Baradine
Jakarta, 14 Februari 2024
Baradine
Jakarta, 14 Februari 2024
Suara decitan pintu terdengar usai sebuah pintu kayu terdorong secara perlahan. Derapan kaki menggema mengikuti ritme jarum jam yang terus berputar. Matanya mengabsen satu persatu detail ruangan. Tidak ada yang berubah meskipun enam tahun telah berlalu. Bahkan dirinya masih merasakan harum parfum kekasihnya. Seakan-akan sang pemilik masih menempati ruangan tersebut.
Pandangan Nadine teralih pada suatu objek yang menarik perhatiannya. Di sana, tepatnya di atas nakas. Terpajang foto mereka berdua yang diambil saat mereka merayakan ulang tahun Nadine. Dan tanpa tersadar, Nadine tersenyum dengan air mata mengalir dari sudut matanya.

Nadine teringat kala itu Bara sempat menolak permintaanya untuk melakukan photo studio. Menurut Bara, dirinya bukan tipikal manusia ekspresif dan akan terkesan canggung untuk melakukan hal itu. Namun Nadine tetap memaksa dan beralasan hal tersebut merupakan hal langka dan perlu diabadikan. Apalagi hubungan mereka sudah lama terjalin. Tetapi tidak ada kenangan yang mereka miliki.
Kemudian pandangan Nadine beralih pada sebuah ukiran nama yang Bara berikan pada foto itu. Ukiran yang mampu membuat Nadine tertarik ke masa lalu kenangan mereka berdua. Sebuah filosofi “Baradine” yang Bara berikan.
Setelah menghabiskan kurang lebih 30 menit, mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan berpindah ke ruang pengeditan foto. Dari semua foto yang dihasilkan tidak ada satupun aura bahagia yang Bara pancarkan. Hal itu membuat Nadine menatap tajam kekasihnya.
“Dari awal aku udah bilang. Aku gak bisa foto kayak gini. Muka aku gak bisa ekspresif.” Bara memberikan alasan kepada Nadine. “Tapi gak apa-apa yang penting kamunya cantik di sini.”
Meskipun Nadine tau ucapan Bara merupakan kalimat penenang sementara agar dirinya tidak marah, namun hal itu cukup membuatnya senang. Karena setelah lima tahun mereka dekat pada akhirnya Nadine mempunyai kenangan yang bisa ia abadikan.
Bara dan Nadine sibuk memilih dan tidak jarang menimbulkan keributan kecil akibat perbedaan keputusan. Namun semua itu tidak berlangsung lama saat Bara mengalah untuk memberikan keputusan penuh kepada kekasihnya itu. Bara percaya bahwa hasil yang diberikan Nadine pasti terbaik untuk mereka.
“Sudah fix ya mas? mba? foto yang dicetak seperti ini?” tanya petugas photo studio tersebut.
“Iya, mas. Empat foto itu saja yang dicetak. Tapi untuk foto sisanya akan dikirimkan lewat email ‘kan?” tanya Nadine.
“Iya, mba. Untuk emailnya bisa dituliskan di sini ya, mba.” Petugas photo studio memberikan arahan kepada Nadine untuk menuliskan alamat emailnya di layar komputer.
Namun saat Nadine ingin menuliskan alamat emailnya pada layar, tangannya tertahan oleh pergerakan Bara di sampingnya. “Pakai email aku aja.”
Tak ada bantahan dari Nadine. Gadis itu segera menuliskan alamat Email Bara yang sudah ia hafal di luar kepala. Tidak hanya alamat email ataupun nomor ponsel kekasihnya. Semua hal kecil yang dimiliki kekasihnya pun Nadine akan terus mengingatnya. Begitu juga yang dilakukan Bara kepada dirinya.
Mereka berdua melihat proses pengeditan foto itu. Dengan sesekali tambahan saran dari mereka. “Pak, fotonya boleh ditambahkan tulisan tidak ya?” tanya Bara setelah foto mereka sudah selesai diedit.
“Boleh, mas. Mas mau saya tambahkan tulisan apa?”
“Tolong tuliskan tanggal hari ini di bagian bawah kiri. Dan tulisan Baradine di bawah kanan ya, mas,” ucap Bara sembari menunjukan letak posisi tulisannya. “Oh ya untuk soft filenya tolong dikirimkan juga dengan nama Baradine ya, mas?”
“Siap, mas. Ditunggu sebentar ya.”
Bara tersenyum senang melihat hasil perintahnya yang sesuai dengan kemauannya. Tetapi di sisi lain, Nadine terlihat tidak mengerti. Baradine? Apakah itu singkatan nama mereka berdua?
“Kenapa harus Baradine?” tanya Nadine kepada Bara di sampingnya. “Singkatan nama kita?”
“Bisa jadi. Tapi ada arti lainnya,” ucap Bara.
“Apa?” tanya Nadine ingin mengetahui. Karena sejujurnya Nadine sangat menyukai gabungan nama mereka itu. Dan Nadine tidak pernah terpikirkan untuk hal tersebut.
“Coba kamu pikir sendiri. Kalau udah ketemu artinya. Aku akan kasih kamu hadiah yang lain.”
Sejenak Nadine berpikir. Tetapi dia tidak menemukan apapun selain kenyataan bahwa kata “Baradine” merupakan singkatan kedua nama mereka. Bara Abimana dan Nadine Permana.
“Apasih? Masa aku Google di search barnya tentang betadine. Tapi pas aku klik searchnya yang keluar isinya alat kampas rem.” Nadine menunjukan ponselnya kepada Bara yang tertawa melihat kepolosan Nadine saat ini.
“Nah itu kamu udah tau jawabannya.”
Mendengar ucapan Bara, Nadine segera memukul bahu Bara. “Maksud kamu muka aku kayak kampas rem?”
“Aduh sakit, sayang. Bukan itu maksud aku.” Bara menahan kedua tangan Nadine yang tidak ada henti-hentinya memukul bahunya. “Ucapan kamu yang pertama itu jawabannya.”
“Betadine?” tanya Nadine mengulangi ucapan sebelumnya.
Bara mengangguk. Kemudian mengubah posisi untuk berhadapan dengan Nadine. Tangannya yang semula memegang lengan tangan milik Nadine kini ia ubah dengan menggenggam telapak tangannya.
Tatapan sendu itu menatap mata Nadine dengan penuh keseriusan. Dan itu membuat jantung Nadine berdebar kencang. Kelemahan seorang Nadine terletak pada tatapan Bara kepadanya.
“Dine. Apa yang dikatakan Google tadi benar. Baradine adalah kata pengganti dari Betadine. Kamu tau kan fungsi Betadine itu apa?”
“Sembuhin luka?” tanya Nadine secara hati-hati. Karena dia takut jika apa yang dia pikirkan dengan jawaban Bara merupakan hal berlainan.
Bara mengangguk setuju. “Betadine berfungsi sebagai penyembuh luka luar. Tapi Baradine berfungsi sebagai penyembuh luka luar dan dalam.”
Sejenak Bara menghentikan ucapannya agar bisa dimengerti oleh kekasihnya. Begitu juga Nadine yang memilih untuk diam dan menunggu kelanjutan ucapan Bara.
“Aku dan kamu memang bukan manusia sempurna. Kita semua pastinya punya yang namanya luka. Meskipun luka itu tidak sama.” Bara berhenti sejenak. Matanya menatap Nadine yang masih menunggu ucapannya, “Dengan luka yang berbeda, tetapi obat yang kita butuhkan itu sama. Yaitu hubungan ini. Kamu menyembuhkan rasa sakit akan kesepian aku. Dan aku menyembuhkan rasa sakit akan tekanan keluarga kamu.”
Nadine terenyuh saat mendengar penjelasan Bara. Kata sederhana itu ternyata memiliki makna penting di dalamnya. Terlebih saat Bara mengatakan akan permasalahan keluarganya.
Memang benar. Meskipun Nadine berada di keluarga harmonis. Namun, kedua orang tuanya tidak pernah berhenti untuk selalu menekan Nadine menjadi lebih baik setiap harinya. Termasuk soal perlombaan dan organisasi yang Nadine jalankan sejak dirinya masih sekolah. Itu semua bukanlah keinginan Nadine. Melainkan keinginan kedua orang tuanya.
“Dine. Aku mungkin terlihat keras. Dan mungkin kepribadian aku tidak jauh berbeda dengan ayah kamu. Tapi aku janji, Dine. Aku akan menjadi yang lebih baik dibandingkan ayah kamu. Aku tidak akan pernah memaksa kamu. Apalagi nyakitin kamu.”
Mendengar itu, tangisan Nadine pecah. Dengan sigap Bara memeluk Nadine dan membiarkan kekasihnya menangis di dadanya. Bara tau, pelukannya adalah hal ternyaman yang selalu Nadine butuhkan di saat kehidupannya rumit.
“Bar. Jangan pergi. Jangan tinggalin aku sendiri.”
“Aku gak akan pergi ninggalin kamu. Aku akan selalu ada di sisi kamu. Apapun itu keadaanya,” ucap Bara sembari mengelus punggung Nadine.
“Kak Nadine ini han…,” ucapan Kania terhenti saat dirinya melihat Nadine sedang menangis kencang di kamar Bara. Kania dapat melihat Nadine sedang memeluk bingkai foto yang mencetak wajah Nadine bersama Bara.
Sejenak Kania ingin masuk ke dalam, namun langkahnya harus terhenti saat Syailendra menahan lengannya. “Jangan diganggu. Biarin Kak Nadine puas dengan pelampiasan kerinduannya di sana.”
Kania mengembuskan napasnya. Dia mengerti akan maksud ucapan Syailendra. Dengan perlahan, Kania menutup kembali pintu kamar Bara. Dan membiarkan Nadine bergelut dengan masa lalunya.
Di sisi lain, Nadine menangis mengingat ucapan terakhir Bara. Kalimat yang sampai saat ini dibenci oleh Nadine. Bara berjanji tidak akan meninggalkan Nadine, namun pada kenyataanya Bara telah meninggalkannya. Bahkan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
“*Patah hati terbesar yaitu saat kamu masih mencintainya, namun semesta memisahkan kalian untuk selamanya.” — Nadine Permana.* 메타데이터
- post_id
- 0c467f313d72
- slug
- baradine-0c467f313d72
- url
- https://medium.com/@satelitnyabumi/baradine-0c467f313d72
- canonical_url
- https://medium.com/@satelitnyabumi/baradine-0c467f313d72
- author_url
- https://medium.com/@satelitnyabumi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 08:52:30