gio udah pede banget bab ini bakal mulus. Pas ketemu dosen pembimbingnya yang terkenal killer, Gio langsung menyodorkan drafnya dengan senyum penuh harap.
Tapi zonk! Si dosen cuma baca lima menit, terus coret-coret draf Gio pakai pulpen merah sampai kertasnya mirip peta tawuran.
"Gio, ini teorinya gak nyambung. Kamu rombak total dari awal ya, besok kumpulin lagi."
Jderr!
Kalimat itu rasanya lebih sakit daripada diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Gio keluar dari ruangan dosen dengan muka pucat. Begitu pintu tertutup, pertahanan Gio langsung runtuh. Dia nangis sesenggukan di koridor kampus sambil meluk draf proposalnya yang penuh coretan merah. Mahasiswa yang lewat cuma bisa ngeliatin dengan tatapan maklum, "Ah, korban proposal lagi," pikir mereka.
Bukannya pulang ke kosan, Gio malah melipir ke minimarket terdekat buat panic buying es krim cokelat. Pas di kasir, mbak-mbaknya ramah banget nanya, "Ada kartu membernya, Kak?"
Mendengar pertanyaan sepele itu, Gio malah makin kejer. Dia nangis sesenggukan di depan kasir sambil bilang, "Gak punya Mbak... hidup saya gak punya member, proposal saya juga disuruh rombak... hiks." Mbak kasir langsung panik, sedangkan antrean di belakang Gio cuma bisa melongo heran.
Sampai di kosan, Gio langsung curhat di second account Instagram-nya pakai caption super galau. Temen-temennya yang paham langsung ngirim GoFood cilok pedas level dewa buat ngehibur. Ajaibnya, setelah nangis brutal dua jam dan kenyang makan cilok, Gio langsung dapet hidayah. Dia ngelap ingus pakai tisu, buka laptop lagi, dan mulai ngetik ulang bab tiganya. Biar kata mentalnya udah sekrapel remahan rengginang, Gio tetep gaspol.
Menyerah? Gak ada di kamus Gio. Menangis? Oh, jelas itu agenda wajib harian.
메타데이터
- post_id
- 0907fcae07ef
- slug
- revisi-di-tolak-dosen-0907fcae07ef
- url
- https://medium.com/@evndrlioard/revisi-di-tolak-dosen-0907fcae07ef
- canonical_url
- https://medium.com/@evndrlioard/revisi-di-tolak-dosen-0907fcae07ef
- author_url
- https://medium.com/@evndrlioard
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30