← Back to list

Jika Boleh Memilih, Kalian Ingin Mendapat Editor yang Seperti Apa?

​Balkon Edisi 11–17 Mei 2026

Atmadeva Wiranata in Berbagi & Berdampak · 2026-05-18 04:01 · 667 claps · 7.9 min read
#berbagi-dan-berdampak #community #newsletter #balkon #writing-life
Open on Medium ↗
Wiki topics: CNT · Content Marketing 🎮 · Gaming 🎙️ · Creator Economy

Jika Boleh Memilih, Kalian Ingin Mendapat Editor yang Seperti Apa?

​Balkon Edisi 11–17 Mei 2026

Photo by Maxim Ilyahov on Unsplash

Photo by Maxim Ilyahov on Unsplash

​Beberapa minggu lalu, publikasi Berbagi & Berdampak mengadakan survei kepada para pembaca dan penulis sekalian. Tentang banyak hal yang kami rasa perlu untuk dikembangkan dan harus meminta pendapat dari orang lain — hal apa yang dirasakan ketika menyerahkan tulisan kalian pada publikasi kami, apa yang kalian bayangkan ketika membayangkan ruang publikasi ini, dan sebagainya.

​Lengkapnya bisa coba dibaca lagi di sini:

[embed]*Warisan yang Kita Rawat dari Balkon *Balkon edisi 41 dan 42 (6–19 April 2026) medium.com

​Ada satu jawaban yang masih membekas pada pikiran saya hingga sekarang. Tentang bagaimana kebanyakan orang yang mengisi survei tersebut, menggambarkan bahwa publikasi ini sebagai sebuah kafe yang hangat atau ruang teras seorang teman.

​Jujur, ketika pertama kali mengetahui hal di atas, respons saya adalah seperti ini:

​“Wah, serius? Ternyata ada sebuah publikasi di Medium yang bisa digambarkan seperti itu. Keren sekaliii 🙂.”

.

​Karena saya rasa, ada cukup banyak alasan mengapa kita sebagai penulis dan pembaca memilih Medium sebagai tempat untuk berinteraksi, membangun komunitas, dan saling mengembangkan diri ke arah yang lebih baik.

Dan jika ada sebuah publikasi yang bisa terasa hangat dan nyaman bagi kebanyakan penulis, maka publikasi ini adalah sebuah ruang dan komunitas yang layak untuk diperjuangkan.

​Itulah alasannya kenapa ketika dulu, saya menerima tawaran dari Bu Dypa untuk menjadi salah satu editor di publikasi B&B. Meski memang kegiatan ini tidak dibayar, harus meluangkan waktu di tengah kesibukan dan kembali belajar tentang kepenulisan lagi dan lagi.

.

​Terkhusus untuk kepenulisan rasanya saya sudah cukup sering “diajari” dan “dinasihati” oleh Bu Dypa, dari awal dan bahkan sampai tulisan ini dibuat juga.

Mohon bersabar nggih bu 🙏

But anyway, tulisan di balkon kami minggu ini mungkin akan berbeda dari yang sebelumnya. Karena entah ide dari siapa yang menunjuk saya sebagai orang yang diperbolehkan untuk menulis sebuah Newsletter, sedang belakangan ini saya lebih suka untuk menulis hal-hal yang ringan saja.

​Jadi, jika dari para pembaca tidak keberatan. Mari kita coba bermain game sederhana sekarang.

Sebentar saja, coba tutup mata kalian, 3 detik sudah cukup. Sambil atur napas yang dalam dan tenangkan diri sendiri sebaik mungkin.

​Ketika kalian membuka mata, coba bayangkan sekarang kita sedang berada di sebuah kafe yang hangat atau ruang teras seorang teman. Pilihlah tempat duduk yang paling nyaman, lalu nikmati segala hal yang ada dan sesuai dengan selera kalian masing-masing.

Photo by Hyory Liu on Unsplash

Photo by Hyory Liu on Unsplash

​Ketika saya mencoba untuk merumuskan tipe editor yang ada di Medium, agaknya saya bisa merangkumnya menjadi 3 tipe yang disederhanakan.

1.​Tipe Sang Arsitek (The Perfectionist)

.

Ini adalah tipe editor yang memiliki standar tinggi. Mereka tidak ragu untuk membongkar pasang draf yang masuk demi mencapai hasil akhir yang sempurna menurut standar publikasi. Mereka akan merapikan struktur, merombak kalimat yang bertele-tele, bahkan menulis ulang bagian tertentu agar lebih tajam.

2. Tipe Sang Kurator Visual (The Layout Specialist)

.

​Editor ini adalah orang yang bisa dibilang sangat teliti pada huruf miring (italic), penggunaan heading, penempatan gambar, dan kerapian tanda baca. Mereka jarang menyentuh substansi kalimat atau mengubah alur pikiran dari penulis.

​3. Tipe Sang Penjaga Ruh (The Soul Keeper)

.

Ini adalah tipe editor yang berusaha untuk meningkatkan keterbacaan tanpa menghilangkan nyawa dari sebuah tulisan. Mereka lebih fokus pada flow (aliran) kalimat. Jika ada bagian yang mengganjal, maka akan dihaluskan, namun tetap menggunakan “suara” atau gaya bahasa dari sang penulis asli.

.

​Well, it’s not exactly a good personification, but I do hope that you get the point.

​Setelah mendapat sedikit gambaran, izinkan saya untuk mengulangi pertanyaan yang sama seperti judul tulisan ini;

​“Jika boleh memilih, kalian ingin mendapatkan editor yang seperti apa?”

.

​Tak perlu dijawab dengan keras, cukup dipikirkan dan direnungkan dalam hati juga boleh. Tapi saya harap, jika ada dari para pembaca yang benar merasa bahwa publikasi B&B ini adalah sebuah kafe yang hangat atau ruang teras seorang teman, maka kalian akan menjawabnya dengan lantang di bagian komentar di bagian bawah tulisan ini.

​Agar kami tahu arah yang seharusnya dituju, agar hubungan kita bisa menjadi lebih baik — sebagai seorang teman yang saling mempercayai satu sama lain.

​Sepertinya, sesi saya untuk menulis dengan cara yang melantur sudah habis. Karena saya tidak boleh tidur siang (masih terjebak di tempat kerja), maka saya akan mencoba untuk merangkum beberapa tulisan yang sudah diterbitkan.

​Mari kita simak dengan saksama, kira-kira siapa yang berhasil untuk menyentuh sanubari dari para editor B&B di pekan ini.

Photo by Clay Banks on Unsplash

Photo by Clay Banks on Unsplash

Untuk topik yang pertama, saya ingin memulainya dengan pembahasan terkait AI. Meski mungkin topik ini sudah cukup sering dibahas, tapi dari kami pribadi menganggap bahwa topik ini seakan menjadi sebuah kekhawatiran yang melekat dan tidak mau hilang.

Karena kami ingin kembali merasakan tulisan yang dibuat oleh manusia, bukan hasil dari sebuah prompt dan copy paste yang dilakukan secara masif, tanpa ada usaha yang serius dalam mengedit dan membuat sebuah tulisan dengan bahasanya sendiri.

.

Perlu ditekankan lagi, bahwa bukan berarti kami melarang atau menolak penggunaan AI dalam sebuah tulisan. Tapi agaknya, kegiatan menggunakan kecerdasan buatan ini bisa dilakukan secara bijaksana dan tidak semena-mena.

Hal ini digambarkan dengan cukup baik oleh tulisan dari kak katakanha kemarin, di mana beliau mempraktekkan secara langsung bagaimana AI bisa membuat sebuah tulisan.

Selengkapnya bisa kalian baca di bawah ini ya

[embed]*Menjadi AI Seutuhnya *Siapa Aku Sebenarnya? medium.com

.

Jujur ketika membaca bagian awal tulisan di atas saya merasa cukup kaget, dan menanyakan apakah benar tulisan di awal tadi hanya copas saja? Karena saya merasa belum bisa membedakan dengan baik, antara tulisan yang ditulis menggunakan AI secara utuh atau sudah dilakukan pengeditan menggunakan gaya bahasa dari sang penulis sendiri.

Meski saya sempat menanyakan hal ini ke Gemini, tapi ternyata jawaban yang diberikan olehnya selalu berubah-ubah. Kadang dijawab memang mirip AI, kadang bilang tulisannya itu tetap mayoritas ditulis oleh manusia.

.

Di lain waktu saya pernah menanyakan tentang tulisan lain, dan dijawab bahwa tulisan ini dibuat oleh AI sebanyak 60%, 40%, 20%. Jawabannya selalu berbeda ketika saya menanyakan hal yang sama di waktu yang berbeda.

Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan.

Bisakah kalian membayangkan keinginan saya untuk memaki bot yang satu ini?

Photo by Theo on Unsplash

Photo by Theo on Unsplash

Ternyata ketika saya menanyakan terkait hal ini ke Mbah Google, beliau menyampaikan bahwa kecerdasan buatan seperti Gemini, Chat GPT dan sejenisnya memang tidak dirancang untuk menganalisa sebuah tulisan, lalu memberi penjelasan terkait seberapa jauh AI digunakan dalam tulisan tersebut.

.

Mbah Google menyarankan saya untuk mengecek menggunakan website yang memang dirancang khusus untuk mengecek plagiasi dan AI detector. Tapi beberapa website yang saya kunjungi memberikan hasil yang berbeda juga — tulisan yang terstruktur dengan rapi, bahasa yang kaku dan formal, memiliki pola pengulangan yang seringkali digunakan oleh AI, dan sebagainya ternyata di vonis sebagai tulisan manusia 100%. Tidak menggunakan AI sama sekali.

Ah, rasanya akan panjang jika saya menjelaskan tentang topik yang ada di atas. Jadi mari kita lanjut ke topik yang selanjutnya lebih dulu, dan nanti di tulisan yang lain kami akan sedikit menjelaskan tentang rencana yang ingin digagas oleh B&B, terkait kepenulisan menggunakan AI.

Di topik Refleksi, para Editor sepakat memilih tulisan dari pak Riza Putranto yang menjelaskan bahwa menjaga diri sendiri untuk tetap sehat dan baik, adalah sebuah prioritas yang harus dikerjakan setiap hari.

Hal-hal yang bisa kita lakukan mungkin tidak terlihat secara gamblang, tidak akan di validasi dan dipuji oleh orang lain. Tapi sebuah kebiasaan baik, segala sesuatu yang membuat diri kita merasa lebih baik dan bisa menyebarkan kebaikan ke sekitar kita, agaknya adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri dan diperjuangkan secara berkesinambungan.

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Photo by Markus Winkler on Unsplash

Jujur, ketika membaca tulisan dari beliau, saya langsung mengingat teori yang pernah dicantumkan dalam buku Atomic Habit karya James Clear. Dimana pada awal pembukaan bukunya, James Clear menceritakan berbagai kebiasaan kecil yang membantunya agar merasa lebih baik dan lebih siap dalam memperjuangkan cita-cita yang dimilikinya.

Saya rasa, kebiasaan dari pak Riza tentang menulis setiap hari, berusaha menebarkan manfaat sebanyak mungkin adalah sebuah kebiasaan yang baik. Sangat layak untuk kita tekuni dengan cara yang paling sesuai dengan diri kita masing-masing.

Tulisan beliau bisa dibaca lebih lengkap disini ya.

[embed]*Investasi Diri: Feel Good, Do Good *Chapter #284 — Menulis Satu Halaman, 16 Mei 2026 medium.com

Selanjutnya di topik Esai, para editor memilih sebuah tulisan yang saya rasa, topik yang dibahas belum banyak diketahui oleh masing-masing dari kita; “Apa yang terjadi di Yaman”. ditulis oleh kak Musyafa Hafiz Arrozaq, dari Tarim, lembah Hadramaut sekitar 600 km dari ibukota Yaman.

Dibekali lima referensi, penulis bisa kembali menjelaskan dengan bahasa yang lugas dan nyaman untuk dibaca — tentang Yaman yang tidak sengaja menjadi negara jajahan Inggris. Kita tidak pernah mengira bagaimana takdir bekerja pada sebuah bangsa. Diawali dari kapal Inggris yang karam di perairan selatan Yaman menjadi sebuah episode kolonialisme bagi Yaman Selatan selama 128 tahun lamanya.

Perjuangan gigih bangsa Yaman ditambah dukungan dari negara tetangga yang mengantarkan perayaan kemerdekaan bagi penduduk yaman selatan pada tanggal 30 November 1967.

Sayangnya, hingga saat ini, beberapa wilayah di Yaman masih mengalami konflik. Bahkan KBRI telah dipindah ke Oman. Maka kepentingan warga Indonesia di Yaman, saat ini ‘hanya' diperjuangkan oleh generasi muda yang tergabung dalam PPI, Perhimpunan Pelajar Indonesia.

.

Tulisan dari beliau bisa dibaca dengan lebih lengkap disini ya.

[embed]*Yaman: Jejak Kolonialisme Inggris Yang Terlupakan *Peristiwa bersejarah yang terlupakan dalam ingatan zaman medium.com

Penutup

.

Sebelum diakhiri, saya ingin mention para penulis hebat yang telah mengirimkan tulisannya ke publikasi B&B minggu ini.

Pada topik Esai ada :

Andi Natanael, Encyclopedia Celia, Michael Gabriel, Ryandi Pratama, Amril Taufik Gobel, A.P. Edi Atmaja, Yopi Makdori, Muh. Zulkifli, Musyafa Hafiz Arrozaq, EW Prasetyo, Irfan Habibi, Dewi Cahyanti, salwanazs, Alwi Setiawan, AE Niko.

Di topik Refleksi diisi oleh tulisan dari:

Riza Putranto, Han Abadie, Lif, Cindiana Famelia, Rian Mantasa Salve Prastica, Edo, nihilmi, Izharmtkn, Ali Nawasena, Maria Ceria, Taufik, thehappyzhaa, Tiaraezki, Dandy S. Muazar, Andi Khaerul Imam, Naisha, detsu, Wima S.Y, Resya Burdam, Dayu Rifanto, Sekedar___tulisan, Sera Sera, Asri, Aryo Akhmad Maulana, Kendrick Filbert, nadyn-isme, Yasir Fuadi, Imanuel F Lawalata.

Dan di topik kepenulisan ada:

Stepanus BP, putrimelati_123, DyPa Dinara, dan katakanha

Semoga tidak ada yg terlewat ya. Saya harap, semua dari kalian senantiasa merasa dan memahami keinginan kami dalam berkolaborasi dan mendukung semua tulisan yang pernah masuk. Entah itu dalam bentuk private notes, claps, komentar yang mendukung, dan sebagainya.

.

Jika dalam bahasa Inggris mungkin istilah yang tepat bisa digambarkan seperti ini;

I see you, and I appreciate you.

Jadi terimakasih banyak atas kepercayaannya selama ini. Semoga tidak bosan jika mengirimkan tulisannya ke publikasi B&B☺️.

Photo by Moritz Karst on Unsplash

Photo by Moritz Karst on Unsplash

Life is full of unpredictable things. For some of you, this is our first meeting; for others, this is perhaps our last.

.

Untuk semua ketidakpastian yang akan selalu lahir di dunia, saya ingin meminta maaf jika selama interaksi kita disini — entah itu saya sebagai penulis, pembaca, atau editor, ada hal dan kejadian yang kurang berkenan di hati.

Terimakasih banyak saya haturkan untuk semua Kawan dan Rekan Seperjuangan yang hadir di sini.

Semoga segala harap dan impian yang masih diperjuangkan hingga sekarang, bisa menemukan jalannya untuk terwujud dengan cara yang paling baik, sesuai dengan kehendak yang di ridhoi oleh Nya.

Saya, Atmadeva Wiranata pamit undur diri.

See you when i see you 😄👋


메타데이터
post_id
09a5fe98eec2
slug
jika-boleh-memilih-kalian-ingin-mendapat-editor-yang-seperti-apa-09a5fe98eec2
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/jika-boleh-memilih-kalian-ingin-mendapat-editor-yang-seperti-apa-09a5fe98eec2
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/jika-boleh-memilih-kalian-ingin-mendapat-editor-yang-seperti-apa-09a5fe98eec2
author_url
https://medium.com/@atmadevawiranata
status
ok
fetched_at
2026-07-10 14:51:46