Rumah Ini Terlalu Sunyi
Tentang kerinduan yang belum selesai, dan belajar duduk bersamanya
Rumah Ini Terlalu Sunyi
Tentang kerinduan yang belum selesai, dan belajar duduk bersamanya

Photo by Rowen Smith on Unsplash
Di usia senja ini, hal yang paling saya rindukan bukan masa muda, bukan karir, bukan tubuh yang tidak pernah pegal di pagi hari.
Yang paling saya rindukan adalah teriakan anak-anak.
Bukan tangisan. Bukan keluhan. Teriakan — teriakan yang dulu sering membuat saya minta mereka untuk lebih pelan, tolong, Bapak lagi capek. Teriakan yang tumpah dari ruang tengah ke dapur, dari kamar ke teras, yang tidak pernah benar-benar berhenti sampai malam dan lampu dimatikan. Sekarang rumah ini sunyi. Dan sunyi yang ini rasanya berbeda dari sunyi yang dulu sesekali saya impikan.
Kita memang sering percaya bahwa hidup punya semacam jadwal resmi. Lulus → kerja → menikah → anak → cucu → selesai. Jadwal itu tidak tertulis di mana-mana, tapi entah bagaimana semua orang seperti tahu isinya — dan tidak segan mengingatkan kalau kamu meleset.
Saya tidak sepenuhnya bebas dari cara pikir itu. Sampai sekarang pun tidak.
Anak-anak saya belum menikah. Semuanya. Dan ada momen-momen tertentu — biasanya di arisan, atau ketika teman lama bertanya dengan nada yang terlalu ramah — di mana saya merasakan sesuatu yang tidak enak untuk diakui: campuran antara khawatir, sedikit malu, dan iri yang halus kepada mereka yang sudah menimang cucu.
Saya tahu iri itu tidak adil. Tapi ia tetap datang.
Teman-teman sebaya sudah banyak yang bercerita tentang cucu. Wajah mereka berubah ketika bercerita — lebih hidup, lebih ringan. Katanya pagi-pagi sudah dibangunkan rengekan, sore hari lantai penuh remah biskuit, malam ada yang tidak mau tidur kalau tidak dipeluk. Saya mendengarkan, mengangguk, ikut tertawa.
Di dalam, saya sedang mengingat teriakan anak-anak saya dulu.
Bukan untuk menyesal. Tapi karena tiba-tiba saya sadar: waktu itu saya tidak selalu hadir sepenuhnya. Saya ada di ruangan yang sama, tapi pikiran sering sudah di tempat lain — pekerjaan, tagihan, hal-hal yang sekarang bahkan sudah saya lupa apa. Kekacauan itu dulu terasa seperti beban. Sekarang saya tahu ia adalah tanda bahwa rumah sedang hidup.
Rumah yang berantakan adalah rumah yang dihuni sungguh-sungguh.
Saya tidak ingin tulisan ini menjadi nasihat. Saya tidak sedang berkata bahwa anak-anak harus buru-buru menikah, atau bahwa kerinduan saya adalah beban yang harus mereka pikul. Mereka punya dunia yang berbeda dari zaman saya dulu — lebih rumit di beberapa hal, lebih terbuka di hal lain. Mereka sedang berjalan, dan saya melihatnya.
Tapi jujur: ada bagian kecil dari diri saya yang belum berdamai sepenuhnya dengan keadaan ini. Dan mungkin itu tidak apa-apa. Mungkin tidak semua kerinduan harus diselesaikan — sebagian cukup diakui, lalu ditaruh dengan hati-hati di suatu sudut, dan ditemani.
Hidup tidak punya deadline kosmik. Saya percaya itu. Tapi percaya sesuatu secara intelektual dan merasakannya sampai ke tulang adalah dua hal yang berbeda, dan jarak antara keduanya kadang terasa jauh di malam-malam yang terlalu sunyi.
Yang saya pelajari bukan cara menghilangkan kerinduan itu. Melainkan cara duduk bersamanya tanpa panik. Cara membedakan mana yang memang perlu dikejar, dan mana yang cukup ditunggu dengan sabar — bukan karena pasrah, tapi karena percaya bahwa waktu masih bergerak, dan pergerakan itu tidak selalu kelihatan dari sini.
Suatu hari nanti, mungkin rumah ini akan ramai lagi.
Dan kalau hari itu tiba, saya tidak akan minta siapa pun untuk lebih pelan.
메타데이터
- post_id
- 0b70f9cbebfc
- slug
- rumah-ini-terlalu-sunyi-0b70f9cbebfc
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/rumah-ini-terlalu-sunyi-0b70f9cbebfc
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/rumah-ini-terlalu-sunyi-0b70f9cbebfc
- author_url
- https://medium.com/@garinpasila
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 09:20:14