← Back to list

PNS dan Konser Blackpink

#269: Tentang Cara PNS Muda Daerah Menikmati Hidup

Yasir Fuadi in PNS Bercerita · 2025-11-04 07:49 · 410 claps · 4.0 min read paywalled
#bahasa-indonesia #nps #pppk #blackpink #semangat-muda
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🖊️ · Illustration & Drawing

RUANG BERKEMBANG

PNS dan Konser Blackpink

#269: Tentang Cara PNS Muda Daerah Menikmati Hidup

Photo by Melissa Askew on Unsplash

Photo by Melissa Askew on Unsplash

Sebagai seorang PNS di daerah, saya tidak menyangka akan ada di satu titik mempunyai rekan kerja yang cuti untuk menonton konser Blackpink. Ini berawal dari dua orang rekan kerja saya yang Jumat lalu secara bersamaan mengajukan cuti. Mereka adalah PNS muda yang berbagi ruang kerja dengan saya.

Tadinya saya kira mereka cuti dengan agenda masing-masing. Namun di hari Jumat itu, mereka berdua ternyata sama-sama mengunggah status WhatsApp kaca jendela kereta. Salah satu dari mereka kemudian mengunggah status foto kedua tulisan Stasiun Jatinegara.

Belum bergabung di Medium? Lanjutkan membaca gratis di sini.

Saya langsung berpikir, jangan-jangan mereka berdua pergi bersama ke Jakarta nonton konser Blackpink? Karena Blackpink memang Sabtu-Minggu tanggal 1-2 November 2025 konser di Jakarta. Benar saja, Sabtu siang mereka memamerkan suasana luar GBK sebagai lokasi konser dan minggunya memamerkan suasana konsernya.

Bagi saya ini menarik. Meski masih di Jawa dan tergolong PNS Pusat, kami ini orang daerah. Kantor kami di Kabupaten Banjarnegara,. Akses kendaraan umumnya hanya ada bis. Kalau mau pakai kereta api harus ke Purwokerto dulu (sekitar 1,5 jam perjalanan) dan kalau mau pakai pesawat harus ke Yogyakarta atau Semarang (sekitar 3–4 jam perjalanan).

Ada pegawai yang meluangkan waktu dan biaya untuk menyaksikan langsung konser grup idola dari Korea Selatan adalah fenomena baru yang menarik. Tidak hanya pekerja di ibukota, pekerja bahkan PNS di daerah pun bisa “bersenang-senang” dengan cara yang bagi sebagian orang kurang lazim.

Selama ini PNS sering digambarkan sebagai pekerja yang monoton. Dunia PNS terasa tua, formal, kaku, monoton dan kurang responsif. Maka ketika tahu ada rekan kerja yang mengambil cuti bukan untuk urusan keluarga melainkan untuk menonton konser, rasanya seperti melihat warna baru di dinding yang selama ini hanya satu warna.

Awalnya saya heran, tapi semakin dipikir, kenapa saya harus terkejut? Generasi baru pasti membawa suasana baru, termasuk di musik yang didengar dan tentunya cara menghibur diri. Pasca generasi muda masuk, alunan musik di kantor memang sudah berubah. Lagu dangdut, jawa atau pop tahun 90an dan 2000an mungkin masih mendominasi, tapi lagu-lagu Korea juga mulai terdengar.

Saya tidak perlu terkejut karena fenomena itu pun juga pernah kami para PNS Generasi Milenial bawa. Dulu kami “mengenalkan” musik pop kontemporer di antara selera klasik senior kami. Kita kenalkan mereka lagu-lagu Noah, Ada Band, Sheila on 7 dan lainnya.

Kini, generasi yang lebih muda pun begitu. Tidak hanya K-Pop, tapi juga musisi muda Indonesia seperti Nyoman Paul, Adrian Khalif, Fabio Asher, atau Idgitaf. Media sosial memang “mengenalkan” saya pada para penyanyi muda itu, tapi rekan-rekan muda saya yang mengamplifikasi itu.

Saya melihat ini bukan sebagai perbedaan selera, tapi sebuah bentuk kesinambungan. Ada pertukaran yang bisa menjadi jembatan antar generasi. Mereka bisa ikut bersenandung ketika saya memutar lagu Dewa 19, seperti halnya dulu saya ikut menyanyikan lagu Air Supply yang diputar senior saya.

Dan menariknya, meski mereka membawa dunia baru, para PNS muda ini tetap tahu kapan harus menyesuaikan diri. Mereka tidak memaksakan selera mereka di setiap kesempatan. Dalam lomba-lomba formal seperti saat peringatan kemerdekaan RI atau musik pengiring acara mereka tetap memilih lagu-lagu yang akrab di telinga senior. Etika itu masih ada.

Kalau ditarik lebih jauh, musik ini hanyalah sebagian kecil dari cerita. Ketika dua orang rekan saya itu berangkat menonton konser ke Jakarta, saya sadar bahwa ini bukan sekadar tentang lagu, tapi tentang cara generasi muda merayakan hidup—tentang kerelaaan mereka menabung dan menempuh perjalanan jauh untuk sesuatu yang mereka sukai.

Mungkin bagi sebagian orang itu terkesan berlebihan, tapi bagi saya justru menunjukkan keseimbangan baru. Mereka tidak kehilangan jati diri meskipun sudah masuk ke dalam sistem birokrasi yang penuh aturan. Mereka tetap punya ruang dan cara sendiri menjaga semangat dan kesehatan mentalnya.

Saya tidak ingin menghakimi. Karena toh saya pun sama—menggunakan uang tabungan untuk menikmati hidup. Tahun lalu saya sempat jalan-jalan ke Korea Selatan, bulan lalu bersilaturahmi ke Aceh, dan pernah juga menyaksikan timnas bertanding di GBK. Bedanya mungkin hanya pada bentuk ekspresinya. Dan itu tidak masalah.

Generasi baru ini membawa makna baru tentang keseimbangan hidup. Bagi mereka, menjadi PNS tidak berarti melepaskan identitas sebagai anak muda. Mereka bisa menyusun laporan keuangan sambil mendengarkan lagu berbahasa “tidak umum” atau bahkan war tiket konser di sela waktu luang.

Ini yang membuat beberapa waktu lalu muncul gurauan bahwa PNS sekarang merupakan singkatan dari Pegawai Negeri Skena dan PPPK adalah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian (tetap) Kalcer. Ide yang sangat segar dan tidak pernah terpikirkan oleh saya.

Mereka para generasi muda ini, dengan ide-idenya yang mungkin di luar kelaziman PNS generasi lama, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan mimpi reformasi birokrasi. Mereka kreatif dan kadang impulsif, tapi punya keberanian mencoba hal baru. Memberikan mereka media adalah cara untuk mewujudkan mimpi itu.

Tugas saya sebagai generasi tengah — yang berumur lebih tua dari mereka tapi belum setua senior-senior saya dan sudah punya sedikit kewenangan— adalah menjadi jembatan, memastikan suara mereka bisa didengar tanpa membuat yang di atas merasa kehilangan kendali.

Lagipula kalau kita perhatikan, reformasi birokrasi saat ini masih banyak berputar pada digitalisasi atau penciptaan sistem baru. Padahal reformasi itu bisa juga tentang cara pandang yang lebih manusiawi. Bagaimana sistem bisa berubah kalau cara pandang manusianya belum?

Ketika kita memahami hal-hal kecil seperti itu—bahwa ada pegawainya yang menabung demi menonton konser Blackpink misalnya—maka kita sedang bergerak ke arah yang tepat. Karena pegawai yang merasa diterima sepenuhnya sebagai manusia, akan bekerja dengan hati yang lebih ringan dan pikiran yang lebih terbuka.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi siapa tahu dari konser itu mereka pulang dengan berbagai pelajaran berharga. Konser besar seperti itu pasti dikelola dengan tingkat profesionalisme tinggi, mulai dari ketepatan waktu, kerapian tata panggung, manajemen penonton, hingga pengaturan antrian dan keamanan.

Di situ sebenarnya ada banyak hal yang bisa ditiru dalam dunia kerja birokrasi seperti bagaimana mengelola antrian layanan, cara menjaga performa kualitas pelayanan, juga cara koordinasi antar kru dan penampil.

Bahkan semangat untuk rela menunggu berjam-jam dengan tetap antusias bisa menjadi cermin bagi kita untuk menjaga gairah dalam bekerja, betapapun rutin dan monotonnya.


메타데이터
post_id
09d9f17c06a6
slug
pns-dan-konser-blackpink-09d9f17c06a6
url
https://medium.com/pns-bercerita/pns-dan-konser-blackpink-09d9f17c06a6
canonical_url
https://medium.com/pns-bercerita/pns-dan-konser-blackpink-09d9f17c06a6
author_url
https://medium.com/@yasirfuadi
status
ok
fetched_at
2026-06-12 10:20:10