← Back to list

Di Tengah Krisis Ekonomi, Semoga Kita tak Mati di Bantaran Kali.

Genre Sejarah di Negeri ini Sejak Awal adalah Tragedi. Perihal Hidup dalam Ketakutan atau Melawan dan Mati oleh Laras Senapan.

Amelia Azira · 2026-05-18 14:59 · 0 claps · 2.9 min read
#humanity #rakyat
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval ⚖️ · Law & Justice

Di Tengah Krisis Ekonomi, Semoga Kita tak Mati di Bantaran Kali.

Genre Sejarah di Negeri ini Sejak Awal adalah Tragedi. Perihal Hidup dalam Ketakutan atau Melawan dan Mati oleh Laras Senapan.

Ironi, penggambaran serupa kerap menyambangi media massa belakangan ini. Nilai tukar rupiah yang semula tak pula dapat dikatakan cukup baik, terjun bebas menyentuh telapak kaki malaikat pencabut nyawa. 17 ribu lebih enam ratus rupiah untuk satu dolar adalah sejarah baru keterpurukan ekonomi di negeri yang kaya ini. (Kaya akan pemimpin yang buruk dalam mengambil dan membentuk kebijakan).

Di berbagai sudut yang kerap terlupa, ada banyak yang perlu dikaji dengan seksama. Barangkali sebagian besar dari warga negara telah pula menjadi makhluk-makhluk pesismistik yang tak sanggup menampung kebodohan serta rasa tamak tak berkesudahan dari para penguasa di negeri ini.

Bekerja agar menjadi kaya adalah angan-angan semata, yang kaya tetap pemilik dapur program makan-makan gratis yang kerap salah menghitung gizi, bisa mereka meraup keuntungan 16 juta rupiah dalam sehari. Anggaran ratusan triliun (yang sebentar lagi menjadi ribuan triliun) dihamburkan untuk satu program ambisius dengan pemberlakuan efisiendi pada program-progam (lainnya yang dianggap serupa batu kerikil di dalam sepiring nasi).

Di bagian lain negeri ini ada antek-antek penjilat ludah yang senantiasa berpeluk mesra di bawah ketek pemimpinnya yang kerap mencibir pada gelandangan di sepanjang jalan menuju istana. Pidato-pidato kenegaraan dewasa ini, bukan lagi jadi rencah penenang bagi rakyat yang hampir kena panic attack, justru menjadi lelucon tak lucu yang tidak pula pantas diketawai, lebih pantas dicaci maki dan disumpah serapahi. Fenomena depresi berat menambah senarai panjang perihal kegagalan dan kalah telak. Jika kemudian dibiarkan menjadi luka menganga, dalam bulan-bulan selanjutnya barangkali negeri ini akan pailit dan bergelimang hutang. (Walaupun pada dasarnya hutang itu telah sejak lama menumpuk selayaknya gunung sampah di Bantar Gerbang).

Yang paling mengkhawatirkan pula adalah perihal “kebebasan” yang tak sepenuhnya bermakna bebas, sebagian yang mengutarakan suara protes dan opini oposisi dibelenggu pasal berlapis melalui Undang-Undang yang cacat materil, disusul kecacatan formil dan kesewenangan atas kuasa absolut.

“Power tends to corrupt, Absolute power corrupt absolutely.”

Negeri ini telah lama menjadi demikian, siapa saja yang memimpin tiada pernah sampai pada tujuan yang “dicita-citakan”, tiada pula yang benar-benar ideal apalagi jika bicara perihal sila kelima pancasila. “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Segala-galanya menjadi buram jika sudah berkaitan dengan:

  1. Eksploitasi sampai mati terhadap sumber daya alam;
  2. Program-program prioritas guna mencungkil celah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
  3. Kelompok tertentu, dan sejenisnya (dibiarkan melumat proyek strategis nasional tanpa kajian ilmiah yang logis);
  4. Dan lainnya;
  5. Dan sejenisnya, (kalau disebut semua, durasinya bisa sepanjang film dokumenter “Jagal” dan “Senyap”).

Ketiadaan kesadaran atas krisis adalah miris yang begitu mendarah daging di Negeri ini. Aktivis mati, atau hangus disiram air keras menjadi fenomena lumrah yang pada dasarnya tidak patut untuk dimaklumi.

Hukum tumbul ke atas, melambangkan keadilan yang bentuknya beragam. (selayaknya Ragunan dengan berbagai macam BINATANG). Bedanya, di masa yang penuh kekhawatiran, sang pembuat onar tetap wara-wiri sambil minum arak. (Soalnya tiap pidato isinya kaya lagi nyawit). Barangkali sebab dirinya pun punya korporasi raksasa yang mengeksploitasi lahan masyarakat adat untuk ditanami sawit. Atau barangkali sebab uangnya terlalu banyak dan tak tahu dimana harus ditempatkan. (Jadi digunakan untuk liburan ke Paris naik jet pribadi dan merayakan ulang tahun di hotel bintang lima).

Ironis dalam ironi adalah kebenaran paling mutlak untuk menggambarkan kondisi di negeri yang kaya ini. (Kaya akan pejabat korup). Jika kemudian dalam salah satu pidatonya ia sebutkan bahwa “Rakyat di desa tidak pakai dolar, tetap hidup”.

Pada kenyataan rakyat tetap hidup, namun dengan beban berat di hatinya, dengan peluh yang dibayar tak sepadan dengan kerja kerasnya, dengan kemalangan yang disebabkan keegoisan dan ketamakan berkali lipat dari segerombolan penguasa tamak.

Suara-suara yang letih telah hampir menjadi muak, namun dalam upaya yang seakan pesimistik, untuk pula negeri tercinta, rakyat mana yang tidak menaruh kecewa? (pendukungnya barangkali sudah dibayar cukup dengan makan bergizi gratis) namun yang mendambakan program yang berpihak sepenuhnya pada peningkatan kesejahteran yang nyata, tanpa merusak alam untuk eksploitasi apalagi program strategis nasional yang begitu ambisius? siapa pula yang tidak ingin rakyat sejahtera? tiada yang tahu, barangkali rakyat diinginkan untuk tetap dungu agar senantiasa dapat didungu-dungui.

Namun, nilai tukar rupiah itu pada dasarnya tetap diharapkan untuk menjadi stabil, jika bisa semoga pula bisa turun menyentuh angka yang tidak lagi menghkawatirkan, sebab jika krisis ekonomi telah berlaku, semua orang akan menjadi bajingan kelaparan yang butuh makan untuk mengganjal rasa menusuk di perutnya. Jika pun benar krisis-krisis itu singgah menghampiri negeri ini. Semoga setiap manusia tetap memiliki rasa kemanusian di dalam hatinya.

18/5/2026


메타데이터
post_id
0bb7641a9e78
slug
di-tengah-krisis-ekonomi-semoga-kita-tak-mati-di-bantaran-kali-0bb7641a9e78
url
https://medium.com/@ameliaazira18/di-tengah-krisis-ekonomi-semoga-kita-tak-mati-di-bantaran-kali-0bb7641a9e78
canonical_url
https://medium.com/@ameliaazira18/di-tengah-krisis-ekonomi-semoga-kita-tak-mati-di-bantaran-kali-0bb7641a9e78
author_url
https://medium.com/@ameliaazira18
status
ok
fetched_at
2026-07-13 09:25:15