Utuh.
Utuh.

16 Agustus 2025 diatas kota Jakarta, Minggu malam menuju Senin pagi itu menjadi waktu yang paling nggak menyenangkan. Rasanya masih weekend, tapi pikiran sudah penuh dengan kerjaan.
Seperti karyawan lain, Senin pagi diisi dengan aktivitas siap-siap berangkat ngantor. Berangkat bersama manusia-manusia lain dengan tujuan yang sama, tapi ke tempat yang berbeda. Sampai akhirnya duduk di depan monitor, menatap to-do list harian yang menempel di bawah layar. Seolah sedang mencari dan mengumpulkan potongan-potongan kecil setiap harinya, untuk hidup yang lebih baik.
Potongan itu bisa berupa karier, ingin karir yang lebih tinggi, gaji yang lebih besar, pencapaian yang lebih megah. Atau potongan dalam hal yang lebih personal seperti mencari teman, pasangan, atau sekadar seseorang yang mau mengerti. Orang-orang selalu berlomba-lomba mengejar satu hal ke hal lain, tanpa henti. Dan ironisnya, ketika sudah mendapatkannya pun sering muncul pertanyaan baru: “Setelah ini apa lagi?”
Seperti wadah kosong, yang setiap harinya perlu kita diisi. Dan mungkin dari situlah pertanyaan berikutnya muncul: mau sampai kapan? Dan kapan kita bisa benar-benar merasa cukup?
Seharian pertanyaan itu terus berputar di kepala. Sampai malam, sehabis saya selesai night run. Pulang dengan kehausan, akhirnya saya minum segelas air dan rasa haus itu hilang. Tubuh saya merasa segar dan anehnya saya merasa utuh dan cukup dengan air yang saya minum. Tiba-tiba kepikiran dengan pertanyaan saya tadi, hmm mungkin hidup bisa saya pandang seperti meminum segelas air barusan.
Ternyata, utuh itu sederhana. Utuh dengan air yang saya minum, utuh dengan tawa ringan di tengah hari yang berat, atau utuh dengan percakapan singkat dengan orang-orang yang kita sayang, yang bikin kita merasa aman, ngerasa dilihat dan didengar. Ternyata Utuh bukan berarti sempurna. Ia justru lahir dari ketidaksempurnaan, dari retakan-retakan kecil yang akhirnya kita terima, ia lahir dari kompromi-kompromi yang kita buat, ia lahir dari kesadaran bahwa tidak semua hal harus lengkap untuk membuat kita merasa cukup.
Hmm lucu yaa, pertanyaan panjang yang seharian saya pikirkan itu akhirnya menemukan jawabannya sendiri di momen sederhana: segelas air putih setelah kehausan. Mungkin, utuh bisa sesederhana itu. Sekian.
메타데이터
- post_id
- 0bd35cbd6910
- slug
- utuh-0bd35cbd6910
- url
- https://medium.com/@zulfafalah18/utuh-0bd35cbd6910
- canonical_url
- https://medium.com/@zulfafalah18/utuh-0bd35cbd6910
- author_url
- https://medium.com/@zulfafalah18
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 04:42:08