Spidometer
Ia membuatku menjaga diri, bahkan saat tak di dekatku lagi.
Spidometer
Foto oleh Fujiphilm di Unsplash
Setiap kali panah pada spidometer menunjuk ke atas angka 60, sebuah suara di kepalaku seketika menyahut.
“Kalau naik motor plis jangan kenceng-kenceng.”
Selalu begitu. Seakan kau sedang duduk di belakangku setiap kali aku berkendara.
Temponya pun melambat, panah berjalan mundur hingga berhenti di angka 40.
Lihatlah bagaimana Tuhan tetap membuatku terhubung denganmu, meski jarak antara kau dan aku terbentang jauh.
Kita tidak sering bertemu, namun sebagian dari dirimu diam-diam tinggal di hidupku—menjadi bagian dari caraku menjalani hari.
Bagian lucunya, kadang Tuhan tidak menjaga koneksi lewat pertemuan-pertemuan besar. Melainkan lewat suara sederhana yang tertinggal di kepala seseorang, perhatian kecil, atau kalimat singkat yang menetap lama bahkan ketika jarak memisahkan begitu jauh.
Sampai akhirnya, kau tidak lagi sekadar menjadi “orang yang pernah kukenal,” melainkan bagian dari caraku melihat hidup, menjaga diri, dan menjalani hari.
Sesimpel itu ucapannya, namun efeknya panjang. Dan mungkin memang seperti itulah bentuk kasih sayang yang paling tulus—ketika seseorang berhasil membuat kita lebih menjaga diri, bahkan saat dirinya tidak berada di dekat kita lagi.
메타데이터
- post_id
- 0c6f7b77e8b2
- slug
- spidometer-0c6f7b77e8b2
- url
- https://medium.com/@meiarml/spidometer-0c6f7b77e8b2
- canonical_url
- https://medium.com/@meiarml/spidometer-0c6f7b77e8b2
- author_url
- https://medium.com/@meiarml
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30