Tulus
Cerpen
Tulus
Cerpen
Foto oleh Phil Desforges di Unsplash
“Tidak bisakah kamu membedakan seseorang yang tulus dengan yang modus?”
Suara serak Arifah menggema di dinding batin Tama. Lelaki muda itu menarik napas panjang sambil memegangi dadanya. Setetes cairan bening tiba-tiba terjatuh di atas meja kayu. Perlahan diusapnya dengan ujung jari. Untung saja dia meletakkan cangkir kopi Latte yang belum disentuhnya agak jauh ke depan.
Baca gratis di sini
Tidak ada suara yang keluar. Tanpa bisa dikendalikannya, meluncur lagi tetesan-tetesan selanjutnya. Tama menyerah. Dia kehilangan segala harga diri dan menyerah pada perasaannya. Tubuhnya ambruk ke atas meja. Bahunya terlihat bergetar oleh isak tangis yang tertahan.
Sekuat apapun lelaki, maka akan lemah jika hatinya yang diserang. Bukan senjata yang membuatnya kalah, melainkan sebaris kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang gadis sederhana.
Perasaannya berantakan setelah melihat foto wisuda Arifah.
Arifah hanyalah anak dari pengisi kantin kampus. Dia melayani mahasiswa di pagi hari sementara sore harinya menjaga gerobak jus buah di pasar sore.
Meskipun hanya mengenyam pendidikan di SMA tapi dia gemar membaca.
“Emang enak jaga es? Mana bisa berkembang cuma jual begituan?”
Tama ingat pernah mencibir pekerjaan Arifah. Dia masih ingat betul jawaban gadis itu.
“Hei, anak manja. Aku bisa cari uang sendiri, tau! Emang kamu, bisanya cuma minta Bokap dan Nyokap! Coba kamu merantau seminggu aja tanpa uang ortumu. Gak yakin kamu bisa.”
Bibirnya yang mungil itu mencebik. Tama tidak berkutik mendengarnya. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal.
Namun, dia memang anak seorang pengusaha properti. Mamanya pemilik butik batik yang cukup sukses. Pelanggannya adalah pejabat dan beberapa artis. Terkadang mamanya harus ke luar kota untuk mengadakan pameran.
Uang bukan masalah baginya. Adik perempuannya yang masih duduk di kelas tiga SMA juga tidak pernah dipedulikannya. Pulang sekolah dia sering pergi bersama teman-temannya. Di rumah, Tama sering hanya bersama Bi Asih yang mengurus keperluan rumah tangga.
Foto oleh Suraj Tomer di Unsplash
“Ini dari Yonatan. Kemarin dia titip buat kamu.”
Tama menerima sebuah bungkusan dan duduk di kursi kantin. Arifah duduk di hadapannya.
Tama menatap Arifah yang berwajah serius.
“Kepo aja, Lu. Ngapain di situ? Pergi sono!”
Arifah nyengir.
“Suka-suka aku lah. Ini, kan area kekuasaanku.”
Tama tertawa.
“Iya juga, sih.”
Tama perlahan membuka kotak bersampul cokelat itu. Wajahnya berubah. Keningnya berkerut.
“Apa-apaan ini?”
Arifah memandang Tama.
“Maksudnya?”
“Ini bingkai foto Yonatan. Tapi kok dandanannya begini?”
Tama menunjukkan benda itu kepada Arifah. Gadis itu menutup mulutnya. Namun sejurus kemudian tawanya meledak. Dia meletakkan pipinya di atas punggung tangan kiri, sementara telapak tangannya memukul-mukul meja.
“Hush! Jangan keras-keras,” bisik Tama sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Beberapa detik kemudian tubuhnya berguncang karena menahan tawa tapi bibirnya masih tertutup.
“Dor!” jari Arifah membentuk pistol diacungkan ke depan hidung Tama yang membuat pemuda itu tertawa lepas.
“Aku gak kuat bandonya itu loooh, merah muda. Huahaha!” Arifah masih melanjutkan gelaknya.
“Dia butuh kamu, Tam. Butuh bimbingan. Kasihan, itu orang sakit. Ajakin main sepak bola, jangan dihujat.” Arifah menatap Tama serius setelah tawanya habis.
Tama cuma tersenyum menanggapi ucapan Arifah. Di balik sikap konyolnya, ternyata gadis itu menyimpan kebijaksanaan. Namun, Tama hanya menganggap biasa saja. Dia berpikir itu pendapat kebanyakan orang.
“Ini salinan materi dari Pak Septian. Kenapa bolos?” tanya Arifah kepada Tama melalui pesan WhatsApp suatu sore.
“Bukan urusanmu.”
“Terserah.”
Waktu itu Tama hanya berpikir kalau Arifah sedang mencari perhatiannya. Dia terlalu sering mendapat bantuan cewek-cewek di kampusnya. Tama tahu mereka mendekatinya karena ada maunya. Tama tidak tahu bahwa salinan itu hasil kepedulian Arifah yang mencari informasi dari Salim, teman akrab Tama.
Foto oleh Galih Jelih di Unsplash
“Tama, coba kamu ke Hotel Luxury sekarang. Penting!”
Tama berdecak ketika membaca pesan dari Arifah. Dia sedang asyik mengerjakan tugas dari Bu Devi di Kafe Amania. Dia suka ke tempat itu karena nyaman dan buka hingga pukul sebelas malam. Tata letaknya cantik dan tidak terlalu ramai dengan latar belakang musik yang lembut.
“Ke hotel? Penting apaan? Buat apa?” Tama menggumam sendiri. “Ah, mengganggu konsentrasi saja.”
“Kamu langsung ke kamar 705 pukul 23.30. Bilang aja ke resepsionis sudah janjian mau ketemu Arifah.”
Tama menghentikan kegiatannya setelah mambaca pesan kedua dari Arifah.
“Gila! Kamu ngajakin aku begituan?”
“Kamu jahat, Tam! Aku masih waras! Cepat datang atau nyesal selamanya!”
Tama tidak tahan dan menelepon Arifah, tapi ponselnya sudah tidak aktif. Pasti dia marah besar. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Pemuda itu melirik jam tangannya dan menyimpan dokumen, lalu mematikan laptopnya.
Foto oleh Campbell di Unsplash
Pintu mobil ditutup dan Tama melaju membelah jalanan kota Semarang. Kepalanya penuh dengan pertanyaan.
Klakson dari kendaraan di belakangnya berbunyi berkali-kali. Tama tersadar bahwa lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Dia menginjak gas dan melajukan kendaraannya.
Dari jauh sudah tampak papan nama hotel. Hatinya berdebar, karena perasaannya semakin tidak nyaman. Dia yakin ada yang tidak beres. Selama ini dia merasa Arifah menyimpan rasa padanya, tapi tidak mungkin kalau sampai meminta hal itu.
Dia menuju meja resepsionis dan memberitahu keperluannya. Kebetulan waktu sudah sesuai dengan pesan dari Arifah.
Seorang pria mengantar naik ke lantai lima dan meninggalkannya. Sekelebat bayangan Arifah dengan senyum menggoda muncul di benaknya.
“Ah, kalau dia macam-macam, aku pukul aja.”
Foto oleh Meklay YOTKHAMSAY di Unsplash
Tama mengetuk pintu. Beberapa saat tidak ada jawaban. Pemuda itu mengetuk lebih keras.
“Iya, sebentar!” terdengar suara dari dalam kamar.
Debar di dadanya semakin kencang. Dia merasa mengenal suara itu.
Pintu pun terbuka perlahan, tapi bukan Arifah, melainkan Yuna, adiknya. Gadis itu membelalakkan mata dan menutup mulutnya. Tama gemetaran menahan emosi. Yuna berusaha menutup pintu, tapi ditahan oleh Tama.
Pemuda itu masuk dan secepatnya menampar Yuna. Gadis itu mundur dan menangis menutupi wajahnya.
“Apa-apaan ini? Kenapa kamu melakukan ini? Butuh uang? Masih kurang yang diberikan Mama dan Papa?”
Yuna terisak-isak dan menggeleng. Maskaranya mulai meleleh, membuat air matanya menjadi hitam.
“Maaf, Kak. Aku juga butuh perhatian, butuh disayangi. Papa dan Mama selalu sibuk dengan bisnisnya.”
Tama terduduk di lantai. Punggungnya bersandar di dinding. Dia menangis, menyadari kesalahannya. Selama ini memang dia serumah dengan Yuna, tapi hanya bertemu saat sarapan.
Beberapa saat hanya isak tangis keduanya yang terdengar. Detak jam dinding hanya sebagai penanda waktu yang terus bergulir.
Yuna mendekati Tama.
“Ma af kan Yu na, Kak.”
Tama menarik napas panjang.
“Sudah berapa kali kamu seperti ini?”
“Ini yang pertama, Kak.”
Tama menatap adiknya dan menghembuskan napas panjang.
“Syukurlah. Maafkan Kakak juga, Yun. Ayo kita pulang.”
Foto oleh Camille Chen di Unsplash
Sebenarnya dalam hati Tama ada rasa penasaran bagaimana Arifah bisa mengetahui rencana Yuna. Pemuda itu ingin bertemu untuk mengucapkan terima kasih. Kurang puas rasanya jika hanya melalui pesan atau telepon. Kadang-kadang Tama heran juga, bagaimana Arifah bisa mengetahui kebutuhan Tama. Dia yakin pasti ada penjelasannya. Siang itu dia pergi ke kantin kampus untuk menemui Arifah.
“Pesan apa, Nak Tama?”
“Gado-gado aja, Bu. Arifahnya mana?”
“Libur. Agak nggak enak badan.”
Tama mengangguk. ‘Boleh saya minta alamat Ibu?”
“Nggak usah, Nak. Doakan saja besok sudah sehat.”
Tama kembali mengangguk.
Foto oleh Mia Golic di Unsplash
“Apa kamu nggak merasa Arifah itu terobsesi sama kamu, Tam?” Sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Hartono di bangku taman. Tiba-tiba dia ingat segala kebaikan Arifah, bahkan dengan detail. Memang kalau dipikir-pikir ucapan Hartono ada benarnya.
Dia mulai terprovokasi dan menimbulkan prasangka. Tidak mungkin ada wanita bisa sebaik itu tanpa ada maksud yang tersembunyi.
Maka, keesokan harinya, Tama kembali ke kantin dan bermaksud menemui Arifah. Rupanya dia sudah membantu ibunya meskipun tidak selincah biasanya.
“Halo Arifah. Terima kasih atas segala kebaikanmu selama ini, ya. Ini ada sedikit kenang-kenangan buatmu. Tolong jangan hubungi aku lagi.”
Senyum gadis itu lenyap. Arifah mengangguk. “Aku mengerti apa yang ada dalam pikiranmu.”
Tama menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
“Tidak bisakah kamu membedakan seseorang yang tulus dengan yang modus?”
Arifah menatap mata Tama, lalu pergi meninggalkan pemuda itu.
Ternyata itu adalah pertemuan terakhir mereka. Tama tidak pernah datang lagi ke tempat itu.
Foto oleh Nathan Dumlao di Unsplash
“Tam, ini bukannya anak ibu kantin kampus kita?” Hendra menyodorkan ponselnya pada Tama.
“Oh, sepertinya iya. Itu, kan ibu kantin.”
Beberapa saat kemudian Tama menerima notifikasi sebuah media sosial bahwa Salim mengirim sebuah foto. Tama pun membukanya.
Tampak foto Arifah dengan baju wisuda lengkap sedang swafoto bersama Salim. Pada takarir tertulis: “Selamat untuk calon istriku. Mari kita bersama menuju masa depan yang lebih baik.”
Entahlah, tiba-tiba Tama merasakan ada sesuatu yang retak di dalam dadanya.
Selesai.
Terima kasih sudah berkenan membaca 😊.
메타데이터
- post_id
- 0b635bbe9ecd
- slug
- tulus-0b635bbe9ecd
- url
- https://medium.com/lentera-literasi/tulus-0b635bbe9ecd
- canonical_url
- https://medium.com/lentera-literasi/tulus-0b635bbe9ecd
- author_url
- https://medium.com/@putrimelati0873
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-13 09:11:36