← Back to list

Leila S. Chudori Taught Me That History Never Really Ends.

⚠️ Spoiler alert.

tiarasptiautmi · 2026-07-25 04:49 · 0 claps · 3.5 min read
#book-review #sejarah-indonesia #peristiwa-1965 #leila-s-choudori #historical-fiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative 📚 · Books & Reading

Leila S. Chudori Taught Me That History Never Really Ends.

⚠️ Spoiler alert.

There are books you finish and move on with your life. Then, there are books that refuse to leave your head.

For me, Pulang and Namaku Alam — Jilid 1 by Leila S. Chudori definitely belong to the second category.

Awalnya aku kira dua novel ini cuma akan mengajakku memahami sejarah Indonesia, khususnya peristiwa 1965.

Turns out, that’s not what stayed with me.

Yang terus teringat justru bukan tokoh politiknya, bukan kronologi sejarahnya, bahkan bukan konflik ideologinya.

Melainkan bagaimana sebuah label bisa mengubah hidup orang-orang yang bahkan tidak pernah terlibat langsung di dalamnya.

Ada yang kehilangan rumah.

Ada yang kehilangan keluarga.

Ada anak-anak yang tumbuh membawa stigma yang bahkan bukan milik mereka.

Sekarang kita cuma tinggal menunggu Namaku Alam — Jilid 2, karena rasanya cerita ini belum benar-benar selesai.

Pulang Ternyata Bukan Sekadar Soal Kembali ke Rumah

Kalau mendengar kata pulang, kita mungkin langsung membayangkan rumah. Tempat yang selalu bisa kita datangi kapan pun kita mau, tapi setelah membaca novel ini, aku sadar kalau pulang ternyata jauh lebih kompleks daripada itu.

Di Pulang, kita mengikuti kehidupan Dimas Suryo dan teman-temannya yang hidup sebagai eksil politik di Paris setelah peristiwa 1965.

Mereka membangun hidup baru.

Bekerja. Menikah. Punya anak. Bahkan membuka Restoran Tanah Air.

On paper, mereka terlihat baik-baik aja, but emotionally?

Mereka gak pernah benar-benar meninggalkan Indonesia.

Indonesia selalu hadir lewat makanan yang mereka masak, bahasa yang mereka gunakan, lagu-lagu yang mereka dengarkan, hingga aroma yang mereka hirup.

Seseorang bisa tinggal puluhan tahun di negara lain, tapi sebagian dirinya tetap tertinggal di tanah kelahirannya.

Sebaliknya, seseorang juga bisa kembali secara fisik, tapi tetap merasa asing di tempat yang seharusnya disebut rumah.

Lalu Datang Alam, yang Tinggal di Indonesia Tapi Tetap Dianggap Orang Asing

Kalau Pulang bercerita tentang orang-orang yang tidak bisa kembali ke Indonesia, Namaku Alam — Jilid 1 menunjukkan sisi lain dari cerita yang sama.

Segara Alam lahir dan besar di Indonesia.

Dia tinggal di negerinya sendiri, tapi rasanya seperti hidup sebagai orang asing.

Bukan karena dia berbeda.

Bukan karena dia melakukan kejahatan.

Melainkan karena ayahnya, Hananto Prawiro, seorang laki-laki yang ditangkap dan dihukum mati karena dianggap terlibat dengan kelompok kiri.

Orang-orang gak lagi melihat Alam sebagai seorang individu, tapi sebagai anak dari seseorang yang dianggap pengkhianat negara.

Seorang anak gak pernah bisa memilih siapa orang tuanya. Dan seorang anak juga gak seharusnya dihukum atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan?

Hukuman tidak selalu berbentuk penjara, tidak selalu berbentuk penyiksaan.

Kadang hukuman datang dalam bentuk tatapan curiga.

Bisik-bisik tetangga.

Kesempatan yang perlahan ditutup.

Atau sebuah nama keluarga yang terus mengikuti seseorang ke mana pun ia pergi.

The Scariest Thing About Trauma? It Doesn’t Always End with One Generation

Sebelum membaca Pulang dan Namaku Alam, aku selalu berpikir kalau trauma cuma dimiliki oleh orang yang mengalami suatu peristiwa secara langsung.

Ternyata aku salah.

Trauma juga bisa diwariskan.

Bukan lewat darah.

Lewat cerita yang tidak pernah selesai.

Lewat pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya.

Anak-anak mungkin gak pernah melihat sendiri penangkapan, penyiksaan, atau pengasingan yang dialami orang tua mereka.

Tetapi mereka tetap tumbuh bersama akibatnya.

Mereka mewarisi rasa takut, kemarahan, kehilangan.

Bahkan kadang kebingungan tentang siapa diri mereka sebenarnya.

Satu hal yang terus terlintas di kepalaku setelah menutup buku ini.

Trauma isn’t only passed down through stories. Sometimes it’s passed down through the stories that were never told.

How Many Times Have We Judged Someone Because of Their Family?

Setelah membaca Namaku Alam, aku jadi bertanya pada diriku sendiri.

Berapa kali kita menilai seseorang berdasarkan nama keluarganya?

Mungkin lebih sering daripada yang kita sadari.

Kita mendengar cerita tentang orang tuanya.

Lalu kita merasa sudah tahu seperti apa anaknya.

Kita melihat latar belakang keluarganya.

Lalu kita berpikir kita sudah mengenal seluruh hidupnya.

Padahal setiap orang seharusnya punya kesempatan untuk menentukan identitasnya sendiri.

Itulah yang terus dilakukan Alam sepanjang cerita.

Dia terus berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak Hananto. Dia adalah Segara Alam.

Dengan pikirannya sendiri.

Dengan pilihan-pilihannya sendiri.

Dengan kemarahannya.

Dengan cintanya.

Dengan masa depannya sendiri.

Namun masyarakat terus menariknya kembali ke masa lalu yang bahkan bukan miliknya.

Novel Ini Bukan Cuma Mengajariku Sejarah, tapi Empati.

Aku gak membaca Pulang dan Namaku Alam sebagai pengganti buku sejarah.

Novel tetaplah karya fiksi.

Tetapi justru melalui fiksi, sejarah terasa jauh lebih nyata.

Karena kita gak lagi membaca angka.

Kita gak lagi membaca tanggal.

Kita gak lagi membaca nama peristiwa.

Kita melihat bagaimana sejarah masuk ke ruang makan.

Ke sekolah.

Ke hubungan orang tua dan anak.

Ke persahabatan.

Ke kehidupan sehari-hari.

Dampaknya bisa hidup puluhan tahun.

Bahkan sampai ke anak dan cucunya.

Itu yang membuat karya Leila begitu kuat.

So… What Did I Learn?

Kalau harus merangkum dua novel ini dalam beberapa pelajaran, mungkin inilah yang paling membekas buatku.

Pertama, sejarah tidak pernah benar-benar selesai.

Peristiwanya mungkin sudah lewat, tapi dampaknya bisa hidup sangat lama.

Kedua, stigma bisa menjadi hukuman yang lebih panjang daripada penjara.

Karena seseorang bisa terus dihukum atas sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

Dan yang terakhir…

Pulang ternyata bukan soal kembali ke sebuah tempat.

Pulang adalah tentang merasa diterima.

Merasa aman.

Merasa tidak harus terus membuktikan bahwa kita pantas berada di sana.

Setelah menutup Pulang dan Namaku Alam — Jilid 1, belajar sejarah ternyata bukan cuma soal mengingat apa yang terjadi.

Yang jauh lebih penting adalah bertanya:

Siapa yang masih menanggung akibatnya sampai hari ini?

Maybe that’s the scariest thing about history. It doesn’t always stay in the past.


메타데이터
post_id
0aa1f2e2eae9
slug
leila-s-chudori-taught-me-that-history-never-really-ends-0aa1f2e2eae9
url
https://medium.com/@tseptiautami/leila-s-chudori-taught-me-that-history-never-really-ends-0aa1f2e2eae9
canonical_url
https://medium.com/@tseptiautami/leila-s-chudori-taught-me-that-history-never-really-ends-0aa1f2e2eae9
author_url
https://medium.com/@tseptiautami
status
ok
fetched_at
2026-07-29 05:58:23