Balada Sekolah Profesi
Pekan lalu saya bertemu dengan adik-adik di sekolah profesi. Mereka ini adalah calon psikolog. Setelah pendidikan di kelas, praktikum…
Balada Sekolah Profesi
Pekan lalu saya bertemu dengan adik-adik di sekolah profesi. Mereka ini adalah calon psikolog. Setelah pendidikan di kelas, praktikum, tibalah saatnya mereka untuk terjun dalam LP3U (Layanan Psikologi Profesi Psikolog Umum). Sedikit cerita, LP3U sebelumnya dikenal sebagai PKPP (Praktik Kerja Psikologi Profesi). Semenjak UU No 23 tahun 2022 mengenai penyelenggaraan pendidikan Psikologi terbit, lulusan S1 yang hendak menjadi Psikolog tidak lagi menempuh pendidikan Magister Psikologi Profesi yang memiliki fokus/bidang khusus, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, dan Psikologi Industri dan Organisasi. Lulusan S1 Psikologi melanjutkan pendidikan profesi untuk menjadi Psikolog Umum. Selanjutnya, bila hendak mendalami bidang tertentu maka terdapat pendidikan spesialis.
Adik-adik mahasiswa ini perlu menempuh program LP3U secara bergiliran dengan empat latar yang berbeda, yaitu latar kesehatan, pendidikan, industri dan organisasi, serta komunitas. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh adik-adik mahasiswa ini adalah adaptasi dari latar yang berbeda-beda. Setiap latar membutuhkan pendekatan yang berbeda. Sebagai contoh, adik-adik mahasiswa ketika berada di latar kesehatan sudah terbiasa menangani klien yang datang ke Puskesmas atas keinginan sendiri. Beda cerita ketika adik-adik mahasiswa melaksanakan praktik di latar pendidikan, klien bertemu dengan mahasiswa profesi atas rujukan guru BK. Sementara, klien yang dipanggil namanya ke ruang BK merasa khawatir dirinya bermasalah dan akan mendapatkan hukuman. Perasaan inilah yang kemudian membuat klien menjadi lebih tertutup dan menjaga perkataan. Oleh karena itu, building rapport (teknik untuk menjalin hubungan yang hangat antara konselor dan klien) biasanya akan membutuhkan waktu yang lebih panjang dan terkadang dibutuhkan strategi khusus untuk mendapatkan trust dari klien.
Salah satu mahasiswa ini merasa bingung karena bertemu dengan klien yang tidak banyak bicara dan nampak menghindari interaksi sejak asesmen hingga intervensi psikologi. Mahasiswa tersebut juga telah bekerjasama dengan beberapa guru dan orang tua klien dengan harapan ia akan memperoleh data yang utuh dan meningkatkan komitmen klien. Namun demikian, pekan berganti pekan, klien tak kunjung mau terbuka. Saya memahami rasa frustasi mahasiswa ini. Durasi praktik tiap latar terbatas, pada akhir bulan kedua, mahasiswa harus sudah selesai melaporkan hasil intervensinya dan diuji dalam case conference. Sementara waktu bergulir, tidak ada kemajuan pada kasus yang ditanganinya. Maka terbersit dalam pikiran mahasiswa, “Ah, kenapa ya dapat kasus ini? Apa sebaiknya mencari klien yang lain saja?”
Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash
Sembari memahami hati mahasiswa, Allah mengingatkan saya akan pesan salah satu mentor saya. Interaksi dengan orang lain itu tidak selalu mudah, tidak selalu “klik”. Percayalah bahwa Allah mendatangkan maksud atas pertemuan dua manusia. Mentor saya menjelaskan bahwa setidaknya ada dua hal bermakna atas interaksi itu; (1) untuk mendidik kita, atau (2) untuk membersihkan diri kita. Nyatanya kedua hal ini terjadi pada saya. Praktik-praktik di ruang konseling terkadang membawa saya pada ingatan-ingatan masa lalu. Misalnya saja, latar belakang klien yang mirip dengan masa lalu saya, karakteristik klien yang mirip dengan seseorang dalam kehidupan saya, kisah/masalah hidup klien yang serupa dengan kisah saya di masa lalu. Hal-hal ini saya resapi sebagai cara Allah “membersihkan” diri saya. Sebagian orang menyebutnya“unfinished business” seperti yang tertera dalam teori Gestalt. Ada juga orang yang secara kasual menyebutnya “selesai dengan diri sendiri”. Pada sisi yang lain, cerita hidup klien bisa menjadi edukasi yang memunculkan pemahaman baru bagi konselor hingga memperluas perspektif konselor.
Berbekal pesan dari mentor, kali ini saya bisa melihat mata mahasiswa itu yang berbinar. Hatinya sudah mantap, ia memperbaiki sikapnya terhadap kasus. Giliran saya mendengarkan rencana barunya dalam mendekati klien dan turut mendoakan agar Allah meridai prosesnya. Sayapun mantap untuk berkata pada mahasiswa itu sekaligus berpesan pada diri saya sendiri bahwa dalam praktik itu jangan pilih-pilih klien. Hadapilah klien (yang Allah kirimkan) di depanmu, bersiaplah untuk meresapi makna yang Allah hadirkan untukmu. Bila sudah di luar batas keahlianmu, rujuk kepada ahlinya. Itu juga cara untuk menghormati profesi lain dan menghormati kesejahteraan klien.
Wallahu a’lam bishawab.
메타데이터
- post_id
- 0c04265b00a8
- slug
- balada-sekolah-profesi-0c04265b00a8
- url
- https://medium.com/@latifatullaili/balada-sekolah-profesi-0c04265b00a8
- canonical_url
- https://medium.com/@latifatullaili/balada-sekolah-profesi-0c04265b00a8
- author_url
- https://medium.com/@latifatullaili
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16