← Back to list

Scapegoating Dalam Buku Penggalian Kuburan Di Wonosobo

Judul Buku : Penggalian Kuburan Massal di Wonosobo

Nova T. Utomo · 2026-05-12 08:18 · 0 claps · 5.7 min read
#kuburan #mass-graves #wonosobo #g30s #scapegoating
Open on Medium ↗

Scapegoating Dalam Buku Penggalian Kuburan Di Wonosobo

Sumber: dokumentasi pribadi

Sumber: dokumentasi pribadi

Judul Buku : Penggalian Kuburan Massal di Wonosobo

Penerbit : Pataba Blora Press

Penulis : Koesalah Soebagyo Toer

Jumlah Halaman : 102 halaman

Tahun Terbit : Cetakan pertama April 2026

ISBN : 978–602–5604–60–7

Penulis buku ini adalah Koesalah Soebagyo Toer yakni adik dari sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Beliau Adalah seorang akademisi yang pernah mendapatkan beasiswa saat presiden Soekarno di Moscow, Uni Soviet. Buku ini merupakan hasil dari laporan penelitian atas penggalian kuburan korban tragedi 1965/1966 G30 S di Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo. Kejadian tersebut dijelaskan secara lugas oleh penulis dari proses, dan dampak atas kejadian tragedi tersebut termasuk saat penggalian kuburan masal di hutan Situkup oleh Yayasan Pembunuhan Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP).

Buku ini berisi sembilan bagian yang terdiri atas; pengantar, pendahuluan, pembunuhan massal, rombongan Yogyakarta dihabisi di Wonosobo, anak dan bapak, YPKP dan SNB, sekitar penggalian, reaksi dan pemberitaan mengenai penggalian, peristiwa, kesimpulan dan lampiran.

YPKP DAN PEMANUSIAAN

Lembaga YPKP berdiri berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yakni, a) membantu Pemerintah RI dalam usaha ikut mencerdaskan kehidupan bangsa guna mewujudkan Masyarakat Pancasila seutuhnya. b) berusaha berdasarkan kemampuan yang ada dalam pengalaman Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat Pancasila secara murni dan konsekuen. Penggalian kuburan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 16–18 November 2000 diawali dengan keinginan Sri Muhayati anak dari Muhadi yang hilang setelah ditangkap pada tahun 1966. Keyakinan bahwa ayahnya dibunuh di Wonosobo pun berusaha dibuktikan melalui peristiwa penggalian kuburan massal tersebut. Menurut Sulami ketua YPKP penggalian kuburan tersebut semata-mata adalah untuk kemanusiaan.

YPKP didirikan oleh tujuh orang di anataranya: 1) Pramoedya Ananta Toer, 2) Hasan Raid, 3) Koesalah Soebagyo Toer, 4) Nyonya Sulami, 5) Nyonya Veronica Sumini Martono, 6) Nyonya Dr. Ribka Tjiptaning, dan 7) Suharno. Para pendiri YPKP menganggap bahwa pembunuhan terhadap jutaan rakyat Indonesia dalam kaitan aa yang dinamakan Gerakan Tiga Puluh September (G30S) tidak sesuai denga nisi dan makna Pancasila, deklarasi universal hak asasi manusia (HAM), hukum dan rasa keadilan di Indonesia serta ajaran agama.

Ketua YPKP Sulami menceritakan mengenai penangkapan-penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan atas orang-orang PKI atau yang dituduh PKI serta anggota organisasi-organisasi yang dianggap bernaung di bawah PKI seperti Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), Pemuda Rakyat (PR), dan Barisan Tani Indonesia (BTI) yang berkaitan dengan Gerakan 30 September (G30S). Penangkapan dilaksanakan dengan cara-cara yang bertentangan dengan hukum. Penyiksaan dilaksanakan dengan cara yang sadis di luar perikemanusiaan di beberapa daerah di Indonesia termasuk yang terjadi di Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.

PEMBERITAAN DAN DUKUNGAN ASING

Sudisman Adalah anggota Politbiro CC PKI, menurut pembelaannya di hadapan Mahmilub pada 21 Juli 1967, Adalah akibat perintah-perintah dikeluarkan oleh Jendral Nasution yang dapat ditafsirkan secara luas untuk membasmi kaum komunis hingga ke akar-akarnya. Hal ini juga diikuti oleh Letjend Suharto memerintahkan slagorde TNI-AD untuk terus membasmi golongan kontra revolusi G30S/PKI. Tidak hanya seruan secara langsung, kampanye mengenai Upaya tersebut terus dilakukan melalui pemberitaan di media massa. Seperti pada tanggal 3 Oktober 1965 surat kabar Angkatan Bersendjata mengumumkan “perbuatan biadab berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusiaan.” Hal sama pada 7 Oktober 1965: “Matanya dicongkel.” Oleh para kaum antikomunis.

Tentu saja upaya pembunuhan tersebut mendapat sponsor utama yakni negara Amerika Serikat, melalui telegram tanggal 29 Oktober 1965 yang dikirimkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Dean Rusk kepada Duta Besarnya di Jakarta Marshal Green yang berisi intruksi pengganyangan kepada orang PKI harus dilanjutkan, dan dipimpin oleh militer. Peralatan komunikasi pun kemudian dikirimkan beriringan untuk kepentingan itu melalui catatan sebuah telegram tanggal 30 Oktober 1965 untuk militer Indonesia. Awal November 1965 Jendral Sukendro mengajukan bantuan Kesehatan kepada perwakilan CIA di Bangkok, peralatan komunikasi, dan persenjataan ringan.

BENGIS DAN IMPLIKASINYA

Pembantaian di Wonosobo terjadi sekitar 3 Maret 1966 salah satu narapidana yang menjadi saksi atas eksekusi 21 orang tahanan politik (tapol) dari Yogyakarta adalah Kastawi (70) yang mendapat vonis 3,5 tahun penjara karena kasus penggarongan dan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wonosobo. Pada tanggal 3 Maret 1966 Kastawi dan tiganarapidana yang lain dibangunan oleh petugas LP, kemudian dibawa ke Kodim Wonosobo dan kemudian mereka diberengkatkan ke Hutan Situkup menggunakan truk. Sesampainya di sana Kastawi dan tiga narapidana yang lain diminta menggali lubang 2 X 2 X 2 meter. Pukul 07.00 pagi Kastawi dan tiga narapidana yang lain dikembalikan ke kodim untuk melaksanakan makan, kemudian menjemput 21 orang dari LP Wonosobo. 21 tahanan politik itu dipindahkan dari Yogyakarta pada 26 Februari 1966.

Pada pukul 08.00 rombongan dari Kodim Wonosobo tiba di hutan situkup, begitu sampai para tapol diminta untuk duduk berhadapan dan disuruh bernyanyi lagu “Genjer-Genjer” Pada pukul 09.00 dengan senjata laras Panjang, dua anggota kodim Wonosobo memberondong 21 tapol dengan garang. Jarak penembak dari korban hanya 0,5 meter. Delapan anggota kodim yang lain berjaga-jaga di sekitar Lokasi. Kastawi dan lainnya dibariskan di belakang penembak dan tidak boleh bergerak sedikitpun. Salah satu tahanan perempuan tidak meninggal (mempan) saat diberondong tembakan, bahkan badannya diklewang pun tidak meninggal justru senjata itu yang kemudian patah sebanyak empat kali. Selanjutnya tapol tersebut diikat dengan tambang dibagian perut lalu disungkurkan ke salah satu lubang dan kemudian ditimbun hidup-hidup. Pada akhirnya di atas dua lubang makam tersebut ditanami pohon kelapa oleh Kodim Wonosobo.

Berdasarkan cerita yang pernah Sri Muhayati dengar bahwa ayahnya Muhadi adalah salah satu orang yang dipindahkan ke Wonosobo yang sampai saat ini tidak terdengar kabarnya lagi. Dia dan rekan-rekan YPKP berusaha untuk membuktikan hal tersebut bahwa ayahnya dibunuh di sebuah hutan di dekat Wonosobo. Melalui YPKP Sri berupaya untuk mengungkap kuburan dari ayahnya dengan menguapayakan banyak hal demi keadilan terhadap keluarganya.

Upaya penggalian makam yang ada di Hutan Situkup itu telah mendapatkan ijin pada tanggal 7 November 2000 dari Bupati Wonosobo, Kapolres, Kodim, Camat Kaliwiro, dan Forum Perhutani PKPH Nagdisono Kedu Selatan. Dalam Upaya penggalian pada tanggal 16–18 November 2000 tim mengidentifikasi para korban dalam posisi saling tumpang tindih, bersilangan dan kondisinya tidak utuh. Terdapat 23 posisi kerangka/tulang belulang. Seluruh kerangka yang ditemukan oleh tim penggalian 26 kerangka. Dua kerangka terakhir yang ditemukan, kemudian dilarikan ke RS. Sardjito Yogyakarta untuk diautopsi.

Sumber: https://www.tribunal1965.org/en/mass-grave-pictures-protected/

Sumber: https://www.tribunal1965.org/en/mass-grave-pictures-protected/

Sumber: https://www.tribunal1965.org/en/mass-grave-pictures-protected/

Sumber: https://www.tribunal1965.org/en/mass-grave-pictures-protected/

Setahun berselang pasca penggalian tepatnya pada bulan 25 Maret 2001, kerangka korban pembunuhan rencananya akan dimakamkan di Kaloran Temanggung. Pemerintah Daerah setempat beserta Forum Ukhuwah Islamiyah Kaloran (FUIK) menolak adanya upayanya pemakaman kembali kerangka tapol yang dibunuh di Hutan Situkup tersebut. Bahkan satu hari sebelumnya terjadi aksi massa dengan melakukan pengerusakan di rumah keluarga korban pembunuhan.

Menurut Rene Girard seorang filsuf perancis modern yang mengugkapkan teori “kambing hitam”, bahwa tindakan pembunuhan, peniadaan manusia atau kelompok sosial tertentu yang dianggap bersalah menjadi hal wajar untuk menebus kesalahan atas apa yang sudah dilakukan kelompok sosial tersebut pada masa lalu. Bahkan masyarakat sipil pun menjadi bagian dari yang terpisahkan dari tindakan tersebut dalam rangka “mimesis desire” atau mengimitasi tindakan negara atas kelompok sosial terentu. Menurut Girard untuk melakukan pembunuhan/ pengorbanan tersebut agar duka masa lalu lekas usai agar kejadian tersebut tidak berulang selayaknya hewan yang perlu dikorbankan dalam sebuah ritus agama tertentu. Stigma dan cap yang diberikan untuk megasingkan mereka dengan musuh negara yang sesungguhnya yang layak ditangkap dan dibunuh.

Buku “Penggalian Kuburan Massal di Wonosobo” ini menyajikan kejadian kronologi kemanusiaan yang pernah mendera bangsa Indonesia pada masa lalu. Ditulis dengan gaya naratif-deskriptif yang lugas akan data. Perang dingin adalah benturan pemikiran dua kutub di dunia, pertarungan ideologi akhirnya membuat anak bangsa saling membunuh satu sama lainnya tercebur dalam pusaran dialektika itu. Buku ini berawal dari sebuah laporan mengenai penggalian kuburan massal di Hutan Situkup, Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo. Buku ditulis dengan kronologis atas catatan laporan dengan ditambahkan sumber rujukan baik dari media massa sezaman dan buku referensi yang menunjang dalam pembuatan laporan tersebut.

Hal yang perlu diperhatikan dari buku ini adalah jika pembaca pada awalnya tidak mengetahui konteks mengenai peristiwa ini tentu saja cukup kesulitan memahaminya. Karena peristiwa yang terjadi di Jakarta pada tahun 1965 tanggal 1 Oktober kurang begitu dijelaskan konteks sampai ke daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Untuk Anda yang mencari pengantar untuk melihat konteks ini dengan sarana media berbeda, dapat disaksikan sebuah film dokumenter besutan dari seorang wartawan lepas Lexy Rambadeta “Mass Grave” pada tahun 2002.

Semoga seluruh arwah yang dibunuh diterima amal dan ibadahnya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Alfatihah


메타데이터
post_id
0bd6d40fcde3
slug
scapegoating-dalam-buku-penggalian-kuburan-di-wonosobo-0bd6d40fcde3
url
https://medium.com/@penandamasa/scapegoating-dalam-buku-penggalian-kuburan-di-wonosobo-0bd6d40fcde3
canonical_url
https://medium.com/@penandamasa/scapegoating-dalam-buku-penggalian-kuburan-di-wonosobo-0bd6d40fcde3
author_url
https://medium.com/@penandamasa
status
ok
fetched_at
2026-07-10 17:18:11