KENAIKAN AIR LAUT DI TUVALU SEBAGAI KRISIS IKLIM: MENGAPA GLOBAL SOUTH SERINGKALI MENJADI KORBAN…
Ketimpangan Iklim Antara Global South dan Global North
KENAIKAN AIR LAUT DI TUVALU SEBAGAI KRISIS IKLIM: MENGAPA GLOBAL SOUTH SERINGKALI MENJADI KORBAN KRISIS IKLIM

PENDAHULUAN
Perubahan iklim saat ini telah menjadi ancaman serius bagi negara di dunia, dalam kasus perubahan iklim ini lebih di rentang kepada negara-negara di kepulauan, salah satunya adalah negara-negara kepulauan kecil seperti tuvalu. Perubahan iklim tidak hanya mengancam ekosistem, melainkan keberlangsungan hidup manusia (CNN, 2025). Negara-negara yang berada di Kawasan samudra pasifik memiliki tingkat kerentangan yang cukup tinggi terhadap dampak perubahan iklim, terutama kenaikan permukaan air laut yang dapat menyebabkan hilanya wilayah fisik negara Tuvalu(Kenaikan & Air, 2026) .
Kenaikan permukaan air di Tuvalu bukan hanya sekedar perkiraan atau prediksi untuk masa yang akan datang, tetapi merupakan kondisi nyata yang telah berlangsung saat ini. Dari kasus yang di hadapi oleh pemerintah Tuvalu, maka perubahan iklim tidak hanya dapat dikatan sebagai masalah lingkungan saja, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi suatu negara(Publicuho et al., 2025) . Bagi Tuvalu, kenaikan permukaan air laut ini menjadi urgensi yang harus di tangangi secepat mungkin, karna ini akan berdampak pada keamanan warganya serta kehilangan wilayah fisiknya.
Dalam konteks global, kenaikan air laut di Tuvalu menunjukkan bahwa krisis iklim justru menimpa negara-negara kecil. Namun kemudian negara kecil yang rentan terhadap perubahan iklim memiliki suara lemah dakam forum internasional di bandingkan negara maju, sehingga negara kecil seperti Tuvalu sering kali kurang mendapat perhatian meskipun mereka sedang mengalami kenaikan permukaan air laut. Dalam situasi ini sudah memperlihatkan bahwa ketimpngan masih terjadi antara global south dan global north.
PEMBAHASAN Perubahan iklim merupakan tantangan global yang berdampak signifikan terhadap negara-negara kepulauan kecil. Perubahan iklim di tuvalu menyebabkan kenaikan permukaan air laut sehingga mengancam kelangsungan hidup di negara tuvalu, yang kemudian mengharuskan warga tuvalu untuk segara bermigrasi karna memicu kehilangan tanah, mata pencaharian, serta mengakibatkan krisis air bersih akibat meningkatnya air asing (Admin Jubi, 2025). Beberapa dekade terakir pemerintah Tuvalu menyadari urgensi perubahan iklim in, tetapi pemerintah Tuvalu masih mengalami beberapa tantangan untuk mengatasi hal ini, salah satu tantangan yang di hadapi yaitu keterbatasan kapasitas pemerintah terutama sumber daya ekonomi.
Dari laporan United Nations Development Programme (UNDP), Di negara kepulauan Pasifik, Tuvalu, permukaan laut telah perlahan-lahan naik selama bertahun-tahun. Pada tahun 2050, diperkirakan separuh ibu kota, Fogafale, akan terendam air pasang. Dengan perubahan iklim yang menimbulkan risiko terhadap infrastruktur, ketahanan pangan, dan pasokan energi, 95 persen lahan diproyeksikan akan terendam oleh air pasang rutin pada tahun 2100 jika tidak ada tindakan yang diambil (UNDP, 2023) .
Ancaman Tenggelamnya Tuvalu tentu tidak bisa dianggap sepele, berdasarkan hukum laut, salah satu syarat sebuah negara diakui dunia yaitu berada di atas tanah kering. Pemerintah tuvalu harus segera mengambil tindakan tegas agar keberadaan negara tetap diakui(CNN, 2024). Tuvalu menyatakan sedang berupaya mempertahankan zona maritim ekonomi dan pengakuan sebagai sebuah negara jika kenaikan permukaan laut mengakhiri negara tersebut (Sidik, penerjemah Jafar M, n.d.). Namun jika di analisis lebih jauh, mengapa kemudian isu di Tuvalu ini kurang di dengar di forum internasional, padahal negara kecil lebih sedikit menghasilkan emisi tetapi mengapa kemudian justru paling terdampak krisis iklim?.
Negara-negara yang menyumbang gas rumah kaca tertinggi justru minim terdampak pada perubahan iklim dan biasanya negara penyumbang emisi terbanyak yaitu negara-negara global north, sedangkan negara-negara yang menyumbang sedikit emisi justru paling rentang pada krisis iklim dan biasanya yang terdampak adalah negara-negara global south. Banyak negara secara nyata memanfaatkan atau menikmati keuntungan ini, namun di balik semua itu justru menyebabkan negara lain menanggung beban akibat perubahan iklim (Thamrin, 2022).
Ketidaksetaraan akibat perubahan iklim tersebar luas di seluruh dunia, dan outputnya pasti berkaitan dengan keuntungan ekonomi, di beberapa negara global north, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, berada dalam posisi yang menguntungkan karena mencapapai pertumbuhan ekonomi melalui penggunaan bahan bakar fosil dengan sedikit konsekuensi dari perubahan iklim yang di hasilkan, sementara negara lain, sebagaian besar di negara oceania, termasuk Tuvalu yang mengalami pertumbughan ekonomi yang rendah dan dampak perubahan iklim yang parah dan sangat negatif.
Pihak-pihak yang di untungkan dari ketidakadilan iklim ini memiliki sedikit insentif untuk secara signifikan mengurangi atau mengehentikan emisi gas rumah kaca mereka, meskipun banyak isu seputar kesetaraan iklim sudah di kenal luas, tetapi belum ada yang betul-betul pengimplementasian menangangi hal ini. Untuk itu memiliki konsekuensi serius terhadap kemampuan kita untuk memperlambat laju perubahan iklim, dan mengurangi implikasi kesejahteraan bagi negara-negara yang terpaksa menanggung beban tersebut (Althor et al., 2016) .
Meskipun isu kehilangan dan kerusakan telah dibahas selama lebih dari 30 tahun , isu ini dengan cepat muncul sebagai salah satu isu paling penting dalam perundingan iklim PBB. Pada Sidang Umum PBB tahun ini, Kepala PBB António Guterres menyuarakan kekahwatiran tentang kerugian dan kerusakan, yang menggambarkannya sebagai keadilan iklim, sekelompok negara-negara berkembang menegaskan kepada negara-negara maju untuk berkomitmen memberikan dana untuk kerugian dan kerusakan. Namun, seruan ini menghadapi penentangan dari negara-negara dengan ekonomi besar seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, dan pada akhirnya, ditolak (Daisy Dunne , Josh Gabbatiss , Aruna Chandrasekhar, n.d.).
Dari sudut pandang pribadi saya, Tuvalu sebagi salah satu negara yang terdampak atau korban ketidakadilan perubahan iklim, padahal mereka adalah negara kecil yang paling sedikit menimbulkan emisi, tetapi mengapa kemudian negara ini yang paling terdampak, sedangkan negara yang penyumbang emisi terbanyak justru minim terkena dampaknya. Menurut saya ini sangat tidak adil karena negara besar seperti Amerika Serikat adalah pengahasil emisi karbon terbesar dunia, tapi mereka tidak akan tenggelam, mereka masih eksis hingga saat ini, sementara tuvalu, mungkin tahun 2050 saja sudah tidak bisa di tinggali karena 95% Funafuti akan terendam. Ini bisa di simpulkan bahwa global south dan global north masih mengalami kesenjangan di sengala bidang, tidak hanya dalam kasus perubahan iklim.
PENUTUP Penelitian ini menyimpulkan bahwa kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim merupakan ancaman eksistensial yang secara langsung memengaruhi keberlanjutan negara Tuvalu, baik dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, serata kedaulatan negara Tuvalu. Dampak perubahan iklim yang paling parah sering kali dialami oleh masyarakat di negara-negara yang paling miskin yang umumnya memiliki kontribusi terkecil terhadap Emisi global.
Salah bentuk kritik saya yaitu, Dalam kasus ini di mana kemudian peran negara-negara besar yang menyumbang emisi terbanyak seperti amerika? Padahal mereka seharunya berperan dalam menangani kasus di tuvalu seperti memberikan bantuan pendanaan, karena bagaimana pun akar masalahnya itu dari negara besar ini. Lalu di mana peran signifikan dari organisasi internasional seperti PBB? Mengapa seolah-olah tutup mata mengenai kasus di tuvalu, apakah karna tuvalu negara kecil sehingga suarnya kurang di dengar di forum internasional di bandingkan negara-negara besar?. Padahal mereka juga salah satu negara yang berdaulat mereka juga memiliki hak untuk hidup dan memiliki wilayah.
Penulis berharap, kasus kenaikan air di tuvalu agar segera di dengar di forum internasional dan segera di tangani, karna kasus ini sangat berbahaya bagi tuvalu karena terancam kehilangan wilayah fisiknya dan tentu saja akan berdampak pada warganya. Jadi saya harap kasus di tuvalu segera di atasi bahkan di jadikan prioritas utama untuk di atasi, jangan selalu memprioritaskan negara-negara industri yang jadi penyumbang emisi terbanyak yang memperoleh keuntungan ekonomi, sementera negara kecil seperti tuvalu harus menanggung dampak yang tidak mereka sebabkan. Oleh karena itu, kurangnya perhatian terhadap krisis yang di alami Tuvalu dapat di simpulkan bahwa sistem internasional masih cenderung mengutamakan kepentingan negara besar dibandingkan negara-negara kecil yang paling terdampak.
REFERENSI
Admin Jubi, A. Y. (2025). Isu Perubahan Iklim dan Migrasi di Tuvalu. Jubi. https://jubi.id/opini/2025/isu-perubahan-iklim-dan-migrasi-di-tuvalu/
Althor, G., Watson, J. E. M., & Fuller, R. A. (2016). Global mismatch between greenhouse gas emissions and the burden of climate change. Nature Publishing Group, 1–6. https://doi.org/10.1038/srep20281
CNN. (2024). Negara Kecil Ini Terencam Hilang Ditelan Samudra. CNN INDONESIA. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240927082533-113-1148899/negara-kevil sini
CNN. (2025). Naiknya permukaan air laut mengancam surga Pasifik ini. CNN INDONESIA. https://edition.cnn.com/interactive/2019/05/world/tuvalu-climate-change-cnnphotos/
Daisy Dunne , Josh Gabbatiss , Aruna Chandrasekhar, dan A. T. (n.d.). Haruskah negara-negara maju membayar “kerugian dan kerusakan” akibat perubahan iklim? CarbonBrief. https://interactive.carbonbrief.org/q-a-should-developed-nations-pay-for-loss-and-damage-from-climate-change/index.html
Kenaikan, M., & Air, P. (2026). Jurnal Transformasi Humaniora. 9(1), 24–36.
Publicuho, J., Shakira, A., Chintya, F., Perbawani, L., & Timur, J. (2025). UPAYA SEKURITISASI PERUBAHAN IKLIM MELALUI TUVALU COASTAL ADAPTATION PROJECT 2012-2024. 8(1), 591–612.
Sidik, penerjemah Jafar M, A. A. (n.d.). Mengenal Tuvalu, negeri terancam hilang ditelan samudera. ANTARANEWS. https://m.antaranews.com/amp/berita/3817026/mengenal-tuvalu-negeri-terancam-hilang-ditelan-samudera
Thamrin, M. Y. (2022). Paradoks Perubahan Iklim, Negara Produsen Sedikit Gas Rumah Kaca Justru Paling Menderita Bencana Perubahan Iklim. National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/133598940/paradoks-perubahan-iklim-negara-produsen-sedikit-gas-rumah-kaca-justru-paling-menderita-bencana-perubahan-iklim?page=2
UNDP. (2023). Catatan dari Tuvalu: Memimpin dalam beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut. United Nations Development Programme (UNDP). https://www.undp.org/blog/notes-tuvalu-leading-way-adapting-sea-level-rise
메타데이터
- post_id
- 0b9c53e7dcb1
- slug
- kenaikan-air-laut-di-tuvalu-sebagai-krisis-iklim-mengapa-global-south-seringkali-menjadi-korban-0b9c53e7dcb1
- url
- https://medium.com/@arfann006/kenaikan-air-laut-di-tuvalu-sebagai-krisis-iklim-mengapa-global-south-seringkali-menjadi-korban-0b9c53e7dcb1
- canonical_url
- https://medium.com/@arfann006/kenaikan-air-laut-di-tuvalu-sebagai-krisis-iklim-mengapa-global-south-seringkali-menjadi-korban-0b9c53e7dcb1
- author_url
- https://medium.com/@arfann006
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 03:30:49