48. She’s Awake.
Setelah tiga puluh hari koma, Elara akhirnya membuka mata. Dan panggilan “Kak Daska” jadi penebusan semua luka.
48. She’s Awake.

https://www.youtube.com/watch?v=hP25LMv-YIA&list=RDSOLGSFjadAA&index=3
Layaknya makhluk hidup yang tak punya lagi tujuan, Daska masih menggenggam tangan adiknya begitu erat. Matanya setia menangkap iris Elara yang sudah tertutup lama.
Daska tak bisa menebak kapan Elara bangun. Ia sungguh berharap adiknya tidak mati duluan dibandingkan dirinya. Hanya itu.
“Mama bilang, kalau lo udah sembuh, dia janji mau bawa kita buat pergi mancing. Your favorite activity.” Daska menghela nafas. Sudah tidak tau helaan berat keberapa kali ini.
Daska lelah, ia putus asa. “Would you forgive me, El?” gumam Daska lagi. “Would you forgive me and still think of me as a good brother?” Daska akhirnya menunduk. Ia menangis, suaranya tangisannya begitu keras dan parau. Bahkan bahunya bergetar dan punggungnya tergerak naik-turun.
Selama tiga puluh hari, ia menyalahkan dirinya sendiri. Mengutuk dirinya sendiri sampai hilang kata-kata. Bahkan Nara sampai tak bisa menenangkan cowok itu jika Daska mulai mengutuk dirinya.
Di sela tangisan itu, tiba-tiba suara monitor jantung mulai berdenting lebih cepat. Menyita atensi cowok itu.
Garis yang tadinya stabil mulai menunjukkan perubahan ritme kecil — detak jantung Elara perlahan naik. Semakin naik, lalu tiba-tiba turun secara drastis. Namun kelopak mata Elara bergerak. Sangat pelan. Seolah ia ingin membuka mata tapi tak bisa.
Daska panik, matanya bergantian menatap wajah Elara dan monitor jantung yang kini menunjukkan grafik yang tidak stabil.
Tangannya meremas jemari Elara lebih erat. “Elara?” bisiknya, nyaris tak bersuara. “Lo… bisa denger gue, kan?”
Kelopak mata Elara kembali bergerak. Sedikit lebih kuat. Napasnya pun terdengar sedikit lebih dalam, walau masih tak beraturan. Namun grafik detak jantung justru makin menurun.
Daska buru-buru menekan tombol panggil suster. Suaranya gemetar, “Tolong… Tolong…” air mata cowok itu sudah tumpah. Bahkan kakinya melemas dan dirinya hampir terjatuh.
Suster datang nyaris seketika. Begitu melihat monitor, ia langsung menekan tombol darurat lain di samping tempat tidur. “Kita butuh bantuan di sini! Pasien menunjukkan respons, tapi grafik turun!”
Beberapa detik kemudian, dua dokter dan satu perawat masuk dengan alat tambahan. Salah satu dokter langsung memeriksa mata Elara dengan senter kecil, sementara yang lain memantau oksigen dan tekanan darah.
Suster yang lainnya pun menghadang Daska untuk mendekat. Namun Daska menolak, ia mendorong kasar suster yang menghalanginya. Berteriak memanggil nama adiknya. Berharap adiknya mendengar bahwa kakaknya akan selalu setia berada disampingnya.
Dan di tengah keramaian medis itu, layar monitor jantung pun bergerak dengan ritme yang berubah. Tiba-tiba saja garis itu menunjukkan ke-stabil-an. Garis itu yang semula naik turun tak menentu, kini kembali tenang. Detak jantung Elara kembali ke pola yang normal. Bahkan angka tekanan darah yang sempat menurun pun perlahan naik ke angka yang aman.
Disaat semuanya diam, dan sorot mata sepenuhnya mengarah pada Elara, perlahan cewek itu membuka matanya. Pelan, sampai irisnya mulai sadar bahwa wajah orang yang tak pernah meninggalkannya berada disampingnya.
“Kak… Das…ka,” suara itu sangat jelas. Sangat amat jelas untuk seseorang yang sudah hampir satu bulan tidak berbicara satu kata pun.
Dokter yang berdiri paling dekat langsung membungkuk, mencoba mendengar lebih jelas. “Elara? Ulangi. Kamu mau bicara sesuatu?”
Elara kembali mencoba membuka mulutnya. Bibirnya pecah-pecah, kering, tapi perlahan ia memaksakan suara keluar dari tenggorokannya yang serak. “Kak… Das…ka,” air mata perlahan mengalir dari ujung mata Elara yang terbuka sebagian.
Yang dipanggil dengan sebutan “Kak Daska” pun langsung mendorong semua orang yang menghalangi jalannya. Tangannya sangat gemetar, bahkan kakinya pun serasa tak bisa ia gunakan untuk jalan lagi saking lemasnya.
“Gue disini. Gue disini, El. Gue gak kemana-mana.”
Genggaman Daska kian mengerat, bersamaan dengan air matanya yang keluar begiitu deras sampai jatuh ke genggaman antara dirinya dan Elara.
메타데이터
- post_id
- 0af46d2cbc04
- slug
- 48-shes-awake-0af46d2cbc04
- url
- https://medium.com/@rtylenol/48-shes-awake-0af46d2cbc04
- canonical_url
- https://medium.com/@rtylenol/48-shes-awake-0af46d2cbc04
- author_url
- https://medium.com/@rtylenol
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 08:06:00