Najwa Khaira Wilda: Jangan Kasih Tahu Mama Ya
Barangkali dengan mendengar lagu dari Isaiah Sheffield, berjudul Cowpoke, tulisan ini lebih berasa. Ini link akses cepatnya
Najwa Khaira Wilda: Jangan Kasih Tahu Mama Ya

Foto Najwa Khaira Wilda, ntah saat berumur berapa. Sekarang dia berumur 11 tahun.
Barangkali dengan mendengar lagu dari Isaiah Sheffield, berjudul Cowpoke, tulisan ini lebih berasa. Ini link akses cepatnya
Link ke Apple Music https://music.apple.com/id/album/cowpoke/1729026370?i=1729026371
Link ke Spotify https://open.spotify.com/track/3bWriexgkG7aykYmtfGWr3?si=Vny7X-kvQBqpDf9bClxHmw
Selamat membaca!
Aku masih ingat betul, ketika adikku, Najwa Khaira Wilda lahir, aku merasa bisa saja. Ya wajar, aku tidak begitu tumbuh di lingkungan yang penuh kasih sayang, melainkan tumbuh dari hasil didikan yang cukup keras, selayaknya gen z atau gen-gen sebelumnya. Jika tidak salah ingat, aku sempat berpikir bahwa adikku juga akan tumbuh dengan didikan yang sama, dan ya kupikir itu adil saja, bisa jadi itu ampuh.
Semakin aku dan adikku tumbuh, secara objektif, tidak pernah terpikir di kepalaku bahwa aku sayang kepadanya. Yang kutahu kala itu (sebelum tahun 2025–2026), rasa sayang hanya bisa kuketahui kepada sosok perempuan lain, ntah itu gebetanku, kekasihku, atau temanku.
Dulu ketika adikku mengalami kecelakaan yang mengakibatkannya patah tulang, aku teringat akan kejadian serupa menimpaku saat aku masih kelas 3 SD. Waktu itu tulangku baku kananku patah, dan harus dirujuk ke rumah sakit untuk dioperasi. Bodohnya, aku dibawa dulu ke tukang urut, bukannya makin sembuh, malah makin parah. Jika memang ada yang pernah diurut dan berhasil, ya itu bukan berarti secara general tukang urut itu manjur, tapi memang lukanya tidak seberapa dan barangkali dibantu oleh placeboo effect (sederhananya, kondisimu tadi, ntah keseleo, itu bisa sembuh karena kamu memiliki pikiran atau ekspektasi bahwa kamu bisa sembuh). Tapi ini tidak bisa terjadi di seluruh kondisi ya, kita bukan superman. Syukurnya aku kidal, jadi patah tangan sebelah kanan tidak menghentikanku untuk bersekolah. Lucunya, adikku patah bahu di bagian kiri, dan dia non-kidal (aku tak tahu lawan kata kidal itu apa).
Saat insiden itu menimpa adikku, aku cuman duduk diam di dalam kamar, sembari fokus dengan hpku. Dalam pikiranku “yah santai saja, toh aku dulu sembuh juga ketika dioperasi, selama bisa sembuh ya aku tidak perlu menangis dan terlalu khawatir atau bahkan aku tidak khawatir sama sekali”. Saat mengetahui aku yang cuek di kamar, aku dipanggil tidak berempati dan mamaku berkata “tunggu orang sekarat baru kau peduli!” Wajar saja kalau mamaku berkata demikian, dan aku tidak begitu terganggu dengan ucapannya. Tidak lama kemudian, adikku dirujuk ke rumah sakit yang sama denganku saat tanganku patah, di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, dan pertama kalinya juga sepertinya dia naik pesawat.
Singkat cerita, dia sembuh, dan kupikir itu menjadi momen yang tak akan terlupakan baginya. Kalian tidak perlu risau, orang tuaku kerja di perusahaan yang memberikan asuransi lumayan tinggi, jadi semua ditanggung perusahaan. Meskipun begitu, jangan dipikir aku ini orang kaya, oh jauh dari kata kaya, pada masa adikku patah itu saja kami masih mengontrak, bahkan sekarang rumahku belum diplester, masih batu bata dan tidak memiliki plapon. Aku juga bingung dengan cara orang tuaku mengatur uang.
Lanjut, seiring berjalannya waktu, aku masih sama saja, cuek, dingin, suka memarahi adikku. Sampailah ketika aku berkuliah, caraku memandang dunia mulai berubah, yang didasari oleh filsafat. Kasih sayangku memang belum tumbuh kala itu, tapi bisa dikatakan, sudah ada benih kasih yang tertanam akibat perubahan pola pikir bahwa pendidikan itu sangat amat penting. Ketika liburan kuliah, aku kembali ke kampung halaman, tidak terlalu berubah, masih cuek, dingin, namun mulai agak sedikit menampilkan perhatian. Semakin hari, semakin banyak yang kupelajari, benih kasih itu tumbuh memiliki akar. Ada satu waktu di mana adikku sedang belajar, tapi otaknya susah sekali memahami informasi yang tertera. Dia pun dimarahi oleh mamaku, bapakku, dan kakakku. Pada saat itu aku di kamar, bermain hp, tapi terganggu akibat suara berisik mereka. Aku pun keluar, dan melihat buku adikku sudah basah akibat air matanya yang jatuh. Mau tidak mau, aku datangi, dan aku ajak dia istirahat sebentar. Aku beri tahu kepada orang rumah, lain kali tidak perlu sampai dimarahi jika dia belajar, jawaban mereka hanya “ya dia gak ngerti ngerti”. Setelahnya, aku bawa ke kamar, dan kubiarkan dia menangis sembari kuberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja, dia harus belajar lebih giat, tapi tetap santai, jangan sampai dia merasa tertekan, karena dia punya mimpi, dan mimpinya harus dikejar demi bisa makan sepuasnya suatu saat tanpa harus minta ke mama dan bapak. Syukurnya dia tenang dan kembali ke ruang tamu, tapi tidak belajar lagi, dilanjut esok hari.
Di situ aku pikir momen di mana aku akhirnya sadar bahwa aku sayang kepada adikku. Mungkin bisa aku bilang, batang dari benih tadi perlahan tumbuh. Alasan kenapa bisa tumbuh, sesederhana aku dulu pernah mengalami hal yang sama, dan itu tidak enak, aku seperti melihat diriku sendiri dimarahi saat adikku berada di situasi yang tidak mengenakkan tadi.
Lalu tibalah, di tahun 2024 aku rasa, untuk pertama kalinya aku membelikkan adikku buku. Jujur buku di Indonesia mahal, apalagi buku anak, tapi ya tetap saja kubeli. Aku membelikannya 3 atau 4 buku; filsafat untuk anak, TTS, bahasa Inggris, dan satunya aku lupa, atau mungkin memang cuman 3. Syukurnya dia suka dan dibaca. Ntah apakah sudah habis atau belum, yang penting dia sudah memiliki minat untuk baca, walaupun kecil.
Lanjut di tahun 2025, saat aku belajar neurosains pada bulan Mei, benih kasih yang tadi sudah tumbuh batang, mulai menumbuhkan daun. Pemahamanku akan otak manusia, pentingnya didikan yang baik dan tepat untuk anak-anak, membuka pikiranku bahwa aku harus memperlakukan adikku semakin lebih lembut. Dalam kajian neurosains, ada yang namanya neurogenesis, atau proses pembentukan neuron atau saraf otak baru, terutama untuk adekku yang sekarang masih berusia 11 tahun. Mengapa penting? Karena neurogenesis fase pembentukkan jaringan atau saraf dasar, yang memiliki peran penting terhadap kontrol impuls, kemampuan empati, regulasi emosi, kemampuan evaluasi diri, dll ketika dia dewasa kelak. Stress, kekerasan, sangat tidak menguntungkan untuk neurogenesis, karenanya aku akhirnya bersikap lebih hangat, konsisten, dan responsif kepada adikku.
Aku bisa katakan pola asuhku berhasil, sekaligus menjadi momen tumbuhnya daun atau mungkin cabang di benih yang tertanam. Ketika ada masalah, dia tidak segan-segan menghubungi nomor WA ku, dengan kalimat andalannya “jangan kasih tahu mama, bapa, sama kakak ya” lucu tapi aku juga khawatir, karena selama ini aku banyak meninggalkan dia untuk menyelesaikan kuliah S1, belum lagi nanti aku harus lanjut S2, dan hidup mandiri. Kalimatnya memberi sinyal bahwa, akulah satu-satunya bagi dia tempat aman dan nyamannya untuk bercerita, kedengaran manis, tapi bagaimana dengan yang lain? Kenapa hanya aku? Dari sini, aku harus melakukan sesuatu, yaitu mengubah pola pikir orang di rumah agar lebih lembut terhadap adik, karena itu bermanfaat bagi tumbuh kembangnya. Bukankah kita ingin anak kita tumbuh cerdas? Sesederhana itu saja.
Hari ini, aku baru saja membelikannya dua buku di Gramedia, dan bisa jadi bunga dari benih sudah mulai atau bahkan telah tumbuh. Kubelikan dua buku sains dengan promo tentunya. Kupikir Ya jika memang ini harus memotong uang jajan atau THR-ku, tidak masalah, karena tumbuh kembangnya lebih penting dari sekedar gaya atau pakaian yang kukenakan saat hari raya Idul Fitri nanti. Aku sempat laporan ke mamaku, ya aku sudah menebak dia akan berkata “nanti aja dulu itu”. Tentu aku tidak tinggal diam, aku jawab saja “ya mumpung aku balik nih, jangan lah ditunda-tunda terus kalau untuk pendidikannya, aku belikan ya dia”.
Terakhir, aku tidak terbiasa meminta maaf, ketiadaan kehendak bebas dan aku yang lahir dari pola asuh non-akademik, membuatku tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan tidak peduli dengan adiknya dulu. Namun, karena adikku dan kalian pembaca juga tumbuh dengan kewajiban meminta maaf, maka sudah selayaknya aku mengucapkan maaf.
Aku tidak tahu, apakah sekarang sudah layak untuk dikatakan bahwa buah dari benih sudah tumbuh, pun begitu, buahnya akan terus tumbuh hingga “pohon” itu mati dan menjadi energi baru untuk “tumbuhan” selanjutnya. Aku memang bukan kakak terbaik untuk adikku. Jika kita mau bandingkan dengan seluruh kakak di dunia, aku tidak ada apa-apanya. Namun, hanya akulah kakak laki-laki kandung yang dimilikinya, maka sudah seharusnya aku menampilkan yang terbaik. Maaf dulu bertingkah cuek, marah, kesal, dan tidak membantu perkembanganmu ketika itu sangat penting bagimu. Maaf karena kamu harus lahir dan memiliki kakak laki-laki sepertiku. Jikalau kau bisa terlahir kembali, kakakmu ini berharap betul kau bisa lahir dengan sosok kakak laki-laki yang lebih baik. Jelajahi dunia, baca buku sebanyak-banyaknya, konsumsi media dan makanan yang sehat, belajar dengan giat, bantulah orang di sekitarmu, jadilah seorang perempuan keren dan tangguh.
Terima kasih karena telah mengandalkan kakakmu yang bodoh dan masih dalam perjalanan menjadi kakak yang lebih baik lagi. Terima kasih sudah menjadi adik kecilku.
메타데이터
- post_id
- 0963be2c78bc
- slug
- najwa-khaira-wilda-jangan-kasih-tahu-mama-ya-0963be2c78bc
- url
- https://medium.com/@muhfhajarfebryan/najwa-khaira-wilda-jangan-kasih-tahu-mama-ya-0963be2c78bc
- canonical_url
- https://medium.com/@muhfhajarfebryan/najwa-khaira-wilda-jangan-kasih-tahu-mama-ya-0963be2c78bc
- author_url
- https://medium.com/@muhfhajarfebryan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01