Akar Kidung Nan Maha Agung
Resensi Buku Hariring al-Qur’an — Alfani Kamil
Akar Kidung Nan Maha Agung
Resensi Buku Hariring al-Qur’an — Alfani Kamil

src: Instagram
Berawal dari topik Tugas Akhir (Skripsi). Ust. Alfani Kamil, S.Ag., merampungkan penelaahan langka terhadap sebuah tafsir bahasa Sunda berbentuk Pupuh karya ‘alim Persatuan Islam, Ust. Muh. Syarief Sukandi, Hariring Wangsiting Gusti Nu Maha Suci. Topik ini, sepengetahuan saya dan berdasar pengakuan penulis dalam kata pengantarnya, merupakan rekomendasi dari Ust. Hayatul Fauzi, M.Ag. Keduanya, baik Ust. Alfani maupun Ust. Hayatul adalah rekan jihad di Pimpinan Cabang Pemuda Persatuan Islam Bojongloa Kaler.
Tebal buku ini berjumlah 242 halaman. Arah utama penelitian adalah untuk mengetahui metodologi tafsir Hariring baik mashaadir (sumber), manhaj (metode), maupun ittijaah (corak penafsiran). Ekstensi menarik diberikan oleh buku ini dengan mengulas horizon tafsir hingga hermeneutik dan pengenalan mendalam terhadap sosok KH. Syarief Sukandi. Di akhir, Ust. Ifan menggambarkan betapa tafsir Hariring memiliki relevansi dalam konteks dan wacana tafsir kontemporer.
Terjemah adalah Tafsir
Hariring Wangsiting Gusti Nu Maha Suci diterjemahkan sebagai Senandung Wahyu Tuhan Yang Maha Suci. Namun, mungkin lebih tepat bagi saya menerjemahkannya sebagai Kidung Peringatan Tuhan Yang Maha Suci. Sebab Hariring sendiri merupakan sinonim dari tembang yang lebih pas diterjemahkan sebagai kidung (syair yang dinyanyikan — KBBI) alih-alih senandung (nyanyian lembut untuk menghibur diri atau menidurkan bayi — KBBI). Sementara Wangsiting dari akar kata Wangsit bermakna nasihat yang, apabila ditelusuri lebih jauh, digunakan dalam konteks peringatan terhadap sesuatu yang berbahaya dan supranatural seperti Leuweung Wangsit (Hutan Angker). Mengartikan Wangsit sebagai wahyu juga bukan salah secara umum. Namun, dalam artian khusus, tepatnya tetaplah peringatan yang adalah bagian kecil dari wahyu.
Terjemah memiliki dua proses, yaitu literal dan maknawi/tafsir. Pada hakikatnya, setiap bahasa memiliki ciri khasnya masing-masing sehingga filsuf hermeneutik, Gadamer, mengatakan bahwa “thus every translation is at the same time an interpretation (dengan demikian, setiap penerjemahan pada saat yang sama adalah sebuah penafsiran)”. Tetapi juga, terjemah dan tafsir tidak sepenuhnya identik. Terjemah memang mengandung tafsir, namun tidak mencakup penafsiran secara menyeluruh. Lewat pisau bedah hermeneutik, Ust. Ifan mencoba menafsirkan Tafsir Hariring. Sementara Tafsir Hariring itu sendiri tetap terbangun atas dasar metode tafsir klasik milik umat Islam yang telah mapan.
Vernakularisasi Menuju Tafsir Kesukuan
Pupuh Sunda tidak lain merupakan musikalisasi puisi. Pupuh Sunda terdiri dari 17 jenis yang dibagi pada sekar ageng dan sekar alit dengan berbagai nuansa — dalam tanda kurung selanjutnya — . Sekar ageng terdiri atas Kinanti (renungan), Sinom (ceria), Asmarandana (cinta), dan Dangdagula (agung). Sementara sekar alit terdiri atas Magatru (kecewa), Mijil (sedih), Durma (motivasi), Pangkur (jengkel), Maskumambang (luka batin), Pucung (kesal), Wirangrong (malu), Jurudemung (bingung), Balakbak (komedi), Gambuh (sakit hati), Gurisa (lamunan kosong), Lambang (canda), dan Ladrang (lelucon). Sejauh tangga nada sebagai pemandu tembang, tidak ditemukan. Untuk dapat mengetahui perbedaan nada dan irama tiap-tiap pupuh di atas, pembaca dapat menghafalnya lewat audio. Dalam penelusuran pribadi, hasil pencarian Youtube dengan kata ‘belajar pupuh’ bersinggungan dengan Pupuh Bali. Dari sana, saya mendapati adanya pupuh yang beragam antara pupuh Sunda asli (semoga dapat dikatakan begitu), madzhab cianjuran, dan pupuh Bali.
Hariring sendiri terdiri atas 23 surat (adl-Dluha s.d. an-Nas) pada Juz ‘Amma. Adapun pupuh yang digunakan hanya delapan, yaitu Kinanti, Sinom, Asmarandana, Durma, Pangkur, Maskumambang, Pucung, dan Wirangrong.
Polymath sebagai Ciri Kejayaan Islam
KH. Syarief Sukandi atau biasa dipanggil Ust. Andi adalah seorang tentara, guru/dosen, muballigh, aktivis, seniman, sastrawan, budayawan, penulis, dan penerjemah. Dengan kata lain, beliau adalah seorang polymath (menguasai banyak bidang). Lahir di Bandung pada hari Selasa, 18 Dzulhijjah 1349 H / 7 April 1931 M. Berasal dari sebuah broken family, ayah kandungnya, Anjum, adalah seorang seniman. Sementara ibu kandungnya, Engkik Rodiyah, adalah seorang pejuang kemerdekaan yang multitalenta sebagai ahli kecapi, paraji (bidan), peracik obat, dan pedagang batik. Keduanya bercerai. Anjum kemudian menikah dengan Ratna, sesama seniman Sunda. Sementara Engkik Rodiyah menikah dengan Oyo Yaya Atmajaya, sesama pejuang kemerdekaan yang terkenal akan ilmu kesaktiannya. Dikatakan bahwa Oyo inilah — dengan ilmunya — yang menyebabkan keluarga utama Sukandi berpisah. Sukandi adalah anak tunggal dari dua ayah dan dua ibu tersebut.
Sukandi bersama tokoh Persis lainnya seperti KH. Akhyar Syuhada, KH. Latief Muchtar, dan H. Yahya Wardi adalah angkatan Pertama yang lulus pada tahun 1962 M. di Pesantren Persis Bandung. Sukandi kemudian mendapatkan gelar S1-nya di Jurusan Dakwah, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 1977 M.
Situasi sosial-politik saat itu mendorong Sukandi untuk masuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dengan pangkat Perwira Letnan Satu. Dalam aktivitasnya di dunia militer, Sukandi tetaplah seorang ‘alim dan seniman dengan melahirkan puluhan karya di bidang keagamaan dan kebudayaan. Legitimasinya sebagai penafsir didapat dari dua puluh lima karya tafsir (klasik hingga kontemporer) yang dibaca dan menjadi koleksi pribadi beliau. Kedalaman sastranya semakin terasah setelah bergabung dengan Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) dan, terkhusus, Yayasan Fatimah Rohmat yang memungkinkan beliau berinteraksi langsung dengan budayawan Sunda lainnya serta menerbitkan buku Hariring pada tahun 1960-an.
Sukandi menikah dengan Hj. Rd. Rokayah yang berasal dari keluarga bangsawan Sunda. Tersendat restu, kehidupan rumah tangganya menjadi penuh dengan lika-liku. Namun, kegigihan keduanya berhasil melewati semua itu. Dari pernikahannya ini, Sukandi dikaruniai 14 anak (meski 11 yang hidup hingga dewasa) dan 1 anak angkat, yaitu Ust. Ahmedin (AD) El Marzedeq, Guru Besar beladiri Shurulkhan Thifan Po Khan.
KH. Muh. Syarief Sukandi wafat pada hari Kamis, 26 Rabiul Awwal 1418 H / 31 Juli 1997 M dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga PC. Persis Bojongsoang, Kabupaten Bandung (Ust. Ifan mengoreksi sejumlah tulisan ilmiah terdahulu yang menyebutkan bahwa lokasi makam berada di Jln. Holis, Kelurahan Cibuntu, Kota Bandung).
Pada Sukandi, saya pribadi langsung teringat pada sosok-sosok polymath lain pada masa kejayaan Islam. Seperti al-Kindi, al-Ghazali, Ibn Sina, dan lainnya. Tanpa ragu, dapat dikatakan bahwa memang peradaban Islam itu dapat tertopang oleh sosok-sosok polymath (loba pangabisa) semacam itu.
Menelusuri Akar dan Menarik Relevansi
Mashdar (sumber) dari Hariring adalah Tafsir bi ar-Ra’yi (Tafsir dengan Nalar), meskipun dalam batas yang tipis masih dapat ditelurusi mashdar Tafsir bi ar-Riwayah/Atsar-nya (Tafsir dengan Riwayat). Manhaj (metode) yang digunakan adalah ijmaliy (umum). Bukan tahliliy (analitis), muqaarin (komparatif), maupun maudlu’iy (tematik). Dan corak yang dipakai menurut pendapat Ust. Ifan adalah al-’Aqliy al-Ijtimaa’iyyah (rasional-sosial) dan al-Ittijaah al-Adabiy (sastra). Namun, jika ada keharusan memilih satu corak, maka pendapat saya pribadi lebih tepat mengatakan bahwa corak Hariring ini adalah sastra sebagai motif dari corak rasional-sosial yang lebih merupakan proses kontemplatif-sufistik Sukandi.
Melihat bagaimana Sukandi meruntuhkan aturan tata bahasa, membuat tafsirnya harum akan hermeneutik dan ikut mengalir pada arus wacana tafsir kontemporer. Independensi tafsirnya terbangun dari keilmiahan, kritisisme, dan sikap berhati besar Sukandi dengan memposisikan diri sebagai non-sekretarian.
Saya melihat penelitian ini sebagai sesuatu yang penting dan membuka peluang keberlanjutan yang jauh dan panjang bagi penelitian selanjutnya. Sebagaimana diketahui mengenai adanya musikalisasi puisi, lebih jauh, saya dapati di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), khususnya UIN Bandung — di mana saya mengambil banyak waktu di sana — pun telah ada apa yang dinamakan musikalisasi hadits. Karya Ust. Sukandi yang dikuatkan oleh penelitian Ust. Alfani membuka inspirasi bagi kemungkinan berkembangnya musikalisasi tafsir yang kini masih sunyi.
Di dalam buku ini juga beberapa kali disinggung mengenai sikap KH. Syarief Sukandi yang dikatakan ambivalen (bercabang dua dan bertentangan) antara purifikasi agama dan pengembangan budaya. Bagi saya, dengan juga melihat penekanan yang diberikan dalam tulisan Ust. Ifan ini, beliau bahkan bersikap lebih kompleks dengan mempergulatkannya pada alam sufistik dan tawasuf yang jarang terangkat di tubuh Persatuan Islam.
Saya berharap buku ini terus berkembang dan diperbaiki baik dari segi penulisan maupun pengembangan materi dengan mengadakan edisi-edisi berikutnya. Segala keistimewaan dari buku Tafsir Hariring KH. Sukandi dapat ikut dirasakan langsung dengan detail pada buku Ust. Ifan ini. Sudah tentu bagi saya, karya Ust. Alfani menjadi angin segar bagi trend kemerosotan pelestarian budaya dan penggunaan bahasa daerah, khususnya suku kami, urang Sunda.
Selamat Membaca.
메타데이터
- post_id
- 0a4e4f46719c
- slug
- akar-kidung-nan-maha-agung-0a4e4f46719c
- url
- https://medium.com/@ress.ki/akar-kidung-nan-maha-agung-0a4e4f46719c
- canonical_url
- https://medium.com/@ress.ki/akar-kidung-nan-maha-agung-0a4e4f46719c
- author_url
- https://medium.com/@ress.ki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13