← Back to list

Cuitan warga pinggiran

Saya tumbuh dan besar di lingkungan yang rerata dihuni para pekerja kasar dan buruh.

Dito · 2026-06-12 14:48 · 1 claps · 1.3 min read
#life #social-justice #government #suburbs
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics 🔒 · Cybersecurity 🏛️ · Politics

Cuitan warga pinggiran

Saya tumbuh dan besar di lingkungan yang rerata dihuni para pekerja kasar dan buruh.

Saya tumbuh dan besar di pemukiman padat penduduk, di mana tembok kamar saya berhadapan langsung dengan tembok milik tetangga. Hanya ada got yang menjadi sekat. Tempat tumbuh dan berkembang kami berdempetan dengan pusat ibu kota; anggaplah saya seorang suburban.

Sedari kecil saya mempertanyakan orang-orang yang tinggal di kolong jembatan, di pinggiran aliran sungai, dan di depan kios kosong. Apakah mereka memang sengaja menganggap tempat-tempat tersebut sebagai rumah yang layak dihuni? Ataukah memang karena keterpaksaan?

Sebagai warga suburban, saya sudah terbiasa melihat jalan raya yang buruk rupa; jalan-jalan yang secara senyap turut merenggut nyawa, di luar gizi buruk dan kemiskinan yang tak berujung.

Saya terbiasa melihat baliho-baliho berisi janji palsu. Wajah-wajah sumringah berkopiah itu selalu tampak yakin bahwa mereka akan membawa perubahan.

Konon, mereka akan membawa perubahan. Setidaknya, itulah yang selalu mereka janjikan kepada kami.

Saya jengah melihat banner “Hati-hati, jalan rusak”. Alih-alih diperbaiki, yang dilakukan hanyalah tindakan PREVENTIF demi menekan angka kecelakaan. Semoga berhasil ya, Pak/Bu. Saya doakan.

Saya sudah berdamai dengan leletnya pembuatan kartu tanda penduduk, yang birokrasinya terasa lebih rumit daripada memecahkan teka-teki silang milik Cak Lontong.

Namun, kami sebagai masyarakat pinggiran ibu kota, entah kenapa selalu melumrahkan hal-hal janggal seperti ini. Kami masih bisa tertawa, terlepas upah minimum yang dipaksa menghidupi empat kepala.

Terlepas dari itu semua, saya pribadi memiliki perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan kepada negara ini. Saya selalu menangis ketika lagu Tanah Air dan Indonesia Pusaka dikumandangkan dalam pertandingan tim nasional.

Ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Entah karena dogma yang ditanamkan sedari duduk di bangku sekolah dasar, atau memang karena saya benar-benar mencintai tanah air.


메타데이터
post_id
0bb0f4b408f2
slug
cuitan-warga-pinggiran-0bb0f4b408f2
url
https://medium.com/@dittolak/cuitan-warga-pinggiran-0bb0f4b408f2
canonical_url
https://medium.com/@dittolak/cuitan-warga-pinggiran-0bb0f4b408f2
author_url
https://medium.com/@dittolak
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01