Hidup Adalah Satu-satunya Pilihan, Yang Banyak Adalah Caraku Menjalaninya
Dan aku memilih bertahan.
Hidup Adalah Satu-satunya Pilihan, Yang Banyak Adalah Caraku Menjalaninya
Dan aku memilih bertahan.

Dok. pribadi
Selama hidup, aku sudah dihadapkan dengan berbagai masalah. Sepertinya tidak ada orang yang menjadi kebal setelah diuji bertubi-tubi. Begitu juga aku. Aku tak pernah merasa diriku beruntung, walaupun kebiasaan mayoritas orang Indonesia itu ketika dirinya atau orang lain dihadapkan dengan musibah, akan mengatakan "masih untung..." — seakan selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari setiap kejadian buruk.
Jujur saja, seringnya aku merasa sial. Betapa sialnya sampai harus kena malpraktik 2 kali di usia produktif, belum menikah pula. Maka apabila perempuan-perempuan usia 30-an lain sedang mencemaskan soal jodoh, aku mencemaskan banyak hal. Saat perempuan usia 30-an merasa memiliki beban karena tuntutan sosial, bebanku double: tuntutan sosial dan masalah kesehatan.
Kadang, jika kepala sudah terlalu penuh dengan pikiran jahat, aku merasa ingin hilang saja menjadi buih di lautan—tidak ada dari awal saja daripada mati kemudian. Sedikit gelap ya? Tenang saja, aku tidak benar-benar ingin mati. Kurasa, kebanyakan orang dengan kepala sepertiku, sebenarnya sangat ingin hidup. Kami hanya lelah dan muak dengan rasa sakit dan luka. Kami hanya ingin rasa sakit itu berhenti — hilang.
Malam ini, aku menulis dengan jarak yang amat dekat dengan luka. Sebetulnya aku tadinya tak tahu mau menulis apa dan jadi mengalir saja seperti air. Ternyata alurnya malah ke jalur yang agak gelap.
Lalu apa yang membuatku tidak benar-benar ingin pergi dari dunia ini? Pertama, orang tuaku. Ada kesedihan yang amat dalam saat seorang anak pergi lebih dahulu dari orang tuanya. Aku tidak mau — sesakit apapun aku — membayangkan orang tuaku menguburku di liang lahat. Aku terus belajar hidup dengan baik demi mereka. Yang kedua, aku masih ingin bahagia. Aku ingin merasakan bahagia yang sebenarnya. Hidup dengan penyakit dan 'kesialan' selama bertahun-tahun tak akan membuatku putus harapan. Yang terakhir, aku masih punya mimpi. Jiwa hopeless romantic-ku ini bergejolak, ingin bertemu belahan jiwaku yang berbicara dengan bahasa yang sama denganku. Bayangkan, 8 milyar manusia di bumi ini, aku yakin pasti ada yang cocok denganku. Kami hanya belum bertemu saja (mencoba positif).
Ketiga alasan tersebut sudah cukup untuk membuatku bertahan di dunia ini. Bukan karena aku kebal dengan rasa sakit, tapi karena aku tak mau menyerah setelah berperang dengan penyakit dan pikiran-pikiran jahat yang selalu mengganggu. Aku juga berusaha berhenti menyalahkan diri sendiri dan menganggap hal seperti malpraktik yang aku alami adalah sebuah kesialan—walau nampaknya memang begitu.
Ketika kita bicara tentang kesialan, tak ada kriteria khusus mengapa si A mengalami kesialan, sedangkan si B tidak. Aku sendiri sudah menjalani prosedur dengan benar: pergi ke dokter spesialis ketika sakit, minum obat yang diresepkan dengan rutin. Masalah obat yang kelebihan dosis sehingga menyebabkan datangnya penyakit lain itu adalah hal yang tak bisa aku kontrol. Lalu kuberi nama ia dengan sebuah ‘kesialan’, namun pemberian nama ini membuat hatiku menjadi gelap dan sesak.
Maka dari itu, mari berhenti menggunakan kata "sial" tentang hal-hal yang tak bisa kukontrol. Selama aku masih punya mimpi dan harapan, kurasa hidupku akan baik-baik saja. Tapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku, 'baik' menurut manusia belum tentu baik menurut Tuhan. Ah, ini bisa dibahas lain kali saja.
메타데이터
- post_id
- 0b09ba820eb8
- slug
- hidup-adalah-satu-satunya-pilihan-yang-banyak-adalah-caraku-menjalaninya-0b09ba820eb8
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/hidup-adalah-satu-satunya-pilihan-yang-banyak-adalah-caraku-menjalaninya-0b09ba820eb8
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/hidup-adalah-satu-satunya-pilihan-yang-banyak-adalah-caraku-menjalaninya-0b09ba820eb8
- author_url
- https://medium.com/@windyoctarina
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 13:13:48