← Back to list

Tiga Mantra (3rd Part)

What Will Be, Will Be

Tirta Firdaus N · 2025-07-17 05:28 · 2 claps · 2.1 min read
#destiny #motto #life #paradigm #mantra
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

Tiga Mantra (3rd Part)

What Will Be, Will Be

Photo by Nick Fewings on Unsplash

Photo by Nick Fewings on Unsplash

Pernahkah kita ragu untuk melangkah?

Bukan karena tidak tahu arah, tapi karena dilumpuhkan oleh cemas dan takut. Kita jadi ragu untuk melangkah, sampai akhirnya kaki berhenti. Bukan karena letih, tapi karena otak kita sedang kerja kreatif overtime menulis naskah horor akan yang mungkin terjadi.

Kita ingin keluar dari kondisi sekarang, namun ragu. Bagaimana jika di luar justru lebih absurd?

Di saat seperti itu, mantra ketiga ini datang sebagai tangan yang menggenggam lembut.

Ia tidak menawarkan jaminan. Tidak.

Ia hanya memberikan secercah cahaya untuk tetap berjalan. Walau jalannya belum tampak jelas. Walau kaki ini masih gemetar.

This is my third story, tentang mantra ketiga yang membuat kaki ini tak lagi menunggu alasan untuk bergerak.

3. What Will Be, Will Be

Aku mengenal mantra ini di masa quarter life crisis: akhir kuliah S2, tesis belum rampung, awal masuk kerja di bimbel yang kedua. Masa depan terasa seperti kabut tebal, dan rasanya ada tulisan ‘the GPS signal is weak’ di handphone.

Pertanyaan demi pertanyaan mampir seperti tamu yang tidak tahu diri: “Kapan kerja yang settle?”, “Kamu kan psikologi, kok di bimbel?”

“Kapan nikah?”, “Kok masih di situ-situ aja?”

Kepalaku penuh. Hatiku riuh. Tapi langkahku beku.

Waktu itu aku sadar, kalau aku menunggu sampai semua pasti, maka aku tidak akan ke mana-mana. Maka aku belajar dari teorinyaa James-Lange, sebuah aplikasi salah kaprah yang tetap kupakai hingga saat ini: Jalan dulu, pikir belakangan. What will be, will be. Yang akan terjadi, terjadilah.

Mantra ini menunjukkan nilainya pada banyak kesempatan. Seperti saat aku ditunjuk jadi staf marketing. Aku termangu — tak masuk logika. Aku, sales? Emang ikan bisa hidup di gurun pasir?

Tapi apabila aku menolak hanya karena tidak sesuai selera, mungkin aku akan terus berada di tempat yang sama. Jadi… gas aja. Karena yang akan terjadi, terjadilah. Dan ternyata, disana aku belajar banyak sebagaimana yang kuceritakan sebelumnya.

Sampai hari ini pun, aku masih sering dihampiri berbagai pertanyaan yang membuatku cemas dan takut. Apakah aku sedang melangkah di jalan yang benar, atau cuma memutar di tempat? Apakah impianku masih relevan, atau cuma romantisme dari gagal move on? Bagaimana dengan mimpi burukku, apakah benar akan terjadi?

Tapi semakin jauh aku berjalan, semakin aku percaya bahwa kebenaran sering kali hanya bisa dilihat setelah perjalanan selesai. Dan sampai saat itu tiba, satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah terus melangkah.

Ya, terus melangkah. Apapun yang terjadi, apapun pilihannya. Menurutku, tugas kita adalah 50% mencari pilihan yang benar, kemudian 50% sisanya membuat pilihan itu menjadi benar.

After making the right choice, we make the choice right

Karena diam di tempat tak menjamin apa-apa, kecuali kenyamanan semu yang perlahan membunuh. Bergerak, kemudian perlahan menata semuanya, itu lebih logis bagiku daripada menunggu unta bertelur.

Selama itu baik, ambillah. Walau mungkin tak sesuai selera.

What will be, will be.

Disclaimer: Jangan gunakan mindset ini untuk mencari pasangan! Untuk topik ini pertimbangannya beda, walau tetap “selama itu baik maka ambil” — tapi selera penting juga. Walau kita lapar, ndak mungkin juga memasukkan merkuri ke mulut kita, kan!?


메타데이터
post_id
0b5ce656e90b
slug
tiga-mantra-3rd-part-0b5ce656e90b
url
https://medium.com/@tirtafirdaus1991/tiga-mantra-3rd-part-0b5ce656e90b
canonical_url
https://medium.com/@tirtafirdaus1991/tiga-mantra-3rd-part-0b5ce656e90b
author_url
https://medium.com/@tirtafirdaus1991
status
ok
fetched_at
2026-07-18 22:27:14