Lost and Found
Biru pikir ia akan menjadi sosok yang tenang dan bebas. Layaknya lautan yang selalu memberi kedamaian dan ketenangan di alam yang bebas…
Lost and Found

Biru pikir ia akan menjadi sosok yang tenang dan bebas. Layaknya lautan yang selalu memberi kedamaian dan ketenangan di alam yang bebas. Biru pikir ia adalah orang dengan jiwa yang teguh menghadapi ombak yang tinggi dan kuat. Namun itu semua hanyalah sebuah arti dari nama Biru. Biru tidak yakin dirinya adalah si Biru. Atau mungkin dirinya memanglah Biru. Si tempat untuk bersandar. Si tempat untuk selalu memberi kata-kata bijak ke orang sekitarnya.
Tapi, Biru terkekang. Ia tidak se bebas namanya. Biru penuh dengan kecemasan. Ia tidak se tenang namanya. Biru penuh dengan ketakutan. Ia tidak se kuat namanya.
Tangan yang gemetar itu, Biru satukan. Membentuk genggaman orang berdo’a. Ia tidak sedang berdo’a. Ia hanya meredam gemetaran tangannya agar tidak terlihat oleh orang di sekitarnya. Senyumnya masih merekah. Sehangat dan secerah langit biru.
“Ru. Anaknya tante Mira baru lulus S2 tuh. Sekarang jadi dosen. Masa kamu gamau kayak gitu juga?” kata Ayah yang sedang mengupas buah di meja dapur.
“Ah iyakah yah? Aku mau yah tapi kan belum ada uangnya.” jawabku yang sedang duduk di ruang TV sembari mengatur gemetaran di tanganku.
“Nanti kan pake uang Ayah.” Kata Ayah yang ternyata sudah duduk di sampingku.
“Enggak ah yah. Ayah sama Ibu kan udah pensiun. Aku belum bisa kasih uang Ayah sama Ibu juga. Uangku juga belum cukup buat S2. Terus ibu juga sakit. Nanti malah gaada pegangan uang.”
“Ah kamu itu bilang aja kalo males kuliah lagi. Kapan mau maju kalo kamu kerja gitu-gitu aja?”
Biru terdiam. Bukan karena tidak bisa membantah. Tapi karena omongan Ayahnya benar. Ia tidak maju. Hidupnya stuck. Teman-teman nya sudah menikah, sudah lulus S2, dan kerja di tempat yang bagus. Sedangkan dirinya menjadi tupai loncat yang selalu berpindah tempat kerja setiap tahunnya.
“Ayah aku ke kamar dulu ya mau sholat ashar.”
Biru bercerita kepada Tuhan nya.
Tuhan apakah aku ini produk yang gagal?
Malam ini, Biru melepas penatnya sepulang kerja di sebuah kedai mie. Ia memesan semangkuk ramen kuah. Tempat duduk paling ujung dengan pemandangan jalan raya menjadi tujuan nya untuk menikmati semangkuk mie itu.
Lagu band favoritnya menjadi temannya saat ini. Satu earphone ia pasang di telinga kanannya. Sembari menunggu pesanannya datang, ia memandangi jalanan yang cukup ramai malam itu.
“Kak sorry, boleh join ga ya? Aku pengen banget makan ramennya tapi semua meja udah penuh.”
Tiba-tiba seorang laki-laki datang mengejutkan Biru.
“O-oh iya kak boleh.”
Laki-laki itu tersenyum. Ia menempati kursi sebelah Biru. Entah hal apa yang sedang laki-laki itu lakukan, Biru tidak terlalu memperhatikan. Fokusnya kini kembali ke jalanan di depannya.
“Kamu asli sini kak?” tanya laki-laki itu membuka percakapan.
“E-eh enggak kak. Aku rantau disini.”
“Kuliah? atau Kerja?”
“Kerja kak. Kamu sendiri asli sini kak?”
Laki-laki itu mengangguk. “Dari lahir kak sampe gede gini ga pernah rantau. Gimana rasanya ngerantau kak? Aku penasaran banget.”
“y-ya begitu deh kak hehe. Ada enak nya dan ada enggaknya. Enaknya, kamu jadi bisa lebih tenang dan leluasa. Gaenak nya kamu kesepian kak apalagi kalo sakit.”
“Kayak kamu sekarang ya kak? Are you okay?”
메타데이터
- post_id
- 0a19fc628fdf
- slug
- lost-and-found-0a19fc628fdf
- url
- https://medium.com/@nailapkl56/lost-and-found-0a19fc628fdf
- canonical_url
- https://medium.com/@nailapkl56/lost-and-found-0a19fc628fdf
- author_url
- https://medium.com/@nailapkl56
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-13 10:52:34