← Back to list

Pengantar Logika

Berpikir bagian dari kemampuan manusia dalam memahami suatu konsep berdasarkan penggambaran yang dialaminya baik secara inderawi maupun…

Akhmad Fawzi · 2026-04-29 00:50 · 1 claps · 3.6 min read
#logika
Open on Medium ↗

Pengantar Logika

Berpikir bagian dari kemampuan manusia dalam memahami suatu konsep berdasarkan penggambaran yang dialaminya baik secara inderawi maupun intuisi. Hemat Ammar Fauzi selama mengampu perkuliahan pengantar logika, berpikir ialah tindakan pikiran yang bergerak antara informasi dan misteri. Pengertian tersebut memungkinkan dengan berpikir dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahui atau mengetahui sesuatu yang sudah diketahui namun kadar pengetahuan dan pemahamannya lebih dalam lagi dengan menggunakan instrumen akal. Kalau begitu, akal menjadi instrumen utama dalam berpikir. Pemahaman atas pikiran memerlukan suatu kerangka atau teknik atau aturan agar menghasilkan pikiran yang benar, bukan keliru. kerangka tersebut dinamakan logika. Sebab itu dalam kitab as-Sullam al-Munawraq karya Abu Zaid Abdurrahman al-Akhdhari disebutkan logika adalah pengetahuan tentang cara berpikir, aturan pikiran untuk menghindari logical fallacy serta menyingkap khazanah pemahaman dengan rinci. William Atkinson menyebut logika sebagai The Art of Logical Thingking atau seni berpikir logis. Setelah memahami berdasarkan kerangka pikiran yang benar, maka pikiran tersebut membutuhkan instrumen lain guna menyalurkan kepada selain dirinya yakni bahasa yang mengeluarkan kalam. Karena itu secara etimologi, mantiq kata dasarnya ialah nathaqa yang serupa dengan kalam yaitu bicara, berkata atau berucap. Kesimpulan sementara berdasarkan uraian tersebut, logika ialah pengetahuan yang berisikan kaidah/dasar kerangka bagi pikiran agar menghasilkan pemahaman yang benar melalui penggambaran oleh akal lalu diucapkan dengan kalam. Adapun dasar-dasar dalam logika ialah landasan/fondasi yang mesti ada dan teguh dalam memulai pikiran yaitu sistematis, analitis, metodis dan universal. Pemahaman yang benar niscaya sistematis, alias tidak meloncat, juga mendalam atau analitis sebab diperlukan perhatian/tanggap terhadap masalah yang akan diselesaikan sebagai awal pemicu berpikir. Setelah adanya perhatian atas masalah, barulah mengidentifikasi dan menggali masalah melalui metode sampai menghasilkan penyelesaian yang bersifat universal.

Wilayah Logika

Ilmu terbagi dua jenis: Subjektif dan Objektif. Ilmu subjektif merupakan pengetahuan yang berasal dari internalisasi dalam diri atau yang dikenal ilmu hudhuri. Ilmu hudhuri ialah pengetahuan dimana objeknya itu hadir pada diri subjek, karena itu dalam ilmu tersebut terjadi kesatuan antra subjek dengan proposisi yang menghasilkan kebenaran yang tanpa harus dibuktikan. Sedangkan ilmu objektif merupakan pengetahuan yang berasal dari eksternalisasi luar diri atau yang disebut ilmu hushuli. Ilmu hushuli merupakan pengetahuan yang objeknya berada diluar diri subjek sehingga tidak ada kesatuan antara subjek dengan proposisi. Subjek akan menangkap, memahami dan menilai objek tersebut dari luar melalui indra lalu diproses oleh akal. Logika tidak berlaku pada ilmu hudhuri saat terjadi pengalaman mukasyafah atau penyingkapan hakikat sebab pengalaman tersebut bagian dari kesadaran intuisi yang tidak bisa diurai. Namun, setelah mengalami pengalaman penyingkapan hakikat tersebut usai, logika bisa bekerja dengan mengobjektivikasi pengalaman intuitif tadi menjadi rasional dalam menguraikannya. Layaknya mimpi, saat mimpi akal kita tidak bekerja sebab epistemik yang dominan ketika mimpi ialah daya intuisi maupun daya pengimajinasian, usai mimpi barulah kita bisa merasionalkan mimpi tersebut dengan kaidah-kaidah logika.

Peta Logika

Peta logika berarti sketsa bagaimana seorang individu memulai tahapan pengetahuan sampai menghasilkan pemahaman dan penilaian. Dalam diri sudah terdapat pelbagai fakultas-fakultas mulai dari hati, akal, imajinasi dan indra. seluruh fakultas tersebut menjadi modal utama diri untuk mengetahui ada dan ke-ada-an dirinya sekaligus mengetahui ada selain dirinya. Logika sebagai alur berpikir akan bekerja pada pengetahuan yang berada diluar diri seseorang atau disebut ilmu hushuli. Objek luar diri ada yang bersifat konkrit dan abstrak, objek yang konkrit bisa dengan menggunakan epistemik indra, sementara objek yang abstrak memerlukan pendekatan akal. Disitulah akal sebagai alat utama logika bekerja.

Memulai Menayakan, Memulai Berpikir

Kriteria pertanyaan yang benar terbagi dua: kriteria internal dan kriteria eksternal. Pada kriteria internal, pertanyaan yang benar akan fokus pada pertanyaan itu sendiri dengan menguraikan S+P nya lalu menghubungkan keduanya dan mengamati pada hubungan tersebut apakah konsisten atau tidak konsisten. Sedangkan pada kriteria eksternal, pertanyaan yang benar akan mengusahakan pengidenfitikasian dengan mempertimbangkan keadaan atau hal ihwal timbulnya suatu pertanyaan, jadi cenderung berorientasi alasan timbulnya atau latar belakang pertanyaan tersebut diajukan.

Contoh pertanyaan yang salah: saya ambil dari instagram; 1. Jika manusia diciptakan oleh Tuhan, lantas siapa yang menciptakan Tuhan? pada laman instagram: https://www.instagram.com/reel/C7ngWJZJ8eG/?igsh=MTU0ZDVibGMxY2R0OQ== , 2. Jika Tuhan tidak membutuhkan pertolongan/bantuan apapun serta berdiri sendiri, lantas kenapa ia ciptakan malaikat serta mengutus para nabi? pada laman instagram: https://www.instagram.com/reel/C7as5PNJdrE/?igsh=MWJjMzQwcTgyZ2U5ag== . Pertanyaan 1 tergolong salah karena tidak ada hubungan antara kalimat satu dengan pertanyaannya, pertanyaan itu mengasumsikan bahwa jika manusia diciptakan oleh Tuhan, artinya Tuhan kedudukannya sebagai pencipta yang mustahil diciptakan, jika Tuhan sebagai pencipta yang diciptakan, maka akan banyak pencipta lainnya sampai tidak ada ujungnya, asumsi tersebut tertolak oleh hukum akal yang mengandaikan adanya pencipta mutlak yang menciptakan berbagai ciptaan-Nya. Namun pada pertanyaannya siapa yang menciptakan Tuhan tentu tidak konsisten dengan asumsi tadi yang mengandaikan Tuhan sebagai pencipta, disitulah letak kesalahannya yakni tidak ada relasi antara asumsi dengan pertanyaan sehingga menimbulkan nir-konsistensi. Sementara pada pertanyaan 2, diasumsikan Tuhan mampu berdiri sendiri sehingga tidak membutuhkan pertolongan, artinya posisi Tuhan sebagai entitas yang memiliki kekuasaan tinggi sedangkan pertanyaannya dihubungkan dengan keberadaan malaikat dan Nabi seakan-akan Tuhan membutuhkan pertolongan kepada malaikat dan para nabi, itu berarti memposisikan Tuhan bukan lagi sebagai wujud yang berkuasa, itupun nir-konsistensi. Justru kehadiran malaikat dan para nabi membuktikan Tuhan mampu berdiri sendiri dengan menciptakan malaikat dan para nabi untuk menyampaikan risalah agungnya kepada manusia, sebab jika Tuhan langsung yang menyampaikan, konsekuensinya manusia tidak akan kuat menghadapi kegagahan dan kekuasaan Tuhan. Sebab itu, Tuhan ada-kan malaikat dan para nabi sebagai entitas yang dibekali daya sehingga mampu berkomunikasi dengan-Nya untuk disampaikan risalah Ilahi-Nya kepada umat manusia agar tercipta kemanusiaan transendental.

Bertanya akan memulai kegiatan berpikir. Berpikir bagian dari proses dalam menjawab setiap masalah dalam bentuk pertanyaan, proses menjawabnya didasarkan pada pertanyaan yang prosedural. Bertanya secara prosedural dimulai dengan pertanyaan apakah, adakah dan mengapa. Apakah ditujukan untuk mengetahui sesuatu, pertanyaan yang dimulai dengan apakah cenderung meminta keterangan. Sementara pertanyaan yang dimulai dengan adakah itu untuk memastikan sesuatu dan pertanyaan yang dimulai dengan mengapa cenderung untuk meminta penilaian guna menyadarkan individu.


메타데이터
post_id
0c8a77504028
slug
pengantar-logika-0c8a77504028
url
https://medium.com/@akhmadfawzi3/pengantar-logika-0c8a77504028
canonical_url
https://medium.com/@akhmadfawzi3/pengantar-logika-0c8a77504028
author_url
https://medium.com/@akhmadfawzi3
status
ok
fetched_at
2026-07-11 08:08:22