Kita yang Hampir, Tapi Tidak Pernah Sampai
“Kita,” sebuah kata yang dulu selalu diperjuangkan. Aku dan kamu memperjuangkan kata “kita” yang pada akhirnya semuanya akan sia-sia…
Kita yang Hampir, Tapi Tidak Pernah Sampai

Tentang kita yang sempat berjalan bersama, sebelum akhirnya kembali sendiri.
“Kita,” sebuah kata yang dulu selalu diperjuangkan. Aku dan kamu memperjuangkan kata “kita” yang pada akhirnya semuanya akan sia-sia. Pernahkah kamu berpikir bahwa kata itu hampir saja kita genggam, namun takdir tidak menyetujuinya.
Padahal kita sudah berjalan sejauh itu — melewati ragu, menenangkan takut, dan saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Kita pernah percaya bahwa selama masih ada aku dan kamu yang saling menggenggam, dunia tidak akan terlalu sulit untuk dihadapi.
Namun rupanya ada hal-hal yang tidak bisa dimenangkan hanya dengan keberanian dan perasaan. Ada jarak yang tidak bisa dipendekkan hanya dengan rindu. Ada restu yang tidak bisa dipaksa hanya dengan keyakinan. Dan ada takdir yang tetap berjalan dengan caranya sendiri, meskipun kita sudah berusaha sekuat mungkin untuk mengubah arah.
Aku sering berpikir, mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu — bukan untuk menetap. Kita dipertemukan untuk saling mengenal, saling menguatkan sebentar, lalu belajar bagaimana cara melepaskan dengan perlahan.
Lucunya, kata “kita” dulu terasa begitu dekat. Seolah hanya tinggal satu langkah lagi untuk benar-benar menjadi milik kita. Tapi pada akhirnya, kata itu kembali berubah menjadi dua kata yang berdiri sendiri: aku dan kamu.
Bukan karena kita tidak cukup berjuang. Bukan juga karena perasaan itu tidak pernah nyata. Hanya saja, tidak semua yang hampir akan benar-benar sampai.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita mengingat semuanya dengan hati yang sudah lebih tenang, kita akan mengerti — bahwa pertemuan kita memang indah, hanya saja tidak pernah dimaksudkan untuk selamanya.
Pada akhirnya, aku mengerti bahwa tidak semua pertemuan diciptakan untuk menjadi akhir yang bersama. Kamu dan aku pernah berjalan berdampingan, saling membantu, membasuh hati yang pernah pilu. Kita sempat percaya bahwa kata “kita” akan benar-benar sampai, tetapi hidup memilih jalannya sendiri. Mungkin akhirnya kita tak jadi satu, namun aku tetap bersorai — karena di antara begitu banyak kemungkinan, kita pernah dipertemukan.
Kamu mungkin tidak tercipta untukku, begitu juga aku yang tidak tercipta untukmu. Tapi ketahuilah satu hal, bertemu denganmu adalah kemungkinan yang selalu aku syukuri. Di kehidupan ini, kita boleh saja gagal meraih kata “kita”, tetapi aku percaya bahwa di kehidupan selanjutnya — kita akan kembali mengusahakan kata yang dulu pernah hampir kita miliki.
메타데이터
- post_id
- 0c38f7360162
- slug
- kita-yang-hampir-tapi-tidak-pernah-sampai-0c38f7360162
- url
- https://medium.com/@jatmikakata/kita-yang-hampir-tapi-tidak-pernah-sampai-0c38f7360162
- canonical_url
- https://medium.com/@jatmikakata/kita-yang-hampir-tapi-tidak-pernah-sampai-0c38f7360162
- author_url
- https://medium.com/@jatmikakata
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:22:36