← Back to list

Belajar dari “Polisi Bahasa”

Catatan setelah menyimak siniar

ANhalfengineer · 2025-04-06 14:58 · 54 claps · 2.6 min read paywalled
#bahasa-indonesia #siniar #ivan-lanin
Open on Medium ↗

Belajar dari “Polisi Bahasa”

Catatan setelah menyimak siniar

Minggu siang iseng mendengar siniar Bocor Alus Politik di Youtube yang selalu seru untuk diikuti. Kemudian setelah selesai saya kembali ke beranda Youtube dan menemukan salah satu video yang mungkin oleh algoritma Youtube diarahkan untuk saya, yaitu siniar Malaka Project bersama Ferry Irwandi dan Dea Anugrah dengan tamu Pak Ivan Lanin.

Sumber: tangkapan layar video Youtube Malaka Project

Sumber: tangkapan layar video Youtube Malaka Project

Jujur ini kali pertama saya melihat beliau seorang Ivan Lanin, karena selama ini lebih sering melihat beliau bercerita melalui tulisan — tulisan beliau di Medium.

Beliau pula yang kadang menyorot beberapa kata dalam tulisan saya karena lupa memisahkan kata “di” untuk menunjukkan tempat dan “di” untuk menunjukkan kegiatan. Koreksi yang sangat berarti bagi seorang pemula seperti saya.

Diawal obrolan, menarik mengetahui bahwa beliau seorang pemrogram komputer, dan ternyata adalah pembuat salah satu yang pernah saya pakai ketika kuliah yaitu Kateglo, luar biasa. Kemudian beliau pula yang mengusulkan padanan kata surel untuk email dan tagar untuk hashtag (#) yang digunakan hingga saat ini.

Dalam siniar selama satu jam tersebut, banyak hal penting yang saya catat sebagai pengetahuan dan beberapa mungkin dapat saya sebut pula sebagai renungan.

Kosakata baku dan sejarah Bahasa Indonesia

Ada kata “Nerd“ yang hingga saat ini belum disepakati kata bakunya, kemudian ada kata baku dari hutang adalah utang, dan istilah Basantara (saya baru mendengar pertama kali di siniar tersebut). Basantara adalah sebutan untuk Bahasa Melayu sebagai awal dari Bahasa Indonesia, karena mayoritas masyarakat pesisir telah akrab dengannya sebagai bahasa yang digunakan dalam aktivitas perdagangan.

Bahasa Melayu dipandang lebih mudah dipelajari, dan tidak ada strata seperti bahasa daerah umumnya (misalnya seperti dalam Bahasa Jawa ada ngoko, kromo madya, dan kromo inggil). Kemudian saya pun baru tahu ternyata bahasa ada yang dirancang melalui pembelajaran dan bahasa yang telah ada secara natural atau yang telah umum digunakan di masyarakat. Serasa belajar sejarah Bahasa Indonesia secara singkat.

Label “Polisi Bahasa”

Ada pula yang menarik tentang label yang diberikan kepada beliau yaitu polisi bahasa, karena sering mengedukasi untuk menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sedangkan dalam pandangan awam, bahasa baku terkesan kaku demikian pula kesan tersebut menempel pada orang yang menggunakannya. Padahal menggunakan bahasa baku berarti menetapkan standar untuk menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh mayoritas masyarakat tanpa memandang asal daerah.

Dan dalam obrolan santai (kata santai berasal dari bahasa daerah Komering, dan pertama kali digunakan dalam artikel oleh seorang wartawan Tempo) tersebut, Pak Ivan Lanin jelas menunjukkan bahwa beliau ngobrol santai. Beliau pun paham dengan kondisi tersebut, namun tidak ambil pusing, karena hal terpenting adalah beliau bisa mengedukasi masyarakat.

Ada pernyataan menarik tentang alasan beliau tidak mengindahkan sebutan tersebut yaitu karena beliau adalah seorang pemrogram komputer, maka sedapat mungkin mengurangi atau menjaga agar tidak terlalu banyak variabel yang dipertimbangkan ketika melakukan sesuatu. Semakin sedikit variabel, maka lebih mudah untuk menemukan pola dari suatu fenomena, begitu pula sebaliknya.

Seketika teringat dengan kegiatan dulu ketika membuat pemodelan lalu lintas, banyak asumsi yang digunakan seperti mengabaikan lalu lintas dua arah, atau mengabaikan pilihan waktu pelaku perjalanan. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan model yang menggambarkan kondisi lapangan dengan indikator nilai R2 setidaknya lebih dari 0,8.

Jika variabel lain turut dipertimbangkan tentu akan sulit untuk mendapatkan model dengan nilai konvergensi tersebut atau setidaknya harus melakukan iterasi lebih banyak dan lebih lama.

Ikigai

Di akhir obrolan beliau menyatakan telah menemukan ikigai yaitu melakukan yang disukai, dibutuhkan oleh dunia, dan mendapatkan materi darinya yaitu mengajarkan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Meski pada akhirnya tetap melakukan penyesuaian bisnis dari yang semula retail menjadi institusional, dengan pasar yang lebih spesifik yaitu mengajar penyusunan naskah dinas/bisnis untuk organisasi.

Pada bagian ini saya merefleksikannya ke diri sendiri, apakah saya sudah menemukannya? Sepertinya sudah sebagian, tetapi belum dibagian lain.

Sampai saat ini saya masih berusaha untuk bercerita melalui tulisan secara rutin seperti yang beliau lakukan (tulisan ini adalah salah satunya), tetapi membiasakan hal baik memang tidak mudah. Hal yang sering terjadi adalah menulis draft yang selesai hanya sebagai draft.


메타데이터
post_id
0a124e8b3789
slug
belajar-dari-polisi-bahasa-0a124e8b3789
url
https://medium.com/@anhalfengineer/belajar-dari-polisi-bahasa-0a124e8b3789
canonical_url
https://medium.com/@anhalfengineer/belajar-dari-polisi-bahasa-0a124e8b3789
author_url
https://medium.com/@anhalfengineer
status
ok
fetched_at
2026-07-20 10:12:08