Menyusuri jejak Digital dalam Kehidupan Baduy Luar di Tengah Adaptasi, Peluang, dan Tantangan…
Oleh Nailah Nursyifa

Sumber : Dokumentasi Pribadi
Menyusuri jejak Digital dalam Kehidupan Baduy Luar di Tengah Adaptasi, Peluang, dan Tantangan Budaya
Oleh Nailah Nursyifa
Pada suatu sore di sebuah desa terpencil di kaki pegunungan Banten, muncul pemandangan baru yang cukup kontras. Di antara ladang padi dan rumah rumah panggung yang berjejer, seorang remaja Baduy Luar duduk di bale bambu, menatap layar ponsel yang menyala. Di balik keheningan hutan dan jalur tanah yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur digitalisasi ikut hadir dalam kehidupan adat masyarakat Baduy Luar. Ponsel yang dimiliki bukan hanya sekedar jembatan komunikasi, Bagi sebagian masyarakat Baduy, ponsel kini menyatu pada hidup mereka untuk bekerja, belajar, dan terhubung pada pasar yang lebih luas menjangkau banyak peluang baru bagi mereka. Namun dari banyaknya peluang yang mereka peroleh memunculkan dinamika adaptasi budaya baru dan ditakutinya terjadi pergeseran nilai adat istiadat.
Adanya perubahan yang perlahan masuk ke kehidupan masyarakat Baduy Luar menunjukan bahwa digitalisasi tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga mendorong mereka berinteraksi lebih intens dengan dunia luar. Banyak orang yang mengenal Baduy Luar hanya dari gambaran umum tanpa benar benar memahami kehidupan mereka secara mendalam. Untuk menilai bagaimana digitalisasi memengaruhi pola sosial, ekonomi, dan dinamika masyarakat Baduy Luar, Kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan. Siapa sebenarnya masyarakat Baduy Luar?
Menyusuri Identitas Baduy Luar
Masyarakat Baduy merupakan masyarakat adat etnis Sunda yang, letaknya berada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masyarakat Baduy menjalani kehidupan dengan mengasingkan diri dari dunia luar dan terisolasi sesuai dengan aturan adat mereka. Masyarakat Baduy juga menjunjung tinggi tradisi kepu’unan sebagai pedoman utama dan meyakini ajaran Sunda Wiwitan sebagai dasar spiritual kehidupan sehari hari (Muhibah & Rohimah, 2023). Mang Emen, salah satu masyarakat Baduy Luar memberikan pernyataan bahwa menurut cerita orang tua dulu, Masyarakat Baduy merupakan satu kesatuan dan tidak terpecah. Namun, setelah dibentuk rukun buyut ‘Pantang ulah pamali’ sebuah aturan yang melarang melakukan hal yang dianggap tabu dan diyakini akan membawa malapetaka jika dilakukan terbentuklah struktur sosial baru yang ditandai dengan adanya Pu’un (kepala adat tertinggi) dan tujuh Jaro (kepala dusun). Dari sinilah masyarakat Baduy terbagi menjadi tiga bagian yaitu Tangtu (Baduy Dalam), Panamping (Baduy Luar), dan Dangka (Masyarakat Baduy Luar yang tinggal di luar wilayah Kanekes) (Emen, komunikasi pribadi, 9 Juni 2024).
Masyarakat Baduy Luar atau Panamping, merupakan kelompok yang memutuskan keluar dari Baduy Dalam. Mereka keluar dari Baduy Dalam karena beberapa alasan seperti melanggar rukun buyut ‘Pantang ulah pamali’, menikah dengan orang Baduy Luar, atau keluar secara sukarela. Masyarakat Baduy Luar memiliki ciri khas yang terlihat dari busana yang didominasi warna biru dan hitam juga keterbukaannya terhadap teknologi modern dan penerimaan akses internet (Wahyudin, 2023).
Adaptasi Digital dan Pengaruhnya terhadap Sosial Ekonomi Baduy Luar
Masyarakat Baduy Luar mulai aktif menggunakan telepon genggam sekitar tahun 2011, saat teknologi mulai masuk ke wilayah mereka karena adanya kunjungan wisatawan, hubungan dagang, dan kebutuhan komunikasi yang semakin besar. Mereka juga sudah menggunakan media sosial seperti WhatsApp, FaceBook, Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya (Triko dkk., 2022). Karena hal tersebut penggunaan telepon genggam akhirnya berkembang dari hanya alat untuk berkomunikasi menjadi sarana untuk mengakses informasi, hiburan, dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Baduy Luar.
Penggunaan media sosial membuka peluang baru bagi masyarakat Baduy, khususnya Baduy Luar untuk berinteraksi secara lebih luas dengan dunia luar. Melalui media sosial mereka dapat membangun ruang komunikasi yang sebelumnya tidak tersedia, sekaligus memperkenalkan budaya Baduy untuk merepresentasikan identitas mereka di ranah maya. Hal ini tidak hanya berdampak pada cara mereka berkomunikasi, tetapi juga merubah tatanan ekonomi masyarakat Baduy Luar.
Menurut Khomsan dan Wigna pada awalnya pekerjaan di sektor pertanian mendominasi masyarakat Baduy (Wijayanti, t.t.). Namun, perkembangan zaman mendorong adanya pergeseran ekonomi. Masyarakat Baduy mulai beralih ke kegiatan perdagangan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memanfaatkan peluang baru. Pada masyarakat Baduy Luar sendiri, strategi perdagangannya dengan memanfaatkan teras di depan rumahnya untuk berjualan hasil kebun, madu, gula aren, dan kerajinan tangan mereka kepada para wisatawan yang berkunjung (Amini dkk., 2018).
Seiring adanya digitalisasi ekonomi masyarakat Baduy Luar mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Mang Emen menjelaskan bahwa pada awalnya ia tidak mempunyai pekerjaan, namun setelah belajar menguasai telepon genggam peluang ekonomi mulai terbuka luas. Ia aktif menjual dan memasarkan dagangannya melalui platform daring dan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan ketika ia hanya berjualan di depan teras rumahnya. Selain itu ia juga mendapat sumber penghasilan baru sebagai pemandu wisatawan yang datang ke Baduy (Emen, komunikasi pribadi, 9 Juni 2024). Penggunaan teknologi dan digitalisasi tidak hanya memperluas jejaring pasar nya tetapi juga memperkaya aktivitas ekonomi setempat.
Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Baduy Luar tidak mengalami digitalisasi secara instan. Mereka melalui proses adaptasi yang panjang dan bertahap. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal. Kondisi internalnya adalah kebutuhan hidup untuk meraih banyak peluang baru dan kelancaran komunikasi. Serta kondisi eksternalnya adalah adanya kemajuan pada teknologi dan akses yang lebih luas.
Bagaimana masyarakat Baduy Luar beradaptasi juga dapat dijelaskan dalam pola AGIL melalui pendekatan struktural fungsionalisme yang di kembangkan oleh Talcott Parsons. Menurut Parsons setiap peradaban terdiri atas berbagai sistem yang saling terhubung. Sistem ini memiliki komponen peran yang saling timbal balik satu sama lain. Ia menyebutkan empat subsistem yaitu Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency (Parsons, 1991). Keempat subsistem ini menjadi gambaran untuk membaca dinamika digitalisasi pada masyarakat Baduy Luar.
Dalam kontek adaptasi (A) masyarakat Baduy luar menyesuaikan diri terhadap adanya perkembangan teknologi digital yang masuk ke wilayah mereka. Mereka belajar mengoperasikan telepon genggam, memanfaatkan media sosial, dan mengelola peluang ekonomi yang muncul. Proses adaptasi ini berjalan seiringan dengan tujuan yang ingin mereka capai dari adaptasi tersebut (G). Mereka ingin meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Dengan kata lain, perkembangan digital memberi mereka ruang baru untuk mengembangkan usaha dan memperbaiki kondisi hidup.
Pada saat yang sama, masyarakat Baduy Luar berusaha mempertahankan integrasi sosial (I) dengan tetap menjaga nilai adat. Mereka menyeimbangkan penggunaan media digital dengan ketaatan pada aturan adat yang diwariskan leluhur. Sarti, salah satu figur publik dari Baduy Luar, menjelaskan bahwa meskipun pemuka adat memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk mengakses teknologi, penggunaan media sosial tetap berada dalam pengawasan. Para pemuka adat memantau aktivitas digital agar tidak melanggar ketentuan adat dan tidak menggerus identitas budaya Baduy Luar. Menurut Sarti, pengawasan tersebut bukan merupakan bentuk pembatasan, tetapi cara untuk memastikan bahwa perubahan digital tetap berjalan selaras dengan nilai budaya dan adat istiadat yang mereka jaga (Sarti, komunikasi pribadi, 8 Juni 2024).
Upaya mempertahankan nilai adat ini menunjukkan bagaimana masyarakat Baduy Luar menjalankan fungsi pemeliharaan pola (L), yaitu menjaga nilai, norma, dan identitas budaya di tengah perubahan. Dengan demikian, pola AGIL menunjukkan bahwa adaptasi digital masyarakat Baduy Luar bukan sekadar menerima teknologi, tetapi juga mengolahnya secara selektif agar tetap sejalan dengan tujuan ekonomi, kebutuhan integrasi sosial, serta pelestarian nilai-nilai adat yang menjadi dasar kehidupan mereka.
Namun menurut Turner, pendekatan dari pola AGIL tidak lepas dari kritik. Sejumlah ahli menilai bahwa pendekatan struktural fungsionalisme terlalu menekankan stabilitas dan keteraturan sehingga kerap mengabaikan konflik, ketidaksetaraan, dan potensi ketegangan sosial yang dapat muncul dari perubahan. (Tirtayasa, 2024)
Potensi Dampak Negatif Digitalisasi Media Sosial Pada Masyarakat Baduy
Penerimaan teknologi dan digitalisasi di kalangan masyarakat adat seperti Baduy Luar tentu saja membuka berbagai peluang. Namun, hal ini dapat juga memunculkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Menurut Febriansyah (2024), Dampak dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dapat menyebabkan pergeseran nilai budaya pada masyarakat, terutama pada generasi muda. Jika masyarakat adat terlalu terbuka dengan budaya luar tanpa pengendalian. Digitalisasi dapat memicu adanya komersialisasi budaya. Nilai nilai adat dan tradisi mereka dilihat sebagai komoditas untuk menarik perhatian luar sehingga makna spiritual dan kultural adat dapat terkikis (Fitria & Supriono, 2024).
Selain itu, Tidak semua masyarakat Baduy Luar memiliki akses keterampilan atau literasi digital secara merata. Hal ini dapat menimbulkan ada kesenjangan sosial dan digital divide antara masyarakat yang mampu mengikuti arus digitalisasi dan mereka yang tetap memilih menjaga tradisi ataupun yang aksesnya masih terbatas. Di samping itu, penipuan berbasis online, penyebaran informasi palsu, dan kelemahan literasi pada penduduk rural juga menjadi potensi negatif dari adanya digitalisasi (Sari & Diana, 2024). Adanya potensi ketimpangan ini dapat memperburuk marginalisasi kelompok tertentu pada masyarakat adat.Mereka yang tidak mampu mengakses dan memanfaatkan digitalisasi dapat terpinggirkan, baik secara ekonomi maupun sosial.
Digitalisasi telah membuka peluang baru bagi masyarakat Baduy Luar. Penggunaan Telepon genggam dan media sosial maupun platform daring memperluas akses ekonomi serta meningkatkan interaksi sosial masyarakat sekitar. Adaptasi digital menunjukan kemampuan masyarakat Baduy Luar menyeimbangkan kebutuhan modern dengan ketaatan terhadap nilai adat dan aturan yang telah diwariskan turun temurun. Di sisi lain, digitalisasi menghadirkan potensi ancaman yang cukup serius. Perubahan pola interaksi dan konflik dapat muncul jika digitalisasi tidak dikelola dengan baik. Maka dari itu, diperlukan adanya pengawasan adat, literasi digital yang memadai, serta kesadaran budaya menjadi hal yang krusial agar masyarakat baduy luar dapat memanfaatkan teknologi tanpa harus kehilangan nilai dan identitas budaya mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Amini, N. M., Budiaman, & H, N. (2018). INTERAKSI SOSIAL PEREMPUAN PEKERJA BADUY.
Emen. (2024, Juni 9). Wawancara dengan Mang Emen salah seorang masyarakat Baduy Luar [Komunikasi pribadi].
Febriansyah, R. (2024). DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI TERHADAP NILAI-NILAI BUDAYA. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2).
Fitria, N., & Supriono, S. (2024). Dampak Teknologi Dan Komunikasi Terhadap Pelestarian Dan Budaya Lokal. At-Tadabbur : Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, Vol 14. https://ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/article/view/937
Muhibah, S., & Rohimah, R. B. (2023). Mengenal Karakteristik Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar.
Parsons, T. (1991). The social system (2nd ed). Taylor and Francis.
Sari, J. A., & Diana, B. A. (2024). Dampak Transformasi Digitalisasi terhadap Perubahan Perilaku Masyarakat Pedesaan. Jurnal Pemerintahan dan Politik, 9(2), 88–96. https://doi.org/10.36982/jpg.v9i2.3896
Sarti. (2024, Juni 8). Transkrip wawancara dengan Sarti [Komunikasi pribadi].
Tirtayasa, H. (2024, Juli 25). Konservasi Kekuasaan Perspektif Teori AGIL Talcott Parsons. https://radarhukum.id/2024/07/25/konservasi-kekuasaan-perspektif-teori-agil-talcott-parsons/#:~:text=AGIL%20adalah%20akronim%20dari%20Adaptation,bertahan%20dan%20berfungsi%20dengan%20baik.
Triko, G., Hapsari, D. R., & Matindas, K. (2022). Digital Media information Literacy on Custom Community in The Internet of Things (IoT) era: Case Study of Outer Baduy Custom in Kanekes Village, Leuwidamar, Lebak Regency, Banten Province. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 20(02), 125–139. https://doi.org/10.46937/20202241086
Wahyudin, D. (2023, Agustus 19). Agustusan di Baduy Luar. Humas UPI. https://berita.upi.edu/agustusan-di-baduy-luar/
Wijayanti, P. (t.t.). POLA PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN SUKU BADUY DALAM MENGHADAPI LINGKUNGAN YANG SEMAKIN MODERN.
메타데이터
- post_id
- 0b67acf21e8a
- slug
- menyusuri-jejak-digital-dalam-kehidupan-baduy-luar-di-tengah-adaptasi-peluang-dan-tantangan-0b67acf21e8a
- url
- https://medium.com/@notreallynai/menyusuri-jejak-digital-dalam-kehidupan-baduy-luar-di-tengah-adaptasi-peluang-dan-tantangan-0b67acf21e8a
- canonical_url
- https://medium.com/@notreallynai/menyusuri-jejak-digital-dalam-kehidupan-baduy-luar-di-tengah-adaptasi-peluang-dan-tantangan-0b67acf21e8a
- author_url
- https://medium.com/@notreallynai
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 17:31:34