← Back to list

Aku, Ke-aku-an dan Dunia

“Bagaimana caranya aku mengenal diriku sendiri?”

Roizul in Channel Filsafat · 2026-03-14 21:49 · 5 claps · 2.3 min read
#eksistensialisme #self-improvement #fenomenologi #filsafat #refleksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement

Aku, Ke-aku-an dan Dunia

“Bagaimana caranya aku mengenal diriku sendiri?”

Pertanyaan itu terlontar dari seorang sahabatku. “Karena sebelum mengenal orang lain perlulah untuk mengenal diri sendiri.” Lengkapnya.

“Menurutmu bagaimana?” Tanyaku.

“Kita tak akan pernah mengenal diri kita sendiri. Karena diri ini terus bergerak, sebelum diriku mengenalnya. Ia adalah hasil akumulasi yang tak berujung. Lalu bagaimana diri ini dapat melihat sesuatu yang terus bergerak tanpa ada henti dan ujungnya?” Jawaban yang filosofis.

“Terlalu naif apabila melihat akumulasi diri kita. Sebab akumulasi tersebut akan terus bergerak selama kita hidup. Sayangnya, akal kita tak mampu memproses sesuatu yang terus bergerak tanpa ada batasan. Oleh karena itu, hentikan aku, saat ini juga.” Jawabku.

“Ada tiga tahap untuk mengetahui diri kita. Ketahui aku, hentikan aku dan amati aku.”

Tahap Pertama

“Selama ini, kita tidak membedakan antara aku dan ke-aku-an. Jika diltelaah lebih mendalam, aku adalah identitas dari kesadaran. Ia merupakan hasil dari penimbunan pengalaman, kenangan, interaksi, dan lingkungan. Aku bagaikan penyimpanan yang terus bertambah dan mencitrakan dirinya sendiri. Aku-lah yang biasanya kita sebut sebagai diri kita.

Pernahkah kita memikirkan bagaimana aku itu ada? Semua orang, khususnya orang Indonesia, pasti akan mengatakan Tuhan yang meng-ada-kan aku. Itu memang benar, namun terlalu naif untuk langsung menjawab hal itu. Ketahuilah, Tuhan menciptakan suatu sistem, sebelum kembali kepada Diri-Nya. Tugas kita sebagai manusia yang dianugerahi indera, akal, hati, dan intuisi adalah berusaha menguak sistem tersebut. Maka, marilah kita membahas sistem tersebut.

Sebelum aku tak lain adalah ke-aku-an. Ke-aku-an adalah sesuatu yang mendahului aku. Jika aku merupakan akumulasi, maka ke-aku-an adalah fondasi yang memungkinkan proses itu terjadi. Ia tak lain adalah daya dari aku. Dari daya itu muncul tiga instrumen, indera, akal dan hati. Dari tiga instrumen itu lahirlah pengalaman, kenangan, interaksi, serta hubungan dengan lingkungan yang kemudian membentuk aku. Dengan demikian, aku adalah identitas yang terbentuk dari kesadaran yang berproses dalam kehidupan.

Tahap Kedua

Untuk mengetahui aku, pertama-tama perlu menghentikan akumulasi dari aku dalam refleksi. Caranya adalah memikirkan ke-aku-an itu sendiri tanpa menyertakan pengalaman, memori, interaksi, dan lingkungan. Memikirkan ke-aku-an tidak cukup dengan akal saja, tetapi juga indera dan hati, tepatnya indera yang sadar akan kekurangannya serta hati yang bersih.

Dengan memikirkan ke-aku-an secara murni, kita menyadari bahwa yang selama ini kita sebut sebagai diriku, sebenarnya adalah aku, yaitu identitas yang terbentuk dari pengalaman. Ketika kesadaran ini tercapai, akumulasi identitas itu seolah berhenti untuk sesaat, sehingga aku dapat diamati dan diuji.

https://id.pinterest.com/pin/68748929648/

https://id.pinterest.com/pin/68748929648/

Tahap Ketiga

Aku yang murni dapatlah dibandingkan dengan aku yang telah dibentuk kesadaran. Jika kita berhenti pada kesimpulan aku yang murni, sungguh itu terlalu idealis. Nyatanya kita dapat menyebut diri kita sebagai A, atau B, bahkan C. Terlalu naif jika menafikan kesadaran akan aku.

Hasil perbandingan tersebut adalah pentingnya kesadaran dalam membentuk aku. Tanpa kesadaran, tak bisa dikatakan sebagai aku. Dengan begitu, mengamati aku dapat dilakukan.

Mengamati aku artinya mengamati keempat unsur pembentuknya yakni pengalaman, memori, interaksi, dan lingkungan. Aku ada di dunia karena empat unsur ini ada di dunia juga. Dengan begitu, penyelidikan akan aku dapat dicari melalui penyelidikan atas empat hal ini. Sehingga, penyelidikan dunia akan membawa penyelidikan aku itu sendiri.

Engkau dapat mengenal dirimu, dengan memikirkan akan aku, ke-aku-an, dan duniaku. Jika engkau sudah memahami ketiga ini, sudah saatnya engkau menghadapi orang lain.”


메타데이터
post_id
09e836d28eaa
slug
aku-ke-aku-an-dan-dunia-09e836d28eaa
url
https://medium.com/channel-filsafat/aku-ke-aku-an-dan-dunia-09e836d28eaa
canonical_url
https://medium.com/channel-filsafat/aku-ke-aku-an-dan-dunia-09e836d28eaa
author_url
https://medium.com/@ahmdroizz
status
ok
fetched_at
2026-07-15 00:52:38